Daftar Isi
Cekricek.id — Pada 1658, pelaut Spanyol dan Portugis menutup catatan terakhir mereka tentang pesisir Papua. Catatan Belanda berikutnya baru muncul pada 1716. Di antara dua tanggal itu terbentang 58 tahun tanpa dokumen. Sesudahnya jeda serupa berulang, pada 1784 dan 1828. Lubang sepanjang itu bukan kecelakaan arsip. Ia bentuk umum pencatatan tentang wilayah di luar Jawa, tempat satu laporan bisa berjarak lebih dari empat generasi dari laporan sebelumnya.
Persoalan itu yang dibongkar Pheres Sunu Widjayengrono dan Rusli M. Said dari Universitas Khairun dalam artikel Relasi Maluku dan Papua Austronesia dalam Legenda Gurabesi: Tinjauan Awal, terbit di Jurnal Pusaka, Vol. 5 No. 2, tahun 2025. Keduanya menelusuri identitas etnik komunitas Papua di pesisir lewat satu tradisi yang dibagi bersama antara Papua dan Tidore. Tradisi itu dikenal sebagai Sekfamneri, atau Guru Besi, atau Gurabesi.
Sifat arsipnya berbeda-beda dan itu menentukan hasil bacaan. Catatan Spanyol dan Portugis abad ke-16 dan ke-17 lahir dari singgah singkat di pesisir yang mudah dijangkau. Bentuknya buku harian dan catatan perjalanan, sering berupa kisah semi-fiktif yang menonjolkan penulisnya sebagai penakluk. Dokumen Belanda lebih kering. Isinya dekret pemerintah, laporan resmi, surat, dan artikel koran, ditambah serial dokumen VOC pada abad ke-18.
Arsip misionaris punya cacat lain. Pada masa permulaan gerakan misi, catatannya cenderung menjustifikasi dan bersandar pada historisisme Agustinian. Kerangka itu membagi dunia menjadi kota Tuhan dan kota Setan. Akibatnya penduduk Papua muncul sebagai objek pengamatan, hampir tidak pernah sebagai subjek yang berbicara. Widjayengrono menyebut kondisi itu sebagai penolakan implisit terhadap orang Papua sebagai subjek sejarahnya sendiri.
Paruh Kedua Abad ke-15: Sekfamneri Berlayar ke Tidore

Di titik itulah legenda Gurabesi masuk. Ia diyakini orang Papua asli, lahir di Papua, dengan nama asal Sekfamneri. Nama Guru Boesi atau Guru Besi dalam bahasa Melayu berarti ahli besi. Pekerjaan pandai besi termasuk yang paling dihormati di kalangan orang Papua, dan gelar itu menandai perannya sebagai pahlawan budaya. Sampai paruh kedua abad ke-15, hubungan Papua dengan Maluku berjalan sebagai rangkaian transaksi dagang di dalam kerangka kekerabatan dan kewajiban seremonial.
Ceritanya berpangkal pada rivalitas dua kesultanan. Untuk menghadapi Ternate, Sultan Tidore meminta Sangaji Patani bernama Sahmardan mencari laki-laki kuat dan pemberani dari wilayah sekitar. Sahmardan berlayar ke Pulau Waigeo. Di sana ia bertemu Kapita Waigeo bernama Gurabesi. Gurabesi menyetujui tawaran itu setelah tahu ada hadiah pakaian penanda kedudukan. Sebelum disumpah, ia meminta izin memegang pakaian tersebut sejenak, menciumnya, lalu mengangkatnya di atas kepala sebagai tanda hormat.
Baca juga Dua Gelembung di Rontgen Perut Bayi Lima Hari
Jasanya dalam pertempuran melawan Ternate dibayar dengan perkawinan. Sultan menikahkannya dengan putrinya, Boki Taebah, yang kemudian ikut ke Waigeo. Sepuluh tahun berselang, Sultan menjalankan ekspedisi baru ke Patani, Gebe, dan Kepulauan Raja Ampat. Saat kembali, ia menunjuk empat cucunya sebagai penguasa Waigeo, Salawati, Waigama, dan Misool. Dari situ nama Raja Ampat, yang berarti empat raja.
