Karung Jagung di Gudang Demini Kini Punya Nama dan Tanggal

A A

Warga Kampung Demini mengisi lembar kerja pencatatan persediaan gudang koperasi. [Foto: Institut Teknologi Sepuluh Nopember]

  • Konsep first in first out diterapkan lewat studi kasus lima puluh karung jagung
  • Tiga aturan ditinggalkan: barang tercatat, karung berlabel, persediaan lama keluar lebih dulu
  • Koperasi menerima mesin cetak thermal dan timbangan digital untuk mencatat berat bersih

Cekricek.id — Lima puluh karung jagung masuk bertahap selama tiga minggu. Tanpa label, tak seorang pun tahu karung mana yang datang lebih dulu.

Persoalan sederhana itulah yang digarap menurut keterangan tertulis Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kamis (01/10/2026), lewat pelatihan bagi pengurus Koperasi Desa Merah Putih Demini di Momiwaren, kawasan transmigrasi.

Ketua tim, Berto Mulia Wibawa SPi MM PhD, menyebut alur keluar masuk barang di gudang selama ini belum tertata, dan tiadanya identitas pada tiap barang membuatnya makin rumit.

“Kalau manusia punya identitas agar mudah dikenali, karung komoditas juga perlu punya identitas,” ujarnya.

Yang Lebih Dulu Masuk, Lebih Dulu Keluar

Tim menerapkan konsep first in, first out: barang yang pertama datang menjadi yang pertama keluar. Konsep itu dibumikan lewat studi kasus lima puluh karung jagung tadi.

Pesertanya tidak hanya mendengarkan. Mereka mengisi lembar kerja, memindahkan informasinya ke label, menempelkannya pada karung, lalu membacakan ulang untuk memastikan tiga informasi utama benar-benar terbaca.

Tiga aturan ditinggalkan sebagai pegangan: setiap barang masuk harus tercatat, setiap karung diberi label, dan persediaan lama keluar lebih dulu.

“Dengan demikian, barang di gudang tidak lagi menjadi tumpukan, namun menjadi aset yang bisa dilacak, dijaga, dan dijual tepat waktu demi kesejahteraan bersama,” papar Berto.

Agar aturan itu bisa dijalankan, tim menyerahkan paket hibah berupa mesin cetak thermal beserta kertasnya dan timbangan digital, supaya berat bersih tiap barang masuk tercatat akurat.

Pelatihan dihadiri pengurus koperasi bersama warga, perangkat kampung, dan Bhabinkamtibmas Kampung Demini. Programnya diarahkan pada peningkatan produktivitas ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi.

Di kawasan transmigrasi lain, kampus menggarap sisi hilir perikanan, dengan dorongan agar hasil tangkapan di Kumbe diolah dan dipasarkan, bukan berhenti di dermaga.

Hilirisasi dari laboratorium pun berjalan seiring, misalnya ketika peneliti menyiapkan pabrik modular aspal Buton berkapasitas puluhan ribu ton per tahun.

Pada layanan dasar, pencatatan yang rapi juga menjadi kunci, seperti pada laman yang memuat ketersediaan obat di Distrik Yapsi.

Bagikan

Baca Juga

Lima Langkah Living Lab, Warga Ikut Merancang Bukan Menunggu
Warga Yapsi Kini Bisa Cek Stok Obat Sebelum Berjalan ke Pustu
Ikan Kumbe Tak Cukup Ditangkap, Harus Diolah dan Dipasarkan
Aspal Buton Kini Terpisah 95 Persen Lewat Proses Hidrotermal
Pedaltrax ITB Padukan Kayuhan, Motor Listrik, dan Panel Surya
Eksplorasi Mineral Dipercepat KUWERA, AI Mahasiswa ITB