Cekricek.id — Pada awal abad ke-20, perempuan Jawa yang bisa membaca dan menulis masih terhitung kekecualian. Politik Etis pemerintah kolonial membuka sedikit pintu sekolah, tetapi yang lebih dulu masuk adalah anak laki-laki dari keluarga berada. Raden Ajeng Kartini menulis surat-surat yang kemudian dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, dan Raden Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri pada 1904 khusus untuk perempuan tidak mampu, dengan pelajaran keterampilan hidup, kesehatan, agama, dan bahasa. Di tengah zaman itu, seorang laki-laki bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat memilih jalan lain untuk bicara kepada perempuan: ia menembang.
Tembang itu berjudul Wasita Rini, digubah dalam bentuk macapat, dan selama puluhan tahun lebih sering dibaca sebagai nasihat kesusilaan ketimbang sebagai naskah pendidikan. Iqbal Nurdin dan Poerwanti Hadi Pratiwi dari Universitas Negeri Yogyakarta bersama Purnama Hanan Murod dari Universitas Lampung membacanya ulang dengan pertanyaan yang berbeda dalam artikel Gender education in the framework of Ki Hadjar Dewantara’s thought: A literature study and its relevance, terbit di jurnal LITERA Volume 24 Nomor 2 tahun 2025. Pertanyaan mereka sederhana: kalau tiap bait tembang itu dibongkar satu per satu, nilai pendidikan gender apa yang sebenarnya tersimpan di dalamnya.
Daftar Isi
Zaman ketika sekolah bagi perempuan masih barang baru

Perubahan yang datang bersama Politik Etis tidak berhenti pada urusan bangku dan buku. Pendidikan bergaya Barat mulai mengguncang anggapan lama tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan perempuan, dan menurut bacaan yang dikutip papernya, susunan lama itu ikut bergeser. Ki Hadjar Dewantara membaca guncangan tersebut sebagai kesempatan, bukan ancaman. Ia menganggap perempuan sebagai jantung kehidupan dan yakin masyarakat yang baik memerlukan perempuan yang terdidik. Yang menarik, gagasan itu tidak semata ia tuliskan dalam karangan, melainkan ia titipkan pada bentuk sastra yang sudah akrab di telinga pembacanya sendiri. Pilihan bentuk itu bukan urusan selera. Perempuan yang hendak ia sapa sebagian besar belum duduk di bangku sekolah mana pun, sehingga tembang menjadi satu-satunya ruang kelas yang bisa menjangkau mereka.
Baca juga Ketika Tipologi Soekanto Membaca Novel 1998
Macapat memang bukan puisi biasa. Aturannya ketat: jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata tiap baris, sampai bunyi akhirnya ditentukan, dan aturan itulah yang memberi tembang macapat iramanya. Dalam masyarakat Jawa, bentuk ini dipakai untuk menyampaikan pesan moral, melukiskan suasana, menyampaikan teka-teki, dan menjadi sarana pendidikan orang banyak. Bagi Ki Hadjar Dewantara, kata para penulisnya, tembang bukan sekadar kesenian, melainkan jembatan: tradisi dipakai untuk mengantar gagasan yang pada zamannya terdengar baru, yaitu bahwa perempuan berhak belajar dan berhak menentukan arah hidupnya sendiri. Nasihat yang dinyanyikan lebih mudah diingat daripada nasihat yang dibacakan, dan pesan yang dibungkus aturan suku kata lebih tahan lama daripada pidato. Papernya menyebut cara itu sebagai perpaduan antara tradisi dan kemajuan, dua hal yang di banyak tempat lain justru dipertentangkan.
Yang sudah dibaca Masjid dan Suwandi sebelum penelitian ini
Wasita Rini bukan naskah yang belum tersentuh. Masjid dan Suwandi pada 2021 sudah membacanya sebagai petunjuk bagi perempuan untuk menemukan kemandirian lahir dan batin sambil tetap memegang nilai serta perannya di masyarakat, sementara Prasety pada 2022 menyorot sisi sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya, termasuk bagaimana pendidikan Barat menantang tatanan lama. Nurdin dan dua rekannya mengakui rantai bacaan itu, lalu menyatakan bahwa yang mereka kerjakan berbeda arah: bukan lagi menghitung nilai apa yang ada di dalam tembang, melainkan menelusuri pandangan pribadi Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan gender dan menimbang apakah pandangan itu masih menyambung dengan pembicaraan hari ini. Pembicaraan yang mereka maksud punya latar besar: Perserikatan Bangsa-Bangsa menempatkan kesetaraan gender sebagai tujuan kelima dari tujuh belas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dan konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan sudah lama menjadi rujukan. Tembang berumur puluhan tahun itu mereka dudukkan berhadapan dengan kerangka sebesar itu.
