- Proses hidrotermal menaikkan efisiensi pemisahan bitumen dari mineral hingga di atas 95 persen
- Ikatan bitumen dan mineral asbuton kuat karena kandungan kapur yang terlapisi aspal
- Tim menyiapkan pabrik modular berkapasitas 10.000 hingga 20.000 ton asbuton per tahun
Cekricek.id — Aspal Buton kini dapat dipisahkan dari mineralnya dengan efisiensi di atas 95 persen melalui proses hidrotermal.
Capaian tersebut diumumkan lewat keterangan tertulis Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Rabu (30/09/2026), bersamaan dengan beroperasinya Laboratorium Teknologi Aspal Buton Berkelanjutan di kampus tersebut.
Riset dipimpin dosen Departemen Teknik Kimia ITS, Dr Ir Susianto DEA, yang menekuni teknologi pemisahan asbuton sejak 2006. Jalannya panjang: ekstraksi dengan pelarut hidrokarbon seperti kerosin, minyak tanah, dan pertasol lebih dulu diuji.
“Namun, ternyata proses tersebut belum menghasilkan kualitas pemisahan aspal sesuai kebutuhan,” terang Susianto.
Kapur yang Mengunci Bitumen
Metode hot water process yang dikembangkan pada 2009 memakai tiga fase dengan hidrokarbon dan larutan kimia sebagai sealing agent, agar bitumen yang sudah terpisah tidak menyatu kembali dengan mineral. Proses pemasakannya masih memakan sekitar 30 menit.
Analisis mikroskopis kemudian menunjukkan penyebabnya. Ikatan bitumen dan mineral pada asbuton sangat kuat, berbeda dari karakteristik oil sand.
“Jadi, kondisi tersebut dipengaruhi kandungan kapur yang terlapisi aspal dan berbeda dari karakteristik oil sand,” beber Susianto.
Temuan itu mengarahkan tim pada proses hidrotermal sebagai tahap pretreatment yang melemahkan ikatan sekaligus melapisi antarmuka keduanya. “Dengan itu dapat meningkatkan efisiensi pemisahan bitumen hingga lebih dari 95 persen, yang kemudian menghasilkan aspal dasar (base asphalt) dengan kualitas tinggi,” ungkapnya.
Dari aspal dasar itu lahir tiga produk: pengganti aspal minyak, aditif peningkat performance grade, dan aspal pracampur. Produknya dapat dimodifikasi menyerupai aspal komersial Pen 60-70, atau dipakai menaikkan aspal minyak hingga PG 70. Hidrokarbon yang terpakai diekstrak kembali lewat vaporizer.
Sisa padatan yang mayoritas berupa kapur pun dirancang agar dapat diolah menjadi produk bernilai guna. “Jadi kami memastikan bahwa tidak ada sisa bahan baku hasil produksi yang terbuang begitu saja atau bahkan mencemari lingkungan,” tegas Susianto.
Tahap berikutnya sudah dirancang. Tim menyiapkan pabrik modular berkapasitas 10.000 hingga 20.000 ton asbuton per tahun dan menggandeng PT Aspindo Group untuk hilirisasi. “Kolaborasi tersebut mencakup pembangunan laboratorium pengujian aspal terakreditasi dan pusat riset lanjutan,” tuturnya.
Rektor ITS, Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD, menyebut dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Kementerian Keuangan mengarahkan riset ini menuju skala pilot dan industri. “Kepercayaan ini membuktikan bahwa riset hulu hingga hilir yang digagas para peneliti ITS dinilai strategis bagi pembangunan nasional,” ujarnya.
Jalur hilirisasi teknologi kampus juga tampak pada karya lain, seperti dua mobil hemat energi yang diluncurkan Tim Nogogeni ITS dan kendaraan hybrid Pedaltrax buatan ITB.
Dorongan agar riset kampus berujung pada industri juga disuarakan pemerintah, yang menyebut inovasi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.















