Sembilan Tuturan Humor Rina Nose Dihitung Peneliti

A A

Ilustrasi seorang pelawak tunggal berbicara ke mikrofon di panggung berlatar lampu neon. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. 2020: Panggung yang Dinilai Terbaik
  2. 2023: Kretek Berpindah ke Panggung
  3. Malam Perayaan: Sembilan Tuturan Dicatat
  4. Februari 2025: Naskah Masuk Meja Redaksi
  5. Agustus 2025: Angka yang Ditinggalkan

Cekricek.id — Pada 19 Agustus 2025, sebuah jurnal menerbitkan hitungan atas sembilan potong tuturan pelawak. Tuturan itu diucapkan Rina Nose di panggung perayaan Mata Najwa. Yang dihitung bukan lucu atau tidaknya, melainkan cara kalimat-kalimatnya saling menyambung. Hasilnya satu angka. Lima dari sembilan tuturan tersebut bekerja dengan cara yang sama, yaitu membandingkan dua hal.

Artikelnya berjudul Analisis Koherensi dalam Wacana Humor Talkshow 13 Tahun Mata Najwa Episode Gadis Kritik. Penulisnya Ida Bagus Gede Dharma Putra dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan I Putu Ari Putra Maulana dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Artikel itu dimuat jurnal Metahumaniora Vol. 15 No. 2, Agustus 2025, halaman 110 sampai 116. Catatan tanggalnya tercetak di halaman muka: naskahnya dikirim pada 26 Februari 2025, diterima pada 14 Agustus 2025, dan terbit lima hari sesudah diterima.

Yang dipakai sebagai alat ukur adalah koherensi. Mulyana, pada 2005, menyebut wacana sebagai satuan bahasa paling lengkap karena melampaui kalimat dan klausa serta memiliki kohesi dan koherensi. Koherensi sendiri berarti kepaduan makna antarbagian, dan wujudnya berupa hubungan semantis seperti sebab-akibat atau perbandingan.

2020: Panggung yang Dinilai Terbaik

Ilustrasi studio televisi dengan kamera dan layar hijau.
Ilustrasi studio televisi dengan kamera dan layar hijau. [Foto: Pexels]

Mata Najwa memenangi Anugerah Komisi Penyiaran Indonesia pada 2020 sebagai salah satu program bincang terbaik. Penghargaan itu menjadi titik tolak yang dipakai kedua peneliti untuk menerangkan kedudukan acaranya. Sebuah program bincang yang sudah dinilai lembaga penyiaran punya bobot berbeda ketika ia menyelipkan lawakan. Lawakan di panggung semacam itu tidak berdiri sendiri, melainkan menumpang wibawa acaranya.

Putra, dalam tulisannya pada 2021, menyatakan program tersebut sangat selektif memilih tema hangat yang diangkat. Pendekatannya jurnalistik, bukan hiburan semata. Catatan itu penting karena segmen yang kemudian diteliti berdiri di antara wawancara politik, bukan di panggung lawak tersendiri. Kedua peneliti merujuk sejumlah kajian terdahulu yang menempatkan humor sebagai sarana menyampaikan kritik secara segar dan tidak menggurui. Wijana dan Rohmadi, pada 2013, menyebut wacana humor bekerja sekaligus sebagai hiburan dan rangsangan emosi yang membuat orang tertawa.

2023: Kretek Berpindah ke Panggung

Pada 2023 beredar Gadis Kretek, cerita tentang perempuan di lingkungan peracikan kretek. Kedua peneliti mencatat karya itu meraih 1,1 juta penonton dalam tujuh bulan. Ashari dan Maria mencatat serialnya masuk sepuluh besar serial global sebuah layanan tontonan pada tahun yang sama. Kedua angka itu dikutip kembali oleh peneliti sebagai alasan mengapa cerita tersebut layak dipinjam untuk panggung lain.

Baca juga Bak'ba, Pantun Bernyanyi dari Simpang Parit

Tokoh utamanya, Jeng Yah, menghadapi dua persoalan sekaligus. Yang pertama urusan asmara. Yang kedua stigma bahwa perempuan tidak layak berada di ruang peracikan kretek. Persoalan kedua itulah yang kemudian dipinjam untuk keperluan lain. Najwa Shihab dan timnya memakai keberhasilan cerita itu pada perayaan 13 tahun program mereka, lewat segmen bertajuk “Gadis Kritik” yang diperankan Rina Nose. Segmen tersebut disisipkan di antara perbincangan dengan calon presiden dan calon wakil presiden periode 2024 sampai 2029.

