Menonton Dara Petak Dara Jingga di Candi Pulau Sawah

A A

Ilustrasi penonton duduk berdesakan menyaksikan pertunjukan di ruang terbuka. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Candi Abad Ke-13, Panggung Tahun 2022
  2. Penonton Perempuan, Penonton Laki-laki
  3. Tiga Puluh Tujuh yang Bisa Bercerita Ulang, Sisanya yang Bertanya
  4. Warisan yang Dijaga, Ekonomi yang Diharap

Cekricek.id — Reruntuhan bata dari masa Hindu-Buddha dan sekantong efek darah panggung berdiri di tempat yang sama pada satu malam di Dharmasraya. Yang pertama sudah ada di hulu Sungai Batanghari jauh sebelum siapa pun di sekitarnya lahir, dan baru dicatat orang luar lewat survei L.C. Westenenk pada 1909. Yang kedua dibawa panitia sebuah festival, dipakai beberapa menit dalam satu adegan pembunuhan, lalu dibereskan. Keduanya sama-sama bekerja sebagai alat ingat.

Pertemuan keduanya itu yang diteliti Lestari Yuliana, Saaduddin, dan Herwanfakhrizal dari Program Studi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Laporan mereka, Kajian Penonton Terhadap Pertunjukan Drama Musikal Dara Petak Dara Jingga di Candi Pulau Sawah Siguntu Dharmasraya, terbit pada 1 Mei 2025 di jurnal Program Studi Seni Teater kampus tersebut, dengan volume dan nomor yang tidak dicantumkan pada berkasnya. Yang mereka pelajari bukan pertunjukannya, melainkan orang yang menonton.

Drama musikal Dara Petak Dara Jingga pertama diproduksi pada 2019 dan diteruskan sampai 2022, sebagai bagian Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi. Acara puncaknya digelar mulai 7 Januari 2019, tujuh hari tujuh malam, di area Candi Pulau Sawah Siguntur. Sutradaranya Rama Suprapto, direktur artistik kelahiran Jakarta tahun 1966. Pemerannya puluhan orang dari sanggar setempat: Sanggar Dara Petak, Dara Jingga, Timbulun Indah, Kajanglako, Gadih Lareh, dan Sarai Sarumpun. Bahasa pengantarnya bahasa Minang.

Candi Abad Ke-13, Panggung Tahun 2022

Struktur bata Candi Pulau Sawah di Dharmasraya yang tersisa di tengah lapangan berumput.
Struktur bata Candi Pulau Sawah di Dharmasraya yang tersisa di tengah lapangan berumput. [Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Kisahnya berasal dari abad ke-13. Dara Petak dan Dara Jingga disebut sebagai putri Tribuanaraja Mauliawarmadewa, raja Dharmasraya yang memerintah antara 1270 dan 1297 Masehi, dengan permaisuri Puti Rena Mandi. Keduanya dikirim ke Jawa untuk membangun aliansi pertahanan lewat perkawinan dengan keluarga Kertanagara dari Singasari. Dara Jingga menikah dengan Mahesa Anabrang, Dara Petak dengan Raden Wijaya. Anak Dara Jingga, Adityawarman, kemudian membuka kerajaan yang ia namai Swarnabhumi dan belakangan dikenal sebagai Pagaruyung.

Baca juga Tembang Wasita Rini dan Kemerdekaan Perempuan

Panggungnya berasal dari 2022. Candi Pulau Sawah, menurut penelitian Istiawan dan Utomo yang dikutip laporan ini, adalah tinggalan masa klasik Hindu-Buddha yang masih berdiri di Kabupaten Dharmasraya. Letaknya di hulu Batanghari, dan keberadaannya menjadi salah satu bukti Kerajaan Melayu. Di halaman situs itulah panggung terbuka didirikan, penonton duduk di tanah lapang, dan cerita yang lahir di tempat tersebut dimainkan kembali di tempat yang sama. Ada satu tautan yang lebih pendek lagi. Marhasnida Wati, yang disebut laporan itu sebagai satu-satunya putri keturunan raja Kerajaan Dharmasraya yang masih hidup dan secara silsilah berkaitan dengan Dara Petak dan Dara Jingga, ikut terlibat dalam produksi. Ia sekaligus pemilik dan pimpinan Sanggar Dara Petak, dan menjadi satu dari tiga kategori narasumber yang diwawancarai peneliti bersama Yurnida H.S., S.Sos, dari kepanitiaan festival, serta para penonton.

