Bahasa Enggano Mulai Tergeser di Rumah dan Upacara Adat

A A

Kapal feri bersandar di Pelabuhan Kahyapu, Pulau Enggano, saat truk bermuatan pisang menunggu [Foto: Ichan.dgmc/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Penutur bahasa Enggano tercatat 1.424 dari 3.008 penduduk enam desa, atau 47,34 persen.
  • Banyak anak memahami bahasa Enggano tetapi menjawab dengan bahasa Indonesia atau bahasa lain.
  • Enggano tinggi kehilangan peran di upacara adat, kegiatan keagamaan, dan percakapan orang tua dengan anak.
  • Peneliti mengusulkan dewan pelestarian yang melibatkan pemerintah daerah, masyarakat adat, dan akademisi.
Daftar Isi
  1. Penutur di Enam Desa
  2. Paham tetapi Tak Menjawab
  3. Dua Tingkat Bahasa
  4. Empat Abad Bergeser
  5. Kalimat yang Berganti Bahasa
  6. Sikap Penutur Menentukan
  7. Usul Sejak 2009
  8. Tiga Pihak Penjaga

Bahasa Enggano masih terdengar, tetapi tidak lagi sendirian. Di pasar pelabuhan Pulau Enggano, saat kapal bersandar, penjual dan pembeli masih menawar harga beras, buah, dan sayur dengan bahasa itu. Tetapi bahasa yang terdengar sudah bercampur dengan bahasa lain supaya terasa akrab bagi penduduk asli maupun pendatang.

Gambaran itu dicatat Muhammad Dian Saputra Taher, Akhmad Khanif, Balqis Alyamayadita Rahman, Kafi Dewanda, dan Aprillia Firmonasari dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Laporan mereka berjudul Enggano Language Viability: Diglossia Leakage Phenomenon and Endangered Language Defense Strategy in Enggano. Artikel itu terbit di jurnal LINGTERSA (Linguistik, Terjemahan, Sastra) volume 3 nomor 1 tahun 2022.

Mereka bekerja pada Juni sampai September 2020. Sebanyak 57 pelajar SMP dan SMA di Pulau Enggano mengisi angket. Dua kepala suku, enam kepala subsuku, Kepala Desa Apoho, Sekretaris Kecamatan Enggano, Kantor Bahasa Bengkulu, dan warga penutur diwawancarai.

Penutur di Enam Desa

Pulau Enggano masuk wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Pulau itu dihuni enam suku, yakni lima suku asli dan satu suku bagi pendatang yang diberi gelar Kaamay. Pemimpin tertinggi lembaga adatnya disebut Pa’buki, kepala suku utama.

Bahasa mereka paling jauh kekerabatannya dari bahasa lain di Bengkulu, seperti Melayu Bengkulu, Serawai, dan Rejang. Paper mengutip hitungan yang menempatkan perbedaannya pada 81–100 persen. Kini bahasa itu hanya menjadi alat komunikasi di dalam suku, sedangkan antarsuku orang memilih bahasa pendatang atau bahasa Indonesia.

Data yang dikutip para peneliti dari kajian Wibowo mencatat 3.008 penduduk di enam desa. Penutur bahasa Enggano berjumlah 1.424 orang, atau 47,34 persen. Dalam pendahuluan, paper menyebut angka 1.424 orang itu sebagai jumlah penutur saat ini.

Persentase penutur bahasa EngganoApoho 89,00%; Meok 72,24%; Malakoni 67,17%; Kaana 52,56%; Banjarsari 8,40%; Total enam desa 47,34%.Persentase penutur bahasa EngganoLima desa dan total enam desa; angka perkiraan yang dikutippaper dari Wibowo0%25%50%75%100%Apoho89,00%Meok72,24%Malakoni67,17%Kaana52,56%Banjarsari8,40%Total enam desa47,34%
Sumber: Muhammad Dian Saputra Taher dkk., Enggano Language Viability: Diglossia Leakage Phenomenon and Endangered Language Defense Strategy in Enggano, LINGTERSA (Linguistik, Terjemahan, Sastra), 2022. Grafik: Cekricek.id

Angkanya berbeda dari desa ke desa. Di Apoho, 267 dari 300 penduduk tercatat sebagai penutur, atau 89 persen. Di Banjarsari hanya 67 dari 797 orang, atau 8,40 persen.

