Bahasa Kei Bertahan di Ritual, Surut di Sekolah dan Media

A A

Pantai Ngurbloat di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. [Foto: Miranda Rachellina/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Penelitian melibatkan 30 peserta dari tiga kelompok generasi dalam sepuluh keluarga Kei.
  • Kakek dan nenek aktif bertutur Kei kepada cucu, tetapi anak-anak lebih sering menjawab dalam bahasa Indonesia.
  • Di dua sekolah dasar yang diamati, bahasa Indonesia menjadi satu-satunya bahasa pengantar.
  • Generasi muda mengekspresikan identitas Kei lewat praktik budaya, simbol, dan unggahan media sosial.
  • Kedua peneliti merangkum temuan dalam model IITM yang punya tiga dimensi.
Daftar Isi
  1. Empat Bulan Litaay dan Rahawarin di Tual dan Langgur
  2. Generasi 55 Tahun ke Atas dan Bahasa Kei di Beranda
  3. Usia 35–55 Tahun, Generasi Perantara di Rumah
  4. Sekolah Tual dan Ohoidertutu dalam Empat Bulan Pengamatan
  5. Usia 13–25 Tahun dan Identitas Kei di TikTok
  6. Tiga Generasi dalam Model IITM Litaay dan Rahawarin

Cekricek.id — Selama beberapa dekade terakhir, bahasa Kei yang oleh penuturnya disebut Veveu Evav kehilangan tempat di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, digeser bahasa Indonesia yang dijumpai generasi muda di sekolah, media massa, dan platform digital. Dahulu bahasa itu merupakan inti kehidupan bersama, wadah kearifan leluhur, hubungan kekerabatan, dan praktik ritual. Pada generasi-generasi sebelumnya pula, kemampuan bertutur Kei adalah tanda utama keanggotaan etnis seseorang.

Bagi dua peneliti dari Ambon, melemahnya daya hidup bahasa lokal itu bukan semata persoalan linguistik. Simona Christina Henderika Litaay dan Yunus Rahawarin, keduanya dari Universitas Pattimura, menulis bahwa pergeseran di Kepulauan Kei mewakili perubahan yang lebih luas dalam identitas, rasa memiliki, dan kesinambungan budaya. Kajian mereka terbit dengan judul Intergenerational Language Transmission and Identity Formation among Minority Language Speakers in the Kei Islands, Indonesia.

Artikel itu dimuat Jurnal Tahuri Volume 20 Nomor 2 edisi Agustus 2023, halaman 137–154, terbitan Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Pattimura. Naskahnya diterima 22 Januari 2023, direvisi terakhir 10 April 2023, disetujui 28 April 2023, lalu terbit 25 Agustus 2023. Dalam pernyataan etiknya, kedua penulis menyebut penelitian ini tidak menerima dana dari luar, dan kecerdasan buatan hanya dipakai untuk bantuan teknis penulisan serta penyuntingan bahasa.

Menurut Litaay dan Rahawarin, riset yang khusus menyoroti pewarisan bahasa antargenerasi di Indonesia masih terbatas, dan lebih sedikit lagi yang mengaitkannya dengan pembentukan identitas penutur minoritas. Kajian tentang anak muda Indonesia di lingkungan multibahasa, tulis mereka, terutama berpusat di kota seperti Jakarta dan Yogyakarta, sehingga wilayah pinggiran kurang terwakili dalam percakapan akademik tentang bahasa dan identitas.

“Literatur yang ada tentang pemertahanan bahasa dan identitas memberikan wawasan deskriptif yang berharga, tetapi kerap memperlakukan transmisi antargenerasi dan pembentukan identitas sebagai ranah analisis yang terpisah,” tulis Simona Christina Henderika Litaay dan Yunus Rahawarin. Keduanya juga tidak memandang pergeseran bahasa semata sebagai proses kehilangan yang berjalan satu arah. Dalam rumusan mereka, pergeseran itu fenomena dialogis dan adaptif, tempat generasi muda menafsir ulang warisan bahasanya lewat praktik yang kreatif dan peka konteks.

Empat Bulan Litaay dan Rahawarin di Tual dan Langgur

Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan desain etnografi sosiolinguistik. Lokasinya Kepulauan Kei di Kabupaten Maluku Tenggara, tepatnya Kota Tual dan beberapa desa di dekatnya seperti Ohoitel, Langgur, dan Elaar Lamagorang. Wilayah itu dipilih karena dua pertimbangan: bahasa lokalnya masih dipakai dalam konteks ritual tetapi menunjukkan tanda pergeseran dalam komunikasi sehari-hari, dan sistem adatnya kuat sementara paparan pendidikan formal serta media digital terus bertambah.

