- Banyak orang tua Wemale memilih bahasa Indonesia karena dianggap lebih maju untuk sekolah dan pekerjaan.
- Bahasa Wemale kerap dikaitkan dengan keterbelakangan, terutama di kalangan anak muda dan kelompok menengah berpendidikan.
- Walang belajar di Desa Uraur berlangsung tiap Sabtu pukul lima sore di ruang tamu seorang warga.
- Peneliti tidak menemukan satu pun kebijakan desa yang secara tegas mengatur pelestarian bahasa Wemale.
Daftar Isi
- Riset Terdahulu Banyak Bertumpu pada Sekolah dan Kota
- Iyon Menemukan Keluarga Wemale Beralih ke Bahasa Indonesia
- Cap Kuno yang Dicatat Iyon di Desa Uraur
- Sopacua dan Rekan Melihat Guru Bergerak Sendiri
- Kelas Sabtu Sore yang Diamati Iyon di Sebuah Ruang Tamu
- Salakay dan Rekan Tak Menemukan Kebijakan Desa untuk Bahasa
- Tempat Temuan Iyon dalam Rantai Riset Bahasa Daerah
Dari lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia, puluhan di antaranya sudah punah dan ratusan lainnya terancam. Gambaran itu dikutip dari dua kajian yang terbit pada 2020 dan 2021. Di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, bahasa Wemale termasuk yang rentan: penutur aktifnya terus berkurang, sementara bahasa Indonesia makin kuat di ruang umum dan di dalam rumah.
Keadaan itulah yang ditelusuri Gilbert Risky Iyon, Yustina Sopacua, dan Selvianus Salakay, ketiganya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura, Ambon. Artikel mereka berjudul Bahasa, Stigma, dan Perubahan Sosial: Merekonstruksi Identitas Lokal melalui Program Pelestarian Bahasa Wemale, dimuat di Populis: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Volume 17 Nomor 2 tahun 2023. Pertanyaan mereka sederhana: siapa yang masih menjaga bahasa ini, dan mengapa banyak orang justru menjauhinya.
Untuk menjawabnya, Iyon dan dua rekannya mendatangi beberapa desa di Seram Bagian Barat yang masih memiliki penutur Wemale, baik yang aktif maupun yang pasif. Mereka mewawancarai 21 orang, mulai dari kepala desa, guru sekolah dasar, pengajar di pusat kegiatan belajar masyarakat atau PKBM, orang tua murid, sampai tokoh adat. Mereka juga mengamati kelas, rumah warga, dan warung kopi, lalu memeriksa bahan ajar serta dokumen desa.
Riset Terdahulu Banyak Bertumpu pada Sekolah dan Kota
Sebelum penelitian ini, cara menyelamatkan bahasa daerah sudah sering dibahas. Iyon mencatat sejumlah kajian yang menekankan pendidikan dan media lokal, serta keterlibatan warga dalam mendokumentasikan dan mempelajari bahasa ibunya. Kajian Taher tentang bahasa Rejang dan Enggano di Bengkulu, juga kajian Hadzantonis pada 2019 tentang bahasa Osing di Banyuwangi, menunjukkan bahwa cara berbasis komunitas bisa berhasil bila ditopang prasarana sosial yang memadai.
Jalur di luar sekolah pun sudah pernah disorot. Iyon menyebut kajian Abbas pada 2021 tentang Sanggar Belajar Bahasa Makassar dan kajian Imsiyah bersama rekan-rekannya pada 2023 tentang kelas bahasa daerah di Bondowoso. Keduanya memperlihatkan bahwa pendidikan yang dikelola komunitas lebih leluasa memilih cara mengajar yang dekat dengan keseharian. Kajian Musi dan rekan-rekannya pada 2022 di komunitas Bugis-Makassar menekankan hal serupa.
Sampai di situ, menurut Iyon, masih ada yang belum tersentuh. Sebagian besar kajian itu berlangsung di wilayah yang dukungan lembaganya relatif kuat, atau di kota dan pinggiran kota. Kawasan kepulauan yang terpinggirkan seperti Seram Bagian Barat belum banyak dilihat. Hubungan antara keluarga, sekolah, dan pemerintah desa dalam menjaga satu bahasa juga masih menjadi celah, dan dari celah itulah penelitian ini berangkat.