Tanggalnya diperdebatkan. Satu versi menyebut Gurabesi menikahi putri Sultan Jamaluddin, yang memerintah antara 1495 dan 1572. Catatan F.S.A. de Clercq, yang terbit pada 1888 dan 1890, menempatkannya pada periode pendahulu Jamaluddin, yaitu Sultan Mansur, raja pertama Tidore yang memeluk Islam. Widjayengrono dan Said memilih pembacaan kedua. Lingkungan sosial di sekitar tokoh itu, kata mereka, menunjuk paruh kedua abad ke-15, dan episodenya harus dianalisis di dalam rivalitas struktural Ternate dengan Tidore.
Leonard Y. Andaya, sejarawan yang menulis The World of Maluku pada 1993, mencatat dua varian tradisi tentang pengangkatan raja di Raja Ampat. Versi pertama menyebut penguasa Gamrange, yaitu Buli, Maba, Bicoli, dan Patani di Halmahera tenggara, yang diangkat Sultan Tidore. Versi kedua berkisah tentang konflik empat bersaudara, cucu Gurabesi, yang membuat adik mereka bermigrasi dari Waigama menuju Seram.
Sesudah 1500: Besi Masuk ke Waigeo
Besi datang belakangan. Pengenalan besi ke Papua diduga terjadi sesudah 1500, saat Sultan Tidore memeluk Islam. Kronologi itu disimpulkan dari tabu yang menyertai pekerjaan pandai besi, antara lain larangan makan daging babi, yang menunjuk asal-usul Muslim. Aktivitas pedagang Muslim di Indonesia Timur pada awal abad ke-15 menaikkan permintaan produk lokal dan mempererat jaringan dagang antarpulau yang sudah lama berjalan.
Mitos Fakok dan Pasrefi menyimpan jejak lain. Keduanya dikisahkan berasal dari sekitar Jayapura. Mereka memperkenalkan besi ke Papua setelah mempelajari penggunaannya selama menjelajah Halmahera. Kontak yang berkepanjangan dengan Halmahera juga membawa inovasi teknis lain, antara lain alat peniup untuk menempa serta penguatan perahu dan perisai. Perubahan itu menyentuh dua hal sekaligus, yaitu navigasi maritim dan peperangan.
1653: Kampung Papua di Patani
Pada 1653, Patani tercatat sebagai pusat komunitas Papua Tidorese. Kantong permukiman berbahasa Papua sudah ada di Halmahera dan Morotai pada abad ke-14 dan ke-15. Komunitas Sawai di Halmahera diakui sebagai salah satu permukiman Papua tertua. Ketika orang Biak tiba di Halmahera, mereka menemukan kelompok terdahulu yang dianggap memiliki prestise lebih besar.
Baca juga Id, Ego, Superego dalam Lirik Sang Dewi Lyodra
Menurut F. Ch. Kamma, peneliti tradisi lisan Papua yang karyanya menjadi rujukan utama artikel ini, orang Sawai adalah migran Biak yang menetap di Halmahera, Patani, Maba, Weda, dan Seram timur laut. Di sana mereka kemudian dikenal sebagai orang Papua Tidorese. Persebaran permukiman itu, tulis Kamma, menjelaskan pola perdagangan orang Papua pada masa berikutnya. Ketika orang Sawai mengalahkan saudara-saudara dari Biak, mereka pulang sebagai wakil Sultan Tidore, kedudukan yang mereka terima dengan enggan.
Tidak semua daerah tunduk pada satu cerita. Di Desa Kabu Bay, Waigeo, suku Kawe mengklaim sudah memiliki raja jauh sebelum Sultan Tidore menanamkan pengaruhnya. Sementara itu, gagasan tentang barat sebagai sumber kekayaan mitos beredar luas. Di kalangan Biak, barat yang mitos itu terletak di sepanjang Sungai Mamberamo. Gagasan serupa tercatat pula pada suku Kamoro di Mimika dan suku Marind-anim di pantai selatan.
