Cekricek.id — Pelabuhan Panjang di Bandar Lampung menjadi lokasi pertama yang dikaji tim peneliti Institut Teknologi Sumatera dalam riset ketangguhan infrastruktur menghadapi tsunami yang berlangsung hingga 2028. Rencana kajian itu dibahas dalam audiensi dengan manajemen PT Pelabuhan Indonesia Regional 2 Panjang, Kamis, 3 September 2026.
Riset bernama SUSTAIN atau tSUnami reSilient criTicAl INfrastructure itu dikelola United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific, dan Itera ditetapkan sebagai institusi mitra, menurut keterangan tertulis Institut Teknologi Sumatera, Kamis (03/09/2026). Audiensi digelar di Kantor Pelindo Bandar Lampung.
Rektor Itera Prof. Elfahmi mengatakan kajian diarahkan menghasilkan manfaat operasional bagi pengelola pelabuhan, tidak berhenti sebagai laporan akademik. “Riset ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi Pelindo dalam memitigasi risiko bencana, khususnya tsunami, sekaligus menjadi kontribusi Itera dalam menguatkan infrastruktur yang adaptif dan memiliki ketahanan terhadap bencana,” ujarnya.
Baca juga ITB Kumpulkan 70 UKM di Jatifest untuk Sambut Mahasiswa Baru
Ketua tim riset sekaligus Kepala Pusat Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami Itera, Prof. Harkunti Pertiwi Rahayu, menyebut kajian mencakup tiga infrastruktur strategis nasional. Selain Pelabuhan Panjang, tim akan meneliti Bandara Internasional Yogyakarta dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali.
Di Pelabuhan Panjang, tim menggali kesiapan Pelindo menjaga keberlangsungan operasional saat kondisi darurat melalui penerapan Business Continuity Management dan Business Continuity Management System. Pembahasan mencakup dasar kajian risiko, pembagian tanggung jawab saat bencana, serta sistem yang harus tetap berfungsi ketika pelabuhan terdampak.
Baca juga Undip Serahkan Lima Unit Pengolah Air Bencana ke BNPB
Tim juga mendata fasilitas vital yang berada dekat kawasan pantai, yaitu dermaga, gudang, lapangan penumpukan, crane, dan sistem pendukung kegiatan peti kemas. Pesisir Lampung termasuk kawasan yang terdampak tsunami Selat Sunda pada Desember 2018.
Sebagai institusi mitra, Itera terlibat dalam pengumpulan data lapangan dan penyusunan kajian bersama pengelola infrastruktur. Kunjungan ke Pelabuhan Panjang menjadi langkah awal sebelum tim bergerak ke dua bandara yang masuk cakupan riset.
Baca juga Pustral UGM: Pangsa Kereta Angkut Barang Baru 1 Persen
Harkunti bersama tim mendalami penerapan sistem manajemen keberlangsungan usaha di pelabuhan, mulai dari dasar penilaian risiko hingga infrastruktur yang harus tetap beroperasi agar layanan tidak berhenti total setelah bencana. Pendekatan itu menempatkan pemulihan operasi, bukan hanya kekuatan bangunan, sebagai ukuran ketangguhan.
Rombongan Itera diterima General Manajer Pelindo Regional 2 Panjang Hardianto beserta jajarannya. Keterangan kampus tidak memuat pernyataan langsung dari pihak Pelindo mengenai hasil audiensi, termasuk apakah perusahaan sudah memiliki dokumen kesinambungan usaha untuk skenario tsunami. Pelabuhan Panjang melayani bongkar muat peti kemas dan curah di pesisir timur Lampung.
Institut Teknologi Sumatera tidak menyebutkan nilai pendanaan SUSTAIN, jadwal kunjungan lapangan berikutnya, maupun bentuk keluaran akhir riset. Kampus juga belum menjelaskan apakah rekomendasi kajian akan mengikat pengelola ketiga infrastruktur tersebut atau bersifat masukan sukarela. Belum ada tanggal yang disebutkan untuk penyerahan hasil kajian tahap pertama.














