Kajian Bahasa Sandi di Forum Gelap Kota Malang

A A

Ilustrasi seseorang menghadap layar laptop di ruangan yang temaram. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Repertoar: Persediaan yang Disusun, Bukan Diwarisi
  2. Multilingualisme: Empat Bahasa dalam Satu Unggahan
  3. Sosiopragmatik: Makna yang Hanya Hidup di Dalam Kelompok
  4. Objektifikasi: Manusia yang Diringkas Menjadi Angka

Cekricek.id — Setiap orang menyimpan lebih dari satu cara bicara, dan ahli bahasa menyebut persediaan itu repertoar: seluruh kumpulan kata, logat, dan gaya yang Anda pilih menurut siapa yang sedang mendengarkan.

Anda memakainya tanpa berpikir. Kata yang keluar di hadapan ibu berbeda dari kata yang keluar di rapat kantor, dan keduanya berbeda lagi dari yang Anda ketik di grup teman sekolah pada tengah malam. Repertoar bekerja seperti lemari berlaci: isinya tetap, yang berubah adalah laci mana yang dibuka. Pada kebanyakan orang, pemilihan laci itu urusan kesopanan. Pada kelompok tertentu, ia berubah menjadi urusan keamanan diri.

Kelompok semacam itu yang diperiksa Ibnuz Zaki, peneliti dari Universitas Brawijaya, dalam artikel Language of the underground: Openly-covert communication around commercial sex in Malang nightlife community yang terbit di jurnal LITERA Volume 24 Nomor 2 tahun 2025. Objeknya sebuah utas forum daring bernama Malang Nightlife, tempat sekelompok laki-laki pembeli jasa seks komersial saling melaporkan pengalaman mereka di kawasan Malang Raya. Yang dikaji Zaki bukan praktiknya, melainkan bahasanya.

Di sinilah gambaran lemari berlaci tadi mulai meleset. Anggota forum itu tidak sekadar memilih laci yang pantas; mereka menyusun ulang isinya supaya tidak terbaca orang luar. Zaki membaca datanya dengan analisis leksiko-semantik, yakni penelusuran atas bagaimana kata bermakna umum diberi makna lain, dilengkapi pendekatan multilingualisme dan sosiopragmatik. Datanya diambil dari kategori unggahan yang paling kaya istilah, yaitu laporan pengalaman, dengan pengambilan sampel purposif atas unggahan terbaru.

Repertoar: Persediaan yang Disusun, Bukan Diwarisi

Ilustrasi lorong sempit kota yang disinari lampu jalan pada malam hari.
Ilustrasi lorong sempit kota yang disinari lampu jalan pada malam hari. [Foto: Pexels]

Forum itu punya aturan main. Zaki mencatat tiga kategori unggahan di dalamnya: laporan pengalaman, komentar atas laporan, dan unggahan umum yang berisi pertanyaan, saran, atau peringatan. Ketentuan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dibagikan tergolong ketat, dan utasnya sudah memasuki iterasi ketiga sejak pertama dibentuk. Bahan penelitian diambil dengan menyalin unggahan yang memang terbuka untuk umum, sehingga persoalan izin pengumpulan data, tulis Zaki, menjadi minimal. Yang membedakan repertoar ini dari repertoar kantor atau keluarga adalah cara memperolehnya. Tidak ada yang mewarisinya dari orang tua. Ia dipelajari dengan cara bergabung, membaca ratusan unggahan lama, lalu menirukan. Zaki menyebut keadaan itu keakraban komunal: kedekatan yang tumbuh karena sekelompok orang berulang kali membicarakan hal yang sangat spesifik dengan cara yang sama. Norma dan kebiasaan lahir mengikuti terbentuknya kelompok, bukan sebaliknya, dan pola itu berlaku pada komunitas mana pun.

Multilingualisme: Empat Bahasa dalam Satu Unggahan

Multilingualisme, dalam pengertian yang dipakai Zaki, bukan kemampuan seseorang berbicara empat bahasa dengan fasih. Istilah itu mengacu pada percampuran kode: potongan dari beberapa bahasa dipakai bergantian di dalam satu paragraf, masing-masing untuk keperluan yang berbeda. Di forum ini setidaknya ada empat, kadang lima. Bahasa Indonesia menjadi pengangkut utama, disusul bahasa Jawa, lalu bahasa Inggris dan Basa Walikan Malang, ditambah sesekali kata berakar Arab yang muncul di sela-sela.