Iyon Menemukan Keluarga Wemale Beralih ke Bahasa Indonesia
Dahulu keluarga menjadi tempat pertama seorang anak menerima bahasa ibunya. Di desa-desa yang didatangi Iyon, peran itu kini mundur dengan jelas. Di sebuah dusun yang dalam naskah hanya disebut Dusun W, tinggal sedikit keluarga yang masih memakai bahasa Wemale ketika berbicara dengan anak. Banyak orang tua mengaku memilih bahasa Indonesia karena dianggap lebih maju dan lebih berharga untuk sekolah serta pekerjaan.
Seorang ibu rumah tangga berusia 42 tahun, yang disebut Ibu Y, menjelaskan alasannya kepada peneliti. Ia tidak ingin anaknya kesulitan di sekolah karena terbiasa dengan bahasa yang tidak dipakai orang luar. Dari keterangan semacam itu, Iyon membaca bahwa bahasa Wemale dipandang hanya berguna di dalam rumah, tidak bernilai secara sosial maupun ekonomi.
Pengamatan di rumah-rumah warga memperkuat cerita tersebut. Pada sore hari di halaman rumah, anak-anak lebih banyak berbahasa Indonesia kepada orang tua dan teman sebaya, padahal orang tua mereka masih fasih berbahasa Wemale. Saat makan bersama atau acara keluarga kecil pun bahasa Indonesia tetap paling sering terdengar. Menurut Iyon, bahasa Wemale mulai kehilangan tempatnya sebagai bahasa kasih sayang dan keakraban di rumah.
Baca juga Salam Adat Wemale dan Alune di Seram, dari 20 Tersisa Enam Usulan
Cap Kuno yang Dicatat Iyon di Desa Uraur
Dahulu bahasa Wemale menjadi tanda pengenal utama komunitasnya. Kini, tulis Iyon, bahasa itu kerap dikaitkan dengan keterbelakangan, kekunoan, bahkan dianggap tidak cocok dengan gaya hidup masa kini. Cap seperti itu, menurut temuan mereka, banyak tumbuh di kalangan anak muda dan kelompok menengah yang berpendidikan.
Di Desa Uraur, seorang ibu rumah tangga yang disebut Ibu M.W. bercerita bahwa di lingkungan keluarga, anak-anak tidak lagi memahami bahasa daerah. Mereka tumbuh pada masa yang sangat dipengaruhi teknologi, dan lebih akrab dengan bahasa Indonesia lewat interaksi digital serta pergaulan. Menurut ibu itu, anak-anak mengikuti gaya bahasa yang dianggap modern dan merasa bahasa daerah hanya membuat mereka tampak berbeda, bahkan ketinggalan zaman.
Warga lain dari desa yang sama, Bapak C.H., mengatakan ia tidak bisa memaksa anak-anaknya berbahasa daerah karena mereka sudah terbiasa dan nyaman dengan bahasa Indonesia. Ia juga melihat kedatangan pendatang dan wisatawan mempercepat perubahan sikap itu. Bahasa Indonesia dianggap bisa dipakai dengan siapa saja dan lebih bergengsi dibandingkan bahasa Wemale.
Peneliti kemudian menyaksikannya sendiri. Dalam salah satu kegiatan belajar di PKBM, hanya sedikit murid yang mampu menjawab salam atau pertanyaan sederhana dalam bahasa Wemale. Ketika peneliti mencoba menyapa dengan kosakata Wemale, sebagian remaja tertawa atau menganggapnya candaan. Iyon menyimpulkan bahwa bahasa itu sudah kehilangan kedekatan di hati generasi muda dan mulai dipandang sebagai bahan lelucon.
