Cekricek.id — Dosen Teknik Sumber Daya Air ITB Joko Nugroho menyebut abu erupsi Anak Krakatau dapat menghambat air meresap ke tanah dan memperbesar aliran permukaan.
Penjelasan itu ia sampaikan melalui laman resmi ITB, Selasa (08/09/2026).
Joko Nugroho mengajar di Kelompok Keahlian Teknik Sumber Daya Air, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB.
“Pengaruhnya terhadap lingkungan akan beragam. Dari bidang sumber daya air, yang diselidiki adalah material abu yang ukurannya relatif kecil dan bisa tersebar hingga jauh, tergantung ukurannya,” katanya.
Menurut dia, material abu menutup ruang antarpartikel tanah.
“Abu yang menutupi permukaan bisa membuat air lebih sulit masuk ke tanah, sehingga alirannya di permukaan menjadi lebih besar,” ujarnya.
Aliran permukaan meningkat pada wilayah dengan curah hujan tinggi dan topografi curam.
Baca juga penjelasan pakar ITB atas dentuman yang terdengar di Bandung
Konsentrasi sedimen menjadi pembeda antara banjir biasa dan aliran debris.
“Ketika surut, banjir lahar atau aliran debris akan menyisakan material kasar dan sulit untuk dibersihkan seperti semula,” katanya.
Material yang lebih halus dapat terbawa hingga wilayah pesisir.
“Kalau material terbawa sampai ke hilir, biasanya material yang lebih halus akan lebih mudah terbawa,” lanjutnya.
Baca juga porsi bencana hidrologi dalam catatan bencana nasional
Ia menyebut material vulkanik juga membawa keuntungan bagi lahan.
“Keuntungannya, material vulkanik ini relatif subur karena mengandung material anorganik atau mineral yang dibutuhkan tanaman,” ujarnya.
Abu vulkanik memengaruhi kekeruhan air dan dapat mengubah tingkat keasaman atau pH air.
“Yang perlu diperhatikan, kita harus hati-hati dalam memanfaatkan air permukaan karena ada potensi paparan abu vulkanik,” katanya.
Baca juga pembentukan kelompok siaga bencana di tingkat desa
“Yang bisa dilakukan adalah mengidentifikasi pada curah hujan dengan intensitas berapa yang memungkinkan terjadinya erosi atau banjir lahar,” ujarnya.
Joko Nugroho juga meminta masyarakat berhati-hati terhadap informasi yang beredar saat erupsi.
“Upayakan hanya dari sumber resmi. Kita perlu meningkatkan literasi terhadap bencana sehingga kita bisa menyaring informasi yang kita terima,” ucapnya.














