Cekricek.id — Kementerian Kesehatan mencatat 13.449 kasus infeksi saluran pernapasan akut sepanjang Juli hingga Agustus 2026 di wilayah yang terdampak kemarau dan kebakaran hutan dan lahan.
Data itu tercantum dalam keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Kamis (03/09/2026). Paparan kabut asap dan partikel debu yang mudah beterbangan ketika tanah dan rumput mengering disebut menjadi pemicu gangguan pernapasan.
Dokter spesialis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Ika Trisnawati, menjelaskan kaitan musim kemarau dengan lonjakan kasus. “Adanya peningkatan ISPA di periode musim kemarau itu karena pada saat kemarau tentu saja akan banyak partikel debu,” katanya.
Baca juga Untan Latih Relawan Tangani Sesak Napas Korban Kabut Asap
Ika menyebut peradangan dan penyumbatan dahak terjadi ketika saluran napas terkena infeksi virus seperti influenza atau kemasukan partikel debu.
Kepadatan permukiman memperbesar risiko penularan. “Kalau di pemukiman padat area sirkulasi udaranya itu akan menjadi lebih mudah untuk saling menularkan,” ujarnya.
Baca juga Guru Besar UGM: Karhutla Ancam Kesehatan dan Habitat Orangutan
Untuk pencegahan, Ika menyarankan istirahat yang cukup serta berolahraga di lingkungan yang tidak banyak terpapar debu dan asap.
Keterangan Universitas Gadjah Mada menyebut kasus ringan umumnya pulih dalam tiga sampai lima hari.
Baca juga FK Universitas Brawijaya Lantik 18 Dokter Spesialis Baru
Universitas Gadjah Mada tidak merinci sebaran 13.449 kasus itu per provinsi, kelompok usia yang paling banyak terdampak, maupun jumlah pasien yang memerlukan perawatan di rumah sakit.














