- ITB dan Peruri merancang prototipe chip paspor elektronik pertama di Indonesia.
- Prototipe selesai diuji dan didemonstrasikan pada September 2026, tetapi belum siap produksi massal.
- Chip berpotensi dipakai untuk identitas elektronik dan uang elektronik.
Cekricek.id — Chip di dalam paspor elektronik Indonesia selama ini didesain dan diproduksi di luar negeri. Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) kini merancang prototipe chip paspor elektronik pertama buatan dalam negeri.
Pengembangan dilakukan melalui PT LAPI ITB selama satu tahun pada 2025–2026. Prototipe itu telah menyelesaikan tahap pengembangan, pengujian, dan demonstrasi pada September 2026, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis ITB, Selasa (13/10/2026).
Ketua tim, Prof Ir Arif Sasongko ST MT PhD, menyebut capaian terpenting adalah kemampuan merancang sendiri. “Ini yang pertama didesain di Indonesia. Sebelumnya, chip didesain di luar negeri dan diproduksi di luar negeri,” ujarnya di ITB Kampus Ganesha, Senin (12/10/2026).
Menurut Arif, ketergantungan pada chip impor membuat Indonesia tidak memegang kendali penuh atas perancangan dan teknologi di dalamnya. Padahal, chip paspor menyimpan data identitas warga.
Bukan Hanya untuk Paspor
Arif menyebut tiga tujuan pengembangan, yakni penguasaan teknologi keamanan, nilai tambah ekonomi di dalam negeri, dan peluang pemanfaatan untuk kebutuhan lain. “Kalau chip Peruri dan ITB bisa dibuat, nilai tambahnya tinggi sekali. Chip itu juga bisa digunakan untuk berbagai keperluan lain selain paspor elektronik,” katanya.
Teknologi tersebut berpotensi dipakai untuk perangkat identitas elektronik, uang elektronik, dan aplikasi lain yang membutuhkan keamanan berbasis chip.
Baca juga: Asik, Masa Berlaku Paspor Diperpanjang, Jadi 10 Tahun
Namun, chip itu masih berupa prototipe dan belum bisa langsung diproduksi massal. Pengembangan lanjutan masih diperlukan agar chip dapat dibuat dalam skala besar dengan biaya lebih efisien.
Baca juga: Jegal Industri Semikonduktor Cina, Joe Biden Ambil Langkah Jitu
Tim peneliti melibatkan Muhammad Iqbal Arsyad ST MT, Nana Sutisna ST MT PhD, Ir Mervin Tangguar Hutabarat MSc PhD, Dr Waskita Adijarto ST MT, Dr Yusuf Kurniawan ST MT, dan Prof Sarwono Sutikno DrEng dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Arif menilai hasil riset ini menjadi pijakan bagi industri semikonduktor nasional. “Ini mengembangkan industri semikonduktor di Indonesia, khususnya chip design,” ujarnya.
Baca juga: Impor Barang AI Amerika Serikat Melonjak Jadi 260 Miliar Dolar















