Bahasa Jawa Modern Ternyata Lebih Sering Langsung ke Inti

A A

Suasana Malioboro, Yogyakarta, pada malam hari. [Foto: Wikimedia Commons]

Cekricek.id — Ketika seseorang menyuruh orang lain melakukan sesuatu, ahli bahasa menyebutnya tindak tutur direktif — kalimat yang tujuannya membuat lawan bicara bergerak. Bentuknya bisa perintah pendek, bisa permintaan panjang berpagar basa-basi. Dan sejak lama ada satu keyakinan tentang orang Jawa: kalau menyuruh, mereka akan berputar dulu. Keyakinan itu punya dasar teoretis. Budaya Jawa lazim digolongkan sebagai masyarakat berkonteks tinggi — istilahnya high-context society — yaitu masyarakat yang banyak menyimpan maksud di luar kata-kata yang diucapkan. Dalam kerangka itu, komunikasi tidak langsung dianggap cara menjaga keselarasan sosial, dan sebuah kajian sebelumnya bahkan menyebut bentuk tak langsung sebagai cara paling sopan menyampaikan permintaan dalam bahasa Jawa.

Keyakinan itulah yang diuji ulang oleh Emi Nursanti, Suhandano, dan Sulistyowati dari Universitas Gadjah Mada. Hasilnya mereka tulis dalam artikel Modern Javanese Directives: Balancing Clarity and Politeness in a High-Context Society, terbit di jurnal Diksi Volume 34 Nomor 1 tahun 2026, halaman 1 sampai 22. Naskahnya diterima 30 November 2025 dan terbit pada 31 Maret 2026. Pendekatannya campuran dengan bobot utama pada penafsiran kualitatif, sedangkan hitungan frekuensi dipakai sebagai penyangga, dan pelabelan datanya diperiksa ulang oleh seorang ahli bahasa Jawa untuk menekan penilaian sepihak.

Daftar Isi
  1. Head Act, Inti yang Berdiri Sendiri
  2. Mitigating Adjunct, Bantalan Pelunak
  3. Struktur Sederhana, Kalimat yang Tidak Berbelit
  4. High-Context Society, Masyarakat yang Serba Tersirat

Head Act, Inti yang Berdiri Sendiri

Halaman naskah tulisan tangan beraksara Jawa yang terbuka di dalam lemari kaca museum
Naskah beraksara Jawa koleksi Museum Sonobudoyo. Penelitian ini membahas bahasa Jawa yang diucapkan dalam dialog film, bukan yang dituliskan. [Foto: Wikimedia Commons]

Sebuah kalimat suruhan bisa dipecah menjadi bagian-bagian. Bagian intinya disebut head act, satuan terkecil yang sudah sanggup menyampaikan suruhan tanpa bantuan bagian lain. Dalam bahasa Jawa, satu kata pun kadang cukup. Salah satu contoh yang dikutip peneliti hanya terdiri atas satu kata, “Baleni!”, yang artinya ulangi — tidak ada pengantar, tidak ada penutup, tidak ada pelunak.

Bagian yang mengelilingi inti itu disebut supportive move, atau gerak pendukung. Ia bisa berdiri sebelum inti, bisa sesudahnya. Dalam contoh berbahasa Inggris yang dipakai para peneliti, kalimat “maaf kalau saya lancang” adalah gerak pendukung, sedangkan ajakan minumnya sendiri adalah inti. Fungsi gerak pendukung selalu sama: menaikkan atau menurunkan tenaga suruhan yang ada di intinya. Dari dua bagian itu para peneliti menyusun lambang yang dipakai sepanjang artikel. Huruf H untuk inti, tanda S untuk gerak pendukung. Gerak pendukung yang melunakkan diberi tanda minus, yang mempertajam diberi tanda plus. Sebuah kalimat suruhan lalu bisa ditulis sebagai [H] saja, atau [S-, H], atau [H, S+], tergantung urutan dan jenis bagian penyusunnya.

Bahannya diambil dari tempat yang tidak biasa: dua puluh film pendek produksi Paniradya Kaistimewan, lembaga di lingkungan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Film-film itu dirilis antara Januari 2021 dan Juni 2023. Dari seluruh dialognya dikumpulkan 525 kalimat suruhan, lengkap dengan catatan latar situasi, nama tokoh, dan hubungan antartokohnya. Alasan memakai film disebutkan terus terang: tuturan di dalamnya memang fiktif, tetapi disusun berdasarkan percakapan sehari-hari sehingga masih mewakili cara orang benar-benar berbicara.

