Daftar Isi
Cekricek.id — Akun wisata bisa penuh gambar bagus tanpa mengarahkan siapa pun. Fotonya berganti tiap pekan dan sebagian di antaranya memang menarik dilihat. Yang tidak jelas adalah langkah apa yang harus diambil calon pengunjung sesudah menekan tanda suka.
Persoalan itu dibedah dalam artikel Application of the Customer Path 5A Model in Designing Social Media Promotional Content for Gondang Outbound Educational Tourism (WEGO) in Lamongan. Penulisnya tiga orang, yaitu Fatih Anang Arisyadi, Bayu Setiawan, dan Aris Sutejo. Ketiganya bekerja pada program studi desain, bukan pada biro pemasaran pariwisata.
Program studi itu adalah Desain Komunikasi Visual, Fakultas Arsitektur dan Desain, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Artikel mereka terbit di Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, Volume 28 Nomor 1, tahun 2026. Jurnal itu terbit di bawah lisensi Atribusi-NonKomersial 4.0 Internasional.
Objek perancangannya satu destinasi saja. Wisata Edukasi Gondang Outbound atau WEGO terletak di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, dan menjual kegiatan outbound, perkemahan, rekreasi air, serta pengalaman berbasis lingkungan. Media utamanya juga satu, yakni Instagram, dan seluruh rancangan dibuat untuk format itu.
Lima Nama Tahap

Kerangka yang dipakai bernama Customer Path 5A, diambil dari Kotler dan koleganya pada terbitan 2017. Lima tahapnya berurutan dari aware, appeal, ask, act, sampai advocate. Nama-nama itu dipakai untuk memilah pekerjaan komunikasi, bukan sebagai istilah hiasan dalam laporan perancangan.
Tiap tahap diberi satu tugas komunikasi yang berbeda. Aware memperkenalkan destinasi, appeal membangun ketertarikan, dan ask menjawab kebutuhan informasi calon pengunjung. Act memudahkan orang mengambil tindakan, sedangkan advocate membuka ruang bagi pengunjung untuk menceritakan pengalamannya sendiri. Setiap tahap menuntut bentuk visual yang berbeda pula.
Model itu tidak diuji dalam penelitian tersebut dan tidak diperlakukan sebagai hipotesis. Fungsinya sebagai kerangka perancangan yang menentukan tujuan komunikasi, isi pesan, dan bentuk konten pada tiap kelompok unggahan. Perbedaan posisi ini penting untuk membaca hasilnya secara adil, sebab yang dinilai adalah rancangannya, bukan modelnya.
Datanya dikumpulkan lewat tiga jalan sekaligus. Pengamatan dilakukan terhadap kondisi destinasi dan akun Instagram WEGO, dokumentasi mencakup logo serta foto lokasi dan aktivitas, sedangkan kuesioner disebar untuk melihat perilaku calon wisatawan. Studi acuan terhadap akun destinasi lain menambah bahan pembanding sebelum konsep visualnya disusun.
Akun pembanding yang dipilih adalah @solosafari.id dan @traveling_pangalengan. Yang diamati dari keduanya bukan keindahan gambar, melainkan struktur kontennya, cara informasi disusun, penggunaan ajakan bertindak, dan bentuk keterlibatan audiens. Hasil pengamatan itu masuk ke tahap analisis kebutuhan bersama data kuesioner dan dokumentasi lapangan.
Empat Puluh Empat Jawaban
Kuesioner disebar kepada 44 responden. Sebanyak 37 orang atau 84,1 persen menyatakan media sosial sangat berpengaruh terhadap keputusan mereka mengunjungi destinasi wisata. Tujuh orang sisanya, setara 15,9 persen, memilih jawaban cukup berpengaruh. Jawabannya dianalisis secara deskriptif memakai frekuensi dan persentase.
Baca juga Riset Semeru Menumpuk Setelah Letusan, Lalu Surut
Tidak ada satu pun responden yang menilai media sosial tidak berpengaruh. Angka itulah yang dipakai sebagai alasan memusatkan seluruh perancangan pada Instagram. Ia tidak dipakai sebagai bukti bahwa rancangan yang kemudian dibuat sudah berhasil menarik kunjungan.
