- Sebagian dari mereka tidak lagi menuturkan bahasa Wolio, baik secara aktif maupun pasif.
- Wolio hanya satu dari 14 bahasa yang dituturkan di Sulawesi Tenggara.
- Warga menyebut gejala yang sama mulai tampak pada orang dewasa.
- Kamus dan flashcard itu juga dicatatkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual.
Daftar Isi
Anak-anak di RT.01/RW.004 Kelurahan Wangkanapi, Kota Baubau, lebih sering bercakap dalam bahasa Indonesia ketika bergaul sehari-hari. Sebagian dari mereka tidak lagi menuturkan bahasa Wolio, baik secara aktif maupun pasif. Beberapa bahkan sama sekali tidak memahami bahasa yang dulu dipakai di lingkungan Kesultanan Buton itu.
Gambaran itu dicatat Nurhayati, Hartinawanti, dan Haswan dari Universitas Muslim Buton dalam Revitalization of the Wolio Language as a Pilot Area for Wolio Language Maintenance in Baubau City, terbit di jurnal Room of Civil Society Development volume 5 nomor 2, tahun 2026. Ketiganya menggelar kegiatan pengabdian untuk menjadikan lingkungan itu rintisan wilayah percontohan pemertahanan bahasa Wolio.
Wangkanapi
Wangkanapi berada di Kecamatan Wolio, wilayah yang menurut naskah dihuni masyarakat heterogen. Warga RT.01/RW.004 berasal dari berbagai daerah, yakni Buton, Wakatobi, Toraja, Bugis-Makassar, Muna, Jawa, dan beberapa daerah lain di Indonesia. Keberagaman itu membuat interaksi sosial dinamis, tetapi sekaligus memengaruhi keberlangsungan bahasa Wolio dalam percakapan sehari-hari.
Penurunan itu tidak hanya terlihat pada anak muda. Para penulis mencatat penutur aktif bahasa Wolio di lingkungan itu dan sekitarnya makin jarang dijumpai, termasuk pada kelompok usia dewasa. Anak usia sekolah, dari sekolah dasar sampai sekolah menengah, pada umumnya memakai bahasa Indonesia dalam pergaulan mereka.
Kalimat paling tajam dalam naskah menyangkut anak-anak itu. “Bahkan, sebagian anak sudah tidak lagi menuturkan Bahasa Wolio secara aktif maupun pasif, dan beberapa di antaranya tidak memahami Bahasa Wolio sama sekali,” tulis Nurhayati, Hartinawanti, dan Haswan dalam naskahnya. Mereka menyebut kondisi itu gejala pergeseran bahasa yang dapat memperlemah keberlanjutan Wolio bila tidak segera direspons.
Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Naskah menyebut sejumlah pendorong pergeseran itu. Selain akulturasi budaya, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, globalisasi, dan modernisasi ikut mengurangi pemakaian bahasa daerah. Tekanan juga datang dari makin kuatnya bahasa dominan di ruang pendidikan, media, dan kehidupan sehari-hari. Para penulis menegaskan gejala di Wangkanapi tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari tantangan yang lebih luas.
Mereka merujuk Budiono dan kawan-kawan yang mencatat peran bahasa daerah sebagai bahasa keluarga di Jawa Barat terus menurun akibat globalisasi dan teknologi informasi. Collins, dalam rujukan lain, menyebut banyak bahasa daerah di Indonesia bergeser fungsi karena menguatnya bahasa Indonesia dan ragam bahasa yang lebih dominan dalam kehidupan sosial.
Bahasa Kesultanan
Bahasa Wolio dituturkan di Kepulauan Buton. Secara historis ia dipakai di lingkungan Kesultanan Buton dan pusat pemerintahannya, wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Baubau. Naskah menyebut Wolio punya nilai historis dan kultural yang kuat, bukan sekadar alat komunikasi, dan berkedudukan penting sebagai identitas budaya masyarakat Buton.
Wolio hanya satu dari 14 bahasa yang dituturkan di Sulawesi Tenggara. Secara nasional, naskah mengutip data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tentang 718 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Seperti bahasa daerah lain, Wolio berkedudukan sebagai lambang kebanggaan dan identitas daerah, penghubung dalam keluarga dan masyarakat, serta pendukung kebudayaan daerah.
Naskah menambahkan Wolio juga dapat dimanfaatkan sebagai bahasa pengantar pada tahap awal pendidikan bila diperlukan. Karena itu, menurut para penulis, melemahnya pemakaian Wolio tidak hanya berdampak pada urusan komunikasi. Yang ikut dipertaruhkan adalah keberlanjutan identitas budaya masyarakat penuturnya sendiri.
Soal statusnya, naskah memuat dua catatan. Satu sumber menggolongkan Wolio stabil tetapi terancam punah. Data kebahasaan yang lebih baru menempatkannya pada kategori rentan, dengan indeks daya hidup pada rentang 0,6 sampai 0,80 berdasarkan sepuluh faktor vitalitas bahasa.
Dari dua catatan itu para penulis menarik kesimpulan yang hati-hati. “Kondisi ini menegaskan bahwa Bahasa Wolio masih digunakan, tetapi daya hidupnya terus mengalami tekanan sehingga memerlukan upaya pemertahanan yang lebih nyata,” tulis mereka. Di lapangan, kebutuhan lain juga tampak: referensi dan bahan ajar bahasa Wolio yang mudah diakses masih terbatas dan belum banyak diperbarui.
Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat
Dua Puluh Warga
Dua puluh warga RT.01/RW.004 diajak membicarakan kondisi bahasa mereka sendiri. Dalam pertemuan itu disampaikan keadaan aktual Wolio yang makin jarang dipakai, terutama di kalangan generasi muda. Beberapa warga lalu mengakui hal yang sama dari pengalaman mereka: di rumah dan dalam pergaulan, Wolio kini makin jarang digunakan.
