- Lebih dari 70 persen virus tumbuhan ditularkan serangga yang populasinya dipengaruhi suhu dan hujan
- Infeksi virus dapat menurunkan hasil panen lebih dari 80 persen hingga menyebabkan gagal panen
- Penelitian satu dekade menemukan penyakit virus pada padi, cabai, tomat, kakao, teh, dan tebu
Cekricek.id — Virus tumbuhan yang menyerang tanaman pangan dapat memangkas hasil panen lebih dari 80 persen, bahkan menggagalkannya sama sekali.
Angka tersebut dipaparkan dalam keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Selasa (22/09/2026), mengutip pidato pengukuhan Dosen Fakultas Pertanian UGM Prof. Dr. Ir. Sedyo Hartono, M.P., sebagai Guru Besar bidang Virologi Tumbuhan di Balai Senat Gedung Pusat UGM.
“Infeksi virus dapat menurunkan hasil panen hingga lebih dari 80 persen, bahkan menyebabkan gagal panen,” katanya.
Penelitian sepanjang satu dekade terakhir di Indonesia menemukan penyakit virus pada padi, cabai, tomat, melon, anggrek, pisang, tembakau, lada, kakao, teh, bambu, dan tebu. Sebarannya menjangkau tanaman pangan, hortikultura, sekaligus perkebunan.
Yang membuat pengendaliannya rumit adalah jalur penularannya. Virus tidak berpindah sendiri, melainkan dibawa serangga, sehingga cuaca ikut menentukan seberapa luas wabah menyebar.
“Lebih dari 70 persen virus tumbuhan ditularkan oleh serangga sehingga perubahan suhu dan pola hujan dapat memengaruhi populasi vektor, memperpanjang musim penularan, dan memperluas wilayah penyebaran penyakit. Kondisi tersebut menuntut sistem pemantauan epidemi yang adaptif dan berbasis data,” ujar Sedyo.
Deteksi Penyakit Virus Bergeser ke Prediksi
Cara mengenali penyakit virus bergerak jauh dari sekadar membaca gejala di daun. Diagnosis kini memakai ELISA, RT-PCR, real-time quantitative PCR, hingga LAMP yang lebih sederhana dan berpeluang dikerjakan langsung di lahan.
Teknologi Next-Generation Sequencing memungkinkan seluruh materi genetik virus dalam satu sampel tanaman diidentifikasi. Dari situ virus baru dapat ditemukan, komunitas virus dipetakan, infeksi campuran dikenali, dan evolusi virus dipahami.
Lapisan berikutnya adalah pengolahan data. “Data-data tersebut dianalisis menggunakan kecerdasan buatan dan machine learning untuk mengenali pola penyakit, memprediksi risiko penyebaran, serta memberikan rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Meski begitu, Sedyo tetap menempatkan pengendalian terpadu di posisi utama: benih sehat, varietas tahan atau toleran, sanitasi lahan, pengendalian gulma dan serangga vektor, rotasi tanaman, serta pemantauan berkala. Bioteknologi, genomik, genome editing, kecerdasan buatan, dan Internet of Things berfungsi mempertajam, bukan menggantikan.
“Keberhasilan pengelolaan penyakit virus tumbuhan tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada komitmen kita untuk membangun sistem pertanian yang berlandaskan ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan keberlanjutan,” ujarnya.
Ancaman di lahan memang tidak tunggal. Di Sumatra Barat, padi lokal Pesisir Selatan diuji melawan wereng batang cokelat, sementara di Jawa Barat petani padi Karawang terjepit antara banjir dan tikus sawah.
Pada sisi hilir, upaya menambal mutu gizi pangan pokok juga berjalan, antara lain melalui beras fortifikasi yang membawa tiga vitamin dan dua mineral tambahan.