Untuk tiga desa lain, tabel yang sama memuat persentasenya. Meok mencatat 72,24 persen, Malakoni 67,17 persen, dan Kaana 52,56 persen. Paper menyebut bahasa Enggano masih kuat di empat desa itu karena mayoritas penghuninya masih penduduk asli pulau.

Angka penutur itu punya batas yang diakui paper. Para peneliti menulis jumlah penutur tidak bisa dipastikan, sebab yang terhitung adalah gabungan penutur aktif, penutur pasif, dan orang yang sekadar keturunan penutur. Hitungannya, kata mereka, hanya perkiraan dan tidak sepenuhnya mewakili seluruh penduduk pulau.

Paham tetapi Tak Menjawab

Anak-anak di Apoho dan Meok masih lancar berbahasa Enggano dalam keseharian mereka. Di beberapa desa lain di pulau itu keadaannya berbeda. Mayoritas anak memakai bahasa Indonesia dan Melayu Bengkulu, baik di sekolah maupun di rumah.

Di dalam keluarga, bahasa Enggano sebenarnya masih diajarkan secara lisan. Sebagian besar anak mengerti kata-kata yang diucapkan kepada mereka. Namun mereka tidak sanggup membalas sepenuhnya, lalu menjawab dengan bahasa Indonesia atau bahasa lain.

Penutur aktif bahasa Enggano kini didominasi generasi tua. Paper menggambarkan kebiasaan mereka sebagai sistem ingat, pakai, lalu mati. Akibatnya, tidak ada upaya menuliskan bahasa itu sebagai sumber belajar bagi generasi berikutnya.

Anak muda yang merantau ke luar pulau juga makin jarang memakainya. Sebagian dari mereka memilih menetap di rantau. Keadaan ini, tulis paper, menurunkan mutu penutur asli bahasa Enggano.

Para peneliti merangkum empat faktor di balik pergeseran itu. Keempatnya adalah perpindahan penduduk, kelembagaan, ekonomi, dan alih generasi. Faktor terakhir menyangkut seberapa sering generasi pewaris memakai bahasa Enggano dalam hidup mereka.

Baca juga Bahasa Moi di Sorong Lebih Banyak Didapat di Luar Rumah

Dua Tingkat Bahasa

Bahasa Enggano mengenal dua tingkat. Ada Enggano tinggi untuk situasi resmi dan Enggano rendah untuk percakapan sehari-hari. Pembagian fungsi semacam itu disebut diglosia, yang dicontohkan paper sebagai satu ragam untuk suasana resmi di kantor dan ragam lain untuk suasana akrab di rumah.

Pembagian itu kini bocor. Paper menerangkan kebocoran diglosia sebagai proses ketika sebuah bahasa tidak lagi dituturkan karena dianggap kurang bergengsi dibanding bahasa lain. Bahasa Enggano dinilai kurang bergengsi untuk berbicara dengan pendatang dari luar pulau, yang memakai bahasa Indonesia atau bahasa suku lain.

Empat Abad Bergeser

Para peneliti membagi riwayatnya menjadi empat fase. Pada abad ke-18, orang Enggano belum mengenal tingkat bahasa. Enggano tinggi dipakai di semua situasi dan dipahami semua generasi.

Pada abad ke-19, mempelajari Enggano tinggi dirasa memakan waktu lama. Tingkat bahasa pun terbelah. Enggano rendah lahir dari kumpulan kosakata yang paling mudah diucapkan, dan semua lapisan masyarakat masih memahami keduanya.

Dua fase berikutnya disusun dari temuan lapangan penelitian ini. Pada abad ke-20, generasi tua tetap memakai Enggano tinggi dalam situasi resmi. Generasi muda mulai meninggalkannya karena sulit dipahami, sementara bahasa Indonesia mulai dipilih untuk percakapan sehari-hari.

