Petani Padi Karawang di Antara Banjir dan Tikus Sawah

A A

Ilustrasi: petani bekerja di sawah padi. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Pada 2020 Kecamatan Kutawaluya memanen 61.208 ton padi. Setahun berikutnya angka itu turun menjadi 60.655 ton.

Pada 2022 angkanya turun lagi menjadi 58.082 ton. Penurunan itu berlangsung tiga tahun berturut-turut tanpa jeda.

Kutawaluya berada di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Kabupaten itu tercatat sebagai lumbung padi nasional kedua terbesar setelah Indramayu.

Sumbangannya mencapai 1.370.802 ton beras setiap tahun. Luas lahan pertanian di kecamatan yang diteliti sendiri mencapai 4.372 hektare.

Dua hal disebut peneliti sebagai penekan produksi di sana. Yaitu banjir yang datang berulang setiap tahun dan serangan hama tikus di sawah.

Keadaan itu diteliti Fatimah Azzahra bersama lima peneliti lain. Empat di antaranya berasal dari Program Studi Agribisnis, Universitas Singaperbangsa Karawang.

Satu penulis lagi berasal dari Program Studi Sistem Informasi kampus yang sama. Seorang lainnya, Hitomi Nakayama, dari Graduate School of Agriculture, Kyoto University, Jepang.

Laporan mereka berjudul Livelihood Vulnerability and Resilience of Rice Farmers in Flood- and Pest-Affected Areas of Karawang Regency, West Java. Panjangnya enam belas halaman.

Artikel itu dimuat Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Volume 14 Nomor 1 tahun 2026, halaman 1 sampai 16. Penerbitnya IPB University.

Daftar Isi
  1. 2025: Lima Puluh Lima Rumah Tangga Didatangi
  2. Tiga Angka Kerentanan yang Dihitung
  3. Lima Modal yang Ditimbang
  4. Setelah Panen Gagal: Utang yang Berlanjut
  5. Rekomendasi dan Batas Survei Ini

2025: Lima Puluh Lima Rumah Tangga Didatangi

Naskahnya diterima redaksi jurnal pada 21 Agustus 2025. Revisinya masuk pada 5 Maret 2026, dan disetujui terbit pada 13 April 2026.

Terbit daringnya empat hari kemudian, pada 17 April 2026. Data yang mereka pakai mencakup rentang tahun 2020 sampai 2023.

Respondennya 55 rumah tangga petani padi. Jumlah itu diambil dari populasi 120 petani pemilik lahan di kecamatan tersebut.

Baca juga Curah Hujan Kalimantan Selatan Nyaris Nol Saat El Nino

Cara pengambilannya acak sederhana dengan rumus Slovin pada galat 10 persen. Metodenya campuran, menggabungkan pendekatan kuantitatif dengan pendekatan kualitatif.

Kuesionernya memakai dua skala sekaligus, yaitu skala Guttman dan skala Likert. Pengolahan datanya memakai Microsoft Excel 2019 dan SPSS versi 25.

Keandalan instrumennya diuji dengan Cronbach alpha, dan seluruh variabelnya berada di atas 0,6. Modal manusia mencatat 0,890, modal fisik 0,820, dan modal sosial 0,681.

Nilai inflasi ragamnya juga diuji, dan seluruhnya berada di bawah angka lima. Modal alam mencatat 2,109, modal sosial 1,665, dan modal manusia 1,318.

Sisi kualitatifnya diambil dari keterangan lima informan. Yaitu kepala desa, ketua kelompok tani, penyuluh pertanian lapangan, dan tokoh masyarakat.

Dari 55 responden itu, 12 orang menggarap lahan di bawah 0,5 hektare. Sebanyak 31 orang lainnya menggarap lahan seluas 0,6 sampai 2 hektare.

Menurut status lahannya, 38 orang di antaranya berstatus petani pemilik. Tujuh orang tercatat sebagai petani penggarap, dan sepuluh orang sebagai petani penyakap.

Tiga Angka Kerentanan yang Dihitung

Kerentanannya diukur memakai Livelihood Vulnerability Index. Skalanya nol sampai satu, dan makin mendekati satu berarti makin rentan keadaannya.