Enam kode yang dipasang Nurdin pada tiap bait
Caranya diambil dari analisis isi ala Klaus Krippendorff, yang oleh papernya diuraikan dalam enam langkah: memilah satuan data, mengambil sampel, memberi kode, meringkas, menarik simpulan, lalu menceritakan temuan. Tiap bait Wasita Rini diperlakukan sebagai satu satuan analisis. Enam kode dipasang di atasnya: kebebasan, kesetaraan dan keadilan gender, pemberdayaan perempuan, etika dan moral, penghapusan kekerasan berbasis gender, serta hak dan kewajiban. Bahan pendukungnya dua buku Ki Hadjar Dewantara sendiri, satu tentang pendidikan dan satu tentang kebudayaan, yang dipakai untuk menguji apakah tafsir atas larik tembang itu sejalan dengan apa yang pernah ia tulis dalam prosa. Krippendorff sendiri menekankan bahwa analisis isi harus dapat diulang orang lain dengan hasil yang kurang lebih sama, dan syarat itulah yang membuat pengodean per bait tersebut penting: tafsir dipaksa berhenti pada larik yang bisa ditunjuk, bukan pada kesan umum tentang siapa Ki Hadjar Dewantara.
Baca juga Poster Keuangan dan Ujian Menulis Persuasif Digital
Hasil pengodean itu disusun jadi tabel temuan, dan sebagian besar larik ternyata memuat lebih dari satu kode sekaligus. Larik senggakan yang membuka tembang itu berbunyi “Heh pra kenya kang ulah mardikeng rara”, seruan kepada para perempuan muda yang mendambakan kemerdekaan, dan oleh penelitinya diberi kode kebebasan sekaligus kesetaraan. Namun seruan itu tidak berdiri sendiri. Dua larik sesudahnya mengingatkan agar kesusilaan tidak ditinggalkan bahkan di saat bersenang-senang, dan pasangan larik inilah yang membuat tembang tersebut sulit dibaca sebagai seruan kebebasan tanpa syarat. Bait pertama bergerak dengan cara serupa. Ia menyatakan bahwa inti keperempuanan pada masa lampau dan masa kini tidak berbeda, lalu menyebut bahwa kedua zaman itu sama-sama hendak menjaga martabat perempuan agar terhindar dari celaka. Kode yang dipasang penelitinya pada bait itu ada tiga sekaligus: etika, pemberdayaan, dan penghapusan kekerasan.
Bait keempat dan syarat kesiapan lahir batin
Bait kedua bergerak lebih jauh. Di sana disebutkan bahwa segala yang hidup menolak dikuasai dan diperlakukan sekehendak pihak lain, lalu kalimat itu langsung ditarik ke perempuan: mereka pun tidak sudi diperlakukan menurut kemauan orang lain. Penelitinya membaca larik ini berlapis, sebagai penolakan terhadap penjajahan sekaligus terhadap penguasaan laki-laki atas perempuan. Bait ketiga menambahkan sisi lain, bahwa perempuan kuat dan mampu menguasai dirinya sendiri, kemampuan yang menurut para penulis paper tidak jatuh dari langit melainkan tumbuh lewat pendidikan, baik di ruang kelas maupun di dalam keluarga. Penguasaan diri, dalam bacaan mereka, mensyaratkan orang mengenali kekuatan dan kelemahannya sendiri, dan pengenalan semacam itu hanya datang dari belajar. Bait yang sama menyambung dengan peringatan agar hak dan kewajiban jangan sekali-kali dipisahkan, sebuah pasangan yang di sepanjang tembang itu selalu muncul berdampingan dan tidak pernah dibiarkan berjalan sendiri-sendiri.
