23.000 Tahun Sebelum Neolitik, Butir Liar Sudah Digiling

A A

Jelai liar tumbuh di ladang. [Foto: Davidbena/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Cekricek.id — 90.000 sisa tumbuhan tercatat dari satu situs kecil di tepi Danau Galilea. Sekitar 19.000 di antaranya butir rumput. Seluruhnya berasal dari 142 takson. Lapisan yang menyimpannya berumur kira-kira 23.000 tahun, jauh sebelum pertanian dianggap ada.

Situs itu bernama Ohalo II. Ia menjadi salah satu tumpuan kajian Acharya Balkrishna dan Rashmi Mittal. Keduanya bekerja di Division of History & Archaeological Research, Patanjali Research Foundation, dan di Department of History, University of Patanjali, Uttarakhand, India. Artikel mereka berjudul Tracing the Roots of Agriculture: The Foundation of Early Human Survival. Tulisan itu terbit di jurnal Purbawidya Vol. 14 No. 2 tahun 2025, halaman 268 sampai 282.

Angka 23.000 tahun itu penting karena satu hal. Revolusi Neolitik, istilah yang dirumuskan Childe, memasang batas yang jauh lebih muda. Bukti arkeobotani, genetika, dan isotop menggeser garis waktu budidaya tanaman ke belakang lebih dari 20.000 tahun. Pergeserannya bukan seratus atau dua ratus tahun.

Daftar Isi
  1. 90.000 Sisa Tumbuhan dari 142 Takson
  2. 150 Butir Pati di Satu Batu Giling
  3. 12.520 Tahun dan Beras Tertua di Asia
  4. 4.100 Biji dari Situs Seluas 50.000 Meter Persegi
  5. 10.300 sampai 7.500 Tahun untuk Milet
  6. Empat Angka yang Tidak Bisa Dipastikan

90.000 Sisa Tumbuhan dari 142 Takson

Dari 90.000 sisa tumbuhan Ohalo II, hampir 19.000 adalah butir rumput. Sebagian besar terawetkan sangat baik. Situs itu tenggelam selama ribuan tahun di tepi barat daya Danau Galilea. Air justru menjaga gubuk, tungku, satu kubur, dan tumpukan biji tetap di tempatnya.

Lebih dari sepertiga kumpulan biji dan buah di sana masuk keluarga rumput-rumputan. Di dalamnya ada gandum emmer liar, jelai liar, dan haver liar. Jelai liar jenis Hordeum spontaneum tercatat sebagai bahan makanan pokok penghuni situs. Angka itu bukan hiasan, sebab ia menunjuk pada menu harian.

Ohalo II juga menyimpan yang bukan tumbuhan. Ada alat batu serpih dan batu asah, sisa mamalia, burung, hewan pengerat, ikan, dan moluska. Kumpulan itu memberi gambaran satu perkampungan pemburu-pengumpul yang sudah menetap. Umur 23.000 tahun membuat kata menetap terdengar terlalu dini.

150 Butir Pati di Satu Batu Giling

Satu batu datar besar di situs itu menyimpan angka yang lebih kecil tetapi lebih tajam. Analisis permukaannya memulihkan 150 butir pati. Sebanyak 127 butir berasal dari rumput-rumputan. Dari jumlah itu, 78 butir berukuran dan berbentuk khas jenis Hordeum.

Baca juga Cangkang di Benteng Tabanio Ternyata Dibawa Ombak

Pemeriksaan lanjutan pada bagian tengah bawah batu menemukan 13 butir pati tambahan. Satu diduga Hordeum, delapan berbentuk lonceng, dan tiga butir majemuk dari rumput. Perbandingan 78 dari 127 itulah yang membuat batu ini disebut bukti penggilingan rumput tertua dari Paleolitik Atas.

Angka sebesar itu bisa muncul karena satu teknik. Sisa tumbuhan yang hangus lebih awet, sebab karbonisasi membuatnya stabil secara kimia dan tahan pembusukan mikroba. Berat jenisnya lebih rendah daripada partikel tanah dan air. Metode flotasi memanfaatkan selisih itu untuk memisahkan biji dari matriks tanah.

Di lantai Gubuk Semak 1 ditemukan lempeng giling lain. Butir pati serealia liar ditarik dari permukaannya. Sebaran butir di sekeliling lempeng membentuk pola yang khas. Ditambah keberadaan alat panen, penulisnya menilai ada kemungkinan budidaya percobaan berskala kecil di situ.

