- Pedaltrax memadukan kayuhan manusia, motor listrik BLDC 3.000 watt, dan panel surya 120 Wp
- Perkiraan jarak tempuh mencapai 60 hingga 80 kilometer dalam sekali pengisian daya
- Kendaraan menyediakan bagasi serta akses kursi roda bagi pengguna dengan kebutuhan aksesibilitas
Cekricek.id — Pedaltrax ITB menggabungkan tenaga kayuhan manusia, motor listrik, dan panel surya dalam satu kendaraan pengangkut penumpang.
Rincian rancangannya dipaparkan dalam keterangan tertulis Institut Teknologi Bandung, Senin (28/09/2026), sebagai jawaban atas kebutuhan mobilitas di ITB Kampus Jatinangor yang berkontur bukit dan banyak tanjakan.
Kendaraan itu lahir dari kerja bersama bidang Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain dengan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara. Dosen Kelompok Keahlian Manusia dan Desain Produk Industri ITB, Dr. Bismo Jelantik Joyodiharjo, S.Sn., M.Ds., menyebut timnya memulai perancangan dari nol, bukan memodifikasi becak atau kendaraan yang sudah ada.
“Bagaimana dia bisa tetap mengayuh, tetapi posisinya ergonomis dan sudut pandangnya ke depan juga tidak terganggu. Kemudian tentu ada hukum-hukum fisika, salah satunya distribusi beban itu harus merata,” katanya.
Spesifikasi Kendaraan Hybrid Kampus
Pedaltrax memakai baterai 72 volt 45 Ah dan motor BLDC berdaya 3.000 watt, dengan reduksi 2:1 untuk menambah tenaga di medan menanjak. Perkiraan awal pengembang menyebut jarak tempuh berada pada kisaran 60 hingga 80 kilometer sekali pengisian daya, bergantung medan dan pola pemakaian.
Panel surya 120 Wp dipasang untuk membantu pengisian melalui kontroler bersistem Maximum Power Point Tracking. Ketika kayuhan dan tenaga listrik dipakai bersamaan, konsumsi daya baterai berkurang sehingga jarak tempuh berpotensi bertambah.
Aspek yang jarang ditemui pada kendaraan kampus adalah akses kursi roda. Selain bagasi untuk mahasiswa yang membawa barang, Pedaltrax menyediakan jalur masuk bagi pengguna kursi roda sehingga rancangannya tidak berhenti pada urusan teknis.
Masukan rancangan dikumpulkan dari mahasiswa lewat mata kuliah Pengenalan Rekayasa dan Desain. Mereka mencatat kesulitan membawa barang, melintasi tanjakan, serta kebutuhan sarana yang lebih ramah bagi semua pengguna. Pengujian dan evaluasi kendaraan pun dikerjakan mahasiswa melalui mata kuliah Desain Mobilitas dan Laboratorium DEMAND.
“Jadi produk ini untuk mahasiswa, dan oleh mahasiswa,” ujar Bismo.
Dalam pemilihan komponen, tim mengutamakan produk buatan Indonesia sepanjang tersedia dan sesuai kebutuhan. Sistemnya dirancang agar bagian-bagiannya dapat diganti serta dikembangkan lebih lanjut.
Karya sejenis bermunculan di kampus lain. Tim Nogogeni ITS meluncurkan dua mobil hemat energi untuk kompetisi tingkat nasional, sementara di ITB sendiri kajian soal teknologi kian menyentuh perkara kemandirian, seperti peringatan guru besar ITB agar Indonesia tidak berhenti menjadi konsumen kecerdasan buatan.
Arah serupa terbaca pada kebijakan pendidikan tinggi yang mulai menghargai capaian di luar kelas, termasuk pengakuan kredensial mikro setara 70 persen SKS sarjana.















