Beban Tersembunyi Infeksi Jamur Kulit pada 285 Pasien India

Ilustrasi tangan orang dewasa menggaruk lengan berkulit kering dan kemerahan di ruang tunggu klinik.

Ilustrasi tangan orang dewasa menggaruk lengan berkulit kering dan kemerahan di ruang tunggu klinik. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Dari 285 orang yang berobat karena infeksi jamur kulit di sebuah rumah sakit rujukan tersier di Bengaluru, India, sebanyak 259 orang tercatat mengalami hambatan berat pada fungsi sosial — sekitar 90,8 persen dari seluruh peserta. Rata-rata penghasilan keluarga mereka 179 dolar Amerika Serikat sebulan, setara 16.968 rupee India, dan 223 orang di antaranya masuk kelas paling bawah pada klasifikasi sosial-ekonomi B. G. Prasad yang dimodifikasi.

Data itu dipaparkan Amrita Hongal, Varsha Manchegowda, Mohan Hebbur Naraharirao, Mahalaxmi Khatagave, dan Rakshitha Nandeesh dari Departemen Dermatologi Bangalore Medical College and Research Institute di Bengaluru, Karnataka, India, lewat artikel A cross-sectional study at a tertiary setting assessing socioeconomic burden and psychological impact of dermatophytoses (Studi potong lintang di layanan tersier yang menilai beban sosial-ekonomi dan dampak psikologis dermatofitosis), yang terbit dalam Journal of General - Procedural Dermatology and Venereology Indonesia Vol. 10 No. 1 pada 2026.

Desainnya potong lintang deskriptif berbasis rumah sakit dan hanya berlangsung di satu tempat, yaitu rumah sakit pendidikan milik Bangalore Medical College and Research Institute, yang menurut penulisnya terutama melayani pasien dari kelompok berpenghasilan rendah dan menengah. Peserta berusia 12 tahun ke atas, sudah pernah diobati untuk infeksi jamur kulit, dan bersedia menandatangani persetujuan tertulis. Perempuan hamil dan menyusui, pasien dengan penyakit kulit penyerta atau sedang menjalani pengobatan penyakit lain, serta pasien yang baru pertama kali didiagnosis tidak diikutsertakan. Naskahnya mencantumkan nomor persetujuan komite etik institusi BMCRI/PS/103/2021-22, tetapi tidak menyebutkan secara eksplisit rentang tanggal pengumpulan datanya.

Baca juga: Riset Australia: Kadar CO2 dalam Darah Manusia Naik Seiring Iklim Memanas

Kadas yang Tak Kunjung Sembuh di Negeri Tropis

Dermatofitosis adalah kelompok infeksi jamur superfisial yang menyerang jaringan berkeratin: kulit, kuku, dan rambut. Di Indonesia, bentuk yang paling dikenal awam adalah kadas atau kurap. Penamaan medisnya mengikuti lokasi yang terkena — tinea cruris di lipat paha, tinea corporis di badan, tinea capitis di kulit kepala, tinea pedis di kaki, tinea manuum di tangan, tinea unguium di kuku, tinea faciei di wajah, dan tinea barbae di area janggut. Beratnya diukur dari luas permukaan tubuh yang terlibat: ringan bila kurang dari 3 persen, sedang bila 3 sampai 10 persen, dan berat bila lebih dari 10 persen.

Hongal dan rekan-rekannya membuka naskah dengan mengingatkan bahwa penyakit kulit jarang mematikan, tetapi mahal dan melelahkan. Mereka mengutip laporan-laporan terdahulu yang mencatat prevalensi dermatofitosis berkisar 6,09 sampai 27,6 persen dalam berbagai studi di India Selatan, sementara di India Utara pernah tercatat setinggi 61,5 persen. Penyakit ini lebih sering muncul di daerah panas, di permukiman padat, dan pada kelompok dengan sanitasi yang buruk. Studi Global Burden of Disease 2017 yang mereka rujuk mencatat kenaikan tahun hidup dengan disabilitas akibat penyakit kulit karena jamur sebesar 27,4 persen dalam kurun hampir tiga dekade, dari 1990 hingga 2017.

