Cekricek.id — Sepetak lahan di Kelurahan Koto Panjang, Kota Payakumbuh, dan sepetak lahan lain di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, hanya berselisih 46 meter ketinggian — dan selisih sekecil itu ternyata cukup untuk membuat benih jagung yang sama tumbuh dengan cara yang tidak sama. Dua lokasi itu dipakai sebagai dua meja uji yang berjalan bersamaan sepanjang Juni sampai September 2023, dengan perlakuan yang persis serupa di kedua tempat, sehingga apa pun yang berbeda pada hasilnya harus dicari penyebabnya di luar benih.
Yang diuji adalah dua calon varietas jagung komposit yang belum dilepas, Jenggel Merah dan Jenggel Putih. Keduanya ditanam berdampingan dengan tiga varietas komposit yang sudah lama beredar — Sukmaraga, Pulut Uri 1, dan Srikandi Kuning — supaya perbandingannya bukan antara calon varietas dan angka di atas kertas, melainkan antara calon varietas dan tanaman yang benar-benar tumbuh di petak sebelah pada musim yang sama, dengan pupuk, penyiangan, dan perlakuan hama yang tidak dibeda-bedakan.
Pengujian itu dikerjakan Rika Rahmania bersama Zulmardi dan Marganof dari Program Studi Ilmu Pertanian, Program Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Laporannya terbit dalam artikel Uji Pertumbuhan Dua Calon Varietas Jagung (Zea mays L.) Komposit di Dua Lokasi Kota Payakumbuh dan Kabupaten Agam Sumatera Barat di JAGUR: Jurnal Agroteknologi Volume 7 Nomor 1 tahun 2025, halaman 25 sampai 32, terbitan Universitas Andalas. Naskahnya diterima pada Januari 2025 dan terbit pada akhir April tahun yang sama.
Daftar Isi
Dua Lokasi, Selisih 46 Meter

Lokasi pertama berada di Kelurahan Koto Panjang, Kecamatan Lamposi Tigo Nagari, Kota Payakumbuh, pada ketinggian 471 meter di atas permukaan laut. Lokasi kedua berada di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, pada ketinggian 517 meter. Keduanya masuk rentang yang disebut sesuai untuk jagung, yaitu 0 sampai 1.200 meter di atas permukaan laut, sehingga tidak ada satu pun lokasi yang secara ketinggian berada di luar batas tumbuh tanaman ini. Perbedaan di antara keduanya, dengan kata lain, bukan perbedaan antara cocok dan tidak cocok, melainkan perbedaan di dalam rentang yang sama-sama layak ditanami.
Rancangan yang dipakai adalah rancangan acak kelompok faktorial. Di tiap lokasi ada lima perlakuan — dua calon varietas dan tiga varietas pembanding — dan lima kelompok ulangan, sehingga terbentuk 25 petak penelitian. Tiap petak berisi 100 tanaman dan sepuluh di antaranya diambil secara acak sebagai sampel. Yang diamati adalah tinggi tanaman, tinggi letak tongkol, umur berbunga jantan, umur berbunga betina, dan hasil per hektare. Data dianalisis dengan sidik ragam, lalu dilanjutkan uji beda nyata terkecil pada taraf 5 persen.
Baca juga 23.000 Tahun Sebelum Neolitik, Butir Liar Sudah Digiling
Dua Calon Varietas, Satu Asal-usul
Jenggel Merah dan Jenggel Putih adalah jagung bersari bebas yang berasal dari campuran berbagai genotip tanaman. Keunggulan jagung komposit disebut terletak pada satu hal yang praktis: hasil panennya masih bisa dipakai kembali sebagai benih untuk penanaman berikutnya, sehingga petani tidak terikat membeli benih baru tiap musim. Justru karena keunggulan itu menyangkut apa yang akan ditanam petani bertahun-tahun ke depan, calon varietas seperti ini perlu lebih dulu diuji daya hasilnya sebelum boleh dilepas sebagai varietas baru.