Nama tokohnya tetap dipertahankan dari cerita aslinya. Rina Nose tampil sebagai Dasiyah, nama lain Jeng Yah, lengkap dengan latar peracikan kretek. Yang berubah hanya isi ucapannya, dari urusan cinta dan tembakau menjadi sindiran atas hukum, korupsi, dan kedudukan perempuan di ruang publik.

Malam Perayaan: Sembilan Tuturan Dicatat

Dari malam itu, kedua peneliti mencatat sembilan potong tuturan. Lima di antaranya masuk kategori hubungan perbandingan. Empat sisanya masing-masing satu: hubungan syarat-hasil, sebab-akibat, latar-kesimpulan, dan kelonggaran-hasil. Perbandingan menempati 55,56 persen dari seluruh data, sedangkan empat jenis lain masing-masing 11,11 persen. Sebarannya digambarkan dalam satu bagan yang dimuat di halaman hasil.

Tuturan pertama dicatat apa adanya. Rina Nose berkata, “Ada empat hal yang selalu terpatri dalam ingatan saya. Satu, dua, tiga, empat. Itulah empat hal yang selalu terpatri dalam ingatan saya. Gak ada isinya kan? Iya sama seperti janji penguasa.” Dua kalimat pertamanya bekerja sebagai pancingan, dan penonton menunggu sesuatu yang penting akan datang.

Peneliti menandai frasa sama seperti sebagai penanda perbandingan. Hitungan kosong itu disandingkan dengan janji penguasa yang juga dinilai kosong. Sesudah lelucon terlepas, penuturnya menambahkan satu kalimat penutup, “Mohon maaf, kalimat saya yang barusan tolong jangan dianggap bercanda.” Kalimat itu dibaca peneliti sebagai penegas bahwa yang barusan disampaikan adalah kritik, bukan sekadar guyonan. Penonton diminta mencerna lebih dulu, baru menertawakan.

Baca juga Tiga Milimeter yang Menentukan Nilai Kerajinan Bambu

Tuturan berikutnya memakai bahan yang berasal dari filmnya. Bunyinya, “Meracik tembakau adalah sebuah seni, dan rasa tembakau juga tidak bisa dimanipulasi seperti hukum di negeri ini.” Peneliti membacanya sebagai perbandingan antara keaslian rasa dan keaslian hukum, dua hal yang sama-sama tidak seharusnya diubah sesuka hati. Meracik tembakau ditempatkan sebagai kerja yang menuntut keterampilan dan kepekaan, setara dengan mengerjakan karya seni. Dari situ penonton diarahkan menimbang jarak antara hukum yang seharusnya dan hukum yang berjalan.

Tuturan keempat menyandingkan dua jenis pencuri. Pencuri kecil, kata penuturnya, langsung dieksekusi di tempat. Pencuri uang rakyat justru diproses lama dan penuh drama. Kalimat penutupnya berbunyi, “Begitu saja terus sampai metalika rilis album religi.” Peneliti menandai kalimat itu sebagai sindiran atas lamanya keadaan tersebut berlangsung.

Kedua peneliti menyandingkan tuturan itu dengan satu angka dari luar panggung. Laporan Transparency International pada 2021 menempatkan Indonesia di peringkat 96 dari 180 negara dalam indeks persepsi korupsi. Angka tersebut dipakai untuk menunjukkan bahwa bahan lawakannya bukan urusan yang mengada-ada. Mereka juga mengutip Isnantiana, yang pada 2019 menulis bahwa negara tanpa hukum yang ditegakkan adil kehilangan kontrol sosialnya.

Tuturan kelima menutup kelompok perbandingan. Penuturnya menyatakan dirinya dan perempuan lain akan tetap memiliki mimpi dan mewujudkannya, seperti Najwa Shihab yang dinilainya sosok perempuan kuat. Peneliti mencatat pengulangan frasa sosok wanita kuat di dalam satu kalimat sebagai penegasan. Pengulangan itu, menurut keduanya, memperjelas perbandingan sekaligus menambah kedalaman maknanya. Tuturan tersebut sekaligus mengembalikan lawakan itu kepada tuan rumah panggungnya.

