Cekricek.id — Bencana hidrologi mencakup lebih dari 90 persen total bencana di Indonesia, sementara kemampuan nasional menampung air dinilai masih jauh dari ideal.
Pernyataan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo itu dimuat dalam keterangan resmi Universitas Gadjah Mada, Senin (07/09/2026).
Sambutan Dody dibacakan Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw.
Forum itu adalah Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-43 sekaligus Kongres ke-15 Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia atau HATHI.
Acara berlangsung Sabtu, 5 September 2026, di Gedung B Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik UGM.
Bencana hidrologi adalah bencana yang bersumber dari perilaku air, mencakup banjir, tanah longsor, dan kekeringan.
“Tantangan itu nyata, lebih dari 90 persen bencana di Indonesia adalah bencana hidrologi. Banjir, longsor, dan kekeringan. Sementara kemampuan kita menampung air masih jauh dari ideal,” kata Dody Hanggodo.
Baca juga pembentukan kelompok siaga bencana banjir di tingkat desa
Ia menempatkan pengelolaan air sebagai fondasi ketahanan pangan, energi, dan lingkungan, serta pembangunan infrastrukturnya sebagai investasi jangka panjang.
Menurut dia, capaian swasembada pangan pada 2025 perlu didukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
Kementerian Pekerjaan Umum menerjemahkan perannya lewat target investasi yang efisien, pengentasan kemiskinan ekstrem, dan pertumbuhan ekonomi.
“Tidak cukup hanya membangun infrastruktur, kita juga harus mengelola sumber daya air dengan lebih cerdas melalui teknologi, inovasi, tata kelola yang baik dan kolaborasi yang kuat,” jelasnya.
Dari Rekayasa Hidraulik Menuju Perawatan Air
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan ESDM DIY, Aris Prasena.
Ia menyebut kemajuan teknologi seperti internet of things, pengolahan data berskala besar, dan kecerdasan buatan memberi kemampuan baru bagi pengambilan keputusan yang lebih presisi.
“Ada saatnya teknologi harus bekerja dengan memahami logika alam, bukan menggantikannya,” tuturnya.
Ia mengajak ahli teknik hidraulik memperluas perspektif, dari merekayasa dan mengendalikan air menuju merawat serta menjaga keberlanjutannya.
“Saya berharap forum ilmiah ini membawa kita melangkah dari hydraulic engineering menuju water stewardship,” terangnya.
Baca juga kajian ketangguhan pelabuhan menghadapi ancaman tsunami
Menurut dia, air bukan semata sumber daya yang dikelola hari ini, melainkan titipan kehidupan bagi generasi yang belum lahir.
HATHI Dorong Tata Kelola Air yang Berkeadilan
Ketua Umum HATHI, Bob Arthur Lombogia, menyebut pertemuan itu sebagai wujud tanggung jawab moral dan intelektual komunitas teknik hidraulik.
Ia menilai pemanfaatan internet of things, big data, dan kecerdasan buatan perlu berjalan beriringan dengan pendekatan solusi berbasis alam.
Menurut dia, pengelolaan air juga perlu memperhatikan dimensi sosial dan tata kelola, termasuk keadilan distribusi air serta hak masyarakat atas air.
“Diperlukan penguasaan tata kelola sumber daya air berbasis kolaborasi multipihak dan diplomasi air yang berkeadilan,” ujarnya.
Baca juga pemasangan filtrasi pasir lambat untuk air gambut warga
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, Arief Setiawan Budi Nugroho, menyebut kampusnya berkomitmen pada pendekatan transdisiplin.
“Kami berharap forum ini dapat melahirkan rekomendasi yang implementatif dalam mendorong penerapan teknologi inovatif, tata kelola sumber daya air yang inklusif serta solusi berbasis alam,” katanya.
Forum tersebut mengusung tema Pengelolaan Cerdas Interkoneksi Air, Pangan, Energi, dan Lingkungan Menuju Kemandirian dan Kesejahteraan Nasional.
Pertemuan itu mempertemukan akademisi, praktisi, pemerintah, organisasi profesi, dunia usaha, serta pemangku kepentingan bidang sumber daya air.














