- Dari semua desa itu terkumpul 20 salam adat.
- Salam yang dikenal hanya Tabea, dan orang yang mendengarnya menjawab dengan Tabea pula.
- Warga Hentihu lalu memakai bahasa Melayu demi rasa aman, dan kebiasaan itu bertahan sampai sekarang.
- Tiga dari enam salam itu memakai unsur yang sama, Salamate, yang diartikan selamat atau aman.
Menjelang perayaan Maulid atau datangnya bulan Ramadan, satu kata diteriakkan dari jalan ke jalan di Desa Buano Utara: Upuo. Suaranya dibuat cukup keras supaya seluruh warga mendengar. Warga yang mendengar lalu membalas dengan satu kata pula, Jou. Begitulah salam generasi tua di desa itu digambarkan para tetua adat Buano Utara.
Adegan itu dicatat Abidin Wakano, Fitria Lapele, dan Eko Wahyunanto Prihono dari IAIN Ambon bersama Oscar Ndayizeye dari Hebei Foreign Studies University, China, dalam Salam Adat of Wemale And Alune Tribes in Maluku. Tulisan itu terbit di Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Humaniora volume 24 nomor 1, tahun 2025.
Buano Utara hanya satu titik dalam perjalanan mereka. Bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Seram Bagian Barat, para penulis mendatangi desa-desa suku Wemale dan Alune untuk mencari salam adat yang masih diingat warga. Dari desa ke desa, mereka lebih sering menemukan salam yang tinggal kenangan orang tua ketimbang salam yang hidup dalam percakapan harian.
Nunusaku
Wemale dan Alune adalah dua suku yang menurut naskah mendiami Seram bagian barat. Wemale menempati wilayah timur dan tenggara, sedangkan Alune tinggal di bagian barat laut. Keduanya disebut berasal dari dataran tinggi di sekitar Nunusaku, tempat yang oleh orang Seram disebut sebagai asal-usul mereka, dengan pulau yang dijuluki Nusa Ina, pulau ibu.
Dari Nunusaku, kedua suku itu turun ke pesisir lewat tiga cabang sungai: Tala, Eti, dan Sapalewa. Sebagian warga menetap di tepi sungai, sebagian lain di pesisir, bahkan ada yang pindah ke pulau tetangga. Wawancara di Eti dan Taniwel menyebut Wemale dan Alune pernah hidup bersama di Nunusaku, dan di beberapa wilayah bahasa keduanya dapat saling dipertukarkan.
Para penulis menempatkan kedua suku itu dalam falsafah Siwalima. Orang Maluku terbagi ke dalam kelompok Siwa dan Lima, tetapi tetap dianggap satu keluarga dalam semangat orang basudara. Di Seram, pembagian itu dikenal sebagai Patasiwa dan Patalima, dan Wemale serta Alune disebut mewujudkan monodualisme tersebut.
Warisan itu, menurut naskah, sedang memudar. Dari luar, penyebabnya adalah kolonialisme dan berlakunya Undang-Undang Pemerintahan Desa Nomor 5 Tahun 1979. Dari dalam, penyebabnya lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang tidak lagi mendukung budaya, ditambah benturan kepentingan yang pragmatis. Salam adat dipilih karena ia dianggap pintu paling sederhana untuk menghidupkan kembali identitas itu.
Baca juga Lamaran Adat Sahu Dimulai Pukul Empat Pagi di Halmahera
Eti dan Kaibobu
Desa Eti menjadi tujuan pertama. Dari wawancara dengan tetua adat setempat, para penulis mendapati salam adat di desa itu sudah tidak lazim dipakai. Salam yang dikenal hanya Tabea, dan orang yang mendengarnya menjawab dengan Tabea pula. Seorang tokoh sosial Eti menambahkan ungkapan Tabea Upu, dengan Upu sebagai sebutan bagi orang yang dihormati seperti raja atau tuan.
Yang membuat Eti mencolok adalah nasib bahasanya sendiri. “Bahasa Eti sebagian besar sudah terlupakan, karena orang berusia 50 tahun ke bawah tidak lagi menuturkannya,” tulis Wakano dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Artinya, salam yang tersisa di Eti bertumpu pada ingatan satu generasi yang tertua.
Di Desa Piru, yang tergabung dalam persekutuan adat suku Alune, obrolan singkat dengan beberapa tokoh adat justru memunculkan banyak salam. Ada Mese, Salamate, Somba Hatutene, Sosana Mate Mese, dan Tabea. Polanya seragam dengan Eti: salam dijawab dengan kata yang sama. Orang yang berkata Mese akan dibalas dengan Mese.