Pembedaan tersebut ditegaskan sendiri oleh tim penulisnya di bagian pembahasan. Data kuesioner hanya menggambarkan persepsi awal responden terhadap peran media sosial dalam memilih destinasi. Ia belum menilai desain yang dihasilkan sesudahnya, apalagi mengukur perubahan perilaku responden.
Karakteristik responden juga tidak dirinci dalam artikel itu. Tim penulis mengakui bahwa teknik pemilihan responden perlu diperjelas agar batas penafsiran datanya bisa diketahui pembaca. Pengakuan semacam ini jarang muncul dalam laporan perancangan promosi yang biasanya berhenti pada luaran.
Hijau dan Daun
Logo WEGO yang sudah dipakai tidak diganti dalam perancangan ini. Yang dibangun adalah sistem visual di sekelilingnya, dimulai dari variasi warna hijau yang diambil dari identitas destinasi tersebut. Sistem itu lalu diturunkan ke seluruh unggahan agar setiap konten dikenali sebagai bagian dari komunikasi WEGO.
Judul utama memakai huruf Intro Black Alt, sedangkan subjudul dan informasi pendukung memakai Poppins Semibold. Elemen supergrafisnya tidak diambil dari bank gambar, melainkan dikembangkan dari bentuk daun yang sudah ada pada logo. Pilihan itu menjaga hubungan visual dengan lambang lama.
Fotografi kegiatan dan fasilitas WEGO dipakai sebagai unsur utama pada hampir semua konten. Tujuannya memperlihatkan kondisi destinasi secara langsung kepada calon pengunjung. Ilustrasi dan gambar suasana rekaan tidak dipakai untuk mengisi kekosongan, sebab yang dijual adalah tempat yang benar-benar bisa didatangi.
Sistem tersebut diterapkan pada bagian yang selalu berulang. Bagian itu meliputi kepala konten, judul, area foto, elemen dekoratif, dan bagian bawah yang memuat informasi reservasi serta nama akun media sosial. Posisinya dijaga tetap dari satu unggahan ke unggahan lain.
Isi tiap unggahan sendiri berbeda-beda. Ada konten pengenalan destinasi, dokumentasi aktivitas, promosi harga, informasi reservasi, ajakan kolaborasi, dan konten interaktif untuk pengunjung. Warna, huruf, elemen grafis, dan struktur tata letaknya tetap sama pada semuanya.
Cerita di Carousel
Tahap appeal dikerjakan dalam bentuk carousel dengan pendekatan visual storytelling. Rangkaian gambarnya disusun mengikuti urutan tertentu, bukan ditumpuk sebagai kumpulan foto yang kebetulan bagus. Urutan itulah yang membentuk ceritanya dari lembar pertama sampai lembar penutup.
Baca juga Kajian Bahasa Sandi di Forum Gelap Kota Malang
Rangkaian dimulai dari pengenalan wisata keluarga sebagai gambaran umum destinasi. Setelah itu berlanjut ke kegiatan outbound, lalu wahana permainan air, lalu pengalaman di area danau yang disebut Eco Lake Experience. Setiap langkah menambah satu jenis kegiatan baru sehingga pembaca memperoleh gambaran pilihan aktivitas di sana.
Bagian terakhir carousel tidak berisi gambar tambahan. Isinya sebuah pertanyaan yang meminta audiens memilih wahana paling menarik menurut mereka sendiri. Alur kontennya karena itu bergerak dari pengenalan pengalaman menuju interaksi, bukan berhenti pada pameran fasilitas.
Teks utama berfungsi memberi konteks pada gambar yang ditampilkan. Urutan carousel yang menghubungkan beberapa fasilitas ke dalam satu tema pengalaman, sehingga kekuatannya tidak bergantung pada satu foto tunggal. Fotografi dokumenter dipilih untuk memperlihatkan fasilitas apa adanya.
Harga dan Nomor
Tahap ask menjawab pertanyaan yang muncul sesudah orang mengenal dan tertarik pada destinasi. Isinya keterangan fasilitas, jenis aktivitas, harga tiket atau paket promosi, dan cara memperoleh keterangan lanjutan. Kebutuhan informasi seperti ini yang sering tidak terjawab pada akun wisata dan membuat calon pengunjung berhenti bertanya.
