Lima Langkah Living Lab, Warga Ikut Merancang Bukan Menunggu

A A

Ilustrasi permukiman padat berwarna-warni yang ditata bersama warga. [Foto: Pexels]

  • Model 5C mencakup Challenge, Community, Contribution, Connect, dan Continue
  • Warga ditempatkan sebagai bagian aktif sejak perencanaan, bukan penerima manfaat di ujung
  • Contoh lapangannya adalah penataan permukiman ROH Labs dan Kampung Lampion Yogyakarta

Cekricek.id — Di Kampung Lampion, Kotabaru, rumah layak huni dibangun bersama penghuninya sendiri. Model kerja seperti itulah yang kini dipelajari ITB.

Pendekatan tersebut dipaparkan lewat keterangan tertulis Institut Teknologi Bandung, Kamis (01/10/2026), seusai kampus itu mengikuti Living Lab Train-the-Trainers Programme 2026 di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 24–25 September.

ITB diwakili Husna Nugrahapraja, S.Si., M.Si., Ph.D., dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati. Program ini merupakan kerja sama NL Knowledge House, jejaring institusi pengetahuan Indonesia dan Belanda, dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Lima Huruf C yang Menjadi Kerangka Kerja

Inti pelatihannya adalah model 5C: Challenge, Community, Contribution, Connect, dan Continue. Lima langkah itu dipakai menyusun kegiatan yang berpijak pada partisipasi warga, penelitian, dan pengabdian sekaligus.

Salah satu contoh yang dibedah adalah ROH Labs atau Roof Over Our Heads di Yogyakarta, program penataan dan peningkatan mutu permukiman yang melibatkan warga lintas sektor.

Yang membedakannya dari program biasa terletak pada posisi warga: bukan penerima manfaat di ujung, melainkan bagian aktif sejak perencanaan hingga pelaksanaan.

Husna menilai pola itu dapat merapatkan tiga hal yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri di kampus.

“Saya melihat Living Lab sebagai platform strategis untuk menghubungkan riset, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Kami berharap dapat mengadopsi metodologi ini dalam program-program pengabdian dan penelitian kami, khususnya yang berbasis komunitas,” ujarnya.

Pada hari kedua, peserta turun ke Kampung Lampion. Di sana mereka melihat pembangunan rumah layak huni yang dikerjakan bersama warga, sekaligus menemui ganjalannya: tata kelola dan persoalan lahan.

ITB menilai pendekatan ini relevan untuk sejumlah isu yang digarapnya, mulai dari sistem pangan berkelanjutan, kesehatan lingkungan, hingga pengembangan masyarakat.

Prinsip mendengar lebih dulu sebelum merancang juga muncul pada riset lain, misalnya ketika keluarga pemilah sampah Galuga menyebut pos kesehatan sebagai kebutuhan pertama.

Di ranah pertanian, pesan serupa disampaikan guru besar yang menegaskan petani harus menjadi subyek, bukan obyek program. Pendekatan berbasis warga itu pula yang dipakai ketika warga Yapsi dilibatkan merancang layanan informasi obat.

Bagikan

Baca Juga

Warga Yapsi Kini Bisa Cek Stok Obat Sebelum Berjalan ke Pustu
Petani Harus Jadi Subyek, Bukan Obyek Program Pertanian
Keluarga Pemilah Sampah Galuga Minta Pos Kesehatan Lebih Dulu
Indonesia Teratas dari 22 Negara dalam Ukuran Hidup Sejahtera
Hidrogen Hijau Indonesia Butuh Sistem Perawatan Elektroliser Baru
Pola Arus Selat Sunda Bisa Jadi Peta Pencarian Korban Kapal