Pandara, Pantun Ternate yang Nyaris Tak Terdengar

A A

Pantai berbatu di Tidore dengan siluet Gunung Gamalama di Pulau Ternate di kejauhan. [Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Daftar Isi
  1. Merekam Suara, Menyalin Larik, Menerjemahkan Ulang
  2. Memilah Enam Belas Bait ke Dalam Dua Bentuk
  3. Membaca Nasihat yang Tersimpan di Larik Ketiga
  4. Mengembalikan Pandara ke Keluarga, Kampung, dan Sekolah

Cekricek.id — Rahma Djumati menyalakan perekam suara, lalu menunggu seorang penutur asli bahasa Ternate melafalkan empat larik yang sudah jarang terdengar di rumah-rumah kota itu. Bunyinya berima dan enak didengar. Maknanya tidak langsung terbuka, bahkan bagi sebagian orang Ternate sendiri. Bersama Sulmi Magfirah, ia mengumpulkan bait demi bait semacam itu dari para informan kunci, merekamnya, lalu menyalin dan menerjemahkannya kembali ke bahasa Indonesia satu larik demi satu larik. Perekam itu baru dimatikan sesudah bait terakhir selesai diucapkan.

Bait-bait itu bernama pandara. Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah, keduanya pengajar di Universitas Khairun, Ternate, menuliskan hasil kerja tersebut dalam Implementasi Nasihat Kehidupan Sastra Lokal Pandara dalam Mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Pendidikan Berkualitas, yang terbit di jurnal Metahumaniora Volume 15 Nomor 2, Agustus 2025, halaman 84 sampai 97. Keduanya memperlakukan pandara bukan sebagai hiburan yang sudah lewat masanya, melainkan sebagai bahan ajar yang masih bisa dipakai hari ini, di kota tempat bait-bait itu lahir dan dilisankan turun-temurun.

Pandara adalah puisi lama Ternate yang dilisankan dalam bahasa ibu. Mahdi menyebutnya pantun. Halil menempatkannya sebagai satu dari sekian sastra lisan Ternate, bersama dola bololo, dalil tifa, rorasa, mantra, tamsil, dan cum-cum, yang menurut catatannya masing-masing punya gaya sufistik berbeda. Di luar kelompok puisi itu, Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah mencatat sastra lisan Ternate juga memuat prosa berupa mite, legenda, dan fabel. Pandara sendiri mereka pilah menjadi dua: pandara pantun berlarik empat, dan pandara syair berlarik dua.

Merekam Suara, Menyalin Larik, Menerjemahkan Ulang

Ilustrasi tangan memegang perekam suara digital di ruang terbuka.
Ilustrasi tangan memegang perekam suara digital di ruang terbuka. [Foto: Pexels]

Pekerjaan itu dimulai dari daftar pertanyaan yang sengaja tidak dipakai berurutan. Rahma Djumati memilih wawancara tidak terstruktur, mengikuti rujukan metode yang ia ambil dari Pratiwi, dan menetapkan syarat cukup ketat bagi informan kuncinya: orang Ternate asli, menguasai bahasa ibu, dan benar-benar mengenal pandara. Setiap percakapan direkam sambil berlangsung. Data sekundernya diambil dari hasil penelitian terdahulu, buku, jurnal, dan makalah yang relevan. Rekaman itulah yang menjadi bahan mentah artikel mereka, bukan ingatan yang ditulis ulang belakangan.

Sesudah direkam, suara itu ditranskripsi, diterjemahkan dari bahasa Ternate ke bahasa Indonesia, lalu diseleksi, diklasifikasi, disajikan, dan disimpulkan. Sulmi Magfirah dan Rahma Djumati menyandarkan urutan kerja itu pada panduan penelitian kualitatif Sugiyono. Untuk membacanya, keduanya memakai dua pisau sekaligus. Strukturalisme, yang mereka kutip dari Ratna sebagai paham tentang unsur beserta mekanisme antarhubungannya, dipakai membedah bait. Hermeneutika, yang mereka sejajarkan dengan interpretasi dan pemahaman, dipakai menafsir makna teks beserta konteks yang melingkupinya. Keduanya menyebut hermeneutika sebagai metode yang paling sering dipakai dalam kajian karya sastra.

Baca juga Kajian Bahasa Sandi di Forum Gelap Kota Malang

Ada alasan mengapa pekerjaan itu dianggap mendesak. Tentang generasi muda Ternate hari ini, Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah menulis bahwa “jangankan isi syairnya, namanya saja jarang terdengar”, karena pandara telanjur dianggap barang zaman dulu yang tidak berguna. Keduanya berulang kali menunjuk permainan daring dan media sosial sebagai penyaing utama. Bunyi pandara memang menghibur, tulis mereka, sebab intonasinya mengikuti ritme kata dan kalimat. Tetapi yang mereka kejar makna di balik bunyi itu, dan makna itulah yang paling cepat menguap.