Februari 2025: Naskah Masuk Meja Redaksi

Naskah yang dikirim pada Februari 2025 memuat empat jenis hubungan lain. Metodenya disebut simak dan catat, mengikuti Sudaryanto, dengan kerangka analisis wacana Halliday dan Hasan. Analisisnya memakai metode agih dengan teknik lesap dan substitusi, lalu disajikan dengan kata-kata biasa tanpa uji statistik. Empat hubungan sisanya masing-masing hanya muncul sekali, dan justru di situ isi kritiknya paling telanjang.

Hubungan syarat-hasil muncul pada satu tuturan tentang penampilan. Penuturnya menyebut penonton terkejut melihat sosok Dasiyah karena wajahnya tidak memenuhi rasio emas. Peneliti menerangkan bahwa syarat yang tidak terpenuhi melahirkan hasil berupa keterkejutan, dan syarat itu sendiri datang dari ukuran kecantikan yang dianut orang banyak. Rasio emas, merujuk Kurniawan dan rekan pada 2015, memang lazim dipakai sebagai acuan keselarasan dalam seni dan desain, termasuk untuk menakar wajah.

Baca juga Sebotol Cutex 1924 Setara 83 Hari Kerja Buruh

Hubungan sebab-akibat muncul pada tuturan tentang cita-cita. Penuturnya ingin menciptakan kritik terbaik seperti Najwa Shihab karena keduanya sama-sama perempuan. Kalimat berikutnya menyatakan perempuan masih sering dipandang sebelah mata, lalu dipatahkan dengan lelucon yang menyebut nama pelawak Jaja Miharja. Peneliti membaca urutannya sebagai satu alur utuh: mimpi, sumber ilhamnya, pengakuan atas hambatan sosial, lalu sentuhan humor yang meredakan ketegangannya.

Hubungan latar-kesimpulan muncul lewat pertanyaan yang tidak menunggu jawaban. Penuturnya bertanya mengapa perempuan seolah tidak boleh berpendidikan lebih tinggi daripada laki-laki. Pertanyaan penutupnya, “Apa karena laki-laki memang lebih butuh dididik?” Hubungan kelonggaran-hasil muncul pada tuturan terakhir. Penuturnya mengaku terganggu oleh anggapan bahwa perempuan tidak pernah mau kalah dalam berdebat. Anggapan itu lalu diuji dengan pertanyaan apakah yang bermasalah perempuannya atau kemampuan berbicara lawan bicaranya. Peneliti mencatat pertanyaan semacam itu membalik anggapan tanpa membantahnya secara langsung.

Agustus 2025: Angka yang Ditinggalkan

Kesimpulan yang terbit pada Agustus 2025 menempatkan perbandingan sebagai strategi utama. Kedua penulisnya mencatat hubungan itu dipakai antara lain “untuk mengklarifikasi atau menjelaskan sesuatu yang kompleks atau abstrak dengan membandingkannya dengan sesuatu yang lebih konkrit atau dikenal”. Alasan lain yang mereka sebut adalah membangun analogi dan menyodorkan sudut pandang baru terhadap persoalan yang sedang dibicarakan. Ada satu selisih di dalam kesimpulan itu. Kalimat pembukanya menyebut ditemukan tiga unsur koherensi. Daftar yang menyusul justru memuat lima. Angka lima itu yang sejalan dengan abstrak, bagan sebaran, dan seluruh isi pembahasannya.

Batas kajian ini ditentukan oleh cakupannya sendiri. Yang disimak hanya tuturan satu tokoh dalam satu episode. Seluruh temuannya berjumlah sembilan data, disajikan secara informal dan tanpa perbandingan dengan program lain. Kedua penulisnya juga mengakui persepsi kecantikan bersifat subjektif dan tidak dapat dipastikan lewat satu rumus matematis. Karena itu hitungan 55,56 persen tadi berlaku untuk sembilan tuturan tersebut, bukan untuk lawakan kritis di Indonesia pada umumnya. Dominasi perbandingan pada satu segmen tidak dengan sendirinya menjadi ciri seluruh wacana humor. Kajian itu menunjukkan cara kerjanya, bukan sebarannya.

Sembilan tuturan itu diucapkan dalam satu malam pada 2023. Hitungannya baru selesai pada Agustus 2025. Angkanya tetap sembilan.

Bagikan

Baca Juga

Beban yang Dititipkan Lagu Anak Lanang
Kiasan yang Membuat AI Tampak Berpikir Sendiri
Ironi Dunia dalam Lirik Kasidah Nasida Ria
Dua Gaya Bahasa Islam di Beranda Facebook
Ketika Buaya dan Badak Menggantikan Wajah Penguasa
Dear Me Beauty, Model Pria, dan Pasar yang Dibidik