Relief Candi Sukuh dan Jalan Ritual Peziarah

A A

Bangunan induk Candi Sukuh berbentuk piramida terpancung dengan tangga batu di tengahnya. [Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

Daftar Isi
  1. Mencatat Apa yang Terlihat Lebih Dulu
  2. Menimbang Lingga dan Yoni di Ambang Gerbang
  3. Menempatkan Tubuh dalam Peta Kosmos
  4. Menahan Diri dari Perbandingan yang Menggoda

Cekricek.id — Menul Teguh Riyanti datang ke lereng barat Gunung Lawu membawa kamera dan buku sketsa. Yang ia kerjakan di pelataran Candi Sukuh bukan memotret bangunannya dari kejauhan, melainkan mengukur, menggambar ulang, dan memetakan panel demi panel relief pada tempatnya masing-masing. Dokumentasi lapangannya bertanggal 2024, dan sebagian gambar dalam laporannya berasal dari kunjungan tersebut. Yang dicari bukan keindahan pahatannya, melainkan letaknya.

Riyanti mengerjakannya bersama Bambang Tri Wardoyo dan Ekananda Haryadi dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Trisakti, Jakarta. Laporan mereka terbit dengan judul Semiotic Analysis of Sukuh Temple Relief: Fertility Symbols in Hindu-Javanese Cosmology di jurnal Purbawidya, Volume 15 Nomor 1, tahun 2026. Naskahnya diterima pada Desember 2025, direvisi terakhir pada April 2026, dan terbit pertengahan Juni tahun ini.

Candi yang mereka datangi berdiri di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Bentuknya piramida terpancung, bukan menara tinggi seperti Prambanan. Merujuk Widya Arumsari, sengkalan pada beberapa panelnya menunjuk angka 1359 Saka atau 1437 Masehi, masa pemerintahan Ratu Suhita di penghujung Majapahit. Candi itu kerap disebut candi terakhir kerajaan tersebut, penanda senja sebuah peradaban.

Mencatat Apa yang Terlihat Lebih Dulu

Relief batu di Candi Sukuh yang memahat tiga sosok manusia berdiri berjajar.
Relief batu di Candi Sukuh yang memahat tiga sosok manusia berdiri berjajar. [Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Langkah pertama Riyanti dan timnya adalah menahan diri dari menafsir. Mereka mencatat letak, bentuk, bahan, dan posisi setiap objek terpilih di dalam susunan bangunan, lalu merekamnya lewat foto dan sketsa garis beresolusi tinggi. Pada tahap ini reliefnya diperlakukan sebagai benda, bukan sebagai pesan. Riyanti menyebut caranya deskriptif-interpretatif: ikonografi dipakai untuk mengenali unsur rupa dan tema cerita, semiotika baru masuk sesudahnya.

Pilihan itu bukan kebetulan. Kerangka yang dipakai tim ini diambil dari Roland Barthes, yang membedakan tiga lapis makna: denotasi, konotasi, dan mitos. Lapisan pertama hanya menanyakan apa yang benar-benar tampak, dan Riyanti menuliskannya apa adanya, termasuk figur manusia, kura-kura, garuda, kepala kala, serta relief yang menggambarkan organ reproduksi secara terbuka.

Tidak semua panel dipetakan. Alih-alih mendokumentasikan seluruh relief Candi Sukuh, tim memusatkan perhatian pada objek kunci, terutama lingga dan yoni beserta panel yang berkaitan langsung dengan tema kesuburan. Riyanti menyebut cara ini menjaga agar tafsirnya tidak melebar melampaui bahan yang benar-benar diamati, sebuah pembatasan yang jarang dinyatakan terbuka dalam kajian sejenis.

Baca juga Bahasa Gaul Pindah dari Kamus Cetak ke TikTok

Bacaan semacam itu punya riwayat panjang di Sukuh. Achmad Syafi’i pada 2022 memetakan enam relief penting di sana dan menguraikan simbolnya, sementara Karisma Putri Miranti dan Agus Setiawan membacanya lewat pendekatan tubuh, seks, dan feminisme. Riyanti mencatat bahwa sebagian besar kajian terdahulu berhenti pada deskripsi rupa atau penjelasan simbolik sepotong-sepotong, tanpa menempatkan seluruh sistem reliefnya di tengah perubahan sosial dan keagamaan zaman itu.