Penonton Perempuan, Penonton Laki-laki

Jumlahnya timpang. Berdasarkan jenis kelamin, pengunjung Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi tercatat 482 perempuan dan 424 laki-laki. Berdasarkan usia, kelompok terbesar adalah remaja 18 sampai 21 tahun sebanyak 116 responden, disusul kelompok 22 sampai 25 tahun sebanyak 66 responden. Lebih dari separuh pengunjung yang tercatat adalah anak muda, sebagian besar masih bersekolah di bangku SMA atau kuliah. Alasannya tidak terjawab. Tim peneliti menyatakan temuan itu sejalan dengan sejumlah penelitian festival pertunjukan lain, tetapi mereka belum dapat mengetahui mengapa perempuan lebih tertarik datang dibanding laki-laki. Yang mereka sarankan hanya satu: pengelola festival sebaiknya memperhatikan saluran komunikasi dan isi acaranya agar juga menarik perhatian penonton laki-laki. Angka itu dibiarkan berdiri sebagai catatan, bukan sebagai kesimpulan.

Latar belakangnya beragam. Penonton yang hadir berasal dari suku Piliang, Caniago, Patopang, dan Jambak, dengan rentang usia 15 sampai 50 tahun dan pekerjaan yang berbeda-beda, dari pegawai negeri, petani, sampai pedagang. Mereka datang dari Koto Baru, Koto Salak, Ampang Kuranji, Sialang Gaung, dan sejumlah nagari lain di Kabupaten Dharmasraya. Jumlah yang hadir melewati seratus orang, dan sebagian besar tidak saling mengenal. Jalan masuknya juga beragam. Sebagian penonton mengaku tahu dari poster dan koran, sebagian dari grup WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Pertunjukannya sendiri disiarkan langsung lewat YouTube, Instagram, dan Facebook sebagai saluran resmi festival. Satu penonton datang karena tugas kuliah, satu karena urusan kantor, satu lagi karena penasaran, dan seorang lainnya karena ingin mencari bahan tulisan. Tujuannya sama, alasannya tidak.

Tiga Puluh Tujuh yang Bisa Bercerita Ulang, Sisanya yang Bertanya

Datanya dikumpulkan dari dua arah. Satu arah datang dari layar: video pementasan 2022 yang diunggah panitia ke YouTube, dibedah dengan pendekatan dramaturgi untuk memilah unsur struktur dan tekstur pertunjukan. Arah lain datang dari lapangan: pengamatan langsung peneliti yang ikut menonton pementasan 2019 dan 2022, ditambah wawancara terhadap tiga kategori narasumber. Yang pertama menghasilkan uraian tentang bentuk pertunjukan, yang kedua menghasilkan kalimat-kalimat penonton, dan laporan itu menyandingkan keduanya tanpa menomorduakan salah satu.

Baca juga Naskah Turang dan Larangan Kawin Semarga di Karo

Wawancaranya dilakukan pada 2024, dua tahun setelah pementasan terakhir. Peneliti memutar ulang cuplikan dokumentasi kepada para narasumber untuk memancing ingatan, lalu memilah tanggapan menurut intensitas kesan dan reaksi emosionalnya. Dari 50 penonton yang diwawancarai, 37 orang dinilai menangkap maksud pertunjukan sampai sanggup menceritakannya kembali. Sisanya menjawab dengan pertanyaan, kritik, dan saran. Dua kelompok itu tidak dipertentangkan dalam laporan.

Afriani termasuk kelompok pertama. Ia sudah empat kali menonton pementasan itu. “Sudah empat kali saya menonton tidak adanya hujan, dan tempat yang luas,” katanya kepada peneliti pada 30 Maret 2024. Ia menyebut pertunjukannya membaik dari tahun ke tahun dan perlu terus ditampilkan untuk generasi muda. Lalu ia menambahkan satu kalimat yang tidak berhubungan dengan tata panggung: pertunjukan itu mengingatkannya kepada mendiang neneknya. Tiara Melisa masuk kelompok yang sama dengan alasan berbeda. Ia menilai narasinya jelas, aktingnya tersusun, dan pesan moralnya terbaca sebagai ajakan menjauhi perang dan pertikaian. Yang menonjol dari jawabannya bukan penilaian itu, melainkan akibatnya: ia menyatakan ingin bergabung dengan sanggar kesenian. Beberapa penonton lain memberi jawaban serupa, menyebut keinginan menjadi aktor, menjadi penari, bahkan membuka sanggar sendiri.