12.520 Tahun dan Beras Tertua di Asia

Angka berpindah ke timur, ke Sorori di Kabupaten Cheongwon, Provinsi Chungbuk, Korea. Padi purba dan padi semu ditemukan di lapisan gambut tengah. Lapisan itu duduk antara 32 dan 30,5 meter di atas permukaan laut rata-rata.

Penanggalan radiokarbon lapisan gambut memberi rentang 12.780 sampai 14.800 tahun BP. Gambut di bawahnya berumur 16.300 sampai 17.300 tahun BP. Uji ulang pada butir padi dan gambutnya menghasilkan 12.520 ± 150 dan 12.552 ± 90 tahun BP.

Dua angka itu menjadikan padi Sorori beras berpenanggalan radiokarbon tertua di Asia. Temuan tersebut memperkuat penemuan butir padi semu di Seoul National University. Simpulannya satu kalimat: pertanian padi berumur lebih dari 10.000 tahun.

Abu Hureyra di Suriah memberi rentang paling panjang, 13.500 sampai 7.500 kal BP. Situs itu merekam peralihan dari meramu ke bercocok tanam secara utuh. Pemicunya diduga menyusutnya persediaan tumbuhan liar utama pada masa kering Younger Dryas. Jelai dan gandum hitam tercatat di sana.

Catatan penulisnya di bagian ini tidak merayakan apa pun. Kebangkitan pertanian memang kerap disebut fondasi peradaban. Dampak sosial, demografis, gizi, dan ekologis yang menyusul disebut sebagian besar merugikan, dan menyentuh hampir semua sisi kehidupan sekarang.

4.100 Biji dari Situs Seluas 50.000 Meter Persegi

Di Cina, angka yang paling rapi datang dari Jiahu di hulu Sungai Huai. Situs itu bertarikh 9.000 sampai 7.800 kal BP berdasarkan 19 penanggalan radiokarbon. Luasnya 50.000 meter persegi. Di dalamnya ada area hunian, zona produksi, dan pemakaman.

Baca juga Rangka Perempuan di Bawah Gambar Cadas Gua Batu Baras

Ekskavasi pada 1980-an memulihkan lebih dari 4.100 biji dari 16 takson berbeda. Daftarnya mencakup umbi seperti akar teratai, kacang seperti biji ek, serta biji-bijian seperti padi dan kedelai liar. Rumput gulma ikut terbawa, di antaranya Digitaria dan Echinochloa.

Sampel flotasi Jiahu memuat lebih dari 400 butir padi hangus. Bentuk, ukuran, dan ciri morfologi butir itu diperiksa satu per satu. Jarak situs dari sebaran padi liar yang diketahui ikut dihitung. Gabungan angka itu mengarah ke satu simpulan: padi Jiahu kemungkinan sudah didomestikasi.

Çatalhöyük berdiri 50 kilometer di tenggara Konya, di Anatolia tengah-selatan, bertarikh 9.000 sampai 8.000 kal BP. Letaknya tidak ditentukan oleh kedekatan dengan lahan subur atau kayu bakar. Temuan arkeobotaninya mencakup gandum domestik, emmer, jelai, lentil, dan kacang polong. Ada lantai pengirikan, fasilitas penyimpanan, dan zona pengolahan pangan.

10.300 sampai 7.500 Tahun untuk Milet

Milet memberi angka yang lebih goyah. Bukti paling awal yang masih diperdebatkan datang dari situs Cishan di Cina utara. Fitolit sekam dan hidrokarbon milet biasa ditemukan di lubang penyimpanan biji. Sampel arang dari lubang itu bertarikh sekitar 10.300 sampai 8.700 kal BP.

Ada satu catatan yang jarang ikut dikutip. Tarikh arang tersebut tidak langsung mengacu pada miletnya. Milet foxtail muncul sesudah periode itu. Situs di Gansu dan Liaoning memberi angka sekitar 7.500 sampai 8.000 kal BP. Xinglonggou, 8.000 sampai 7.500 kal BP, dicatat sebagai lokasi awal pertanian milet.