Desa berikutnya Kaibobu. Di sana salam yang dipakai adalah Tabea dan Malam Bae, yang menurut tetua adat diwariskan turun-temurun dari leluhur. Piter Souhuken, narasumber yang diwawancarai di desa itu, menjelaskannya dalam logat setempat. “Salam Tabea ini dong biasa pake par acara di forum-forum. Kalo siang orang-orang biasa ucap Tabea, tapi kalo malam dong bilang Malam Bae,” katanya.
Namun, naskah juga mencatat kedua salam itu nyaris tidak terdengar lagi di Kaibobu. Banyak bahasa asli di desa itu sudah menyusut jauh dan berada di ambang kepunahan. Dalam interaksi sehari-hari, sebagian besar warga Kaibobu lebih banyak berbicara dalam bahasa Melayu ketimbang bahasa daerah mereka sendiri.
Taniwel sampai Manipa
Kecamatan Taniwel terdiri atas tujuh permukiman, sebagian berada di sepanjang Sungai Tala dengan penduduk yang tinggal berjauhan. Meski wilayahnya luas, di ketujuh tempat itu hanya ditemukan satu salam adat, yakni Upu Ana, yang dijawab dengan Upu Ana pula. Naskah mencatat warga di sana menjunjung ikatan persaudaraan antarsuku.
Di Desa Loki, bagian dari suku Alune, warga bertahun-tahun memakai Tabea, Salamate, dan Mese. Tabea diucapkan ketika melintas di depan orang lain, dan banyak yang menyebutnya saat pertemuan maupun saat berpamitan. Salamate disebut sepadan dengan Tabea, sedangkan Mese diartikan sebagai jaga.
Desa Luhu, juga komunitas Alune, menyimpan ungkapan penyemangat para tetua, Atutu Lilie Salawa Huale, yang terjemahannya belum tersedia. Ungkapan itu dipakai untuk menyemangati, bukan untuk menyapa. Salam sehari-hari di Luhu adalah Ale, dijawab Ale, yang berarti saudara atau teman.
Di Kecamatan Huamual Belakang, warga Buano Selatan dan Buano Utara dulu memakai Kalpane atau Kalpeno, Whualpewe, dan Salamate. Whualpewe diucapkan sebelum kegiatan dimulai, Salamate di akhir acara. Selain Upuo, warga Buano Utara juga mengenal Sopai, salam yang bermakna hormat dan dipakai dalam suasana resmi maupun adat. Di Pulau Manipa, salamnya Sumba Upu dan Sumba Jou, dipakai antara lain untuk menyapa raja, kepala desa adat.
Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Hentihu
Kisah paling berat datang dari Desa Hentihu di Kecamatan Kairatu. Sebagian besar warganya tidak lagi mengenal salam adat. Naskah menyebut penyebabnya konflik antarsuku pada masa lalu, ketika menuturkan bahasa daerah bisa membuka asal suku seseorang dan membahayakan keselamatan.
Warga Hentihu lalu memakai bahasa Melayu demi rasa aman, dan kebiasaan itu bertahan sampai sekarang. Akibatnya, salam adat di wilayah itu hilang. Salam yang masih dipakai, menurut naskah, hampir sama dengan yang ditemukan di wilayah Wemale lainnya.
Catatan tentang Hentihu juga memuat usulan yang kelak muncul lagi dalam daftar rekomendasi. Seorang tokoh masyarakat sekaligus pendidik di Seram Bagian Barat menyebut Sou Salamate atau Tabea Salamate sebagai salam yang paling pas. Alasannya, kedua ungkapan itu paling melekat bagi warga dan kerap dipakai dalam upacara adat serta dalam tradisi Pasawari atau Kapata.
Di Desa Rumakay, masih di Kairatu, warga Wemale memakai Haone serta Malam Bae atau Siang Bae, tergantung waktu. Bahasa asli di sana juga menyusut dan kebanyakan warga kini berbahasa Melayu. Warga menyampaikan harapan agar pemerintah daerah membuat aturan yang melindungi bahasa lokal, antara lain lewat muatan lokal di sekolah.
