Dentuman Bandung, Pakar ITB Jelaskan Perambatan Suara Malam

A A

Gunung Anak Krakatau terlihat dari laut dengan asap putih di puncaknya. [Foto: Lord Mountbatten/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

Cekricek.id — Dentuman Bandung yang terdengar pada Sabtu dini hari dijelaskan pakar akustik ITB lewat mekanisme perambatan suara, bukan sekadar jarak ke sumbernya.

Penjelasan itu dimuat dalam keterangan resmi Institut Teknologi Bandung, Minggu (06/09/2026).

Suara dentuman terdengar di Bandung Raya dan sejumlah wilayah Jawa Barat mulai Sabtu, 5 September 2026, dini hari.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau sejak Jumat pukul 23.07 WIB telah berakhir pada Minggu.

Meski demikian, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga dan pemantauan terus dilakukan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebelumnya melaporkan suara gemuruh atau getaran turut dirasakan di sejumlah wilayah pesisir Lampung, Banten, hingga Bandung.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada Minggu mengaitkan fenomena suara di Bandung Raya itu dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kesimpulan itu diambil setelah analisis lanjutan terhadap data magnet bumi, petir, dan dinamika atmosfer.

Baca juga porsi bencana hidrologi dalam total bencana di Indonesia

Dosen Kelompok Keahlian Rekayasa Kinerja Lingkungan Binaan Fakultas Teknologi Industri ITB, Sugeng Joko Sarwono, menjelaskan suara di ruang terbuka tidak merambat secara sederhana.

“Suara yang berasal dari satu sumber belum tentu diterima dengan tingkat kekerasan yang sama di setiap tempat,” ujarnya.

“Dalam perambatannya, suara dipengaruhi jarak, kondisi atmosfer, angin dan temperatur, kontur permukaan, hingga keberadaan bangunan atau penghalang di antara sumber dan penerima,” lanjutnya.

Jarak Bukan Satu-satunya Penentu Keras Lemahnya Suara

Pada sumber titik dalam kondisi ideal, tingkat tekanan suara berkurang sekitar 6 desibel setiap kali jarak dari sumber menjadi dua kali lipat.

Namun kondisi lingkungan nyata jauh lebih kompleks karena atmosfer, permukaan bumi, bangunan, dan bentang wilayah dapat mengubah pola perambatan suara.

“Jarak memang menjadi salah satu faktor utama, tetapi bukan satu-satunya,” katanya.

“Ada kondisi lingkungan yang ikut menentukan bagaimana energi suara sampai ke suatu tempat,” lanjutnya.

Menurut dia, ketinggian suatu wilayah juga tidak dapat dilihat sebagai faktor tunggal dalam menentukan seberapa keras suara diterima.

Baca juga kajian ketangguhan pelabuhan menghadapi ancaman tsunami

“Yang perlu diperhatikan justru keseluruhan geometri antara sumber dan penerima, kontur wilayah yang dilewati suara, serta kondisi atmosfer pada saat kejadian,” paparnya.

Malam Hari Membuat Suara Merambat Lebih Jauh

Laporan masyarakat di Bandung Raya tercatat pada rentang Sabtu dini hari, sekitar pukul 00.30 hingga 05.00 WIB.

Pada malam hari permukaan tanah mengalami pendinginan, dan perubahan temperatur antarlapisan udara dapat membelokkan gelombang suara kembali menuju permukaan.

“Pada malam hari dapat muncul kondisi atmosfer yang membuat suara lebih banyak dibelokkan kembali ke dekat permukaan tanah,” tuturnya.

Sugeng menegaskan kondisi malam hari bukan penyebab munculnya suara, melainkan berkaitan dengan cara suara merambat dan diterima di lokasi lain.

Ia juga menjelaskan bangunan, bukit, maupun vegetasi tidak selalu membuat suara hilang sepenuhnya karena gelombang dapat memantul dan berdifraksi.

Gelombang berfrekuensi rendah memiliki panjang gelombang lebih besar sehingga dapat berdifraksi lebih jauh ke daerah di balik penghalang.

Baca juga teknologi filtrasi sederhana untuk air bersih warga

“Kalau seseorang merasa suaranya sangat keras atau merasa datang dari arah tertentu, informasi itu tetap berguna. Tetapi untuk menentukan sumbernya, tidak cukup hanya berdasarkan persepsi pendengaran,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat mencatat waktu kejadian, lokasi, arah datang suara, serta kondisi sekitar apabila fenomena serupa kembali terjadi.

“Semakin banyak informasi yang memiliki catatan waktu dan lokasi yang jelas, semakin baik untuk dibandingkan dengan data lain,” pesannya.

Bagikan

Baca Juga

Sejumlah pria berdiri mengelilingi tiga tabung filtrasi putih di halaman berlatar spanduk kegiatan.
ITB Pasang Filtrasi Pasir Lambat untuk Air Gambut Dumai
Tiga mahasiswa berjalan bersama di trotoar kampus
ITB Kumpulkan 70 UKM di Jatifest untuk Sambut Mahasiswa Baru
Ribuan mahasiswa baru ITB menghadiri Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru 2026 di aula kampus
ITB Terima 8.945 Mahasiswa Baru dari 38 Provinsi dan Puluhan Negara
Alat penerjemah bahasa isyarat dua arah buatan mahasiswa ITB
Mahasiswa ITB Rakit SignWave, Penerjemah Isyarat Dua Arah untuk Kelas Reguler
Kawasan perkotaan padat terlihat dari udara
Guru Besar ITB: Rencana Tata Ruang Harus Jadi Dokumen Hidup, Bukan Rencana Kaku
Danau dikelilingi perbukitan hijau
ITB dan Pemkab Solok Teken Kerja Sama, Masterplan Wisata Danau Singkarak Diusulkan