Baca juga Ketika Petani dan Nelayan Hanya Jadi Penerima Harga

Pembagian tugasnya rapi, dan justru itu yang menarik. Bahasa Indonesia dipakai untuk kerangka cerita. Bahasa Jawa dan Basa Walikan Malang — ragam yang membalik urutan bunyi sebuah kata dan lazim dipakai di Malang — muncul pada bagian yang paling lokal. Bahasa Inggris hampir seluruhnya dipakai untuk singkatan teknis yang diambil dari label video porno, sebab istilah semacam itu tidak punya padanan kata benda dalam bahasa Indonesia maupun Jawa. Ketika padanan lokal sudah tersedia, catat Zaki, bahasa Inggris justru ditinggalkan.

Zaki menduga percampuran itu punya dua fungsi sekaligus: menutupi sifat eksplisit topiknya, sekaligus menyelipkan kesan pribadi ke dalam cerita. Yang mengejutkan justru keseragamannya. Meski bahannya beragam, pola percampurannya berulang-ulang di sepanjang forum, bolak-balik pada susunan yang itu-itu saja. Kekayaan bahasanya, dengan kata lain, terletak pada kosakatanya, bukan pada variasi cara menyusunnya. Kelompok yang menutup diri ternyata juga menutup kemungkinan bereksperimen dengan bahasanya sendiri.

Baca juga Video Menolong Menyimak, tapi Tidak untuk Semua Murid

Ada penjelasan sosial di balik dominasi bahasa Indonesia, dan Zaki mengaitkannya dengan kota tempat forum ini hidup. Malang Raya, yang mencakup Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang, adalah tujuan pendatang pencari kerja dari berbagai daerah. Forumnya sendiri berinduk pada penyedia forum daring berskala nasional, bukan kanal lokal. Karena itu bahasa yang dipakai harus tetap terbaca orang dari luar Jawa Timur, sementara lapisan lokalnya disimpan sebagai penanda keanggotaan.

Sosiopragmatik: Makna yang Hanya Hidup di Dalam Kelompok

Sosiopragmatik, istilah ketiga yang perlu diterjemahkan, adalah cabang kajian yang menautkan makna sebuah ujaran dengan keadaan sosial tempat ujaran itu diucapkan. Zaki memakai kerangka Culpeper untuk membaca pragmatik dalam latar sosial semacam ini. Prinsipnya sederhana: kalimat yang sama bisa berarti dua hal berbeda tergantung siapa yang mengucapkannya dan di mana ia diucapkan. Di forum ini, prinsip tersebut tidak dipakai untuk kesantunan, melainkan sebagai alat penyamaran.

Contohnya bisa ditunjukkan tanpa perlu mengutip bagian yang kasar. Sapaan untuk diri sendiri diambil dari istilah forum yang berarti pendatang baru, dipakai menggantikan kata saya. Sebuah aplikasi kencan disebut dengan warna antarmukanya. Sebuah jaringan penginapan murah disebut dengan warna pintunya. Kendaraan disebut lewat kiasan hewan tunggangan, sedangkan tindakan seksual disebut memakai kosakata perawatan mesin. Semua istilah itu berbunyi biasa saja bagi pembaca umum, dan berarti lain sama sekali bagi anggota.

Konvensi bercerita itu bahkan punya bentuk baku. Zaki mencatat pembuka laporan hampir selalu berupa pernyataan tentang kebutuhan fisik penulisnya, disampaikan lewat kiasan yang sudah disepakati bersama, kadang dalam satu kalimat pendek, kadang dalam kalimat panjang yang menuntut beberapa petunjuk konteks sekaligus untuk dipahami. Sesudah pembuka itu barulah cerita bergerak. Struktur yang berulang inilah yang membuat Zaki menyebut kelompok ini memiliki kebiasaan bersama, bukan sekadar kosakata bersama. Di situlah judul artikel Zaki menemukan alasannya: terbuka sekaligus tersembunyi. Unggahannya panjang, rinci, dan diletakkan di forum yang bisa dibaca siapa saja. Tidak ada usaha menyembunyikan keberadaannya. Yang disembunyikan hanya kuncinya. Zaki juga mencatat anggota justru protektif terhadap informasi yang benar-benar operasional, seperti cara mereka mendekati pekerja seks dan cara menawar harga, sehingga laporan itu berfungsi sekaligus sebagai ulasan dan sebagai pameran keberhasilan.