Abad ke-21 disebut puncak kebocoran. Enggano tinggi kehilangan peran dan fungsinya. Tempatnya dalam situasi resmi diisi Enggano rendah dan bahasa Indonesia, termasuk di upacara adat, kegiatan keagamaan, dan percakapan orang tua dengan anak.

Di luar situasi resmi, bahasa pendatang lebih dominan. Paper menyebut bahasa Melayu Bengkulu, Jawa, Batak, dan Serawai sebagai pilihan warga saat berinteraksi. Semua itu dipakai di samping bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari.

Kalimat yang Berganti Bahasa

Kebocoran itu muncul dalam tiga bentuk, yakni alih kode, campur kode, dan hilangnya tingkat tutur. Alih kode berarti penutur berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain. Pada penutur Enggano, perpindahannya menuju bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Bengkulu.

Empat fase pergeseran bahasa EngganoEmpat fase pergeseran bahasa EngganoEmpat fase pergeseran bahasa EngganoRagam bahasa yang dipakai masyarakat menurut paperAbad ke-18Enggano tinggi dipakai di semua situasi tuturAbad ke-19Enggano tinggi untuk situasi resmi, Engganorendah untuk sehari-hariAbad ke-20Generasi muda meninggalkan Enggano tinggi;bahasa Indonesia mulai dipakaiAbad ke-21Enggano tinggi kehilangan peran; bahasapendatang dominan sehari-hari
Sumber: Muhammad Dian Saputra Taher dkk., Enggano Language Viability: Diglossia Leakage Phenomenon and Endangered Language Defense Strategy in Enggano, LINGTERSA (Linguistik, Terjemahan, Sastra), 2022. Grafik: Cekricek.id

Paper mencatat satu contoh alih kode dari seorang penutur. Tuturannya berbunyi Aih, akarak galon uwa. Kena marah ibu pasti. Paper mengartikannya sebagai galon air milik bibi rusak dan ibu pasti akan marah.

Paper menyebut alasan orang berpindah bahasa. Tidak semua orang lagi mengerti bahasa Enggano. Anak-anak sekarang, tulis paper, lebih banyak memakai bahasa Indonesia daripada bahasa ibunya.

Contoh lain dibuka dengan frasa Melayu Bengkulu Ambo idak punyo motor, yang berarti penutur tidak punya sepeda motor. Ia lalu meminta diantar dalam bahasa Enggano. Melayu Bengkulu dipilih karena banyak pendatang berasal dari daratan Bengkulu, dan bahasa itu lebih mudah dipelajari orang Enggano.

Pilihan bahasa bergantung pada lawan bicara, topik, dan suasana. Campur kode berbeda lagi, sebab potongan dua bahasa atau lebih masuk ke dalam satu tuturan. Paper mencontohkan seorang guru perempuan yang menyelipkan frasa buka buku dan waktu tigo puluh menit ke dalam perintah berbahasa Enggano kepada muridnya.

Baca juga Bahasa Kei Bertahan di Ritual, Surut di Sekolah dan Media

Sikap Penutur Menentukan

Angket pelajar dipakai untuk mengukur satu hal. Para peneliti menguji hubungan antara sikap penutur dalam memilih bahasa dan keberadaan pemakaian bahasa Enggano. Koefisiennya 0,949 dengan signifikansi 0,023, yang mereka baca sebagai hubungan sangat kuat dan bermakna.

Maknanya dirumuskan paper begini. Makin tinggi sikap penutur dalam mempertimbangkan pemakaian bahasa daerah, makin terjaga keberadaan bahasa Enggano dari ancaman kepunahan. Hubungan itu diukur dari jawaban 57 pelajar atas angket sikap bahasa.