Istilahnya sendiri perlu diletakkan lebih dulu. Merujuk Nasihin, Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah menyebut sastra lokal sebagai sastra tradisional yang tumbuh sebelum pengaruh Barat masuk, dibuat dalam bahasa daerah setempat, sering kali tanpa nama pengarang, dan berisi persoalan masyarakat sekitar istana. Merujuk Chaedar, keduanya menambahkan bahwa kearifan lokal adalah kekayaan budaya yang mengandung kebajikan hidup, dan sastra lokal adalah salah satu wadah paling awet tempat kebajikan itu disimpan lalu diwariskan. Kearifan lokal itu, tulis mereka, bahkan bisa melintasi batas etnik dan menjadi nilai bersama.

Memilah Enam Belas Bait ke Dalam Dua Bentuk

Angka yang keluar dari pemilahan itu tidak seluruhnya konsisten. Simpulan artikel Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah menyebut enam belas jenis pandara: sembilan berbentuk pantun dan tujuh berbentuk syair. Abstraknya menyebut dua puluh enam, dengan rincian sembilan dan tujuh yang sama persis, sehingga rinciannya tidak menjumlah menjadi angka tersebut. Perbedaan itu tidak dijelaskan di bagian mana pun. Yang bisa dihitung ulang dari uraian di badan artikel adalah enam belas, dan angka itu pula yang keduanya pakai ketika menutup tulisan.

Pembedanya terletak pada struktur. Pandara pantun berlarik empat: dua larik pertama sampiran yang tidak membawa arti, dua larik berikutnya isi, dengan rima akhir yang umumnya ab-ab. Pandara syair hanya dua larik dan keduanya isi. Rahma Djumati mencontohkan satu pandara syair yang larik pertamanya berbunyi “Luri demo campaka”, yang ia terjemahkan sebagai sebuah perkataan, sementara larik keduanya menyuruh meninggalkan perkataan yang buruk. Rima itu, tulis keduanya, yang membuat pandara enak diucapkan sekaligus mudah diingat.

Tidak semua bait patuh pada pola itu. Sulmi Magfirah dan Rahma Djumati juga mencatat bait berlarik tiga yang sama sekali tidak terikat aturan pantun, dan satu bait lain yang mengulang larik yang sama sampai tiga kali semata-mata sebagai penekanan. Menurut keduanya, pandara Ternate lebih banyak diciptakan orang kebanyakan ketimbang sastrawan, sehingga bentuknya bergantung pada keinginan maestro yang melisankannya. Karena itu jumlah larik bukan patokan yang selalu bisa dipakai untuk mengenali pandara. Yang menentukan bentuknya adalah tujuannya, yakni supaya nasihat di dalamnya sampai kepada pendengar.

Membaca Nasihat yang Tersimpan di Larik Ketiga

Yang dicari Rahma Djumati sebenarnya bukan bentuk, melainkan nasihat di dalamnya. Satu pandara pantun yang ia catat membuka dengan ajakan menyatukan hati, lalu menyandingkan pala dengan fuli, dua bagian dari buah yang sama yang masak bersama dan jatuh bersama. Larik itu, tulis Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah, dipakai leluhur Ternate untuk mengingatkan bahwa Moloku Kie Raha — Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo — adalah empat kesultanan bersaudara, dan sejak lama menjadi semboyan persatuan di Maluku Utara.

Baca juga Ketakutan Si Cantik dalam Novel Cantik Itu Luka

Bait lain mengajarkan kerja keras lewat dua perumpamaan tubuh. Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah menerjemahkan larik pertamanya sebagai perintah menjadikan tangan seperti besi penjepit, dan larik keduanya menjadikan kepala seperti susiru, nampan penampi. Tangan yang kuat untuk bekerja, kepala yang rendah untuk tidak sombong. Malas, dalam bacaan keduanya, disebut perangai yang harus dijauhi. Nasihat itu, tulis mereka, dahulu diajarkan lewat praktik sehari-hari di dalam keluarga, bukan lewat pelajaran yang disusun di ruang kelas.

Satu bait lagi berbicara tentang guntur dan angin yang datang dari dalam tanah, lalu bertanya apa sebabnya. Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah menghubungkannya dengan mitos tolire gam jaha, cerita kampung yang tenggelam karena pelanggaran adat yang berat. Mitos itu, tulis keduanya, membuat sebagian penduduk asli Ternate sampai sekarang membaca peristiwa alam — letusan Gamalama, banjir, air laut yang tiba-tiba naik — sebagai akibat perbuatan manusia. Bait tersebut sekaligus menjadi cara lama mengajarkan orang menjaga alam.

