Cekricek.id — Ilmuwan atmosfer di Amerika Serikat mendefinisikan satu kategori baru gelombang panas yang mereka juluki “pemakan salju”. Dikutip dari eos.org, terbitan American Geophysical Union, pada Senin, 17 Agustus 2026, gelombang panas jenis ini menghantam pegunungan di kawasan barat Amerika Serikat pada musim semi dan awal musim panas, lalu melahap lapisan salju jauh lebih cepat daripada laju normal.
Definisi itu disusun lewat studi berjudul Snow-eater heat waves of the western United States yang terbit di jurnal Science Advances volume 12 nomor 32, artikel eaeb3361, pada 2026. Penulis utamanya adalah Alan M. Rhoades dari Lawrence Berkeley National Laboratory, dibantu 21 peneliti lain dari lembaga seperti Colorado State University, Desert Research Institute, dan Utah State University. Studi yang sudah melewati tinjauan sejawat itu menelaah kawasan barat Amerika Serikat dengan rentang data sejak dekade 1850-an.
Baca juga: Sidang Pembunuhan Tupac Shakur Dimulai Setelah 30 Tahun
Suhu yang Tak Lagi Turun di Bawah Titik Beku
Untuk pertama kalinya peneliti merumuskan syarat persis sebuah gelombang panas layak disebut pemakan salju. Peristiwa ini terjadi ketika suhu bertahan di atas titik beku sepanjang siang dan malam selama beberapa hari berturut-turut, umumnya tiga sampai lima hari. Kondisi semacam itu kira-kira melipatduakan laju pencairan salju, memicu banjir sekaligus menyulitkan pengelolaan sumber daya air.
Sejak dekade 1850-an, menurut studi tersebut, luas wilayah terdampak pemakan salju bertambah rata-rata sekitar 40.000 mil persegi atau kurang lebih 103.600 kilometer persegi per abad. Pemakan salju pertama pada tiap musim juga tiba kira-kira satu bulan lebih awal per abad.
Istilahnya sendiri punya riwayat yang kabur. Paling tidak sejak dekade 1880-an, penduduk kawasan barat sudah membicarakan angin chinook yang “memakan salju”. Frasa “gelombang panas pemakan salju” baru masuk pemberitaan pada Maret lalu, ketika panas dini menyelimuti kawasan barat dan mengikis lapisan salju di Pegunungan Rocky serta Sierra Nevada.
Radiasi Matahari Memperbesar Dampaknya
Baca juga: AS Jatuhkan Sanksi ke Presiden Mahkamah Pidana Internasional
Radiasi matahari adalah pendorong pencairan salju yang besar, tetapi kerap luput diperhitungkan, kata Noah Molotch, profesor geografi di University of Colorado Boulder yang tidak terlibat dalam studi itu. Ketika radiasi matahari berpadu dengan gelombang panas, dampaknya berlipat. Kristal salju yang menghangat kehilangan sebagian struktur dan daya pantul cahayanya, sehingga lapisan salju menyerap lebih banyak sinar matahari dan mencair lebih cepat. “Ini sedikit banyak — tanpa bermaksud bermain kata — seperti efek bola salju,” ujarnya.
Sebagian besar kawasan barat mencatat lapisan salju terendah dalam rekor pada musim semi ini, dan yang tidak biasa menurut Molotch adalah betapa luas sebarannya. Colorado menerima curah hujan di bawah normal sepanjang musim dingin, sedangkan California menerima banyak presipitasi tetapi dalam bentuk hujan, bukan salju. Namun di seluruh kawasan itu, “satu hal yang sama adalah suhu udara di atas rata-rata,” kata Molotch.
Kondisi itu kemungkinan turut menyuburkan kebakaran hutan hebat di kawasan barat, dari Utah hingga Spokane di Negara Bagian Washington, tempat ratusan rumah terbakar awal bulan ini. “Tekanan kekeringan bagi hutan pegunungan di seluruh kawasan barat Amerika Serikat sangat ditentukan oleh salju yang menumpuk tiap musim dingin lalu mencair sepanjang musim semi dan musim panas,” kata Molotch. “Ada kaitan langsung di situ dalam hal ketersediaan air dan tekanan kekeringan, yang bisa menjadi salah satu bahan penting bagi meningkatnya intensitas dan frekuensi kebakaran hutan.”
Air yang Datang sebagai Bahaya
Baca juga: Gubernur Indiana Cairkan Dana Darurat Korban Banjir
Pencairan salju yang terlalu dini atau terlalu cepat merepotkan pengelolaan air di kawasan barat, tempat lapisan salju menjadi sumber utama air tawar pada bulan-bulan musim panas yang lebih kering. “Air yang seharusnya tersimpan sebagai salju keluar lebih awal, dan kemudian kami harus menanganinya sebagai bahaya, bukan sebagai sumber daya, di waduk-waduk kami dan di sepanjang sungai serta anak sungai,” kata Ben Hatchett, salah satu penulis studi sekaligus ilmuwan di Cooperative Institute for Research in the Atmosphere, Colorado State University.
Kemampuan memperkirakan nasib lapisan salju secara lebih baik akan membantu pengelola air bersiap. Studi ini baru menelaah kawasan barat Amerika Serikat, meski menurut Matthew LaPlante, ilmuwan iklim di Utah State University yang ikut menyusun makalah tersebut, gelombang panas pemakan salju hampir pasti terjadi pula di belahan bumi lain.
Fenomena ini juga berpotensi membahayakan pemain ski dan pendaki. Menurut Hatchett, pemakan salju bisa berkaitan dengan longsoran salju, runtuhnya gletser, dan mencairnya lapisan tanah beku, meski hubungan itu masih ditelusuri. Ia tinggal di Sierra Nevada dan merasakan satu perubahan yang kentara sepanjang hidupnya, yaitu lanskap suara di sekitarnya. “Pada malam hari, dulu suasananya sunyi. Dan sekarang tidak sunyi, karena semuanya mencair sepanjang waktu,” katanya.