Pesertanya berasal dari tiga kelompok generasi dalam sepuluh keluarga Kei, yakni generasi tua berusia 55 tahun ke atas, generasi dewasa berusia 30–50 tahun, dan generasi muda berusia 13–25 tahun. Jumlahnya 30 orang, dipilih secara purposif berdasarkan seberapa sering mereka memakai bahasa Kei dan keterlibatan mereka dalam kegiatan adat atau pendidikan. Tokoh setempat, tokoh agama, dan guru bahasa ikut diwawancarai untuk memberi sudut pandang kelembagaan.

Data dikumpulkan selama empat bulan lewat observasi partisipan, wawancara mendalam, dan rekaman percakapan alami. Peneliti tinggal sementara di tengah masyarakat serta menghadiri acara adat, pertemuan gereja, dan pertemuan keluarga. Wawancara semiterstruktur digelar dalam dua bahasa, Kei dan Indonesia. Teks ritual, bahan ajar lokal, dan arsip digital seperti unggahan media sosial berbahasa Kei turut dihimpun, lalu keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber, metode, dan waktu, ditambah pengecekan ulang kepada partisipan.

Baca juga Tata Bahasa Higaonon Akhirnya Dicatat dari Opol

Generasi 55 Tahun ke Atas dan Bahasa Kei di Beranda

Di rumah, pola pertama yang dicatat kedua peneliti adalah apa yang mereka sebut transmisi parsial. Kakek dan nenek aktif bertutur Kei kepada cucu, terutama saat bercerita, berdoa, atau menjalankan ritual keluarga, tetapi anak-anak jarang membalas dalam bahasa yang sama dan lebih sering menjawab dalam bahasa Indonesia. Bahasanya tidak diwariskan secara fungsional, namun tetap bertahan sebagai simbol budaya dan afektif yang penting bagi keluarga.

Seorang informan berusia 68 tahun, Tuan M., tetap berbicara dalam Veveu Evav kepada cucunya meski mereka membalas dalam bahasa Indonesia. Baginya, kefasihan kalah penting dibanding memastikan generasi muda terus mendengar dan mengenali bunyi serta makna bahasa itu. Pengamatan lapangan juga mencatat, pada pertemuan malam di beranda bahasa leluhur itu menjadi medium utama untuk menuturkan legenda leluhur, sementara pada siang hari bahasa Indonesia menguasai obrolan anak-anak dengan teman sebaya dan saat memakai telepon genggam.

Bagi generasi tua, bahasa itu tetap inti identitas mereka. “Kalau anak muda berhenti berbahasa Kei, mereka akan lupa dari mana mereka berasal,” kata seorang tetua berinisial B., 68 tahun, seperti dikutip dalam artikel. Dalam upacara seperti tete nangan, penghormatan kepada leluhur, atau pernikahan, Kei masih menjadi satu-satunya bahasa doa, nyanyian, dan tuturan ritual. Peserta muda di sebuah upacara di Ohoidertutu kerap tidak memahami sepenuhnya ucapan itu, tetapi tetap menunjukkan keterlibatan emosional dan rasa hormat.

Usia 35–55 Tahun, Generasi Perantara di Rumah

Generasi tengah, yang di bagian hasil disebut berusia 35–55 tahun, berperan sebagai perantara antara generasi tua yang ingin mempertahankan bahasa leluhur dan generasi muda yang lebih nyaman berbahasa Indonesia. Orang tua kerap mencampur kedua bahasa itu, terutama saat menyampaikan pesan emosional atau moral. Seorang ibu di Langgur teramati beralih ke bahasa Kei di ujung teguran kepada anaknya, yang oleh peneliti dibaca sebagai tanda bahwa bahasa itu masih membawa kekuatan simbolik untuk wibawa dan bobot moral.

Pilihan bahasa Indonesia di rumah, menurut temuan ini, biasanya didorong keinginan agar anak berhasil di sekolah dan naik secara sosial. “Saya ingin anak-anak saya berbahasa Kei, tetapi mereka selalu menjawab dalam bahasa Indonesia, jadi saya ikut saja,” kata seorang ibu berinisial S., 42 tahun. Seorang guru sekolah dasar dari Ohoi Elaar, Nyonya M., merumuskan jalan tengahnya: “Kalau saya berbicara sepenuhnya dalam bahasa Kei, anak-anak tidak mengerti. Tetapi kalau saya sama sekali tidak memakai bahasa Kei, mereka akan melupakannya.”