Baca juga Lakon Wisran Hadi Dipindahkan ke Film Lewat Kaba

Satu temuan Zaki mematahkan dugaan yang gampang muncul. Meski memposisikan diri sebagai penikmat layanan, anggota forum tidak memperlihatkan dukungan kolektif terhadap prostitusi sebagai praktik. Ketika warga di Tlogomas melancarkan protes terhadap dua rumah singgah yang dipakai untuk transaksi prostitusi daring, peristiwa yang cukup ramai itu sama sekali tidak disinggung di forum. Zaki membacanya sebagai bukti posisi mereka sebagai pemakai semata, bukan pendukung apalagi pembela, dan menilai sikap itu cenderung egoistis.

Objektifikasi: Manusia yang Diringkas Menjadi Angka

Bagian yang paling sulit dibaca justru bagian yang paling rapi. Hampir setiap laporan pengalaman ditutup dengan sistem penilaian berskala sepuluh. Yang dinilai bukan hanya tempatnya, melainkan perempuan yang bekerja di sana: wajah, tubuh, dan mutu layanan diberi angka satu per satu, dilengkapi harga awal, harga setelah ditawar, serta keterangan apakah anggota bersangkutan berniat kembali. Format itu, tulis Zaki, mengubah laporan pengalaman menjadi ulasan produk.

Ulasan atas jasa tukang cukur, penjahit, atau bengkel adalah hal lumrah, dan Zaki mengakuinya. Persoalan muncul ketika yang diberi angka adalah tubuh manusia. Anggota lain membaca angka itu untuk memutuskan apakah seseorang layak didatangi atau tidak. Dalam kesimpulannya, Zaki menautkan pola tersebut dengan stereotipe publik tentang laki-laki dan pelanggaran seksual mereka, sampai pada titik objektifikasi terhadap pekerja seks perempuan yang diceritakan di dalam laporan-laporan itu. Zaki sadar bahannya membuat banyak orang mundur. “Bagi banyak orang, kutipan yang ditampilkan itu, saya kira, bahkan menjijikkan dan karena itu tidak layak dibicarakan,” tulisnya, sebelum mengajukan keberatan: bagi para linguis, sesuatu tidak bisa disingkirkan hanya dengan alasan yang lazim, apalagi bila ia datang dari sudut masyarakat yang jarang dijamah dan justru menyimpan data bahasa yang kaya.

Batas kajiannya ia akui sendiri. Zaki menyebut kumpulan datanya tergolong kecil, diambil dari satu utas dengan sampel purposif, dan mengakui ada satu istilah yang gagal ia lacak asal-usulnya. Ia juga mengingatkan cerita di forum bisa saja dikarang sebagian atau seluruhnya. Karena itu yang terbaca di sana adalah cara sekelompok orang berbahasa, bukan ukuran seberapa luas praktiknya, dan sama sekali bukan potret laki-laki Malang pada umumnya.

Repertoar, pada akhirnya, hanyalah istilah untuk persediaan kata. Ia tidak menjelaskan mengapa seseorang memilih membuka laci yang satu dan menutup rapat laci yang lain. Yang sanggup ditunjukkan istilah itu cuma satu hal: penyamaran menuntut kerja, dan kerja sebanyak itu tidak dilakukan untuk sesuatu yang dianggap pelakunya biasa saja.

Bagikan

Baca Juga

Bahasa Kei Bertahan di Ritual, Surut di Sekolah dan Media
Busuk Lunak Kentang Melambat di Tangan Bakteri Lumpur Sidoarjo
Pakar UB Nilai Demokrasi Kini Masuk Rule Without Law
Riset Semeru Menumpuk Setelah Letusan, Lalu Surut
Kesehatan Jiwa Pascabencana, UB Latih Nakes di Manggarai
Benda Sitaan KUHAP 2025 Dinilai Butuh Aturan Pelaksana Jelas