Rentang nol sampai 0,35 dibaca sebagai kerentanan yang minimal. Rentang 0,36 sampai 0,65 dibaca sedang, dan 0,66 ke atas dibaca tinggi.

Dimensi ekologinya mencatat angka 0,9, hampir menyentuh batas atas skala itu. Nilai tersebut yang tertinggi di antara ketiga dimensi yang mereka hitung.

Dimensi sosialnya tercatat 0,87 dan dimensi ekonominya 0,7. Ketiganya jatuh di kategori tinggi menurut skala yang mereka pakai.

Peneliti mengaitkan angka ekologi itu dengan ketergantungan petani pada sumber daya alam berbasis padi. Paparan banjir yang berulang dan hama tikus ikut memperberatnya.

Pola serupa mereka temukan pada kajian yang dilakukan di Pakistan. Pola yang sama juga tercatat di Delta Mekong dan di Sichuan, Cina.

Baca juga Dua Calon Jagung Komposit Diuji di Payakumbuh dan Agam

Lima Modal yang Ditimbang

Kerangka kedua yang mereka pakai adalah Sustainable Livelihoods Approach. Kerangka itu menimbang lima jenis modal yang dimiliki rumah tangga.

Modal sosial mencatat skor tertinggi di antara kelimanya, yaitu 1,91. Isinya akses informasi kelompok, kepercayaan kepada tetangga, dan partisipasi dalam organisasi.

Modal fisiknya 1,85, mencakup kepemilikan aset pertanian, aset nonpertanian, dan aset rumah tangga. Modal alamnya 1,82, mencakup akses air irigasi dan adaptasi terhadap alam.

Modal manusianya 1,73, mencakup kemampuan mengatasi masalah, adaptasi kerja, dan waktu belajar. Keempat modal itu masuk kategori sedang sampai sedang-tinggi.

Yang paling rendah adalah modal finansial, dengan skor hanya 1,43. Isinya kecukupan pendapatan, besaran tabungan, akses pinjaman, dan beban utang.

Peneliti membaca modal sosial itu sebagai penyangga utama. Hubungan berbasis kepercayaan antartetangga, keluarga, dan penyuluh memudahkan pertukaran informasi serta tindakan bersama.

Ketua kelompok tani menyatakan kepada peneliti bahwa warga bekerja sama dalam semangat gotong royong. Kerja sama itu terutama ditujukan untuk mengatasi serangan hama tikus.

Meski begitu, praktik gropyokan dinilai peneliti belum cukup. Mereka menyebut pertemuan komunitas semacam itu tidak mampu mengendalikan populasi tikus.

Keikutsertaan formal dalam organisasi kelompok tani juga tercatat terbatas. Keterbatasan itu ikut menekan efektivitas pengelolaan hama yang terpadu.

Setelah Panen Gagal: Utang yang Berlanjut

Modal finansial yang rendah punya akibat yang jelas dalam laporan itu. Tabungan yang tipis membuat petani bergantung pada utang musiman.

Ketika panen gagal, utang musiman itu tidak terbayar. Peneliti menyebut keadaan tersebut sebagai siklus kerentanan yang berulang.

Seorang petani menyampaikan hal itu langsung kepada peneliti. Panennya sering tidak banyak karena hama tikus dan banjir, sehingga hasilnya tidak cukup untuk musim tanam berikutnya.

Resiliensinya diukur pada lima dimensi memakai skala satu sampai tiga. Skor tertingginya jatuh pada dimensi keamanan sistem penghidupan, yaitu 2,85.

Baca juga Sinar UV-C 45 Menit dan 3,33 Persen Kalus Kedelai yang Bertahan

Fleksibilitas menghadapi perubahan mencatat angka 2,76. Kecepatan pemulihannya 2,64, dan keduanya menempati peringkat berikutnya.

Dua dimensi terakhir jatuh jauh lebih rendah dari ketiganya. Stabilitas penghidupan hanya 1,78 dan ketangguhan penghidupan 1,69.

Peneliti membacanya sebagai strategi bertahan sambil menyesuaikan diri. Petani tetap menanam padi meski kerugiannya berulang hampir setiap musim.

