- Persentase kata kerabat Sahu dengan Waioli mencapai 71 persen, Sahu dengan Gamkonora 64 persen, dan Waioli dengan Gamkonora 65 persen.
- Ketiga angka berada di bawah ambang 81 persen sehingga ketiganya dikategorikan sebagai keluarga bahasa, bukan dialek.
- Konsonan di akhir kata Sahu dan Gamkonora disebut selalu mendapat vokal tambahan di ujungnya dalam Waioli.
- Pada 2019 Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara mengidentifikasi keempat bahasa itu sebagai dialek bahasa Sahu.
- Paper tidak memaparkan keterbatasan penelitian dan tidak menyebut jumlah penutur asli yang diwawancarai.
Daftar Isi
- Dari 2005 hingga 2019, Status yang Belum Diputuskan
- Duwila dan Rekan di Tiga Lokasi Halmahera Barat
- Peta Bunyi yang Disusun Tim Duwila
- Temuan 2026: Waioli Menambah Vokal di Ujung Kata
- Hitungan 2026 atas Kekerabatan Bahasa Sahu
- Silsilah Prabahasa SGW Versi Subuh dan Rekan
- Catatan pada Naskah 2026 dan Mata Rantai Berikutnya
Cekricek.id — Kekerabatan bahasa Sahu dengan Gamkonora dan Waioli, tiga isolek yang dituturkan di wilayah berdekatan di Halmahera Barat, Maluku Utara, lama berada di antara status bahasa dan dialek. Di provinsi itu, bahasa di Halmahera bagian selatan seperti Buli, Gane, dan Taba tergolong rumpun Austronesia, sedangkan bahasa di bagian utara seperti Ternate, Tidore, Tobelo, Sahu, Ibo, Waioli, dan Gamkonora digolongkan non-Austronesia.
Empat bahasa terakhir disebut sangat dekat dalam bunyi dan kosakata. Otoritas kebahasaan menggolongkan Sahu, Gamkonora, dan Waioli sebagai dialek bahasa Sahu, sementara penutur aslinya mengaku memakai bahasa yang berbeda-beda. Pertentangan soal kekerabatan bahasa Sahu itulah yang diuji ulang oleh Ety Duwila, Farida Maricar, dan Rahma Do Subuh dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, bersama Agus Supriyadi dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan universitas yang sama.
Hasil mereka dimuat dalam artikel Historical Relationship of the Sahu, Gamkonora, and Waioli Languages in West Halmahera, North Maluku di Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR) Volume 5 Nomor 6 tahun 2026, halaman 1671–1686. Persentase kata kerabat di antara ketiga isolek itu berkisar 64 hingga 71 persen, angka yang menempatkan ketiganya dalam kategori keluarga bahasa, bukan sekadar dialek dari satu bahasa.
“Status kekerabatan Sahu dengan Waioli, Sahu dengan Gamkonora, dan Waioli dengan Gamkonora adalah hubungan keluarga bahasa,” tulis Duwila, Maricar, Subuh, dan Supriyadi. Menurut para penulis, temuan itu memberi dasar empiris bagi perlunya meninjau ulang pemetaan bahasa serta upaya revitalisasi bahasa di Maluku Utara, provinsi yang bahasa-bahasa aslinya pada umumnya memperlihatkan ciri yang berbeda satu sama lain.
Dari 2005 hingga 2019, Status yang Belum Diputuskan
Sebelum riset ini terbit, dua catatan kelembagaan menjadi pegangan. Menurut SIL (2005), Waioli dan Gamkonora memiliki kemiripan leksikal 81 persen, angka yang oleh penulis paper dibaca sebagai tanda bahwa keduanya merupakan variasi atau dialek dari satu bahasa. Catatan yang sama menyebut Ibo, Waioli, Gamkonora, dan Sahu mirip dalam bentuk dan makna, tetapi status keempatnya sebagai bahasa tersendiri atau dialek belum ditentukan.
Pada 2019, Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara mengidentifikasi keempat bahasa itu sebagai dialek bahasa Sahu, dengan Ibo dinyatakan hampir punah. Para penutur tiap bahasa berpendapat lain karena merasa memakai bahasa yang berbeda. Di luar perdebatan status itu, penelitian tentang bahasa-bahasa Maluku Utara dengan pendekatan linguistik historis komparatif, menurut para penulis, masih sangat terbatas jumlahnya.