Ada juga sisi yang membuat candi ini sulit ditertibkan. Gaya pahatannya, tulis Riyanti bersama Bambang Tri Wardoyo dan Ekananda Haryadi, cenderung ekspresif dan “kerakyatan”, jauh dari kehalusan arca-arca zaman klasik. Sejak abad kesembilan belas, catat mereka merujuk Alfisyah Ajrin Saputro, para arkeolog Belanda dan Indonesia lebih banyak menyorot arsitektur, kronologi, dan prasastinya. Isi gambarnya dibiarkan menunggu.

Menimbang Lingga dan Yoni di Ambang Gerbang

Tahap kedua Riyanti adalah menanyakan letak. Lingga dan yoni di Sukuh tidak berdiri di sembarang sudut; keduanya ditempatkan pada ambang dan titik peralihan, yaitu pintu masuk dan pergantian teras. Setiap kali peziarah melangkah melewatinya, langkah itu menjadi upacara peralihan kecil menuju ruang yang dianggap suci. Letak, bagi tim ini, adalah data, bukan latar.

Pada lapis denotasi, keduanya adalah gambaran organ reproduksi laki-laki dan perempuan. Pada lapis konotasi, menurut Riyanti dan timnya, keduanya menyatakan persatuan asas kelelakian dan keperempuanan yang dalam istilah Hindu-Jawa disebut Purusa dan Prakrti. Ada pula pasangan lain yang mereka sebut: keseimbangan bhuana alit, dunia kecil di dalam tubuh manusia, dengan bhuana ageng, dunia besar di luarnya. Enny Mulyantari dan Yeni Rosilawati membaca keduanya sebagai lambang Siwa dan saktinya, yaitu sumber kehidupan.

Bacaan itu bukan tafsir yang berdiri sendiri. Apollo Daito lebih dulu membaca lingga-yoni Candi Sukuh secara semiotik, sedangkan Heri Purwanto dan Coleta Palupi Titasari menelusuri jejak pendidikan keagamaan di lereng barat Gunung Lawu pada abad keempat belas dan kelima belas. Yang ditambahkan Riyanti adalah lapis ketiga Barthes, yakni mitos, lapis yang menurut timnya belum digarap tuntas oleh pembacaan-pembacaan sebelumnya.

Pada lapis itu, lingga dan yoni berhenti menjadi lambang dan menjadi cerita. Ia menaturalkan gagasan tentang kelahiran kembali kosmos, menempatkan tubuh manusia sebagai miniatur alam semesta, dan memberi dasar bagi ritual kesuburan sebagai bagian dari tatanan yang sakral. Riyanti mencatat bahwa pembacaan seperti itu justru menjauhkan lingga-yoni dari kedudukannya sebagai ikon seksual belaka dan mendekatkannya pada gagasan tentang penciptaan serta hubungan antarunsur alam.

Baca juga Benteng Keraton Buton dan Dua Belas Pintunya

Ada satu hal yang membuat pembacaan ini berbeda dari daftar simbol biasa. Karena letak benda-benda itu dicatat di lapangan, Riyanti dan timnya bisa menghubungkan makna dengan gerak: peziarah tidak sekadar melihat tanda, ia melewatinya. Urutan teras dan gerbang, dengan demikian, ikut menyusun urutan penyucian yang harus ditempuh. Kajian yang hanya membaca gambar tidak akan menangkap hal tersebut.

Menempatkan Tubuh dalam Peta Kosmos

Tahap ketiga membawa Riyanti ke panel yang tidak berhubungan dengan kesuburan sama sekali. Di dekat adegan pandai besi berdiri figur Ganesha, dewa yang dalam tradisi Hindu dikaitkan dengan pengetahuan, ambang pintu, dan penyingkiran halangan. Syafi’i dan Agus Aris Munandar sudah lebih dulu menandai keberadaan panel tersebut sebagai tanda pengetahuan yang tertutup dan proses perubahan dalam keagamaan Hindu-Jawa akhir.

Pandai besi bekerja dengan api, dan itulah yang menarik perhatian tim. Stela Doncheva membaca relief pandai besi sebagai perkara peleburan logam yang berhubungan dengan gagasan keabadian, sementara Riyanti menempatkannya sebagai kiasan perubahan wujud. Logam yang ditempa dan tubuh yang disucikan, dalam bacaan itu, mengikuti alur yang sama. Api mengubah bahan, upacara mengubah orang, dan keduanya dipahat di dinding yang sama.