Penekanan visual pada konten itu ditempatkan pada judul dan nominal harga. Alasannya sederhana dan bersifat teknis, yaitu agar informasi utama terbaca cepat di layar telepon genggam. Sisa keterangan diletakkan lebih kecil di bawahnya mengikuti tata letak yang sudah ditetapkan.
Tahap act dirancang untuk mengurangi hambatan terakhir sebelum orang berkunjung. Kontennya memuat cara membeli tiket secara langsung di loket WEGO dan cara memesan secara daring melalui nomor reservasi. Ajakan bertindak dipasang untuk mengarahkan audiens memesan tempat atau merencanakan kunjungan pada hari tertentu.
Tahap advocate memindahkan sebagian pekerjaan promosi kepada pengunjung. Luarannya ada dua, yaitu ajakan kolaborasi kepada kreator konten perjalanan dan templat untuk mengunggah ulang Instagram Story pengunjung. Konten pada tahap ini tidak lagi sepenuhnya diproduksi pengelola, melainkan disusun bersama orang yang sudah datang.
Baca juga Induak dan Anak, Dua Suara di Balik Salawat Dulang
Templat unggahan ulang itu punya fungsi ganda. Ia memberi ruang bagi dokumentasi dan testimoni pengunjung yang datang sendiri. Ia sekaligus menjaga agar unggahan tersebut tetap tampil dalam identitas visual yang sama dengan konten resmi.
Yang Belum Diuji
Perjalanan audiens di media sosial tidak selalu berjalan berurutan. Sebagian orang langsung menemukan konten harga tanpa lebih dulu melihat konten pengenalan, sedangkan pengunjung lama bisa masuk langsung lewat konten advocate. Tiap unggahan karena itu harus tetap utuh sendiri saat menjadi titik masuk pertama seseorang.
Tim penulis menyadari batas itu dan menyatakannya secara terbuka. Lima tahap tersebut, tulis mereka, “lebih tepat dipahami sebagai pemetaan fungsi konten daripada urutan yang harus selalu dilalui oleh setiap audiens”. Konsistensi visual dan kelengkapan informasi pada tiap konten menjadi syarat agar pemetaan itu tetap bekerja.
Keterbatasan yang lebih besar diakui pada bagian akhir artikel. Rancangan itu belum divalidasi kepada ahli, kepada pengelola WEGO, maupun kepada calon audiens yang menjadi sasarannya. Kontennya juga belum diuji lewat perbandingan data sebelum dan sesudah publikasi.
Akibat dari batas itu cukup jelas. Penelitian tersebut belum bisa menyimpulkan adanya kenaikan keterlibatan audiens, kesadaran merek, keputusan berkunjung, maupun rekomendasi dari pengunjung. Yang tersedia baru struktur komunikasi dan luaran desainnya dalam bentuk konten Instagram Feed dan Story.
Kemampuan konten membangun ketertarikan emosional juga belum bisa dipastikan tanpa tanggapan audiens. Yang bisa ditunjukkan hanya bahwa unsur cerita sudah diterapkan lewat urutan fasilitas, dokumentasi aktivitas, dan penyusunan pesan visual. Sisanya menunggu pembuktian.
Satu akun wisata di Lamongan juga bukan gambaran seluruh promosi pariwisata Indonesia. Hasil perancangan ini tidak otomatis berlaku pada destinasi lain dengan audiens, fasilitas, dan pengelola yang berbeda. Kerangka kerjanya bisa dipinjam pengelola lain, sedangkan luaran visualnya melekat pada satu tempat saja.
Uji lanjutannya sudah disebut dalam artikel itu sendiri. Langkahnya berupa penilaian ahli dan pengguna, lalu perbandingan data jangkauan, impresi, interaksi, penyimpanan, kunjungan profil, permintaan reservasi, dan konten yang dibagikan pengguna. Semuanya angka yang bisa dihitung sesudah konten benar-benar tayang di akun tersebut.
Sampai pengujian itu dikerjakan, yang tersedia baru peta fungsi konten, bukan bukti hasilnya.