“Hasil analisis menunjukkan bahwa masyarakat di Pulau Enggano memiliki keinginan untuk mempertahankan bahasa Enggano dan memakainya dalam kehidupan sehari-hari,” tulis Muhammad Dian Saputra Taher dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris, yang diterjemahkan di sini. Hanya saja, lanjut mereka, masyarakat butuh tempat atau sumber belajar. Bantuan pemerintah atau pihak lain juga diperlukan.

Paper juga menilai daya hidup bahasa ini. Statusnya disebut mengkhawatirkan dan tergerus, mengarah ke ancaman kepunahan. Paper juga mencatat sisi lain: kebocoran itu bisa dipahami sebagai upaya menjaga keharmonisan antara penduduk asli dan pendatang.

Usul Sejak 2009

Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, menurut paper, belum resmi melakukan upaya pelestarian. Kepala suku, pintu suku, dan pemerintah Kecamatan Enggano sudah mengusulkan muatan lokal bahasa Enggano sejak 2009. Wacana itu belum terwujud karena tidak ada rancangan kurikulum, dana, dan tenaga pendidik.

Upaya berikutnya datang dari pejabat adat. Mereka mewajibkan pemakaian bahasa Enggano dalam pelaksanaan upacara adat dan menganjurkan pemakaiannya di lingkungan keluarga. Paper menilai upaya ini belum berarti banyak, mengingat kebocoran dalam percakapan sehari-hari generasi muda.

Ada pula soal tulisan. Bahasa Enggano tidak memiliki aksara, sulit ditulis, dan sistem bunyinya rumit dipelajari. Karena itu tradisi lisannya, tulis para peneliti, perlu dikonservasi dan direvitalisasi.

Baca juga Bahasa Wolio Kian Jarang Dipakai, Anak Baubau Belajar Lewat Kartu

Tiga Pihak Penjaga

Para peneliti mengusulkan sebuah lembaga budaya. Mereka menamainya Dewan Konservasi dan Revitalisasi Bahasa Enggano, dengan bentuk yang ditentukan lewat kesepakatan bersama. Anggotanya bisa berasal dari kepala suku, pintu suku, pemerintahan adat, dan pihak yang berkepentingan.

Pihak pertama adalah pemerintah daerah sebagai pemegang kunci. Tugasnya menetapkan muatan lokal bahasa Enggano di pendidikan formal, sekaligus menyediakan pendidik, kurikulum, dan dana. Jalur sekolah dianggap penting karena fungsi keluarga dan masyarakat sebagai tempat pelestarian budaya melemah.

Pihak kedua adalah masyarakat Enggano sendiri. Kepala suku mengelola sanggar budaya bernama Sanggar Kapa-Kapa Dopok. Namun kegiatannya masih terbatas pada pengajaran budaya seperti tari tradisional.

Pengajaran bahasa oleh masyarakat baru sebatas lisan. Paper menyarankan pembelajaran tertulis dengan agenda tetap yang mampu menarik minat generasi muda. Cara ini sekaligus menjadi dokumentasi bahasa oleh masyarakat setempat.

Pihak ketiga adalah akademisi dan peneliti. Mereka diminta mendokumentasikan tata bahasa, menyusun kamus, dan menyiapkan bahan ajar. Sejauh ini, tulis paper, yang sudah berjalan adalah dokumentasi awal lewat perencanaan buku saku.

Tujuan akhirnya, menurut paper, seluruh warga tetap memakai bahasa Enggano sehari-hari dan makin bangga pada bahasa itu. Di pasar pelabuhan, bahasa itu masih dipakai untuk menawar harga.

Bagikan

Baca Juga

Ruang Hidup Orang Rimba Cukup Terjaga, Pendidikan Masih Rendah
Tanaman Obat Flores dari Pesisir dan Gunung, Kebanyakan Direbus
Suku Ma’ya Raja Ampat Memalang Pos Konservasi di Laut Sendiri
Orang Lauje Melarung Perahu Sesaji agar Wabah Hanyut ke Laut
Kemantan Petalangan, Dukun yang Marah Melihat Hutannya Dibabat
Noken Suku Sougb di Papua Barat Dirajut dari Serat Daun Nanas