Sebelum Defisit Dilonggarkan, Ekonom ITB Minta Belanja Dibenahi

A A

Ilustrasi gedung Kementerian Keuangan di Jakarta. [Foto: Wikimedia Commons]

  • Batas defisit 3 persen dinilai bukan satu-satunya ukuran kesehatan fiskal
  • Tambahan defisit tidak otomatis mendorong pertumbuhan ekonomi
  • Evaluasi belanja dan ketepatan sasaran program disarankan sebagai langkah pertama

Cekricek.id — Wacana melonggarkan batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melewati 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) boleh saja dikaji. Namun, menurut ekonom Institut Teknologi Bandung (ITB), pemerintah sebaiknya lebih dulu memastikan uang yang sudah ada dibelanjakan dengan benar.

Ir. Dzikri Firmansyah Hakam, S.T., Pg.Dip., M.Sc., Ph.D., dosen Kelompok Keahlian Risiko Bisnis dan Keuangan Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, menyebut batas 3 persen selama ini berfungsi menjaga disiplin fiskal. Tetapi angka itu bukan satu-satunya ukuran sehat tidaknya keuangan negara.

“Oleh karena itu, besaran defisit bukan satu-satunya indikator untuk menilai kesehatan fiskal suatu negara,” kata Dzikri dalam keterangan tertulis ITB, Senin (12/10/2026). Menurut dia, kondisi tiap negara berbeda, bergantung pada kemampuan memungut penerimaan, biaya meminjam, dan mutu pengelolaan anggarannya.

Tambah Utang Tidak Otomatis Tambah Pertumbuhan

Dzikri tidak menolak ekspansi fiskal. Dana tambahan dapat diarahkan ke infrastruktur, pendidikan, kesehatan, transisi energi, dan digitalisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang selama ini berkisar 5 persen.

“Meski demikian, peningkatan defisit tidak secara otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Dampaknya sangat bergantung pada efektivitas penggunaan anggaran dan kemampuan investasi publik dalam meningkatkan produktivitas,” ujarnya.

Ia mengutip kajian Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa investasi publik yang lebih efisien memperbesar dampak belanja pemerintah terhadap pertumbuhan. Karena itu, langkah pertama yang ia sarankan adalah mengevaluasi belanja, memperbaiki ketepatan sasaran program, dan memperketat penilaian manfaat proyek pembangunan.

Utang juga membawa beban bunga dan kewajiban di masa depan.

“Tambahan utang yang dikelola secara produktif berpotensi memperkuat kapasitas ekonomi dan penerimaan negara. Sebaliknya, pembiayaan untuk kegiatan dengan dampak ekonomi terbatas dapat meningkatkan beban fiskal tanpa menghasilkan manfaat yang sebanding,” kata Dzikri.

Dalam pandangannya, pelonggaran defisit dapat menjadi salah satu pilihan kebijakan, dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku serta menimbang manfaat dan risikonya secara menyeluruh.

Baca juga: Kuliah Gratis PTN Ditaksir Butuh Anggaran Rp93,74 Triliun

Baca juga: Negara Maju Bukan karena Kaya Alam, Kata Guru Besar UNAIR

Baca juga: UU Ketenagakerjaan Baru Diminta Lindungi Pengemudi Ojek dan Kurir

Tag:
Bagikan

Baca Juga

Tomat Jadi Pembungkus Obat Sambiloto untuk Sel Kanker Payudara
Lima Langkah Living Lab, Warga Ikut Merancang Bukan Menunggu
Warga Yapsi Kini Bisa Cek Stok Obat Sebelum Berjalan ke Pustu
Pedaltrax ITB Padukan Kayuhan, Motor Listrik, dan Panel Surya
Nanofluida Nikel Ferit Paling Stabil Berkat Asam Sitrat
Titik Kesetimbangan Asteroid Minerva dan 2008 EV5 Tidak Stabil