Baca juga Empat Gunung dan Dua Bahasa yang Sulit Disatukan
“Dari beberapa tulisan di atas, jelas bahwa masih ada pertentangan mengenai status bahasa-bahasa di Halmahera Barat,” tulis para penulis. Mereka mencatat sebagian besar kajian sebelumnya masih bersifat deskriptif, klasifikatoris, atau etnolinguistik, sehingga belum menghasilkan gambaran rinci tentang pola korespondensi bunyi, retensi leksikal, dan inovasi bersama. Kajian yang ada juga lebih sering membahas ketiga bahasa secara terpisah atau hanya menyoroti identitas sosiolinguistiknya.
Duwila dan Rekan di Tiga Lokasi Halmahera Barat
Tim Universitas Khairun memakai metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan historis komparatif. Data dikumpulkan lewat observasi, wawancara terstruktur dan tidak terstruktur dengan penutur asli, serta studi pustaka. Bahannya berupa 200 kosakata dasar Swadesh ditambah kata ganti, numeralia, frasa, dan kalimat, yang seluruhnya berasal dari kerja lapangan di tiga lokasi yang oleh penulis disebut kecamatan Sahu, Gamkonora, dan Waioli.
Bahasa Sahu dituturkan masyarakat Sahu di Kecamatan Sahu dan Sahu Timur, antara lain di Desa Worat-Worat, Tacici, Golo, Todahe, Awer, Hoku-Hoku, Idamgamlamo, dan Taraudu. Gamkonora dipakai di sejumlah desa di sekitar Gunung Gamkonora di Kecamatan Ibu, sedangkan Waioli dituturkan di selatan Kecamatan Ibu, tepatnya Desa Tosoa, serta sebagian Kecamatan Sahu. Kedekatan wilayah ini, menurut penulis, didukung kemiripan fonologis dan leksikal.
Untuk mengukur kekerabatan bahasa Sahu dengan dua tetangganya, tim memakai leksikostatistik: jumlah kata kerabat dibagi jumlah glos, yakni kosakata yang tersisa setelah kata pinjaman dan glos kosong dikeluarkan dari 200 kata. Sepasang kata dianggap kerabat bila identik, berbeda satu fonem, mirip secara fonetis, atau berkorespondensi fonemis. Dalam klasifikasi yang dipakai paper, 81–100 persen berarti satu bahasa, 37–80 persen keluarga, dan 12–36 persen rumpun.
Kebaruan yang diklaim penulis terletak pada penggabungan korespondensi fonem, pola inovasi, dan leksikostatistik dalam satu kerangka untuk ketiga bahasa sekaligus. Menurut mereka, pendekatan leksikostatistik yang lazim dipakai peneliti bahasa hanya menghitung kemiripan 200 kosakata Swadesh tanpa menimbang tingkat kemiripan fonologis, sehingga analisis yang memadukan keduanya belum pernah dilakukan secara konsisten untuk Sahu, Gamkonora, dan Waioli.
Peta Bunyi yang Disusun Tim Duwila
Ketiga bahasa memiliki lima vokal, yakni a, e, i, o, dan u, yang muncul di awal, tengah, dan akhir kata, kecuali di Waioli, tempat vokal e tidak ditemukan di awal kata. Sahu dan Gamkonora juga mengenal vokal panjang, misalnya lala: ‘baik’ dalam Sahu dan nane: ‘ini’ dalam Gamkonora, sedangkan Waioli tidak memilikinya. Diftong au dan oi ditemukan di ketiganya, sementara diftong ai hanya ada di Waioli dan Gamkonora.
Jumlah konsonan di ketiga bahasa sama, yaitu 20. Di Sahu dan Gamkonora konsonan dapat muncul di semua posisi, kecuali sejumlah konsonan seperti b, c, f, g, h, j, dan y yang tidak ditemukan di akhir kata. Di Waioli, konsonan hanya muncul di awal dan tengah kata. Pola suku kata Sahu dan Gamkonora adalah V, KV, VK, dan KVK, sementara Waioli hanya V, KV, dan KVK, sehingga kata-kata Waioli bersuku terbuka.