Pesisir kampung Tual di Pulau Kei Kecil dilihat dari laut
Pesisir kampung Tual di Pulau Kei Kecil dalam foto Ekspedisi Siboga 1899-1900. [Foto: Hugo Frederik Nierstrasz/Wikimedia Commons (Domain Publik)]

Dalam kerangka ideologi bahasa yang dipakai kedua penulis, sikap orang tua itu mencerminkan ideologi peralihan, ketika nilai simbolik tetap diwariskan walau pemakaian komunikatifnya melemah. Orang tua, tulis mereka, menjadi perantara antara ideologi budaya warisan dan kebutuhan pragmatis modernitas. Alih-alih menolak bahasa leluhurnya, mereka memosisikan ulang bahasa itu sebagai simbol moral dan budaya yang memperkuat kesatuan keluarga, sambil tetap mengakui bahasa Indonesia penting bagi mobilitas sosial anak.

Sekolah Tual dan Ohoidertutu dalam Empat Bulan Pengamatan

Di dua sekolah dasar yang diamati, bahasa Indonesia menjadi satu-satunya bahasa pengantar, dan tidak ada dukungan kelembagaan untuk memasukkan bahasa lokal ke kurikulum. Dalam satu kelas bahasa Indonesia di Ohoidertutu, beberapa murid mencoba mengaitkan peribahasa nasional dengan ungkapan Kei, tetapi guru mengarahkan mereka kembali ke bahasa Indonesia dengan alasan bahasa lokal bisa “membingungkan” murid. Anak-anak mengaku hanya mendengar bahasa itu di rumah, dan beberapa di antaranya “mengerti tetapi tidak bisa berbicara”.

Seorang guru, Nyonya L., menyebut bahasa Indonesia “lebih berguna” untuk ujian nasional dan keberhasilan akademik. Seorang siswi berusia 15 tahun, R., mengaku memahami Veveu Evav tetapi merasa “canggung” memakainya di sekolah karena teman-temannya mungkin tertawa. Di ruang publik Tual, papan nama, iklan, dan dokumen resmi seluruhnya berbahasa Indonesia. Dalam sebuah upacara adat di Ohoiel, pembukaan dibawakan dalam bahasa daerah, lalu sisa acara beralih ke bahasa Indonesia “supaya semua orang bisa mengerti”.

Tidak semua guru bersikap sama. Dalam pengamatan kelas di Langgur, para guru mengaku jarang memakai bahasa daerah karena keterbatasan kurikulum, tetapi sebagian pendidik menyelipkannya secara selektif dalam pelajaran kewarganegaraan atau seni. “Kami kadang memakai bahasa Kei supaya anak-anak tahu bahwa kita punya bahasa sendiri,” kata seorang guru berinisial I., 38 tahun. Menurut kedua peneliti, praktik itu mencerminkan kesadaran ideologis di tingkat pedagogis, meski tanpa kebijakan struktural yang menopang revitalisasi.

Baca juga Saat Bangsawan Sunda Bangga Bisa Berbahasa Jawa Kuno

Usia 13–25 Tahun dan Identitas Kei di TikTok

Pada generasi muda, kedua peneliti menemukan pergeseran dengan arah yang berbeda. Kalau dulu identitas Kei terikat erat pada kemampuan berbahasa, kini batasnya makin cair, karena identitas itu diekspresikan lewat praktik budaya, simbol, dan nilai. Dalam kompetisi musik tradisional, misalnya, banyak remaja bercakap terutama dalam bahasa Indonesia sambil mengenakan kain evav atau membawakan lagu Kei yang diaransemen dengan gaya kontemporer di hadapan penonton.

Di TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube, kata-kata Kei muncul terutama dalam keterangan unggahan yang bercampur dengan bahasa Indonesia. Pada satu video tari tradisional lir lim, seorang pengguna menulis “Bangga jadi anak Evav, walau kadang lupa tutur, hati tetap Kei”. Sebaliknya, seorang responden berusia 17 tahun, A., mengaku menghindari Veveu Evav di dunia maya karena takut salah eja dan karena bahasa itu “tidak cocok untuk media sosial”.

Mahasiswa berusia 21 tahun, T., mengaku tidak lagi fasih berbahasa Kei, tetapi tetap merasa terhubung dengan komunitasnya karena memegang nilai seperti ain ni ain atau saling membantu, serta hormat kepada yang lebih tua. “Yang penting bukan seberapa banyak bahasa Kei yang bisa kami ucapkan, melainkan bagaimana kami terus hidup dengan cara Kei,” katanya. Di Ikatan Mahasiswa Kei, rapat umumnya berbahasa Indonesia, tetapi anggota beralih ke bahasa leluhur dengan nada hormat saat menyebut tokoh leluhur atau konsep adat.