Dari sini muncul kata yang sering dilekatkan pada Sukuh, yaitu Tantra. Riyanti dan kedua rekannya membatasi maknanya: sehimpunan laku Siwais yang tertutup, yang menekankan persatuan daya-daya berlawanan dan memakai tubuh sebagai sarana pencapaian rohani. Dalam konteks Jawa akhir Majapahit, tulis mereka, gagasan itu tidak diambil bulat-bulat dari India, melainkan dipilih dan dipadukan dengan kepercayaan setempat. Hasilnya sesuatu yang khas Jawa, termasuk gagasan ruwatan yang menekankan penyucian dan pemulihan keselarasan.

Karena itu tim ini menahan tangannya. “Hubungan panel-panel tersebut dengan tradisi Tantra harus ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis Riyanti, Bambang Tri Wardoyo, dan Ekananda Haryadi, dan peringatan itu mereka letakkan tepat sebelum tafsir mereka sendiri. Kata Tantra tidak dipakai sebagai label yang menjelaskan segalanya, dan bukti ikonografis diminta lebih dulu sebelum kesimpulan ditarik.

Baca juga Beban yang Dititipkan Lagu Anak Lanang

Satu panel lain menunjukkan bahwa candi ini juga merekam urusan duniawi. Riyanti menggambarkan sebuah relief berisi figur besar bermahkota yang berdiri tegak, dengan tiga figur lebih kecil di hadapannya dalam sikap hormat, serta aksara Jawa Kuno di bagian atas. Yang terbaca di sana, menurut tim, adalah tatanan sosial Hindu-Jawa: kuasa, kewenangan, dan kesetiaan yang dinyatakan lewat sikap tubuh, pakaian, dan jarak dari tokoh utama. Bacaan semacam ini sejalan dengan pandangan Clifford Geertz yang dikutip tim, bahwa kebudayaan adalah sistem lambang yang memberi makna pada perbuatan manusia.

Menahan Diri dari Perbandingan yang Menggoda

Tahap terakhir justru berisi daftar hal yang tidak dikerjakan. Perbandingan dengan temuan lingga-yoni dari wilayah lain, misalnya Jawa Barat, sengaja tidak dijadikan analogi utama oleh Riyanti dan timnya. Alasannya jarak waktu dan ruang yang terlalu jauh, yang menurut mereka justru bisa melahirkan tafsir yang tidak konsisten. Sukuh dibaca di tempatnya sendiri, pada zamannya sendiri.

Batas lain diakui pada cakupan. Karena hanya relief terpilih yang dianalisis, Riyanti menyatakan hasilnya tidak boleh dibaca sebagai kesimpulan atas seluruh program visual Candi Sukuh. Beberapa wawancara dengan juru pelihara dan warga yang mengetahui riwayat candi itu disebut dalam bagian metode, tetapi tidak dijadikan tumpuan tafsir, dan nama para penuturnya tidak dicantumkan dalam laporan.

Yang tersisa sesudah semua pembatasan itu adalah pernyataan yang cukup berani. “Relief Candi Sukuh bukan sekadar hiasan, melainkan bekerja sebagai sistem semiotik yang padu, yang menyandikan nilai budaya tentang kesuburan, penyucian, dan tatanan kosmis,” tulis Riyanti bersama Bambang Tri Wardoyo dan Ekananda Haryadi di bagian kesimpulan.

Menariknya, kesimpulan itu berdiri di atas hal yang paling mudah diabaikan pengunjung. Bukan pada apa yang dipahat, melainkan pada di mana pahatan itu diletakkan. Riyanti membaca gerbang dan teras sebagai penunjuk arah, dan arah itulah yang mengubah kunjungan menjadi rangkaian tahapan. Nilainya, tulis timnya, terletak pada ikonografi arkeologis sebagai alat tafsir sekaligus alat pelestarian.

Yang dibawa pulang Riyanti dari lereng Lawu, kalau begitu, bukan jawaban tentang apa yang dipercayai orang Jawa pada abad kelima belas. Yang ia bawa adalah urutan langkah yang dulu ditempuh orang di tempat itu, tergambar dalam sketsa dan foto lapangan, menunggu ditafsirkan orang berikutnya.

Bagikan

Baca Juga

Pengukir Papua Buktikan Seni Bukan Adaptasi Evolusi
Tujuh Motif Tato Istri Sikerei Dicatat dari Desa Madobag
Ornamen Waruga Minahasa Bicara tentang Hidup, Bukan Maut
Gambar Cadas Gua Wakuntai Terpilah ke 12 Tipe di Karst Muna
Semangka yang Menggantikan Bendera Palestina
Prasasti Prasi A dan Umur Desa Dawan di Klungkung