Bait keempat adalah bagian yang paling sering dipakai untuk membuktikan bahwa tembang ini bukan sekadar wejangan kesopanan. Larik-lariknya menyebut kewajiban sebagai kesiapan menghadapi segala perkara, lahir dan batin, dan baru sesudah itu datang hak untuk bertindak menurut kehendak sendiri. Urutannya sengaja: kesiapan dulu, hak kemudian. Bait yang sama menutup dengan alasannya, bahwa perempuan telah memiliki timbangan untuk menakar mana yang baik dan mana yang buruk. Timbangan itu, dalam bacaan penelitinya, adalah nama lain dari hasil pendidikan. Bait kelima menutup rangkaian tersebut dengan menyebut rasa dan cipta, kepekaan dan daya mencipta, sebagai jalan menuju hidup yang merdeka, dua hal yang menurut papernya sama-sama diasah lewat proses belajar dan bukan lewat keturunan.
Bacaan tersebut diuji dengan tulisan Ki Hadjar Dewantara sendiri. Dalam bukunya tentang pendidikan ia menulis bahwa Tuhan memberikan pikiran kepada manusia dengan maksud memerdekakan hidupnya, kalimat yang dipakai penelitinya untuk menunjukkan bahwa kemerdekaan bagi Dewantara berpangkal pada akal yang diasah, bukan pada keberanian melanggar. Di tempat lain ia menulis bahwa pendidikan serta segala pengalaman dan keadaan berpengaruh besar pada tumbuhnya budi pekerti. Dua kalimat itu berjalan searah dengan tembangnya: hak baru berarti kalau orang yang memegangnya tahu untuk apa hak itu dipakai.
Baca juga Prasasti Prasi A dan Umur Desa Dawan di Klungkung
Ki Hadjar Dewantara juga tidak berhenti pada anjuran. Ia mendirikan Tamansiswa, lalu membentuk badan khusus perempuan di dalamnya agar, dalam kalimat yang dikutip papernya, perempuan “dapat tempat yang seimbang dengan kepentingannya”. Peringatannya soal dunia kerja bahkan terdengar tajam untuk ukuran zamannya: ia menulis bahwa banyak mata pencaharian yang semata-mata memakai perempuan sebagai penarik minat. Kalimat itu, kata para penulis paper, memperlihatkan bahwa pemberdayaan yang ia bayangkan bukan sekadar membuka pintu pekerjaan, melainkan juga mempersoalkan cara perempuan diperlakukan setelah pintu itu terbuka. Ia bahkan menganjurkan agar jenis pekerjaan bagi perempuan ditimbang dan dibandingkan lebih dulu, satu peringatan yang menempatkan tanggung jawab pada pemegang kuasa, bukan pada perempuan yang mencari nafkah.
Tempat Wasita Rini dalam rantai bacaan hari ini
Di titik inilah tembang tersebut menjadi bahan perdebatan. Larik terakhir yang dikutip papernya menyebut kesusilaan sebagai pagar keselamatan raga, dan dari sudut pandang pendidikan gender masa kini, kalimat semacam itu bisa dibaca dua arah: sebagai perlindungan, atau sebagai beban tambahan yang ditimpakan kepada perempuan. Nurdin dan rekan-rekannya memilih membaca keseimbangan sebagai ciri khas Dewantara, yakni sikap yang mendukung kemerdekaan perempuan sambil bertahan pada nilai dan tradisi yang ia anggap sesuai dengan kenyataan zamannya. Mereka menyebut pesan tembang itu sebagai salah satu seruan paling awal tentang pendidikan gender di Indonesia, ketika kesempatan belajar bagi perempuan masih sangat sempit.
Perlu dicatat batas kerja penelitian ini. Bahannya kepustakaan belaka: satu tembang dan dua buku, tanpa data lapangan, tanpa wawancara, dan tanpa pengujian di ruang kelas mana pun. Papernya sendiri tidak memuat bagian keterbatasan secara khusus, padahal metode analisis isi yang dipakainya bersandar pada tafsir peneliti atas larik berbahasa Jawa yang sudah berumur hampir seabad. Simpulan tentang keseimbangan antara kemerdekaan dan kesusilaan berlaku bagi teks yang mereka baca, bukan bagi seluruh pemikiran Ki Hadjar Dewantara, apalagi bagi seluruh pendidikan perempuan pada masa kolonial.
Yang tersisa dari pembacaan ini adalah satu tembang yang terus berpindah tangan. Ia pernah dinyanyikan sebagai nasihat, lalu dibaca sebagai naskah sejarah, kini dibongkar sebagai bahan pendidikan gender, dan tiap kali berpindah ia menjawab pertanyaan yang tidak pernah diajukan penggubahnya. Bait keempat tetap berdiri di tempatnya: kesiapan dulu, hak kemudian.














