Beban yang Dititipkan Lagu Anak Lanang

A A

Ilustrasi seorang pengendara sepeda motor menembus hujan deras di jalan kampung. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Menyalin Lirik dari Kanal YouTube
  2. Memilah Tema di Balik Refrain
  3. Membaca Kata demi Kata
  4. Turun ke Kolom Komentar

Cekricek.id — Anggra Dini memutar satu lagu berbahasa Jawa berulang-ulang, lalu menyalin liriknya baris demi baris ke dalam catatan. Lagu itu berjudul Anak Lanang, dinyanyikan Ndarboy Genk, dan sudah ditonton hampir dua juta kali di kanal YouTube penyanyinya sejak diunggah pada 21 November 2023. Yang dicari Anggra bukan melodinya. Ia mencari susunan kata yang membuat begitu banyak laki-laki merasa lagu itu sedang bercerita tentang dirinya sendiri.

Anggra Dini mengerjakannya bersama Mulyana dan Endang Nurhayati di Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta. Hasilnya terbit dengan judul Maskulinitas dan Perjuangan Hidup Laki-laki: Analisis Kritis van Dijk pada Lagu “Anak Lanang” Ndarboy Genk di jurnal Arnawa Volume 3 Nomor 1 tahun 2025. Kerangka yang mereka pakai milik Teun A. van Dijk, ahli wacana kritis yang membedah teks pada tiga tingkat sekaligus: tema besarnya, susunan bagian-bagiannya, dan pilihan katanya yang paling kecil.

Lagu itu ditulis Helarius Daru Indrajaya bersama Hendra Kumbara. Daru, yang memakai nama panggung Ndarboy Genk, berasal dari Bantul dan mulai dikenal pada 2019 lewat singel Tibo Mburi dan Balungan Kere. Ia bekerja di ceruk yang ramai. Pop Jawa sudah membesarkan nama Mus Mulyadi dan Titiek Sandhora sejak 1980-an, lalu Didi Kempot yang oleh Hidayah dan Retpitasari disebut pelopor perubahan selera musik, dan hari ini diisi Denny Caknan sampai Guyon Waton. Sebagian besar lagu di ceruk itu bercerita tentang patah hati, dan Denny Caknan sendiri paling dikenal lewat lagu-lagu percintaan seperti Sigar dan Cundamani.

Kajian semacam ini juga bukan yang pertama. Anggra mencatat Zulhaini dan rekan-rekannya pernah membedah lagu Ayah Ibu milik Karnamereka dan menemukan sosok anak yang ingin menghormati orang tuanya, sementara peneliti lain memakai kerangka van Dijk untuk membaca kritik politik dalam lagu Preambule milik The Brandals. Yang belum banyak dikerjakan, tulis Anggra, Mulyana, dan Endang Nurhayati, adalah membaca dinamika sosial yang khas orang Jawa lewat lagu yang memang berbahasa Jawa.

Menyalin Lirik dari Kanal YouTube

Ilustrasi seseorang bertelinga penyuara kuping menyalin catatan ke dalam buku tulis.
Ilustrasi seseorang bertelinga penyuara kuping menyalin catatan ke dalam buku tulis. [Foto: Pexels]

Anggra dan dua rekannya memilih teknik yang paling tua dalam kajian bahasa: simak dan catat. Mereka mendengarkan, menuliskan transkripnya, lalu menerjemahkan tiap larik ke bahasa Indonesia. Larik pembuka lagu itu berbunyi, “Biyen omahku gedhek,” dahulu rumahku anyaman bambu. Disusul, “Trocoh yen udan bledhek,” bocor ketika hujan badai. Lalu, “Bapak kerja yen mung ana proyek.” Tiga larik, dan keadaan ekonomi satu keluarga sudah berdiri utuh di depan pendengar.

Baca juga Ujaran Kebencian @jokowi di Mata Linguistik Forensik

Bait kedua menambah keterangan yang sama getirnya. Anggra mencatat frasa durung kramikan, belum berkeramik, lalu adem kanginan, dingin terkena angin menjelang tidur, dan penting saben dina isa mangan, yang penting setiap hari bisa makan. Pada bagian penutup lagu, sebabnya baru disebut terang-terangan: “Biyen pedhot sekolah, merga kahanane susah.” Tokoh dalam lagu itu berhenti sekolah karena keadaan, bukan karena ia memilih berhenti.

