Curah Hujan Kalimantan Selatan Nyaris Nol Saat El Nino

A A

Matahari tertutup kabut asap tebal di Kalimantan, Agustus 2026. [Foto: Wikimedia Commons]

Cekricek.id — Pada musim kemarau, ketika El Nino dan IOD positif datang bersamaan, curah hujan di bagian selatan Kalimantan turun sampai di bawah 5 milimeter per musim. Sebagai pembanding, pada keadaan normal musim yang sama masih menerima 2,25 sampai 6,61 milimeter. Selisihnya kecil di atas kertas, tetapi bekerja di musim yang memang sudah paling kering sepanjang tahun.

Angka itu hasil analisis komposit atas 38 tahun data, 1985 sampai 2023, yang dikerjakan Nabila Putri Maulida, Melly Ariska, dan Hamdi Akhsan dari Pendidikan Fisika Universitas Sriwijaya bersama Suhadi dari Pendidikan Fisika Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Rentang 38 tahun itu cukup panjang untuk memuat lebih dari satu daur El Nino kuat, termasuk 1997 dan 2015.

Hasilnya terbit sebagai artikel Rainfall Characteristics in Kalimantan Island During ENSO and IOD Phases: Insights from Composite Analysis di Jurnal Ilmu Fisika Vol. 17 No. 1 pada 2025, halaman 88 sampai 100. Yang mereka kejar satu hal: apa yang terjadi ketika dua gejala iklim itu bekerja bersamaan, bukan sendiri-sendiri. Kajian sebelumnya, tulis mereka, lebih banyak memeriksa keduanya secara terpisah, dan Kalimantan jarang menjadi wilayah utamanya.

Daftar Isi
  1. 38 Tahun Data
  2. 12 Tahun El Nino
  3. Kurang dari 5 Milimeter
  4. 13 Tahun IOD Positif
  5. 16 Tahun La Nina
  6. Satu Satuan yang Janggal

38 Tahun Data

Seorang nelayan di atas perahu kecil di Sungai Kapuas dengan latar rumah tepi sungai
Nelayan di Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. [Foto: Wikimedia Commons]

Datanya bukan dari pos hujan di darat. Curah hujannya diambil dari ERA5, kumpulan data reanalisis berbasis satelit yang disediakan Climate Data Store, dalam bentuk total hujan bulanan selama 38 tahun. Reanalisis berarti hasil pengukuran satelit dan pengamatan lapangan digabung dengan model cuaca, sehingga seluruh pulau tertutup merata tanpa lubang.

Indeks iklimnya diambil dari sumber lain. Anomali Nino 3.4 dan Dipole Mode Index keduanya diunduh dari arsip NOAA untuk rentang tahun yang sama, lalu dirata-ratakan per tiga bulan. Nino 3.4 membaca anomali suhu permukaan Pasifik ekuator; Dipole Mode Index membaca selisih suhu antara Samudra Hindia bagian barat dan timur.

Empat kelompok tiga bulan itu yang dipakai sepanjang artikel: DJF untuk Desember sampai Februari, MAM untuk Maret sampai Mei, JJA untuk Juni sampai Agustus, dan SON untuk September sampai November. Pengolahannya memakai Python di Jupyter Notebook, dan hasilnya disajikan sebagai peta berwarna, bukan tabel angka — satu peta untuk setiap musim pada setiap fase iklim.

Metodenya bernama komposit: seluruh tahun yang masuk satu kategori dirata-ratakan menjadi satu peta. Rumusnya sesederhana rata-rata biasa, tetapi hasilnya memisahkan pola yang tidak terlihat kalau seluruh 38 tahun dijadikan satu. Dengan cara itu, 12 tahun El Nino bisa dibandingkan langsung dengan 16 tahun La Nina pada musim yang sama.

Baca juga Banjir Bandang Batu Busuk: Bukan Sekadar Banjir Besar

Ambang batasnya ditetapkan lebih dulu. Sebuah tahun dihitung sebagai ENSO bila indeks Nino 3.4 melewati satu simpangan baku selama sekurang-kurangnya lima bulan berturut-turut. Untuk IOD, ambangnya sama tetapi cukup tiga bulan berturut-turut. Dua ambang itu diambil dari rujukan yang berbeda, dan hasil penggolongannya dicocokkan lagi dengan klasifikasi penelitian terdahulu.

