- Beras fortifikasi memuat tambahan vitamin B1, B9, B12, serta mineral besi dan zink.
- Teknologi ekstrusi memasukkan fortifikan ke dalam buliran sehingga lebih tahan saat beras dicuci.
- Rasio pencampuran fortifikan dan beras dapat mencapai 1:100 sehingga sampling harus representatif.
- Sebagian bahan fortifikan masih bergantung pada impor dan akses produsen kecil perlu diperhatikan.
Cekricek.id — Beras fortifikasi membawa tambahan tiga vitamin dan dua mineral yang dirancang agar zat gizinya tidak hilang sebelum beras sampai ke meja makan.
Menurut keterangan tertulis IPB University, Senin (28/09/2026), Kepala Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST) IPB University, Dr Puspo Edi Giriwono, menjelaskan beras fortifikasi berbeda dari beras konvensional karena memperoleh tambahan mikronutrien yang dirancang memberi manfaat gizi tertentu.
“Beras fortifikasi adalah beras yang mendapatkan tambahan mikronutrien, yaitu tiga vitamin dan dua mineral. Vitamin tersebut antara lain vitamin B1, B9, dan B12, sedangkan mineralnya adalah besi dan zink,” jelasnya.
Penambahan besi diarahkan untuk membantu menurunkan risiko anemia, sedangkan zink berperan mendukung daya tahan tubuh dan pertumbuhan yang optimal.
Tiga cara memasukkan gizi ke dalam butiran
Puspo menyebut fortifikasi beras dapat ditempuh lewat pelapisan atau coating, penaburan atau dusting, maupun teknologi ekstrusi. Di antara ketiganya, ekstrusi dinilai unggul karena fortifikan masuk ke dalam buliran sehingga lebih terlindungi dari oksigen, cahaya, dan panas.
Perbedaan itu paling terasa pada kebiasaan mencuci beras sebelum dimasak, yang lazim dilakukan banyak rumah tangga.
“Teknologi ekstrusi menghasilkan buliran yang fortifikannya sudah tercampur dan terlindungi. Ketika beras dicuci sebelum dimasak, kandungan fortifikan relatif lebih terjaga dibandingkan teknologi yang hanya melapisi permukaan beras,” ujarnya.
Pada beras yang fortifikannya hanya melapisi permukaan, pencucian berisiko melarutkan sebagian zat gizi tambahan sebelum sempat dikonsumsi. Kebiasaan konsumen atas pangan pokok juga pernah menjadi perhatian ketika kelangkaan beras kemasan 5 kg memicu kekhawatiran.
Sampling, degradasi, dan akses produsen kecil
Puspo menekankan pengembangan beras fortifikasi harus memperhitungkan perilaku konsumen agar jumlah zat gizi tambahan tetap sesuai standar setelah diolah di tingkat rumah tangga. Akses produsen terhadap teknologi dan modal juga perlu diperhatikan supaya penerapannya tidak hanya mungkin bagi produsen berskala besar.
Ketersediaan bahan fortifikan dalam negeri menjadi perhatian lain karena sebagian vitamin dan mineral masih bergantung pada impor. Pada aspek pengujian, dengan rasio pencampuran fortifikan dan beras yang dapat mencapai 1:100, metode sampling harus mampu mewakili keseluruhan produk.
“Kalau pencampurannya tidak merata dan sampelnya tidak representatif, hasil analisis dapat menggambarkan kondisi yang tidak sesuai dengan keseluruhan produk,” ujarnya.
Ia juga menyoroti laju degradasi tiap vitamin dan mineral selama penyimpanan. Perbedaan stabilitas antarfortifikan membuat sebagian komponen masih memenuhi standar sementara komponen lain menurun kadarnya.
“Karena itu, perlu kajian berbasis data untuk memodelkan perubahan kadar fortifikan selama produksi, distribusi, dan penyimpanan. Hasil kajian tersebut selanjutnya diterjemahkan menjadi rekomendasi teknis bagi produsen. Dengan demikian, diharapkan penerapan beras fortifikasi dapat dilakukan secara konsisten dalam skala besar dan memberikan manfaat gizi bagi masyarakat,” tandasnya.
Penyimpanan pangan di rumah tangga dibahas lewat batas aman makanan sisa di kulkas, sementara ketahanan pangan nasional disorot pada seruan diversifikasi pangan menghadapi El Nino.