Beban itu juga terbaca di angka penjualan obat. Menurut naskah tersebut, pasar antijamur di India — topikal maupun oral — ditaksir bernilai 270 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar 22,45 miliar rupee. Penjualan itrakonazol, salah satu antijamur oral yang paling sering diresepkan, naik dari 43 juta dolar menjadi 98 juta dolar antara Maret 2017 dan Maret 2019. Pada periode yang sama, penjualan lulikonazol melompat dari 9 juta dolar menjadi 46 juta dolar. Angka-angka itu dikutip penulisnya dari publikasi terdahulu, bukan hasil pengukuran mereka sendiri.

Siapa 285 Orang yang Diperiksa Itu

Usia rata-rata peserta 37,3 tahun. Sebanyak 149 orang atau 52,3 persen berada di rentang 20 sampai 40 tahun, 107 orang atau 37,6 persen berusia lebih dari 40 tahun, dan 29 orang atau 10,2 persen belum genap 20 tahun. Laki-laki sedikit lebih banyak, 148 orang berbanding 137 perempuan, dengan rasio 1,08 banding 1.

Tingkat pendidikan mereka beragam. Sebanyak 76 orang atau 26,7 persen sarjana, 70 orang atau 24,6 persen tamat sekolah menengah atas, 55 orang atau 19,3 persen menyelesaikan pre university course, 35 orang atau 12,3 persen tidak pernah menempuh pendidikan formal, 34 orang atau 11,9 persen tamat sekolah dasar, dan 15 orang atau 5,3 persen bergelar pascasarjana. Separuh peserta bekerja — 144 orang atau 50,5 persen — dan 141 orang sisanya tidak bekerja.

Penghasilan keluarga rata-rata 179 dolar sebulan. Sebanyak 71,6 persen peserta berpenghasilan di bawah 210 dolar, 27 persen berada di rentang 210 sampai 420 dolar, dan hanya 1,4 persen yang melampaui 420 dolar. Ketika penulisnya menerapkan klasifikasi B. G. Prasad yang dimodifikasi, 223 orang atau 78,2 persen jatuh ke kelas V, kelas paling bawah. Sebanyak 43 orang masuk kelas IV, 12 orang kelas III, lima orang kelas II, dan hanya dua orang yang berada di kelas I.

Ongkos yang tidak tercatat di kuitansi apotek ikut dihitung penulisnya sebagai gambaran, meski tidak dirinci dalam rupiah maupun rupee. Sebanyak 180 orang atau 63,2 persen menempuh perjalanan ke rumah sakit dengan angkutan umum, sisanya 105 orang memakai kendaraan pribadi. Sebanyak 71,2 persen peserta datang berobat kurang dari lima kali, 24,9 persen antara lima dan sepuluh kali, dan 3,9 persen lebih dari sepuluh kali.

Soal lamanya sakit, 206 orang atau 72,3 persen menderita infeksi kurang dari enam bulan, sementara 79 orang lainnya lebih dari enam bulan, dengan rata-rata durasi 10,6 bulan. Luas permukaan tubuh yang terkena paling banyak berada di kategori sedang: 128 orang atau 44,9 persen dengan keterlibatan 3 sampai 10 persen. Sebanyak 103 orang tergolong ringan dan 54 orang tergolong berat.

Krim Steroid yang Dijual Bebas di Warung Obat

Salah satu temuan yang paling ditekankan penulisnya adalah riwayat pemakaian krim kombinasi berisi kortikosteroid atau obat Ayurveda sebelum pasien sampai ke poliklinik. Dari 285 peserta, 102 orang atau 35,8 persen mengaku pernah memakainya, sementara 183 orang sisanya menyatakan tidak. Krim semacam itu, tulis mereka, sering memberi rasa lega sementara karena menekan gatal, tetapi dapat membuat gambaran klinis penyakit menjadi tidak khas, membuat infeksi bertahan lebih lama, dan memperluas area yang terkena.