Alasan pertamanya keterbatasan akses pada modal finansial. Alasan kedua adalah sempitnya peluang pekerjaan alternatif di luar sawah.

Skor keamanan sistem penghidupan yang tinggi itu dibaca sebagai sebuah pilihan. Petani lebih memprioritaskan mempertahankan pertanian padi daripada berpindah ke usaha yang lain.

Sumbangan teoretis yang mereka ajukan ada pada penggabungan dua kerangka. Indeks kerentanan dan pendekatan penghidupan berkelanjutan disatukan dalam satu kerangka analisis.

Kajian sebelumnya, tulis mereka, cenderung memeriksa bencana secara terpisah. Ada pula yang berhenti pada kerentanan tanpa menghubungkannya dengan hasil resiliensi.

Rekomendasi dan Batas Survei Ini

Rekomendasi yang mereka tulis dibagi untuk tiga pihak. Petani diminta memperkuat tindakan kolektif, menyesuaikan pola tanam, dan memakai varietas padi toleran banjir.

Penyuluh pertanian lapangan diminta memperbaiki akses informasi yang tepat waktu. Mereka juga diminta mendukung pembelajaran inovasi baru di tingkat petani.

Pembuat kebijakan diminta berinvestasi pada infrastruktur pengendali banjir. Termasuk di dalamnya sistem drainase, program pengelolaan hama terpadu, dan skema kredit yang mudah diakses.

Batas kajian ini disebutkan peneliti sendiri di bagian akhir. Respondennya hanya 55 orang dari satu kecamatan, sehingga hasilnya sulit digeneralisasi.

Rancangannya juga potong lintang, mengambil satu titik waktu saja. Karena itu dinamika kerentanan dan resiliensi antarwaktu tidak ikut tertangkap.

Analisis spasialnya terbatas, tanpa membandingkan zona agroekologi yang berbeda. Dimensi kelembagaan dan pengaruh kebijakan formal juga belum ikut terintegrasi di dalamnya.

Peneliti meminta kajian lanjutan yang bersifat longitudinal. Cakupan ruangnya diminta lebih luas, dengan dimensi kelembagaan yang ikut dianalisis.

Pentagon aset penghidupan yang mereka gambar menegaskan satu hal saja. Modal sosial berdiri sebagai faktor peredam paling penting terhadap kerentanan ekologi yang tinggi.

Varietas padi toleran banjir disebut sebagai salah satu jalan keluar teknis. Penyesuaian pola tanam ikut disebut sebagai langkah yang bisa ditempuh petani sendiri.

Sementara itu, modal finansial tetap menjadi sisi paling pendek pada gambar tersebut. Sisi itulah yang membuat petani sulit lepas dari utang musiman.

Sampai laporan itu ditutup, angka produksinya berhenti di tahun 2022. Tiga tahun berturut-turut menurun, dan modal finansial petaninya tetap yang paling tipis.

Bagikan

Baca Juga

Petani menyemprot pestisida di ladang tomat kawasan Kimana, Kajiado County, Kenya
Studi: 400 Juta Kasus Keracunan Pestisida Petani Tiap Tahun
Deretan silo tinggi dan sebuah derek berdiri di kompleks pabrik semen di bawah langit terang
Amdal Pegunungan Kendeng dan Data yang Ada tapi Diabaikan
Beberapa umbi ubi jalar ungu segar tergeletak berdampingan di atas permukaan kayu
Beras Analog Ubi Ungu, Dikukus Dulu agar Warnanya Tak Pudar
Gelas bening berisi kopi dingin berlapis susu dengan es batu dan buih di permukaannya
Es Kopi Susu Kekinian dan Rasa yang Berubah Tiap Detik
Hamparan tanaman kedelai hijau membentang sampai kaki langit di sisi sebuah jalan tanah
Sinar UV-C 45 Menit dan 3,33 Persen Kalus Kedelai yang Bertahan
Ilustrasi seorang perempuan berdiri memegang buku di ruang kuliah bertingkat sementara sejumlah mahasiswa duduk di kursi di belakangnya.
Tiga Mahasiswa Prancis dan Bunyi Indonesia yang Sulit