Milet diperkirakan masuk ke Korea sekitar 8.000 kal BP, bersamaan dengan periode tembikar Jeulmun Tengah. Di Afrika Barat, milet mutiara dari Lembah Tilemsi, Mali, bertarikh sekitar 2500 sampai 2000 SM. Dua angka itu terpisah ribuan tahun dan ribuan kilometer.

Di Cina utara milet bertahan lebih lama daripada yang diperkirakan. Gandum masuk ke sana sekitar 4.000 BP dan belakangan menjadi makanan pokok. Meski begitu milet tetap memegang tempat utama dalam sistem pertanian, karena nilai budayanya kuat.

Empat Angka yang Tidak Bisa Dipastikan

Tabel kajian ini menderetkan sebelas situs. Ohalo II sekitar 23.000 BP, Sorori 12.780 sampai 12.520 BP, dan tembikar Jomon 12.000 sampai 2.300 BP. Berikutnya Abu Hureyra 13.500 sampai 7.500 BP, Jerf el Ahmar 11.500 sampai 10.000 BP, dan Netiv Hagdud 10.500 sampai 10.000 BP. Sisanya Cishan, Jiahu, Çatalhöyük, Mehrgarh, dan Xinglonggou.

Baca juga Kepuasan Wisatawan Ke'te Kesu' Berhenti di Angka 3,96

Mehrgarh di Pakistan bertarikh 9.000 sampai 7.000 kal BP. Analisis polen di sana menunjukkan vegetasi Salix, Tamarix, dan Ulmus antara sekitar 8.000 dan 6.000 tahun lalu. Jelai enam baris, gandum, emmer, dan kurma tercatat pada fase awal. Jujube dan anggur muncul pada fase berikutnya.

Di Mesoamerika angkanya lain lagi. Labu dan labu botol dari gua Guilá Naquitz di Lembah Oaxaca bertarikh sekitar 9.900 kal BP. Spesimen dari Lembah Tehuacán bertarikh sekitar 7.900 kal BP. Jagung perlu ribuan tahun untuk berubah dari teosinte, karena kultivar awalnya berdaya hasil rendah.

Di Bulan Sabit Subur, gandum dan jelai didomestikasi kira-kira 10.500 sampai 9.000 tahun lalu. Kondisinya kering dan bermusim, sehingga penyimpanan dan permukiman menetap terdorong lebih awal. Dua varietas gandum utama yang didomestikasi adalah Triticum monococcum dan Triticum turgidum. Pada milenium keenam BP gandum sudah ditanam di Mesir.

Melinda A. Zeder, penulis kajian Core Questions in Domestication Research yang dirujuk paper ini, menempatkan domestikasi sebagai hubungan koevolusi yang saling menguntungkan. Pandangan itu berdiri berlawanan dengan Revolusi Neolitik ala Childe, yang menggambarkan perubahan cepat. Perjalanannya disebut tidak linear dan berlangsung ribuan tahun.

Rashmi Mittal, sejarawan di University of Patanjali sekaligus penulis penanggung jawab kajian ini, menyatakan seluruh bukti yang dipakainya berasal dari laporan ekskavasi yang sudah ada. Ia membuka kemungkinan temuan baru memundurkan angka-angka itu lebih jauh lagi. Sebelas situs dalam tabelnya pun bukan daftar seluruh pusat pertanian dunia.

Satu angka tinggal di kepala setelah semua tabel ditutup. Bukan 23.000, bukan 12.520, bukan 4.100. Angka itu 78: jumlah butir pati jelai yang menempel pada satu batu, ditinggalkan orang yang tidak tahu ia sedang memulai apa pun.

Bagikan

Baca Juga

Bukit kapur Citatah, Cipatat, kawasan karst tempat Gua Pawon berada.
Gigi Manusia Pawon, 33 Kajian yang Berhenti di 2020
Arca Mamaki dari Candi Jago, Malang.
Amoghapasa Candi Jago dan Pengaruh Pala yang Kabur
Gua Tabuhan di Pacitan
Laser Mengenali Tambalan Semen di Stalaktit Gua Aul
Makam Tionghoa di Gunung Tidar, Magelang
Makam Tionghoa Bali dan Nisan Tertua Tahun 1838
Relief dewata dan apsara di Candi Prambanan
Astabrata yang Dipahat di Dinding Candi Siwa
Mulut gua pertahanan Jepang di Rane
101 Situs Pertahanan Jepang di Jawa Dipetakan Ulang