1861: Upeti Dihapus, Ritualnya Bertahan
Hubungan Papua dengan Tidore dijalankan lewat upeti tahunan bernama Samsom. Penerimanya disebut Manseren, penguasa tanah. Sebagai imbalan, sultan membagikan gelar dan barang berharga, dan pemberian itulah yang mengesahkan hubungan kedua pihak. Pada abad ke-16, benda dari istana Tidore dipercaya mengandung nanek, yaitu kekuatan sakti sang sultan. Orang Papua percaya bahwa menyentuh benda-benda itu membuat mereka menyerap partikel kekuatan tersebut.
Kepercayaan itu melahirkan tata cara yang rinci. Pembawa upeti merangkak di lantai istana untuk menyerap jejak kekuatan penguasa. Sepulangnya, penduduk desa berkumpul di sekitar rombongan untuk berbagi nanek sultan. Ritualnya, catat Kamma, dalam banyak hal menyerupai ritual saat kembali dari ekspedisi perburuan kepala. Pembagian pakaian dan gelar oleh Tidore dipandang menjalankan fungsi yang sama, yakni mendistribusikan kekuatan penguasa.
Baca juga Perlawanan Diam Perempuan di Sinema Minangkabau
Pada 1861, pemerintah Belanda resmi menghapus segala bentuk pembayaran upeti kepada Tidore. Ritualnya tidak ikut hilang. Pada abad ke-19, misionaris Geissler menuliskan misi upeti ke Tidore dalam De Reis naar Tidore. Ia mencatat tata cara penerimaan surat sultan secara terperinci. Kepala desa menyentuh utusan dan surat itu dengan khidmat untuk menaikkan kemakmuran kampung. Kepatuhan itu juga tidak selalu utuh: sumber Belanda abad ke-17 dan ke-19 mencatat penolakan berkala mengirim Samsom, yang dijawab Tidore dengan ekspedisi penagihan.
Abad ke-18 dan Sesudahnya: Nuku dan Batas Bacaan
Pada abad ke-18 muncul peristiwa kedua, yaitu perlawanan Nuku, yang terdokumentasi dalam sumber Belanda. Gurabesi dan Nuku ditempatkan artikel ini sebagai dua tahap dalam pembentukan identitas etnik dan politik di Papua. Yang pertama pra-kolonial dan hidup sebagai tradisi lisan. Yang kedua kolonial dan hidup di dalam arsip. Sejarah nasional lebih sering menempatkan Nuku dalam kerangka nasionalisme Indonesia ketimbang sudut pandang lokal.
Keduanya dibaca lewat satu kerangka yang sama, yaitu cargoism. Istilah itu menunjuk kepercayaan pada tokoh legendaris pembawa kemakmuran, yang tersebar luas di Pasifik Selatan. Kajian Barat, catat artikel ini, cenderung mengikat kultus kargo pada gerakan mesianistik yang ditenagai akulturasi dan modernisasi. Akibatnya kemungkinan adanya praktik serupa pada masa pra-kolonial jarang diperhitungkan.
Di titik itu Andaya mengingatkan satu hal. Orang Papua, tulisnya, gigih mempertahankan identitas asli mereka lewat pandangan dunia yang berupa “dunia hubungan yang saling terkait, yang semuanya harus dipelihara dengan hati-hati”. Bagi pengamat Barat, penyerahan kepulauan Papua kepada Tidore terselimuti simbolisme dan mistisisme. Bagi orang Papua, hubungan itu punya pola dan dinamika yang bisa dibaca.
Widjayengrono dan Said menamai artikelnya tinjauan awal, dan batas itu mereka sebut sendiri. Kajian tentang Indonesia Timur masih sedikit, literaturnya terbatas, dan sumber tertulisnya terputus-putus. Simpulan bahwa orang Papua sebelum kedatangan armada Eropa sudah merupakan kelompok etnik dengan wilayah yang jelas masih berupa hipotesis. Hipotesis itu, tulis mereka, perlu diuji terhadap bukti arkeologis, antropologis, dan linguistik. Satu legenda juga bukan sejarah satu pulau, dan satu manuskrip Tidore bukan suara seluruh Papua.
Antara paruh kedua abad ke-15 dan penghapusan upeti pada 1861 terbentang empat abad. Sebagian besarnya masih kosong.















