- Luas kumulatif karhutla 2015 hingga 2026 mencapai sekitar 8,35 juta hektare.
- Guru besar UGM menilai water bombing tak cukup bila api berada di bawah permukaan gambut.
- Kebakaran membuat satwa liar kehilangan pakan dan masuk ke permukiman warga.
Cekricek.id — Luas kumulatif kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada periode 2015–2026 mencapai sekitar 8,35 juta hektare. Para guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai pencegahan harus dimulai jauh sebelum api muncul, terutama dengan menjaga lahan gambut tetap basah.
Data itu dipaparkan dalam UGM Podcast yang menghadirkan anggota Dewan Guru Besar UGM, Kamis (15/10/2026), sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis UGM. Kebakaran terluas terjadi pada 2015 dengan 2,61 juta hektare, disusul 2019 seluas 1,65 juta hektare dan 2023 seluas 1,16 juta hektare.
Guru Besar Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan UGM, Prof Dr Ir Ris Hadi Purwanto, menyebut sumber penyulutan api di Indonesia banyak berkaitan dengan aktivitas manusia, termasuk pembakaran untuk menekan biaya pembukaan lahan. Ia mengingatkan agar penanganan tidak bersifat reaktif. “Jangan sampai, misalnya, mendirikan badan atau balai untuk menangani karhutla itu reaktif. Misalnya, kalau ada kebakaran baru dibuat, kalau tidak, tidak usah,” ujarnya.
Water Bombing Tak Cukup untuk Gambut
Guru Besar Kimia dan Pengolahan Tanah Fakultas Pertanian UGM, Prof Benito Heru Purwanto, menjelaskan gambut rentan terbakar bila dikeringkan, misalnya lewat pembangunan kanal yang menurunkan muka air tanah. Api pun bisa merambat ke lapisan organik di bawah permukaan. “Apinya bukan berasal dari gambut, tetapi aktivitas kita,” tegasnya.
Karena itu, menurut Benito, penjatuhan air dari udara atau water bombing tidak cukup efektif bila sumber api berada di bawah tanah. Ia menyarankan pembasahan kembali (rewetting) serta pengelolaan tata air sejak musim hujan. “Mengingat pembentukan gambut membutuhkan waktu sangat lama, kerusakan akibat kebakaran menjadi persoalan ekologis yang pemulihannya tidak dapat dilakukan secara singkat,” katanya.
Baca juga: Pakar ITB: Gambut Kering Jadi Bahan Bakar Karhutla Berulang
Dampaknya juga menimpa satwa liar. Guru Besar Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof Dr drh Raden Wisnu Nurcahyo, menyebut kebakaran membuat satwa kehilangan habitat, tempat berlindung, dan pakan, sehingga sebagian masuk ke lahan pertanian dan permukiman. “Masalah yang utama itu kehilangan sumber pakan karena kebakaran hutan,” ungkapnya.
Baca juga: Karhutla Kalimantan, 74 Persen Titik Panas di Area Konsesi
Wisnu meminta pencegahan melibatkan warga sekitar hutan dan pelaku usaha. “Upaya pencegahan karhutla perlu melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan serta pelaku usaha yang memanfaatkan lahan. Edukasi dan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, pertambangan, dan perkebunan menjadi bagian penting untuk menekan risiko kebakaran sekaligus melindungi keanekaragaman hayati,” tuturnya.
Baca juga: Pakar UGM: Kasus ISPA Melonjak Saat Kemarau dan Karhutla















