Pakar ITB: Gambut Kering Jadi Bahan Bakar Karhutla Berulang

A A

Ilustrasi kebakaran hutan yang membakar tegakan pohon pada malam hari. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Pakar ekologi ITB Elham Sumarga menyebut gambut yang kehilangan air berubah menjadi akumulasi bahan bakar sehingga kebakaran hutan dan lahan terus berulang.

Penjelasan itu ia sampaikan melalui laman resmi ITB, Selasa (08/09/2026).

Elham Sumarga mengajar di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB.

Gambut terbentuk dari tumpukan bahan organik selama ribuan tahun.

“Jika wilayah gambut masih berada dalam kondisi alaminya dan selalu tergenang air, hal itu tidak akan menjadi masalah,” katanya.

“Namun, ketika airnya dikeluarkan, bahan organik yang mengering tersebut berubah menjadi akumulasi bahan bakar di hamparan yang sangat luas,” lanjutnya.

Api pada lahan gambut dapat merambat di bawah permukaan tanah.

Baca juga sebaran titik panas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan

Kebakaran terutama terjadi di Sumatera dan Kalimantan.

Partikulat PM2,5 dalam asap kebakaran meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

“Orangutan di Kalimantan banyak yang terdesak dan terjebak akibat kebakaran,” katanya.

“Bahkan, terdapat satwa liar yang tidak mampu menyelamatkan diri dari kebakaran yang hebat,” ujarnya.

Baca juga penjelasan pakar ITB atas fenomena alam lain yang ramai dibicarakan

“Di sinilah fungsi utama pemodelan. Kita dapat menginvestigasi berbagai skenario untuk mengambil keputusan yang bersifat antisipatif dan preventif agar kebakaran yang lebih hebat pada masa depan dapat dicegah,” ujarnya.

Ia menyebut jelutung, sagu, dan purun sebagai komoditas paludikultur yang sesuai untuk lahan basah.

“Pengelolaan gambut harus mempertimbangkan kondisi ekologisnya,” katanya.

“Aktivitas ekonomi tetap dapat berjalan melalui pilihan-pilihan komoditas yang sesuai dengan karakteristik lahan basah,” lanjutnya.

Baca juga penyiapan warga menghadapi bencana di tingkat desa

“Semua pihak harus bergerak bersama secara sinergis,” katanya.

“Kebakaran hutan adalah masalah yang tidak bisa dilokalisasi, sehingga penanganannya membutuhkan kesadaran bersama, perbaikan regulasi, serta ketegasan penegakan hukum demi menjaga keberlanjutan ekosistem,” ujarnya.

Bagikan

Baca Juga

Dosen Teknik Sumber Daya Air ITB Joko Nugroho saat menyampaikan penjelasan lewat wawancara daring
Pakar ITB: Abu Krakatau Bisa Picu Erosi dan Banjir Lahar
Gunung Anak Krakatau terlihat dari laut dengan asap putih di puncaknya
Dentuman Bandung, Pakar ITB Jelaskan Perambatan Suara Malam
Foto udara hamparan perkebunan kelapa sawit sebagai ilustrasi area konsesi
Karhutla Kalimantan, 74 Persen Titik Panas di Area Konsesi
Permukiman kota diselimuti kabut dan asap
13.449 Kasus ISPA, Dokter UGM Jelaskan Cara Melindungi Diri
Seekor orangutan terbaring menjalani penanganan medis dengan bantuan selang oksigen
Guru Besar UGM: Karhutla Ancam Kesehatan dan Habitat Orangutan
Sejumlah pria berdiri mengelilingi tiga tabung filtrasi putih di halaman berlatar spanduk kegiatan.
ITB Pasang Filtrasi Pasir Lambat untuk Air Gambut Dumai