
Cekricek.id — Tim peneliti dari Max Planck Institute for Dynamics and Self-Organization, Jerman, menemukan bahwa tetes-tetes air di dalam awan kumulus dangkal tidak tersebar merata seperti yang selama ini diasumsikan, melainkan berkumpul sangat rapat di kantong-kantong kecil berukuran kurang dari satu meter. Titik-titik itu diduga menjadi lokasi awal terbentuknya butir hujan.
Mengukur awan dari dalam dengan CloudKite
Untuk mengamati struktur mikro awan dari dekat, tim memakai wahana bernama CloudKite yang diterbangkan langsung ke dalam awan kumulus di atas Barbados guna mengukur ukuran dan sebaran tetes air secara sangat rinci. “Ibarat mikroskop 3D di dalam awan yang mengamati ukuran dan sebaran partikel,” kata Mohsen Bagheri, peneliti mikrofisika awan sekaligus penulis senior studi di Max Planck Institute for Dynamics and Self-Organization, menurut laporan ScienceAlert, Sabtu (22/08/2026).
Baca juga Beban Tersembunyi Infeksi Jamur Kulit pada 285 Pasien India
Birte Thiede, peneliti mikrofisika awan yang menjadi penulis utama studi, menjelaskan bahwa kepadatan tetes air di kantong-kantong kecil itu jauh meningkatkan peluang tetes-tetes saling bertabrakan dan menyatu menjadi butir yang lebih besar. “Karena tetes air berkerumun di sana, tabrakan antartetes jadi jauh lebih mungkin terjadi. Titik-titik terlokalisasi ini bisa jadi merupakan tempat hujan mulai terbentuk di awan kumulus dangkal,” ujar Thiede.
Baca juga Kalimatnya Utuh, Maknanya Bergeser: Riset Bahasa dan Skizofrenia
Bisa perbaiki prediksi cuaca
Studi yang telah melalui tinjauan sejawat itu terbit di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) tahun 2026 dengan judul Highly localized droplet clustering in shallow cumulus clouds. Menurut Bagheri, memahami struktur tersembunyi awan hangat semacam ini akan membantu memperbaiki deskripsi proses pembentukan hujan sekaligus meningkatkan akurasi prakiraan cuaca ke depan.
Baca juga Uji Lab Daun Suruhan pada Sel Kanker Payudara MCF-7
Temuan ini berpotensi memperbaiki model fisika awan yang dipakai dalam simulasi cuaca dan iklim global, termasuk model yang mendasari prakiraan cuaca di kawasan tropis dengan awan kumulus padat seperti Indonesia, meski penerapan langsungnya pada model prakiraan operasional masih memerlukan penelitian lanjutan.
