Perpindahan waktunya terjadi di bagian bridge, dan Anggra menandainya lewat satu klausa: saiki aku wis gedhe, sekarang aku sudah besar. Sesudah itu berturut-turut muncul isa golek dhuwit dhewe, bisa mencari uang sendiri, lalu senajan uripku rekasa, meskipun hidupku berat, dan ikhlas bekti kanggo keluarga, ikhlas berbakti untuk keluarga. Anak yang dulu hanya bisa menyusahkan, dalam bacaan Anggra, Mulyana, dan Endang Nurhayati, kini menempatkan dirinya sebagai orang yang menanggung — dan ia menyebut sendiri bahwa dulu ia beban bagi orang tuanya.

Memilah Tema di Balik Refrain

Dari transkrip itulah Anggra menarik apa yang oleh van Dijk disebut struktur makro, yakni tema besar yang menaungi seluruh teks. Tema itu maskulinitas. Buktinya paling padat di refrain: “Aku iki anak lanang, kerjaku mung turut dalan.” Aku ini anak laki-laki, kerjaku hanya menyusuri jalan. Anggra membacanya sebagai gambaran kerja lapangan, pekerjaan yang menuntut orang tetap berangkat entah panas entah hujan, tanpa banyak pilihan lain.

Larik berikutnya memindahkan beban itu ke pundak yang sama. “Muga isa mulyakke drajate keluarga,” semoga bisa mengangkat derajat keluarga. Bagi Anggra, Mulyana, dan Endang Nurhayati, di sanalah maskulinitas dalam lagu ini bekerja: bukan sebagai kegagahan, melainkan sebagai tuntutan. Judulnya sendiri sudah mengerjakan hal itu. Frasa anak lanang secara harfiah berarti anak laki-laki, tetapi di dalam lagu maknanya melebar menjadi peran, tanggung jawab, dan beban yang dilekatkan masyarakat pada satu jenis kelamin. Maskulinitas, dalam kerangka yang mereka pakai, adalah bentukan sosial, bukan bawaan tubuh.

Baca juga Pengalaman Belanja Menentukan Loyalitas di Silungkang

Ada satu larik yang menahan susunan itu agar tidak berubah menjadi kebanggaan. “Cen kathah luputku, kula nyuwun pangestu,” memang banyak salahku, aku memohon restu. Menurut Anggra dan dua rekannya, di larik itulah pencipta lagu menyelipkan syarat lain: menjadi laki-laki juga berarti bersedia mengakui kesalahan. Pilihan katanya sederhana, bahasa Jawa ngoko sehari-hari, tanpa kiasan, dan justru itu yang membuatnya cepat sampai. Anggra juga menghitung susunan bagiannya. Verse dinyanyikan tiga kali, bridge dan refrain diulang, lalu chorus dan coda mengucapkan hampir kalimat yang sama sekali lagi. Pengulangan seperti itu, dalam kerangka van Dijk, bukan hiasan melainkan penegasan. Kalimat yang paling sering kembali dalam lagu ini bukan kalimat tentang kemenangan atau kekuatan. Yang kembali berkali-kali adalah permintaan maaf dan permohonan restu.

Membaca Kata demi Kata

Pada tingkat paling kecil, Anggra menghitung hal-hal yang biasanya luput. Hampir seluruh klausa dalam lagu dibuka keterangan waktu: biyen, dahulu, atau saiki, sekarang. Biyen omahku gedhek. Biyen durung kramikan. Saiki aku wis gedhe. Saiki aku wis kerja. Susunan itu, tulis Anggra, Mulyana, dan Endang Nurhayati, menekan satu hubungan yang tidak pernah disebut langsung dalam lagu, yaitu jarak antara masa lalu dan masa kini.