Baca juga Semangka yang Menggantikan Bendera Palestina

Elfebrianti, seorang dokter, menilai dari sisi teknis. Kostumnya menarik, panggung terbukanya berpengaruh besar terhadap pertunjukan, dan cahaya yang dipakai pas untuk pementasan malam hari karena cukup menerangi bagian terkecil sekalipun. Ia menyebut unsur audio visualnya menyatu. Penilaian sebaliknya juga tercatat: sebagian kecil penonton mengaku bosan, dan laporan itu memasukkannya ke kelompok yang menyampaikan kritik.

Warisan yang Dijaga, Ekonomi yang Diharap

Satu sisi menyebut pelestarian. Ridwan, kepala bidang Kebudayaan Kabupaten Dharmasraya, menyatakan pertunjukan itu memberi motivasi budaya bagi generasi muda dan memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya lokal Dharmasraya. Ia juga menyinggung kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang membuat acara itu bisa berulang. Marhasnida Wati yang memimpin salah satu sanggar pendukung berdiri persis di titik pertemuan keduanya, sebagai keturunan yang diwawancarai sekaligus sebagai pimpinan sanggar yang menyediakan pemain. Sisi lain menyebut dagang. Dalam wawancara pada 18 Maret 2024, Ridwan mengatakan “Sosial pada pertunjukan ini menurut saya adalah terjalinnya kerjasama dan terjadi interaksi antara penonton dan masyarakat yang hadir, hal itu juga menambah ekonomi baik untuk UMKM pada stand yang dihadirkan.” Penonton menyuarakan hal senada. Tiara Melisa mengusulkan jumlah lapak usaha mikro diperbanyak untuk membantu ekonomi setempat.

Keduanya bertumpu pada tempat yang sama. Peneliti mencatat lokasi pertunjukan ikut menentukan penerimaan penonton: lapangan yang luas di area candi, curah hujan Dharmasraya yang rendah, pagi hari untuk pameran, lapak, dan laju sampan di sungai, malam hari untuk pementasan. Panggung terbuka di situs purbakala itu yang menampung dua hal sekaligus, ingatan tentang kerajaan dan lapak dagangan di pinggirnya, dan penonton yang sama berpindah dari satu ke yang lain dalam satu hari.

Ukurannya juga terbatas. Yang diwawancarai sekitar 50 penonton dari dua kenagarian, ditambah beberapa pemain dan panitia, dan sebagian data diambil dari video pementasan 2022 yang diunggah panitia ke YouTube. Laporan itu sendiri menyatakan belum bisa menjelaskan sebab perbedaan jumlah penonton perempuan dan laki-laki. Temuannya karena itu berlaku bagi penonton satu festival di satu kabupaten, bukan bagi penonton seni pertunjukan di Sumatra Barat pada umumnya.

Candi itu berdiri karena tidak pernah dipindahkan. Pertunjukan itu berdiri karena diulang empat tahun berturut-turut, lalu berhenti. Laporan tersebut tidak menyatakan mana di antara keduanya yang lebih kuat menyimpan ingatan tentang Dara Petak dan Dara Jingga.

Bagikan

Baca Juga

Nyeri Punggung Bawah Menimpa 56 Persen Pegawai Bank di Pokhara
Pemakai Rokok Elektrik Korea Turun Setelah Imbauan Tahun 2019
Igya Ser Hanjob, Cara Suku Arfak Menjaga Hutan dan Menjamu Tamu
Hoaks Kesehatan di Media Sosial Lebih Sering Dijumpai Anak Muda
Enam Negara Cepat Menurunkan Stunting, Anak Miskin Tertinggal
Cegah Demensia, Kota di Jepang Ramai Latih Otak, Sepi Urus Rokok