Mitigating Adjunct, Bantalan Pelunak

Hasil hitungannya berbalik dari dugaan. Struktur yang dimulai dari inti — [H] — muncul 308 kali atau 58,7 persen dari seluruh data. Struktur yang dimulai dari pelunak, yaitu [S-], berada di urutan kedua dengan 193 kalimat atau 36,7 persen. Artinya, dalam data ini, lebih banyak orang Jawa yang langsung menyebut maunya lebih dulu daripada memasang pengantar.

Pelunak itulah yang dalam istilah teknisnya disebut mitigating adjunct. Ia bukan basa-basi tanpa guna, melainkan bantalan — penanda kesopanan yang dipasang untuk mengurangi rasa dipaksa pada orang yang disuruh. Dalam data ini, ia dipakai justru ketika perintah langsung terasa tidak pantas, misalnya kepada orang asing atau kepada yang lebih tua. Kebalikannya bernama aggravating adjunct, penajam, kadang disebut juga upgrader. Fungsinya menambah tekanan, kadang sampai mengancam muka lawan bicara. Bagian ini yang paling jarang dipakai: hanya 24 kalimat atau 4,6 persen dari 525 data, dan menurut para peneliti hanya muncul pada keadaan yang benar-benar mendesak, apalagi bila disertai raut wajah dan suara yang ikut menekan. Kesimpulan mereka lugas — orang Jawa menghindari suruhan yang kasar dan berpotensi melukai.

Empat susunan yang paling sering muncul memperjelas kecenderungan itu. Pelunak di depan lalu inti, [S-, H], sebanyak 27,2 persen. Inti lalu pelunak, [H, S-], sebanyak 23,6 persen. Inti berdiri sendiri, [H], juga 23,6 persen. Baru kemudian inti diikuti penajam, [H, S+], sebanyak 9,7 persen. Tiga dari empat pola teratas memakai pelunak, bukan penajam. Kecenderungan itu sejajar dengan temuan pada tuturan direktif berbahasa Inggris di Britania dan Amerika, tempat pelunak juga lebih disukai daripada penajam.

Struktur Sederhana, Kalimat yang Tidak Berbelit

Ada satu pola lain yang ikut terbaca. Susunan sederhana — [H], [S-, H], dan [H, S-] — jauh lebih sering dipakai daripada susunan bertingkat seperti [H, S-, S+] atau [S-, H, S+]. Para peneliti membacanya sebagai kecenderungan pada kejelasan: makin banyak bagian yang ditumpuk, makin besar peluang lawan bicara salah menangkap maksudnya. Di dalam kelompok yang berawal dari inti, dua pertiga lebih memakai strategi langsung. Sebanyak 137 kalimat atau 44,5 persen memakai strategi langsung kuat, dan 88 kalimat atau 28,6 persen memakai strategi langsung lemah. Strategi tak langsung justru sedikit di kelompok ini, dan itu sejalan dengan dugaan bahwa menaruh inti di depan memang memperkuat daya suruh sebuah kalimat.

Menariknya, kalimat berisi inti saja disebut para peneliti sebagai titik tengah. Ia tidak memakai pelunak, tetapi juga tidak memakai penajam, sehingga tidak terbaca kasar dan tidak terbaca sopan — ia netral. Dengan menaruh bagian utama di depan dan membuang penanda kesopanan, penuturnya mengutamakan kejelasan, dan bentuk sesederhana itu memang paling hemat tenaga.