Tiga Generasi dalam Model IITM Litaay dan Rahawarin

Dari tiga lapisan generasi itu, kedua peneliti menarik satu pola. “Di tiga generasi, muncul pola yang konsisten: kebanggaan simbolik yang tinggi, tetapi penggunaan praktis yang menurun,” tulis Litaay dan Rahawarin. Temuan itu mereka sandingkan dengan gagasan ideologi simbolik Andriyanti pada 2019, bahwa di masyarakat multibahasa bahasa minoritas bertahan bukan karena dipakai sehari-hari, melainkan karena nilai simboliknya sebagai warisan budaya.

Pola itu mereka rangkum dalam Intergenerational Identity Transmission Model atau IITM, kaitan yang menurut mereka jarang dijelajahi dalam sosiolinguistik Indonesia. Model itu punya tiga dimensi. Penjangkaran budaya dipegang generasi tua, yang merawat cerita lisan, lagu rakyat, dan kisah leluhur. Mediasi linguistik dijalankan orang tua, yang memadukan dua bahasa agar komunikasi antargenerasi tetap berjalan. Pertunjukan identitas hibrida dijalankan generasi muda lewat unggahan, musik, dan narasi di ruang digital.

Model itu juga memasukkan dua dimensi yang, menurut penulisnya, memperluas teori sosialisasi bahasa, yakni digitalisasi dan interaksi lintas iman. Dalam konten digital buatan anak muda, himne Kristen kerap dibawakan dengan melodi tradisional Kei. Dalam ritual met do faan, doa tradisional masih dilafalkan dalam bahasa daerah, sementara maknanya dijelaskan dalam bahasa Indonesia agar semua peserta mengerti apa yang sedang diucapkan.

Baca juga Lagu Kampuang dan Furusato dalam Kajian Antropolinguistik

“Dalam pandangan ini, transmisi identitas bukanlah proses vertikal satu arah (dari tetua ke kaum muda), melainkan jaringan interaktif yang melibatkan negosiasi, penafsiran ulang, dan kolaborasi lintas ruang,” tulis kedua peneliti. Sebuah komunitas anak muda di Tual, misalnya, membuat video musik berbahasa Kei dengan teks terjemahan bahasa Indonesia agar liriknya bisa dipahami teman sebaya. Salah satu anggotanya, P., 23 tahun, menyebut tujuan mereka membuat bahasa itu “terdengar keren”.

Artikel ini tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian, dan beberapa detail naskahnya tidak seragam. Tahun pengumpulan data selama empat bulan itu tidak disebutkan. Rentang usia generasi dewasa ditulis 30–50 tahun di bagian metode, tetapi 35–55 tahun di bagian hasil. Desa yang disebut di metode adalah Ohoitel, Langgur, dan Elaar Lamagorang, sedangkan bagian hasil juga memuat pengamatan di Ohoiel, Ohoidertutu, Desa Faan, dan Ambon.

Pemilihan 30 peserta pun dilakukan secara purposif berdasarkan frekuensi pemakaian bahasa daerahnya, dan artikel tidak menyajikan angka tentang jumlah penutur. Kedua penulis menyatakan keberlanjutan bahasa itu tidak hanya bergantung pada jumlah penuturnya, tetapi pada cara komunitas memaknai arti budayanya. Bila ideologi positif itu tidak dibarengi praktik nyata di pendidikan, keluarga, dan ruang digital, tulis mereka, Veveu Evav berisiko tinggal sebagai warisan simbolik belaka.

Dalam kesimpulannya, Litaay dan Rahawarin menempatkan IITM sebagai tautan antara dua jalur yang, menurut mereka, selama ini dikaji sendiri-sendiri, yakni pewarisan bahasa dan pembentukan identitas. Dalam rantai itu, anak muda Kei mereka sebut sebagai perantara antara tradisi dan modernitas, sekaligus pelaku penting dalam menjaga warisan bahasa dan budaya di Indonesia Timur.

Bagikan

Baca Juga

Rumpun Bahasa Lamaholot di Lembata, Empat dari Tujuh Menurun
Bahasa Moi di Sorong Lebih Banyak Didapat di Luar Rumah
Kekerabatan Bahasa Sahu dengan Waioli Terdekat, 71 Persen
Suku Nuaulu Mengantar Jenazah ke Kampung Orang Mati di Hutan
Bahasa Adat Mombesara, Cara Tolaki Melamar lewat Kiasan Kebun
Tata Bahasa Higaonon Akhirnya Dicatat dari Opol