Bukti pertama kekerabatan bahasa Sahu dengan Gamkonora datang dari konsonan, satu-satunya jenis bunyi yang berkorespondensi di antara keduanya. Bunyi k dalam Sahu berpadanan dengan g dalam Gamkonora, seperti kosi dan gosi ‘telur’, kumi dan gumi ‘tali’, serta taki dan tagi ‘berjalan’. Bunyi r berpadanan dengan l, seperti rou dan lou ‘kaki’, roae dan loae ‘tiga’, sedangkan p berpadanan dengan b pada opo dan obo ‘tulang’.
Dalam kekerabatan bahasa Sahu dengan Waioli, hubungannya lebih berlapis karena korespondensinya, sempurna maupun tidak, menyentuh konsonan dan vokal. Pola k dan g kembali muncul pada kiyam dan giyama ‘tangan’, sedangkan p dan b tampak pada pesa dan besa ‘hujan’. Sejumlah kata dua suku dalam Sahu menjadi tiga suku dalam Waioli karena mendapat vokal tambahan di akhir, seperti lopi menjadi lobidi ‘malam’ dan ropos menjadi roboso ‘bengkak’.
Baca juga Bahalo, Goti, Tumang: Kosakata Sagu Halmahera
Antara Gamkonora dan Waioli, korespondensi juga menyentuh konsonan dan vokal, tetapi variasi hanya terjadi pada konsonan. Bunyi l dalam Gamkonora berpadanan dengan r dalam Waioli, misalnya lou dan rou ‘kaki’, toli dan torii ‘mencuri’, serta gudal dan gudara ‘rumput’. Konsonan sengau pun bervariasi, seperti gane dan game ‘kutu’ serta nane dan ane ‘ini’, begitu pula g dan k pada gaud dan kaudu ‘panjang’.
Temuan 2026: Waioli Menambah Vokal di Ujung Kata
Ciri paling menonjol datang dari Waioli. Para penulis menyatakan konsonan di akhir kata Sahu dan Gamkonora selalu mendapat vokal tambahan di ujungnya dalam Waioli, dan vokal itu bisa berupa a, e, i, o, maupun u. Contohnya orom menjadi oromo ‘makan’, camal menjadi camala ‘leher’, nanel menjadi nanele ‘mimpi’, dan opid menjadi obidi ‘ludah’. Daftar contohnya juga memuat kata berakhiran vokal, seperti sae menjadi saee ‘kepala’.
Inovasi Waioli dikelompokkan ke dalam tiga proses: penambahan fonem di awal kata atau protesis, di tengah kata atau epentesis, dan di akhir kata atau paragog. Protesis tampak pada uu ‘api’ dalam Sahu dan Gamkonora yang menjadi wuu dalam Waioli, serta eta ‘jatuh’ dalam Sahu yang menjadi yetaa. Contoh epentesis yang disajikan justru romdidi ‘dua’ dalam Sahu yang menjadi lomodidi dalam Gamkonora, bukan dalam Waioli.

“Temuan bahwa BW mengalami protesis, epentesis, dan paragog secara sistematis merupakan hal baru dalam kajian lokal ini,” tulis tim Universitas Khairun, dengan BW merujuk pada bahasa Waioli. Mereka menambahkan, penelitian sebelumnya belum memperlihatkan perbedaan fonologis yang sistematis di antara varietas-varietas tersebut, dan hasil kajian ini tidak sekadar deskripsi, tetapi juga sumbangan tipologis bagi studi bahasa-bahasa kerabat di Halmahera Barat.
Hitungan 2026 atas Kekerabatan Bahasa Sahu
Angka leksikostatistik menjadi inti klaim. Dari daftar 200 kosakata dasar Swadesh, persentase kata kerabat Sahu dengan Waioli mencapai 71 persen, Sahu dengan Gamkonora 64 persen, dan Waioli dengan Gamkonora 65 persen. Dengan susunan angka itu, kekerabatan bahasa Sahu dengan Waioli menjadi yang paling dekat di antara tiga pasangan yang dibandingkan, sedangkan dua pasangan lainnya hanya terpaut satu poin persentase.
Menurut penulis, kedekatan Sahu dan Waioli juga tampak secara geografis karena Waioli dituturkan di beberapa desa yang termasuk wilayah berbahasa Sahu. Ketiga angka berada di bawah ambang 81 persen yang dipakai paper untuk menyebut dua isolek sebagai satu bahasa, dan masuk rentang 37–80 persen untuk tingkat keluarga. Atas dasar itu, kekerabatan bahasa Sahu dengan Gamkonora maupun Waioli dikategorikan sebagai hubungan keluarga bahasa.