12 Tahun El Nino

Dengan ambang itu, dari 38 tahun yang diperiksa, 12 tahun masuk kategori El Nino: 1986, 1987, 1991, 1994, 1997, 2002, 2004, 2006, 2009, 2015, 2019, dan 2023. Jumlahnya lebih sedikit daripada tahun La Nina, yang mencapai 16 tahun, dan hanya sedikit lebih banyak daripada 13 tahun IOD positif. Sisanya tergolong normal.

Pada tahun-tahun El Nino, curah hujan turun di hampir seluruh Kalimantan, dan yang paling parah bagian selatan. Pada musim JJA, Kalimantan Selatan mengalami defisit ekstrem: kurang dari 5 milimeter per musim, jauh di bawah keadaan biasanya. Bagian utara pulau juga turun, tetapi tidak sampai ke titik itu.

Mekanismenya disebut terbuka. Sirkulasi Walker melemah, dan pelemahan itu mengurangi pasokan uap air dari Samudra Pasifik ke wilayah Indonesia. Tanpa uap air, awan yang bisa menurunkan hujan tidak terbentuk. Kekeringan yang panjang inilah yang di tahun-tahun tersebut berulang kali berujung pada kebakaran hutan dan lahan.

Sebagai pembanding di dalam pulau yang sama, penelitian lain yang mereka kutip mencatat curah hujan Kalimantan Barat pada 1985 sampai 2022 lebih tinggi daripada Kalimantan Selatan. Artinya selisih utara-selatan itu bukan hanya muncul saat El Nino, melainkan sudah menjadi ciri tetap pulau tersebut. El Nino tidak menciptakan ketimpangan itu; ia hanya melebarkannya sampai ke titik paling ekstrem.

Kurang dari 5 Milimeter

Angka terendah muncul ketika El Nino bertemu IOD positif. Pada musim JJA, bagian selatan Kalimantan praktis tidak menerima hujan sama sekali — kurang dari 5 milimeter per musim, sama seperti pada El Nino sendirian, tetapi keringnya berlangsung lebih lama dan menyebar lebih merata ke bagian tengah pulau. Musim kemaraunya pun memanjang.

Penyebabnya dua-duanya bekerja ke arah yang sama. El Nino melemahkan pasokan uap air dari Pasifik; IOD positif menambah penurunan massa udara di atas Indonesia. Keduanya sama-sama menghambat pembentukan awan konvektif. Satu kajian yang mereka kutip mencatat El Nino yang datang bersamaan dengan IOD positif memang cenderung berdampak lebih besar daripada El Nino tanpa IOD.

Pada musim DJF di tahun-tahun itu, polanya justru terbelah. Wilayah utara di lintang 2 sampai 5 derajat utara mencatat hujan tertinggi, sementara bagian selatan tetap rendah. Monsun di belahan utara masih membawa uap air ke sana. Artinya, pada tahun terkering sekalipun, kekeringan di Kalimantan tidak pernah merata dari ujung ke ujung.

Musim SON menunjukkan awal pemulihan, tetapi tidak merata. Hujan mulai naik di bagian utara dan sedikit di tengah, sedangkan bagian selatan bertahan kering sampai musim itu berakhir. Pemulihan ke tingkat DJF baru terjadi sesudah musim itu lewat.

Baca juga Lereng Tanah Residual Lebih Rentan pada Hujan Lama

13 Tahun IOD Positif

IOD positif tercatat pada 13 tahun: 1987, 1991, 1994, 1997, 2002, 2003, 2006, 2008, 2011, 2012, 2015, 2019, dan 2023. Delapan di antaranya bertepatan dengan tahun El Nino, dan tumpang tindih itulah yang membuat pertanyaan penelitian ini masuk akal. Delapan dari 38 tahun berarti kira-kira satu kali dalam lima tahun kedua gejala itu menyala bersamaan.

Sendirian pun IOD positif memperburuk kekeringan, terutama di bagian selatan dan tengah pulau. Para peneliti merujuk kajian lain yang mencatat bahwa pada IOD positif yang kuat, permukaan air tanah ikut turun dan risiko kebakaran hutan naik. Kajian lain yang mereka kutip menemukan pengaruh IOD positif di Kalimantan tidak sekuat di Sumatra.

