- Gelembung renik dari tomat Permata dipakai membungkus senyawa sambiloto
- Pengujian baru dilakukan pada sel kanker payudara MCF-7 di laboratorium
- Tim ITB bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Cekricek.id — Tomat menyimpan gelembung berukuran sangat kecil yang bisa dipakai sebagai pembungkus obat. Sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) memanfaatkan gelembung dari tomat varietas Permata itu untuk mengangkut andrografolida, senyawa pahit dari sambiloto, lalu mengujinya pada sel kanker payudara di laboratorium.
Kelompok tersebut bernama Tim SATRIA dan bekerja dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta 2026, dengan pembimbing Karlia Meitha, S.Si., M.Si., Ph.D. dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB.
Gelembung yang dimaksud disebut nanovesikel. Karena berasal dari tanaman pangan, bahan ini diharapkan lebih mudah diterima tubuh ketimbang pembungkus buatan.
“Dari situ muncul gagasan untuk memanfaatkan nanovesikel alami dari tomat varietas Permata sebagai sistem penghantaran yang lebih biokompatibel,” kata anggota tim Muhammad Wishaf Wirazaqi, dikutip dari keterangan tertulis ITB, Jumat (2/10/2026).
Baru Diuji pada Sel, Belum pada Manusia
Pengujian dilakukan secara in vitro, artinya di luar tubuh makhluk hidup, memakai sel kanker payudara jenis MCF-7 yang lazim digunakan dalam riset. Hasil pada tahap ini belum dapat dibaca sebagai bukti bahwa tomat atau sambiloto menyembuhkan kanker pada pasien.
Pekerjaan itu juga tidak sepenuhnya dilakukan di Bandung. Tim menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melalui Prof. dr. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono, Sp.M.K., Ph.D., untuk bagian yang tidak bisa dikerjakan dengan peralatan sendiri.
“Kolaborasi SITH ITB-FKUI menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan fasilitas bukan berarti penelitian harus berhenti; yang dibutuhkan adalah komunikasi dan jejaring,” ujar Wishaf.
Baca juga: Sabuk Buatan Mahasiswa UGM Beri Tanda Sebelum Kantong Stoma Bocor
Baca juga: Virus Tumbuhan Ditularkan Serangga, Panen Bisa Anjlok 80 Persen
Baca juga: Antibiotik Tidak Mengobati Influenza A, Dokter ITS Ingatkan Warga