Hasil ini berbeda dari catatan lama tentang Waioli dan Gamkonora. Bila kemiripan 81 persen sebelumnya dibaca sebagai tanda keduanya satu bahasa, hitungan tim Universitas Khairun hanya menemukan 65 persen kata kerabat di antara keduanya. Paper tidak membahas penyebab selisih angka tersebut, dan tidak pula membandingkan daftar kosakata yang dipakai dalam dua pengukuran itu.
Silsilah Prabahasa SGW Versi Subuh dan Rekan
Dari korespondensi bunyi itu, para penulis menyusun pohon kekerabatan dengan satu induk yang mereka sebut prabahasa SGW, dari huruf awal Sahu, Gamkonora, dan Waioli. Menurut rekonstruksi mereka, prabahasa SGW pertama-tama berpisah menjadi Sahu dan Gamkonora. Pemisahan itu ditandai bunyi *k dalam prabahasa yang bertahan sebagai k dalam Sahu, tetapi berpadanan dengan g dalam Gamkonora dan Waioli, seperti taki dalam Sahu dan tagi dalam dua bahasa lainnya.
Waioli kemudian berkembang dengan ciri paling umum berupa paragog, seperti teos dalam Sahu dan Gamkonora yang menjadi teoso ‘berdiri’ dalam Waioli. Sahu dan Gamkonora, tulis penulis, masih mempertahankan bentuk-bentuk yang sama dengan Waioli, sementara Waioli mengalami inovasi. Meski Waioli berkembang berbeda dari Sahu dan Gamkonora, kekerabatan bahasa Sahu dengan Waioli justru dinilai paling dekat, sejalan dengan hitungan leksikostatistik.
Baca juga Gurabesi dan Empat Abad Arsip yang Berlubang
Dalam bagian penelitian lanjutan, penulis menyebut ketiga bahasa berakar pada tradisi linguistik Papua Halmahera Utara dan diturunkan dari satu bahasa leluhur, lalu berkembang lewat proses sosiokultural dan geografis yang berbeda. Di bagian itu pula mereka menulis bahwa Gamkonora mencerminkan inovasi dan pengaruh luar yang lebih luas, pernyataan yang tidak sejalan dengan bagian pembahasan yang menempatkan Waioli sebagai bahasa yang mengalami inovasi.
Catatan pada Naskah 2026 dan Mata Rantai Berikutnya
Paper tentang kekerabatan bahasa Sahu ini tidak memaparkan keterbatasan penelitiannya. Naskah juga tidak menyebut berapa penutur asli yang diwawancarai di tiap lokasi, maupun berapa glos yang tersisa setelah kata pinjaman dan glos kosong dikeluarkan dari 200 kosakata. Bagian penelitian lanjutan menyebut bukti dari fonologi, leksikon, morfologi, dan sintaksis, padahal data yang disajikan di badan naskah terbatas pada bunyi dan kosakata.
Beberapa angka juga tidak konsisten. Kalimat di bagian hasil yang memuat persentase terputus dan berulang, sehingga angka lengkapnya hanya terbaca dari tabel. Di bagian simpulan, angka 65 persen disebut sebagai kekerabatan Sahu dan Waioli, padahal tabel mencantumkannya untuk Waioli dan Gamkonora. Contoh paragog opid ditulis opidi, sementara tabel korespondensi menuliskannya obidi. Ibo disebut hampir punah di pendahuluan, tetapi dinyatakan punah di simpulan.
Dengan catatan itu, tim Universitas Khairun menempatkan temuannya sebagai bukti kuantitatif bahwa Sahu, Gamkonora, dan Waioli adalah satu keluarga bahasa. Mereka menyarankan pengumpulan data kebahasaan dan revitalisasi bahasa di Halmahera Barat, serta dokumentasi dan rekonstruksi lanjutan. Dalam rantai kajian yang bermula dari kemiripan 81 persen dan status dialek, kekerabatan bahasa Sahu kini bertumpu pada angka 64 hingga 71 persen dari hitungan tim Universitas Khairun.