High-Context Society, Masyarakat yang Serba Tersirat

Sampai di sini istilah pembuka tadi perlu dibongkar lagi. Masyarakat berkonteks tinggi selama ini dipahami sebagai masyarakat yang menyimpan maksud di balik kata — dan dari situ ditarik kesimpulan bahwa berputar sama dengan sopan. Temuan ini menolak persamaan tersebut. Yang berputar tidak otomatis lebih sopan, dan yang langsung tidak otomatis kasar. Kesopanan, menurut para peneliti, tidak diputuskan oleh panjang pendeknya kalimat, melainkan oleh konteks sosial dan hierarki yang berlaku ketika kalimat itu diucapkan. Kalimat pendek yang lugas bisa tetap sopan bila diucapkan pada hubungan yang dekat atau kepada yang lebih muda. Dengan begitu, kejelasan dan kesopanan mereka tempatkan sebagai dua tujuan yang saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

Mereka juga membaca hasil ini sebagai tanda pergeseran. Modernisasi dan perubahan cara berkomunikasi, tulis mereka, mendorong bahasa Jawa bergerak ke arah tuturan yang lebih langsung dan lebih efektif. Pola lama tidak hilang, tetapi tidak lagi mendominasi seperti yang diandaikan kajian-kajian terdahulu tentang keharusan berputar dalam bahasa Jawa.

Batasnya disebut sendiri oleh para penelitinya, dan batas itu tidak kecil. Seluruh datanya berasal dari film, bukan dari percakapan yang terjadi apa adanya di luar layar. Dialog film ditulis lebih dulu oleh penulis skenario, dan kejelasan adalah kebutuhan naskah. Mereka menyarankan penelitian lanjutan menguji kecenderungan yang sama pada percakapan sehari-hari yang tidak dirancang. Ada pula satu kekeliruan teknis di halaman depannya. Nomor DOI yang tercetak di kepala artikel merujuk pada volume 32, sedangkan blok sitasi di sisi kanan halaman yang sama merujuk pada volume 34 nomor 1. Salah satunya pasti keliru, dan bagi pembaca yang hendak melacak sumbernya, selisih itu cukup untuk menyesatkan.

Baca juga Mahasiswa Malaysia yang Belajar Sejarah di Padang

Yang tersisa adalah batas istilahnya sendiri. Sebutan masyarakat berkonteks tinggi menjelaskan bagaimana orang menafsirkan maksud, bukan seberapa panjang kalimat yang mereka pakai untuk menyuruh. Menyamakan keduanya membuat sebuah kesimpulan lama bertahan puluhan tahun tanpa pernah dihitung, sampai ada yang mengumpulkan 525 kalimat dan menghitungnya satu per satu.

Baca juga Lagu Kampuang dan Furusato dalam Kajian Antropolinguistik

Dan istilah itu tetap tidak mencakup semuanya. Ia tidak menjelaskan mengapa Batavia dalam hitungan mereka bisa berbeda dari Yogyakarta, tidak menjelaskan perbedaan antargenerasi, dan tidak menyentuh bahasa Jawa yang dipakai di luar Yogyakarta. Yang diukur adalah dua puluh film dari satu daerah istimewa, pada rentang dua setengah tahun. Selebihnya masih terbuka.

Baca juga Matrilineal Minangkabau, Utopia Kesetaraan Perempuan

Selebihnya kembali ke satu kata di dalam contoh tadi. “Baleni!” tidak memakai pengantar dan tidak memakai pelunak. Ia hanya menyuruh — dan menurut hitungan ini, justru bentuk seperti itulah yang paling sering terdengar dalam bahasa Jawa hari ini. Istilah lamanya tetap berguna untuk menjelaskan cara orang menafsirkan maksud, tetapi berhenti tepat di batas itu.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi sepasang tangan memegang telepon pintar yang menampilkan lini masa berisi deretan gambar unggahan media sosial.
Makna Tersirat di Balik Komik Strip Sampahisasi
Sebuah neuron hipokampus dalam kultur dengan cabang-cabang bercahaya hijau dan merah pada latar gelap
Dua Metode Hitung Amiloid-Beta Memberi Hasil yang Sama
Hamparan tanaman jagung yang batang dan daunnya sudah mengering menjelang panen
Dua Calon Jagung Komposit Diuji di Payakumbuh dan Agam
Ilustrasi seorang mahasiswa berdiri memegang lembar kertas di depan papan tulis putih sementara dua rekannya menyimak dari kursi.
Interferensi Dialek Banten dalam Lafal Bahasa Inggris
Kuliah Perdana mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia tahun akademik 2026/2027
UII Terima 5.326 Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027
Ratusan peti kemas berwarna-warni tersusun berderet di dermaga sebuah pelabuhan dilihat dari udara.
Itera Kaji Ketangguhan Pelabuhan Panjang Hadapi Tsunami