Menurut naskah, pengakuan itu bukan hanya soal anak dan remaja. Warga menyebut gejala yang sama mulai tampak pada orang dewasa. Bagi para penulis, pernyataan warga itu menunjukkan masyarakat sebenarnya sudah menyadari penurunan pemakaian Wolio di lingkungan mereka, termasuk di dalam keluarga masing-masing.
Dari situ muncul temuan yang lebih mendasar. “Kondisi tersebut menegaskan bahwa persoalan Bahasa Wolio bukan hanya berkaitan dengan jumlah penutur, tetapi juga dengan melemahnya transmisi bahasa dalam lingkungan keluarga dan masyarakat,” tulis Nurhayati dan rekan-rekannya. Pertemuan dengan warga, dalam pandangan mereka, menjadi langkah awal membangun kembali perhatian terhadap Wolio sebagai bagian identitas budaya lokal.
Kamus dan Kartu
Jawaban tim atas kekurangan bahan ajar berupa dua benda. Pertama, kamus bergambar tiga bahasa yang memuat Wolio, Indonesia, dan Inggris. Kamus ini disusun untuk membantu peserta mengenal kosakata dasar Wolio lewat gambar dan padanannya dalam bahasa lain.
Kedua, flashcard kosakata empat bahasa: Wolio, Indonesia, Inggris, dan Latin. Naskah juga menyebutnya alat peraga berupa permainan kartu, dirancang sebagai media belajar yang lebih interaktif. Keduanya disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta, terutama anak usia sekolah, agar lebih menarik, kontekstual, dan mudah dipakai.
Para penulis menempatkan kedua produk itu lebih dari sekadar luaran administratif. Mereka mengaitkannya dengan temuan Ogunyale dan Ekpo bahwa kamus ilustratif dapat menjadi media pendukung pelestarian bahasa, serta Choo dan kawan-kawan yang menyebut media visual efektif membantu penguasaan kosakata pelajar usia muda.
Kamus dan flashcard itu juga dicatatkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual. Menurut naskah, pencatatan itu memperkuat nilai inovatif kegiatan karena produknya berpeluang dikembangkan dan direplikasi di tempat lain. Luaran tambahannya berupa publikasi di media massa untuk mengabarkan kegiatan kepada masyarakat yang lebih luas.
Ruang Kelas
Tiga puluh siswa usia sekolah kemudian memakai kamus dan kartu itu secara langsung. Pengenalannya berlangsung di sekolah dasar sekitar lokasi dan di lingkungan warga. Naskah mencatat siswa tampak antusias mengikuti sesi pengenalan kosakata, sementara guru dan peserta memberi tanggapan positif karena media itu membuat pengenalan bahasa lebih mudah dan menyenangkan.
Hasil itu, menurut naskah, sejalan dengan tulisan Hartinawanti dan rekan pada 2024 yang menunjukkan media pembelajaran bahasa Wolio dapat mendorong keterlibatan siswa. Para penulis menyimpulkan bahan ajar yang sesuai konteks lokal bisa langsung dipakai dalam pembelajaran bahasa daerah, dan pendekatan berbasis literasi dapat menjadi langkah awal pelestarian Wolio.
Batas temuan ini perlu dibaca jelas. Kegiatan di Wangkanapi tidak dirancang untuk mengukur peningkatan kemampuan peserta secara kuantitatif, sehingga naskah tidak menyajikan angka tentang kosakata Wolio yang dikuasai siswa sesudahnya. Antusiasme siswa dan tanggapan guru dicatat sebatas pengamatan, dan cakupannya satu lingkungan RT dengan 20 warga dan 30 siswa.
Para penulis menyarankan kegiatan serupa diperluas ke wilayah lain di Kota Baubau. Referensi dan bahan ajar berbahasa Wolio perlu disebarluaskan untuk sekolah dan masyarakat, sementara pemakaiannya di dunia pendidikan terus didorong. Di tingkat kebijakan, mereka menilai dukungan pemerintah daerah penting untuk memperkuat bahasa daerah di ruang publik.
Baca juga Di Baduy, Bersekolah Haram tapi Toleransi ke Luar Wajib
Catatan di Naskah
Pembaca yang teliti akan menemukan urutan bahasa kamus yang berubah-ubah. Abstrak berbahasa Inggris menulisnya Wolio, Inggris, Indonesia; bagian metode dan hasil menulis Wolio, Indonesia, Inggris; lalu keterangan gambar dan pembahasan kembali ke Wolio, Inggris, Indonesia. Bahasa Latin pada flashcard juga disebut tanpa penjelasan apa yang ditulis dalam bahasa itu.
Tahun rujukan pun tidak seragam. Choo, Pandian, dan Rethinasamy ditulis bertahun 2024 di pembahasan, tetapi 2019 di daftar pustaka; Ogunyale dan Ekpo tertulis 2025 di teks dan 2024 di daftar pustaka. Bagian hasil menyebut judul kegiatan Peningkatan Literasi Bahasa Wolio, berbeda dari judul artikel, sementara ucapan terima kasih menyebut hibah tahun anggaran 2023.
Kamus dan kartu empat bahasa itu kini sudah dipegang tiga puluh siswa di Wangkanapi, di lingkungan tempat sebagian anak tidak lagi memahami Wolio sama sekali. Naskah belum bisa menyebut berapa kata yang tinggal di ingatan mereka. Yang tercatat baru bahwa bahasa kesultanan itu kembali dibawa ke ruang kelas, lewat gambar dan kartu.