Baca juga: WHO Dorong Uji Fase 3 Vaksin Ebola Saat Wabah Kongo Tembus 4.500 Kasus

Pola pengobatan yang kemudian dijalani peserta juga dicatat. Sebanyak 197 orang atau 69,1 persen menerima kombinasi obat oles dan obat minum, sedangkan 88 orang atau 30,9 persen hanya menerima obat oles. Lulikonazol menjadi antijamur oles yang paling banyak dipakai, yakni oleh 172 orang atau 60,4 persen, disusul amorolfin, oksikonazol, siklopiroks olamin, dan sertakonazol. Di sisi obat minum, itrakonazol paling sering diresepkan pada 115 orang atau 40,3 persen, disusul terbinafin, flukonazol, dan griseofulvin. Antihistamin diberikan sebagai tambahan pada 245 orang atau 86 persen peserta. Semua angka ini adalah catatan tentang apa yang terjadi pada peserta studi, bukan panduan pemilihan obat.

“Situasi katastrofik terjadi di India, dengan faktor predisposisi yang mungkin berupa luasnya ketersediaan obat bebas dan pemakaian serampangan kombinasi steroid topikal dan antijamur oleh pasien sendiri atau peresepan tanpa kendali atas produk-produk tersebut oleh dukun obat dan dokter umum,” tulis Hongal dan rekan-rekannya dalam artikel itu. Kalimat aslinya berbahasa Inggris dan diterjemahkan untuk laporan ini.

Ketika Kulit Menutup Pintu Pergaulan

Untuk mengukur dampak pada kehidupan sehari-hari, penulisnya memakai dua kuesioner yang sudah tervalidasi. Yang pertama Dermatology Life Quality Index atau DLQI, instrumen sepuluh pertanyaan yang menilai gejala, aktivitas harian, kinerja kerja atau sekolah, hubungan pribadi, dan gangguan akibat pengobatan; skornya bergerak dari 0 sampai 30, dan makin tinggi berarti makin terganggu. Yang kedua Short Form Health Survey 36 atau SF-36, kuesioner kesehatan umum yang memotret fungsi sosial, fungsi fisik, rasa gatal, keterbatasan akibat masalah fisik dan emosional, perubahan kondisi kesehatan, kesejahteraan emosional, persepsi kesehatan menyeluruh, dan kelelahan. Peserta yang buta huruf dibantu mengisi.

Hasil DLQI menunjukkan 131 orang atau 46 persen mengalami dampak kecil dengan skor 2 sampai 5, sebanyak 120 orang atau 42,1 persen mengalami dampak sedang dengan skor 6 sampai 10, dan 34 orang atau 11,9 persen mengalami dampak sangat besar dengan skor di atas 10.

SF-36 memberi gambaran yang lebih tajam pada satu ranah tertentu. Gangguan berat pada fungsi sosial dialami 259 orang atau 90,8 persen peserta, sementara hanya satu orang yang tercatat gangguannya ringan. Persepsi kesehatan menyeluruh terganggu berat pada 131 orang atau 46 persen. Fungsi fisik sebagian besar berada di kategori gangguan sedang, yakni pada 214 orang atau 75,1 persen. Sebaliknya, kelelahan akibat penyakit dan perubahan kondisi kesehatan justru tercatat ringan pada mayoritas peserta.

Penulisnya juga menanyakan seberapa besar peserta mencemaskan biaya. Sebanyak 122 orang atau 42,8 persen menyatakan cemas sedang, 77 orang atau 27 persen cemas cukup besar, 44 orang atau 15,4 persen sangat cemas, dan 42 orang atau 14,7 persen mengaku tidak cemas sama sekali. Artinya, lebih dari 77 persen peserta memikul kecemasan finansial pada tingkat sedang sampai berat.

Yang Belum Bisa Dijawab Studi Satu Rumah Sakit

Meski angkanya banyak, penulisnya berhati-hati menyatakan hubungan sebab-akibat. “Meskipun korelasi statistik formal tidak dilakukan, pola yang teramati menunjukkan kemungkinan adanya kaitan antara penyalahgunaan steroid, luasnya penyakit, dan luaran kualitas hidup terkait kesehatan yang lebih buruk,” tulis Hongal dan rekan-rekannya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris. Dengan kata lain, studi ini memotret keadaan pada satu titik waktu di satu rumah sakit, bukan membuktikan bahwa krim steroid menyebabkan kualitas hidup memburuk.

