Cekricek.id — Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Raden Wisnu Nurcahyo, menyatakan kebakaran hutan dan lahan mengancam kelangsungan hidup orangutan karena merusak sumber pakan sekaligus tempat bersarang satwa tersebut.
Dalam keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Jumat (04/09/2026), Wisnu menjelaskan kebakaran menghancurkan pohon dan tanaman yang menjadi penopang hidup orangutan di Kalimantan.
“Karena kebakaran itu kan mengacaukan pohon, tanaman, sementara tanaman itu sumber pakan, dan pohon-pohon itu tempat bersarangnya mereka (orangutan),” katanya.
Baca juga Untan Latih Relawan Tangani Sesak Napas Korban Kabut Asap
Peringatan itu menyusul kematian seekor orangutan jantan bernama Sampurna. Satwa tersebut ditemukan lemas dan mengalami gangguan pernapasan di kawasan perkebunan kelapa sawit di Ketapang, Kalimantan Barat. Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat sempat mengevakuasi dan menolongnya, tetapi Sampurna mati pada pukul 15.20 WIB di hari yang sama.
Wisnu menyebut kebakaran memaksa orangutan turun ke tanah dan mendekati permukiman warga. “Karhutla ini memaksa orangutan turun ke tanah karena tempat mereka bergelantungan (pohon-pohon) habis terbakar. Kadang-kadang karena sumber pakan tidak ada, ya dia mencari makanan di dekat pemukiman atau kebun warga,” ujarnya.
Baca juga ITB Pasang Filtrasi Pasir Lambat untuk Air Gambut Dumai
Asap kebakaran hutan dan lahan gambut, kata dia, mengandung karbon monoksida dan senyawa beracun yang merusak saluran pernapasan hingga berpotensi menimbulkan bronkitis, hipoksia, dan kematian. “Kalau kita menghirup udara yang kualitasnya buruk, ya ini bisa berdampak pada gangguan pernapasan,” katanya.
Ia menilai jumlah orangutan yang tercatat menjadi korban kebakaran lebih kecil daripada kenyataannya. “Pencatatan korban orangutan karena kebakaran ini kan hanya mencakup individu yang kebetulan ditemukan atau berhasil dievakuasi, bisa jadi jumlahnya mungkin lebih banyak lagi,” ujarnya.
Baca juga Itera Kaji Ketangguhan Pelabuhan Panjang Hadapi Tsunami
Wisnu meminta penanganan bergeser dari penyelamatan setelah api meluas ke perlindungan habitat. “Jadi yang pertama, kita harus melindungi habitatnya orangutan, habitatnya satwa liar,” katanya.
Langkah yang ia sebut mencakup penghentian pembukaan lahan dengan api, penghentian alih fungsi hutan alam, pembentukan zona penyangga bebas api, pembuatan koridor satwa, pemulihan tata air lahan gambut, dan rehabilitasi vegetasi di kawasan yang rusak.
“Kebakaran hutan itu harus dipandang sebagai krisis kesehatan satwa orangutan sekaligus yang kehilangan habitat,” ujarnya. Universitas Gadjah Mada tidak menyebutkan jumlah orangutan yang mati akibat karhutla sepanjang tahun ini.