Sopacua dan Rekan Melihat Guru Bergerak Sendiri
Berbeda dari keluarga, sekolah justru menunjukkan semangat menjaga bahasa, walau terbatas. Di SD N 2 Hatu, guru-guru menyisipkan bahasa Wemale dalam pelajaran muatan lokal dan ketika murid menyanyikan lagu tradisional. Seorang guru kelas yang disebut Bapak R mengatakan tidak ada modul resmi berbahasa Wemale. Ia tetap merasa perlu mengenalkan beberapa kosakata dan frasa dasar agar murid mengenali akar budayanya.
Hal serupa terlihat di SMP Kristen 1 Kairatu. Guru-guru di sana masih sering memakai bahasa Wemale ketika mengajar, tetapi kebiasaan itu tidak tercantum dalam kurikulum atau aturan sekolah. Seorang guru berinisial A.O. menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut lahir dari latar budaya pribadi guru, bukan dari arahan lembaga. Para siswa sendiri tetap berbahasa Indonesia selama pelajaran karena lebih mudah dipahami.
Ada pula sisi lain dari kebiasaan itu. Seorang guru Bahasa Indonesia berinisial W.O. menuturkan bahwa siswa sering bingung ketika guru menjelaskan pelajaran dengan bahasa daerah. Mereka mengaku paham, padahal banyak yang tidak mengerti karena kosakatanya terbatas. Sebagian siswa bahkan tidak lagi memahami bahasa Wemale, sebab bahasa itu sudah tidak dipakai di rumah mereka.
Baca juga Bahasa Kei Bertahan di Ritual, Surut di Sekolah dan Media
Kelas Sabtu Sore yang Diamati Iyon di Sebuah Ruang Tamu
Di tengah keadaan itu, peneliti menemukan ruang lain yang bekerja dengan cara berbeda. Namanya walang belajar, kegiatan yang dikelola PKBM. Di Desa Uraur, kelas ini berlangsung setiap Sabtu pukul lima sore di rumah seorang warga yang disebut Bapak E.S., yang juga pengajar utamanya. Ruang tamu rumah itu diubah menjadi kelas kecil berisi bangku kayu panjang, papan tulis sederhana, dan poster kosakata bahasa Wemale di dinding.
Anak-anak dan beberapa orang tua duduk berdampingan di sana. Mereka mengikuti pengenalan kosakata, menyanyikan lagu daerah, dan mendengarkan cerita rakyat yang dituturkan dalam bahasa Wemale. Pada sesi bercerita, peserta tidak hanya mendengar. Mereka diajak mementaskan ulang cerita itu dengan gaya tutur setempat, lengkap dengan lagu kalimat dan gerak tubuhnya.
Cara serupa dipakai di walang belajar yang dikelola PKBM di Desa Hatawano. Anak-anak diajak menyanyi lagu daerah, memainkan permainan tradisional dengan aba-aba dalam bahasa ibu, dan menceritakan kisah setempat dalam bahasa Wemale yang sederhana. Seorang pengajar yang disebut Ibu L.R. menyampaikan bahwa setelah beberapa minggu, anak-anak mulai mengucapkan beberapa frasa Wemale tanpa diminta, terutama saat bermain atau menyapa guru.
Dari pengamatan itu, Iyon dan rekan-rekannya menarik satu penilaian. “Ruang-ruang seperti PKBM membuktikan bahwa stigma terhadap bahasa lokal bukanlah sesuatu yang permanen,” tulis Gilbert Risky Iyon, Yustina Sopacua, dan Selvianus Salakay. Dalam suasana yang tidak menghakimi, menurut mereka, bahasa Wemale kembali mendapat tempat sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membanggakan.
Namun kelas itu belum menjangkau semua orang. Keikutsertaan remaja masih rendah, dan para pengelola mengakuinya sebagai tantangan serius. Bapak E.S. menjelaskan bahwa remaja menganggap bahasa daerah tidak gaul dan tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Kepala Desa Uraur yang berinisial J.L. menambahkan bahwa hasil program masih jauh dari harapan, sebab anak-anak lebih tertarik belajar bahasa Inggris daripada bahasa mereka sendiri.