Ada pula bait yang menyuruh mendengarkan orang berbicara sampai selesai. Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah membacanya sebagai pelajaran sopan santun yang dahulu ditanamkan kepada anak-anak Ternate, dan membandingkannya dengan keadaan sekarang ketika telepon genggam lebih sering menjadi lawan bicara. Bait berikutnya, yang berbicara tentang hak dan kewajiban hanya dalam dua larik, mereka kaitkan langsung dengan korupsi. Batas hak dan kewajiban itu, tulis keduanya, yang paling sering tidak lagi dijaga orang sekarang. Bait itu sangat pendek, tetapi menurut keduanya justru yang paling sering dilanggar sekarang.

Baca juga Nyanyian Te'o Renda Kian Jarang di Peminangan Rote

Dari seluruh bait yang terkumpul, Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah menarik sepuluh kelompok nasihat: komitmen hidup, sopan santun dalam berbicara dan mendengar, persaudaraan, pendidikan, ketaatan beragama, kerja keras dan rendah hati, saling menghargai tanpa memandang status sosial, tanggung jawab dan amanah, hak dan kewajiban, serta kesabaran. Penomoran nasihat di artikel itu sendiri melompat dari yang kedelapan ke yang kesepuluh. Hampir semuanya bermuara pada satu hal, yaitu cara memperlakukan orang lain. Seluruhnya mereka kelompokkan sebagai nilai pendidikan moral dan religius.

Mengembalikan Pandara ke Keluarga, Kampung, dan Sekolah

Bagian terakhir artikel itu berisi usul. Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah menawarkan tiga lapis sekaligus: pendidikan berbasis keluarga, tempat anak mendengar pandara lewat dialog singkat, pepatah, dan nasihat di rumah; pendidikan berbasis sosial, tempat kebiasaan itu diuji begitu anak keluar rumah dan berbaur dengan komunitas di sekitarnya; serta pendidikan formal, tempat pandara masuk lewat muatan lokal dan ekstrakurikuler bahasa dan sastra daerah. Pembiasaan dari rumah itu, tulis keduanya, yang kemudian terbawa ke lingkungan yang lebih luas.

Sasaran yang dibidik keduanya adalah poin keempat Sustainable Development Goals tentang pendidikan berkualitas, program yang dicetuskan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2015 dengan tujuh belas target. Menurut Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah, sebagian strategi itu sudah berjalan di Kota Ternate tetapi belum maksimal, dan yang paling sering tertinggal justru penguatan pendidikan karakter. Di titik itulah keduanya menaruh pandara: bukan sebagai mata pelajaran baru yang menambah beban jadwal, melainkan sebagai bahan yang sudah tersedia. Muatan lokal, menurut keduanya, mempermudah siswa mencerna pelajaran lewat lingkungan sekitarnya.

Usul tersebut belum diuji. Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah menyatakan pandara baru akan direkomendasikan kepada masyarakat, sekolah, dan pemerintah setempat, sehingga artikel mereka berhenti pada tahap tawaran konsep. Penelitiannya juga kualitatif deskriptif, bersandar pada sejumlah informan kunci di satu kota yang namanya tidak dicantumkan, dan tidak mengukur dampak apa pun terhadap nilai, perilaku, atau capaian belajar pelajar Ternate. Klaim bahwa pandara bisa menopang pendidikan berkualitas karena itu masih berupa argumen, belum bukti.

Pekerjaan semacam ini bukan yang pertama. Syahyunan lebih dulu mengidentifikasi nilai kearifan lokal dalam tradisi lisan masyarakat Ternate dan menyebut tradisi itu sebagai pesan verbal dari masa silam untuk generasi sekarang. Nurbaya menelusuri nilai pendidikan karakter dalam peribahasa Ternate, sementara Sarmina dan Masayu membaca metafora dan nilai budaya dalam sastra lisan dolabobo. Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah menempatkan pandara sebagai satu keping lagi dari dokumentasi Ternate yang belum selesai itu. Ketiga kajian itu mereka pakai untuk menegaskan bahwa sastra lokal bisa menopang pendidikan karakter.

Yang sudah aman sekarang adalah transkripnya. Rekaman suara yang dikumpulkan Rahma Djumati sudah berubah menjadi larik bercetak, lengkap dengan terjemahan dan tafsir maknanya, tersimpan di sebuah jurnal yang bisa diunduh siapa saja. Yang tidak bisa diamankan transkrip adalah kebiasaan mengucapkannya di rumah, dan justru kebiasaan itulah yang menurut Rahma Djumati dan Sulmi Magfirah sedang menghilang.

Bagikan

Baca Juga

Bahasa Wemale di Seram Dicap Kuno, Orang Tua Enggan Mewariskannya
Bahasa Enggano Mulai Tergeser di Rumah dan Upacara Adat
Nama Daun Ritual Tabib Mentawai Menyimpan Pesan Jangan Bersedih
Bahasa Kei Bertahan di Ritual, Surut di Sekolah dan Media
Rumpun Bahasa Lamaholot di Lembata, Empat dari Tujuh Menurun
Bahasa Moi di Sorong Lebih Banyak Didapat di Luar Rumah