Di sisi lain, ketiga varietas pembandingnya sudah punya catatan panjang. Sukmaraga dan Lamuru, menurut penelitian yang dikutip para peneliti, tergolong unggul pada kondisi cekaman kekeringan di lahan kering dan pantas dipilih untuk ditanam di sana. Sukmaraga juga disebut cocok dikembangkan di lahan pasang surut suboptimal di Kalimantan Barat, sedangkan Srikandi Kuning bersama Sukmaraga dan Lamuru dinilai sesuai untuk agroekosistem lahan kering dengan pertumbuhan vegetatif dan produksi yang lebih baik. Ketiganya, artinya, bukan pembanding yang lemah, melainkan varietas yang sudah lulus uji di lingkungan yang jauh lebih beragam daripada dua lokasi dalam penelitian ini.
Latar belakang pengujiannya juga bukan sekadar rasa ingin tahu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dikutip dalam artikel, luas panen jagung pipilan kering nasional pada 2023 tercatat 2,48 juta hektare, turun sekitar 0,29 juta hektare atau 10,43 persen dari tahun sebelumnya. Produksinya ikut turun menjadi 14,77 juta ton, berkurang 1,75 juta ton atau 10,61 persen dibandingkan 16,53 juta ton pada 2022. Di sisi permintaan, kebutuhan jagung justru terus bertambah sebagai pangan, pakan ternak, bahan baku industri, sekaligus sumber bioetanol.
Baca juga Payakumbuh, Kota Kolonial yang Dibentuk Lima Staatsblad
Yang Sama: Keduanya Tumbuh Melebihi Tinggi Ideal
Pada tinggi tanaman dan tinggi letak tongkol umur 80 hari setelah tanam, sidik ragam tidak menemukan interaksi antara calon varietas dan lokasi. Artinya keduanya berperilaku serupa di kedua tempat, dan urutan antarvarietas tidak berubah ketika lokasinya berganti. Tanaman tertinggi ada pada Jenggel Merah, diikuti Jenggel Putih, lalu Pulut Uri dan Srikandi Kuning — sebuah urutan yang oleh para peneliti dikaitkan dengan faktor genetik yang melekat pada kedua calon varietas dan dengan kemampuan adaptasi yang berbeda-beda antarvarietas.
Menariknya, keunggulan tinggi itu tidak otomatis kabar baik. Tinggi ideal tanaman jagung yang dikutip para peneliti berada pada kategori rendah, 100 sampai 150 sentimeter, hingga sedang, 150 sampai 200 sentimeter. Kedua calon varietas maupun ketiga pembandingnya melampaui angka itu, dan kelebihannya dikaitkan pula dengan ketersediaan unsur hara yang berimbang di kedua lokasi. Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian bahkan memasukkan Jenggel Merah dan Jenggel Putih ke kategori sangat tinggi karena melebihi 275 sentimeter.
Sebabnya dilacak sampai ke tetuanya, yang disebut punya tinggi tanaman sampai 400 sentimeter. Tinggi letak tongkol kedua calon varietas juga lebih tinggi daripada ketiga pembandingnya, sejalan dengan pendapat Amir dan Nappu bahwa posisi tongkol berkorelasi positif dengan tinggi tanaman. Padahal kriteria yang diharapkan justru postur sedang dan kokoh, dengan letak tongkol tidak lebih dari setengah tinggi tanaman — sebuah proporsi yang, menurut Yasin dan kawan-kawan yang mereka kutip, dianggap ideal.
Pada umur berbunga jantan, kedua calon varietas tidak berbeda nyata satu sama lain di kedua lokasi. Di Payakumbuh keduanya berbeda nyata terhadap Sukmaraga, Pulut Uri, dan Srikandi Kuning; di Agam keduanya bersama Sukmaraga dan Srikandi Kuning tidak berbeda nyata, dan hanya berbeda nyata terhadap Pulut Uri. Rata-rata umur keluar bunga betina yang dikutip para peneliti adalah 48 sampai 56 hari, dengan selang munculnya bunga jantan dan betina berkisar satu sampai tiga hari — makin pendek selangnya, makin lancar penyerbukan dan pengisian bijinya.