Salakay dan Rekan Tak Menemukan Kebijakan Desa untuk Bahasa
Pihak ketiga yang diperiksa adalah pemerintah desa, dan di sinilah peneliti menemukan titik lemah yang nyata. Tidak satu pun kebijakan di tingkat desa yang secara tegas menyebut pentingnya menjaga bahasa Wemale. Dalam dokumen rencana pembangunan desa, urusan bahasa dan kebudayaan nyaris tidak ada. Pada dokumen rencana Desa Uraur, peneliti tidak menemukan satu rumusan pun tentang pelestarian bahasa setempat.
Seorang kepala dusun yang disebut Bapak M mengakui bahwa pihaknya sadar akan pentingnya bahasa, tetapi belum ada anggaran maupun prakarsa nyata untuk itu. Pemerintah desa lebih memusatkan perhatian pada pembangunan prasarana dan bantuan ekonomi. Kepala Desa Uraur menyebut upaya yang ada masih sebatas kegiatan musiman. Dukungan dana untuk walang belajar pun, menurut catatan Iyon, kecil dan tidak tetap.
Baca juga Bahasa Wolio Kian Jarang Dipakai, Anak Baubau Belajar Lewat Kartu
Kelemahan lain terletak pada hubungan antarpihak. Tidak ada pertemuan rutin yang mempertemukan guru, tokoh adat, kepala desa, pengelola PKBM, dan orang tua untuk membicarakan arah pelestarian bahasa. Akibatnya, tulis Iyon, tiap pihak bekerja sendiri-sendiri, terputus satu sama lain, dan kerap saling menyalahkan ketika sebuah upaya tidak berjalan baik.
Iyon dan dua rekannya menulis akibatnya dengan terus terang. “Bahasa pun akhirnya terjebak dalam ruang nostalgia tanpa peluang hidup yang nyata di masa depan,” tulis mereka. Selama keadaan itu tidak dibenahi, menurut ketiganya, pelestarian bahasa Wemale akan terus bergantung pada semangat sukarela perorangan, bukan pada tatanan yang bisa bertahan lama.
Tempat Temuan Iyon dalam Rantai Riset Bahasa Daerah
Ada satu peristiwa kecil yang dicatat peneliti dari lapangan. Dalam sebuah pertemuan warga yang mereka hadiri, para orang tua diminta menceritakan asal-usul nama kampung dalam bahasa Wemale. Saat itulah anak-anak mulai menunjukkan ketertarikan. Menurut Iyon, pada saat seperti itu bahasa tidak lagi berdiri sendiri, tetapi melekat pada cerita, ingatan, dan sejarah komunitasnya.
Sejumlah tokoh masyarakat menyampaikan harapan yang sejalan. Menurut mereka, walang belajar perlu pembaruan yang memadukan media digital, seni, dan kisah pribadi supaya lebih menarik bagi anak muda. Guru berinisial W.O. mengingatkan bahwa banyak anak muda masih canggung dan tidak percaya diri berbahasa Wemale di luar kelas. Kepala Desa Uraur mengakui daya tarik kegiatan itu masih terbatas bagi generasi baru.
Semua temuan ini berasal dari 21 orang yang diwawancarai dan dari pengamatan di beberapa desa di Seram Bagian Barat, yang dikunjungi peneliti beberapa kali. Nama warga yang dimintai keterangan ditulis dengan inisial. Iyon dan rekan-rekannya sendiri menyebut kajian tentang hubungan bahasa setempat dan pendidikan di luar sekolah di kawasan kepulauan timur Indonesia masih sangat sedikit.
Bila kajian terdahulu banyak berbicara tentang sekolah dan wilayah yang lembaganya kuat, penelitian ini menambahkan satu mata rantai dari desa-desa di Seram: keluarga yang melemah, guru yang bergerak tanpa pegangan, dan desa yang belum mengatur. Simpulan Iyon, Sopacua, dan Salakay menyebut pelestarian bahasa minoritas di Indonesia timur membutuhkan lebih dari sekadar bantuan teknis. Yang diperlukan ialah upaya membongkar stigma, memperkuat pengakuan sosial atas bahasa setempat, dan membangun kebersamaan lintas generasi.















