- Sekitar 38,5 persen PM2,5 di Jakarta berasal dari wilayah sekitarnya.
- Peneliti ITB merekomendasikan standar emisi Euro IV dan uji emisi yang lebih ketat.
- Kualitas udara diusulkan menjadi indikator kinerja utama pemerintah dan dunia usaha.
Cekricek.id — Sekitar 38,5 persen partikel halus PM2,5 yang mencemari udara Jakarta ternyata berasal dari wilayah di sekitarnya. Temuan peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menunjukkan polusi ibu kota tidak bisa diatasi Jakarta sendirian.
Kajian bertajuk Identification of Pollutant Sources and Dispersion Patterns for Air Pollution Control in Greater Jakarta itu dipaparkan Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Prof Ir Puji Lestari PhD, dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026). Hasilnya dirilis dalam keterangan tertulis ITB, Kamis (15/10/2026).
PM2,5 adalah partikel pencemar berdiameter 2,5 mikrometer atau kurang yang dapat masuk jauh ke sistem pernapasan. Menurut Puji, memahami sumber dan pola sebaran polutan adalah langkah awal menyusun kebijakan yang tepat sasaran. “Data itu menjadi basic science yang bisa menjadi dasar untuk pengambil kebijakan,” ujarnya.
Lima Rekomendasi untuk Jabodetabek
Tim ITB merumuskan rekomendasi di lima aspek: transportasi, industri dan pembangkit energi, pengelolaan sampah, indikator kinerja, serta manajemen kualitas udara terpadu. Di sektor transportasi, peneliti mendorong standar emisi Euro IV, kendaraan listrik, kewajiban penyaring partikel diesel (diesel particulate filter), serta uji emisi yang lebih ketat.
Untuk industri dan pembangkit, mereka menyarankan teknologi pengendali emisi seperti electrostatic precipitator, selective catalytic reduction, dan flue gas desulfurization, ditambah energi bersih. Pembakaran sampah terbuka juga diminta dihentikan lewat penegakan aturan yang lebih tegas.
Baca juga: Polusi Udara Tak Hanya Serang Paru, Jantung dan Otak Ikut Terancam
Puji juga ingin kualitas udara menjadi indikator kinerja utama pemerintah dan dunia usaha. “Saya berharap air quality ini dimasukkan sebagai salah satu indikator yang penting dalam pembangunan nasional, kemudian juga regional, dan juga sektor-sektor usaha,” katanya.
Baca juga: Strategi Kemenkes Hadapi Polusi Udara: 6M+1S untuk Lindungi Kesehatan Anda
Rekomendasi terakhir adalah satu rencana aksi bersama untuk seluruh Jabodetabek, agar penanganan pencemaran udara yang melintasi batas administratif bisa dikoordinasikan antardaerah.
Baca juga: Karhutla Capai 8,35 Juta Hektare, Pakar UGM: Gambut Harus Basah