Yang Berbeda: Kadar Air, Bobot Biji, dan Hasil per Hektare
Pada kadar air panen, perbedaan antarlokasi muncul jelas dan penyebabnya disebut sebagai curah hujan: di Kabupaten Agam curah hujan lebih tinggi, di Kota Payakumbuh lebih rendah. Hasil survei yang mereka kutip menyebut kadar air jagung yang dipanen pada musim hujan berkisar 25 sampai 35 persen, sementara kadar air tertinggi yang biasa dipakai industri adalah 15 persen. Kadar air tinggi membuat benih jagung muda rusak dan tidak tahan disimpan, dan makin rendah kadar airnya, makin baik daya simpan sebuah genotipe.
Pada bobot 1.000 biji, urutannya justru berbalik antara kedua lokasi. Di Kabupaten Agam bobot tertinggi ada pada Jenggel Merah, diikuti Jenggel Putih. Di Kota Payakumbuh bobot tertinggi justru ada pada Srikandi Kuning, baru kemudian Jenggel Merah dan Jenggel Putih. Perbedaan itu dikaitkan dengan faktor genetik masing-masing sekaligus lingkungan tumbuhnya, terutama ketersediaan air dan unsur hara — kalium disebut berperan pada fase pematangan, pengisian biji, dan pembentukan karbohidrat.
Pada hasil per hektare, keduanya bertemu kembali di titik yang sama. Baik di Agam maupun di Payakumbuh, Jenggel Merah dan Jenggel Putih tidak berbeda nyata terhadap Sukmaraga dan Srikandi Kuning, dan hanya berbeda nyata terhadap Pulut Uri. Dengan kata lain, keunggulan tinggi tanaman yang kelihatan sejak pengamatan pertama tidak berlanjut menjadi keunggulan hasil atas dua varietas pembanding yang sudah lama beredar; ia hanya berlanjut terhadap satu varietas saja, yaitu Pulut Uri, yang tertinggal di kedua lokasi sekaligus.
Kesimpulan yang ditarik para peneliti ada dua: kedua calon varietas adaptif pada agroekosistem Kota Payakumbuh maupun Kabupaten Agam, dan keduanya menunjukkan pertumbuhan lebih baik di Kabupaten Agam bila yang dilihat adalah tinggi tanaman. Klaim kedua itu sengaja dibatasi pada satu parameter saja, dan pembatasan tersebut termasuk jujur, sebab parameter lain memang tidak memberi arah yang sama — bobot 1.000 biji bahkan memberi arah yang berlawanan di Payakumbuh.
Ada beberapa hal di dalam artikelnya yang menyulitkan pembaca. Judul di kepala artikel berbunyi uji pertumbuhan, sedangkan judul penelitian yang disebut di dalam teks berbunyi uji daya hasil. Satu kalimat menyebut Payakumbuh dua kali dengan dua ketinggian berbeda, padahal bagian metode sudah menetapkan 471 meter untuk Payakumbuh dan 517 meter untuk Agam. Penomoran tabel kadar air panen dan tabel bobot 1.000 biji juga tertukar dengan uraian yang menyertainya.
Yang lebih mengganggu adalah dua pasang kalimat yang saling meniadakan. Pada satu tempat bobot biji Jenggel Merah disebut lebih tinggi di Payakumbuh karena ketersediaan kalium yang lebih besar di sana, pada tempat lain bobot 1.000 biji Jenggel Merah disebut tertinggi di Agam. Kandungan hara nitrogen, fosfor, dan kalium juga disebut lebih berimbang di Payakumbuh, sementara kesimpulan artikelnya menyatakan pertumbuhan lebih baik justru terjadi di Agam.
Baca juga ITS dan BRMP Jatim Terapkan Platform Dekarbonisasi Padi
Dua sisi itu masih berdiri berdampingan tanpa ada yang menang. Di satu sisi, kedua calon varietas terbukti tumbuh di dua agroekosistem yang berbeda, tumbuh lebih tinggi daripada tiga varietas yang sudah dilepas, dan menyamai dua di antaranya pada hasil per hektare. Di sisi lain, postur yang terlalu tinggi bukan sifat yang dicari, kadar air panen masih ditentukan cuaca, dan uraian di dalam artikelnya sendiri belum sepenuhnya sejalan — sesuatu yang hanya bisa dijawab oleh musim tanam berikutnya.