Keterbatasan lain diakui terus terang di bagian diskusi. “Keterbatasan studi ini mencakup ketiadaan rincian biaya (baik langsung maupun tidak langsung), karena beban finansial hanya dinilai lewat kecemasan terkait biaya pengobatan,” tulis mereka dalam terjemahan bebas. Penulisnya menambahkan bahwa data yang dipakai bersumber dari laporan peserta sendiri sehingga rentan bias mengingat, dan tidak ada analisis korelasi antara variabel-variabel kunci seperti skor DLQI dan luas permukaan tubuh yang terkena.

Perbedaan itu terlihat ketika hasilnya dibandingkan dengan studi lain yang dikutip penulisnya. Sejumlah penelitian terdahulu melaporkan proporsi pasien dengan gangguan DLQI sangat besar yang lebih tinggi — misalnya sebuah studi 2024 dengan skor DLQI rata-rata 18,78 dan sebuah studi 2023 dengan rata-rata 14,48 — sementara pada 285 peserta di Bengaluru mayoritas berada di rentang dampak kecil sampai sedang. Penulisnya menduga perbedaan itu berasal dari perbedaan derajat keparahan, lama sakit, karakteristik populasi, perilaku mencari pengobatan, dan akses layanan.

Baca juga: Bos NASA Yakin Artemis 3 Meluncur 2027, Uji Dua Pendarat Bulan di Orbit

Untuk gambaran biaya di tempat lain, naskah itu merujuk sebuah analisis di Italia yang menghitung total biaya obat pada kasus dugaan dermatomikosis sebesar 163.536 euro atau sekitar 191.000 dolar Amerika Serikat, rata-rata 297 euro per pasien, dengan 74 persen di antaranya dinilai tidak tepat dan sebenarnya bisa dihindari. Sebuah studi 2017 di Amerika Serikat yang juga dikutip mencatat 4.981.444 kunjungan rawat jalan terkait infeksi dermatofita dengan biaya 802 juta dolar, atau 30 persen dari total biaya penyakit jamur di negara itu. Semua angka itu berasal dari kepustakaan yang dirujuk, bukan dari pengukuran pada 285 peserta studi ini.

Pada bagian penutup, Hongal dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwa dermatofitosis pada kelompok yang mereka periksa membawa beban sosial-ekonomi sekaligus dampak psikologis yang tidak kecil, dan menyerukan penyusunan panduan tata laksana. Kesimpulan itu berlaku untuk 285 pasien di satu rumah sakit rujukan di Karnataka pada periode yang tidak dirinci naskahnya, bukan untuk populasi India secara umum, apalagi untuk Indonesia.

Baca Juga

Ilustrasi tumpukan buku catatan tua dan arsip desa berdebu di atas meja kayu dekat jendela.
Saat Sejarah Kota Cuma Daftar Bangsawan dan Gosip Kampung
Ilustrasi seorang anak dan neneknya mengamati lemari kaca museum sejarah alam
Museum Biologi UGM Dinilai Gelap dan Tak Ada yang Bisa Dimainkan
Ilustrasi meja kayu panjang di ruang diskusi dengan gelas kopi dan tumpukan buku
Grup WhatsApp dan Patungan Kopi di Balik Ilmu Perburuhan Kritis
Ilustrasi deretan tabung sampel sedimen dan mikroskop di meja laboratorium
Hanya Sembilan Riset Butir Pati di Indonesia Sepanjang 2011 hingga 2024
Siswa SMAN 14 Padang mengikuti uji coba aplikasi pembelajaran tatabahasa berbasis Android
Dosen Bung Hatta Ciptakan Aplikasi Tatabahasa Android
Peserta pelatihan pengolahan ayam petelur afkir menjadi burger bersama tim pengabdian UNP di Nagari Taram
UNP Latih Warga Taram Olah Ayam Afkir Jadi Burger