IOD negatif, yang tercatat pada delapan tahun, bekerja ke arah sebaliknya: hujan bertambah, terutama pada musim hujan, dan di beberapa wilayah justru menaikkan risiko banjir. Delapan tahun itu adalah 1989, 1992, 1996, 1998, 2010, 2014, 2016, dan 2022.

16 Tahun La Nina

La Nina adalah fase yang paling sering muncul dalam rentang ini, 16 dari 38 tahun. Pada fase itu curah hujan naik, terutama pada musim DJF di bagian utara dan tengah pulau. Tahun-tahunnya menyebar merata sepanjang rentang, dari 1988 sampai 2022.

Satu hal tidak berubah. Bahkan pada La Nina, bagian selatan Kalimantan tetap menerima hujan lebih sedikit daripada wilayah lain di pulau yang sama. Selisih utara-selatan itu bertahan di seluruh lima fase yang diperiksa.

Kombinasi paling basah adalah La Nina bersama IOD negatif, yang menaikkan hujan secara ekstrem di bagian utara dan tengah pada musim hujan — dengan konsekuensi yang oleh para peneliti disebut terus terang: naiknya risiko banjir dan longsor. Jadi kedua ujung daur ini sama-sama berbahaya, hanya bentuk bencananya yang berbeda.

Pada fase normal, ketika ENSO maupun IOD tidak aktif, polanya mengikuti monsun: hujan terkuat di DJF dan SON, kemarau terdalam di JJA. Angka DJF berkisar 9,51 sampai 12,42 milimeter per musim, dan di utara mendekati atau melewati 13,87. Pada MAM turun ke 8,06 sampai 10,96, lalu jatuh ke 2,25 sampai 6,61 pada JJA sebelum naik lagi di SON.

Baca juga Titik Paling Lunak Karst Rammang-Rammang Ada di Tepi Sawah

Satu Satuan yang Janggal

Ada satu hal yang perlu dibaca hati-hati. Seluruh angka curah hujan di artikel itu ditulis dalam satuan milimeter per musim, dan pada satuan tersebut angka 12 milimeter untuk tiga bulan penuh terbaca sangat kecil untuk wilayah tropis basah seperti Kalimantan, yang curah hujan tahunannya lazim dihitung dalam ribuan milimeter.

Artikelnya tidak menerangkan bagaimana satuan itu diturunkan dari data bulanan ERA5. Karena itu yang bisa dipakai dengan aman dari kajian ini adalah perbandingan antarfase dan antarwilayah, bukan angka mutlaknya. Arah dan urutannya konsisten; skalanya yang perlu diperlakukan hati-hati.

Batas lain disebut sendiri oleh penelitinya. Datanya reanalisis, bukan pengukuran pos hujan; wilayahnya satu pulau; dan pengelompokan tahunnya bergantung pada ambang statistik yang mereka pilih, yang mereka cocokkan dengan klasifikasi penelitian sebelumnya. Satu tahun yang berpindah kategori akan menggeser seluruh peta rata-ratanya.

Yang mereka tuju dengan hasil itu praktis: sistem peringatan dini yang membaca ENSO dan IOD sekaligus, bukan salah satunya, lalu memasukkannya ke dalam kebijakan pengurangan risiko bencana. Tahun-tahun ketika keduanya menyala bersamaan sudah tercatat delapan kali dalam 38 tahun terakhir, dan yang terakhir baru saja lewat pada 2023, tahun terakhir yang masuk ke dalam data mereka.

Bagikan

Baca Juga

Gedung terminal Bandara Haji Muhammad Sidik dengan langit berkabut asap dan apron yang lengang.
Kemenhub: Transportasi Kalimantan Normal di Tengah Asap
Leony duduk di atas perahu saat menyusuri sungai di Kalimantan.
Leony Kecam Pembakar Hutan Kalimantan, Singgung Prabowo
Kepala BMKG memaparkan data dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI.
BMKG: Kemarau Panjang, Waspada Karhutla 4 Provinsi
Ilustrasi awan tebal di langit.
Struktur Tersembunyi di Awan Jadi Cikal Hujan
Ombak di Samudra Atlantik
Arus Atlantik Melemah Bisa Percepat Pemanasan Bumi
Pegunungan bersalju di Utah
Gelombang Panas Pemakan Salju Meluas di Barat Amerika