Di Desa Latu, salam yang tercatat adalah Tabea Salamate dan Hiaho. Di Elpaputih, kampung suku Wemale, sebagian besar warga tidak mengenali salam adatnya karena warga di bawah 50 tahun tidak lagi berbahasa Wasia. Beberapa orang hanya ingat pernah mendengar leluhur mereka mengucapkan Mese, Salamate, dan Tupanea.
Enam Salam
Dari semua desa itu terkumpul 20 salam adat. Sebelas di antaranya diajukan sebagai salam untuk pertemuan resmi. Enam lalu dipilih sebagai salam adat yang direkomendasikan, yaitu Ho Salamate, Sou Salamate, Tabea Salamate, Mese, Upu Ana, dan Sopai. Pilihan itu diputuskan dalam diskusi pemerintah daerah, para peneliti, dan masyarakat adat.
Tiga dari enam salam itu memakai unsur yang sama, Salamate, yang diartikan selamat atau aman. Keaslian kata ini justru dipersoalkan penulisnya sendiri. Tidak ada bukti pasti bahwa Salamate dipakai sejak dulu oleh kedua suku, dan kamus dwibahasa Alune-Indonesia menunjukkan kata itu tidak dikenal orang Alune.
Para penulis mengaitkan Salamate dengan shalom dalam bahasa Ibrani dan salam dalam bahasa Arab, serta kata selamat dalam bahasa Indonesia, yang berakar pada huruf SLM. Awalan Ho dipakai untuk menarik perhatian pendengar, sedangkan Sou berarti bahasa atau tuturan. Tabea, yang juga dikenal di Indonesia Timur, di Maluku dipakai dalam ritual dan upacara.
Mese punya cara ucap sendiri. Kata itu diserukan dengan tegas, “Mese!”, sambil mengepalkan tangan, dan dekat maknanya dengan bae-bae, yang berarti hebat atau kuat. Ia hidup dalam semboyan Saka Mese Nusa dan dikaitkan dengan masohi, kerja sama untuk kepentingan bersama. Sopai menekankan hormat dan sering dipakai dalam interaksi antara pemerintah dan masyarakat.
Upu Ana mendapat tempat khusus. “Upu Ana mengungkapkan kasih sayang dan menjadi sarana untuk menyelesaikan konflik secara damai,” tulis Wakano, Lapele, Prihono, dan Ndayizeye dalam kesimpulan berbahasa Inggris. Menurut naskah, salam ini boleh dipakai siapa saja tanpa memandang kedudukan, dari pemimpin, orang tua, sampai anak-anak.
Batas temuannya diakui terang. “Informasi yang dicatat para peneliti tidak cukup untuk menjelaskan secara tuntas alasan di balik rekomendasi-rekomendasi ini,” tulis mereka. Para informan sebenarnya memberi alasan dalam wawancara dan diskusi kelompok, tetapi catatan tim tidak memadai, sehingga penulis berencana melakukan kajian lanjutan. Kajian struktur bahasa Wemale sendiri, menurut naskah, masih sedikit.
Baca juga Badamai, Adat Banjar yang Menunggu Diakui Perda Kalsel
Catatan di Naskah
Beberapa bagian naskah perlu dibaca dengan teliti. Bagian metode menyebut penelitian berlangsung di delapan kecamatan, tetapi yang disebut namanya hanya tujuh. Salam untuk pertemuan resmi disebut berjumlah sebelas, sedangkan daftar yang tertulis memuat sepuluh nama. Tabea juga disebut berarti permisi dalam bahasa Yunani, tanpa penjelasan lebih jauh.
Ejaan nama pun berubah-ubah. Kaibobu di teks menjadi Kaibobo di terjemahan kutipan, Upuo menjadi Upou, Siho Siah menjadi Siho Siaho, dan Wasia menjadi Waisa. Di Latu, teks menyebut Tabea Salamate dan Hiaho, sementara kutipan tetua menyebut Mese dan Siho Siah. Rujukan makna Salamate ditulis Erniati, Wahidah, dan Harlin, padahal daftar pustaka mencantumkan Erniati, Wahidah, dan Turiah.
Upuo tidak masuk enam salam yang direkomendasikan. Tetapi di Buano Utara, menurut tetua adatnya, kata itu pernah cukup untuk memanggil seisi desa menjelang Maulid dan Ramadan, dan satu kata Jou cukup untuk menjawabnya. Di antara dua puluh salam yang dicatat naskah, seruan itu tinggal milik generasi tua, dan ia hanya lengkap selama masih ada warga yang membalasnya.