Hubungan sebab akibatnya pun tidak pernah memakai kata penghubung. Anggra menunjuk pasangan biyen omahku gedhek dan trocoh yen udan bledhek: karena rumahnya anyaman bambu, maka bocor saat hujan badai. Pola yang sama berulang pada pasangan berikutnya. Pendengar menyambungkannya sendiri. Kata gantinya juga tunggal dan orang pertama — aku, omahku, dhewe — dan Anggra mencatat dhewe, yang berarti sendiri, dipakai untuk menegaskan kemandirian tokohnya. Ada pula satu pengulangan bunyi yang dalam tata bahasa Jawa disebut tembung dwilingga salin swara, yaitu klenta-klentu, banyak salahnya, dari kata dasar klentu. Mulyana dan Endang Nurhayati menempatkan pilihan sekecil itu sebagai bagian dari cara lagu membentuk maknanya, sejalan dengan Pradopo yang mereka kutip tentang gaya bahasa sebagai cara pemakaian bahasa yang menghasilkan dampak tertentu.

Turun ke Kolom Komentar

Tahap terakhir membawa Anggra keluar dari teks lagu. Untuk mengetahui apa yang van Dijk sebut kognisi sosial, ia membaca keterangan yang ditulis Ndarboy sendiri di kolom deskripsi unggahan lagu itu. Di sana Daru menyebut lagunya sebagai pengingat bagi dirinya sendiri: ia kini seorang ayah, tetapi sampai kapan pun tetap anak laki-laki dari ayah dan ibunya, dan gilirannya membangun keluarga serta mendidik anak sudah datang. Keterangan sependek itu yang dipakai Anggra untuk menakar niat penulisnya.

Baca juga Menonton Dara Petak Dara Jingga di Candi Pulau Sawah

Anggra kemudian menyisir kolom komentar unggahan yang sama. Yang ia temukan berulang: pendengar, sebagian besar laki-laki yang merasa sudah dewasa, mengaku diingatkan untuk kuat dan bertanggung jawab, dan menemukan kesamaan antara isi lagu dan cerita hidup mereka. Karena merasa dekat itulah, tulis Anggra dan dua rekannya, pesan lagu lebih mudah mereka terima. Konteks sosialnya sendiri sudah terbentuk jauh sebelum Daru menulis lirik ini, sebab dalam struktur masyarakat Jawa laki-laki lazim dipandang sebagai tulang punggung keluarga, orang yang harus sanggup bekerja dalam keadaan apa pun. Daru tidak menciptakan tuntutan itu; ia menuliskannya.

Di titik ini Anggra, Mulyana, dan Endang Nurhayati menuliskan bagian yang paling tidak nyaman dari temuan mereka. Lagu Anak Lanang memang mencerminkan masyarakat yang menempatkan laki-laki sebagai penopang keluarga, dan pada saat yang sama menyisihkan perempuan ke pinggir cerita. Sepanjang lagu, ibu hanya muncul dua kali: sebagai pihak yang dimintai maaf, dan sebagai pihak yang telah bersusah payah merawat sampai besar. Tidak ada satu larik pun yang memberinya pekerjaan, keinginan, atau suara sendiri.

Yang tidak mereka klaim juga jelas. Anggra dan dua rekannya menutup laporan dengan menyarankan penelitian lanjutan menjangkau lirik lagu Jawa yang lain, karena dimensi sosial, budaya, dan politik yang lebih luas baru bisa terlihat kalau bahan yang dibaca bertambah. Satu lagu, ditambah satu kolom komentar, adalah potret satu titik. Bukan potret masyarakat Jawa.

Anggra Dini menutup pekerjaannya dengan transkrip yang sama seperti saat ia memulai. Dua puluh tujuh larik pendek, bahasa Jawa sehari-hari, tanpa satu pun kiasan. Larik terakhir yang ia catat adalah pesan seorang bapak kepada anaknya yang berhenti sekolah, “Weling bapak dadi wong sing genah.” Jadilah orang yang benar. Tidak ada kata sukses di sana.

Bagikan

Baca Juga

Kiasan yang Membuat AI Tampak Berpikir Sendiri
Sembilan Tuturan Humor Rina Nose Dihitung Peneliti
Dua Gaya Bahasa Islam di Beranda Facebook
Dear Me Beauty, Model Pria, dan Pasar yang Dibidik
Harga Implan Gigi Dipangkas, Pesanan Sichuan Naik Lalu Melambat
Harga Minyak Lebih Peka saat Bunga The Fed Turun di Luar Dugaan