Daftar Isi
Cekricek.id — Sebuah buku ajar pengantar sosiologi dan sebuah novel tentang tahun 1998 diletakkan berdampingan di meja kerja dua peneliti, lalu dibaca bergantian halaman demi halaman.
Yang pertama menyediakan daftar. Soerjono Soekanto membagi masalah sosial ke dalam kategori yang rapi — kemiskinan, kejahatan, disorganisasi keluarga, masalah generasi muda, peperangan, pelanggaran norma, kependudukan, lingkungan, dan birokrasi — lalu memilah penyebabnya menjadi faktor ekonomis, biologis, psikologis, dan kebudayaan. Yang kedua menyediakan adegan. Novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim, terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 2012, menceritakan sebuah keluarga menjelang Reformasi.
Wulandari dan Muhammad Ismail Nasution dari Universitas Negeri Padang menyandingkan keduanya dalam Masalah Sosial dalam Novel 1998 Karya Ratna Indraswari Ibrahim, yang terbit di jurnal Persona Vol. 5 No. 2 tahun 2026, halaman 326 sampai 336. Metodenya deskriptif kualitatif dalam kerangka sosiologi sastra, datanya berupa kata, frasa, klausa, kalimat, dialog, dan narasi yang dikumpulkan lewat teknik baca dan catat. Hasilnya lima bentuk masalah sosial dan tiga faktor penyebab.
Cara kerjanya konsisten sepanjang artikel dan itulah yang membuatnya menarik dibaca. Setiap kutipan novel dibaca dua kali: sekali dengan tipologi Soekanto, sekali dengan sosiologi sastra. Pembacaan pertama menghasilkan nama kategori. Pembacaan kedua menghasilkan tafsir. Keduanya jarang bertabrakan, tetapi hampir selalu berbeda kedalaman, dan selisih di antara keduanya itulah yang dipakai kedua peneliti sebagai temuan.
Kejahatan di luar rumah, kegelisahan di dalam rumah

Halaman 7 novel itu mencatat kekerasan yang berulang tiap malam di beberapa tempat, disampaikan dalam satu kalimat pendek tanpa nama pelaku. Dibaca dengan daftar Soekanto, kalimat itu masuk kategori kejahatan konvensional. Dibaca dengan sosiologi sastra, yang menonjol justru keterangan waktunya. Kekerasan yang terjadi setiap malam dan tersebar di beberapa tempat berhenti menjadi peristiwa luar biasa; ia sudah menjadi rutinitas yang dinormalisasi. Kutipan kedua bekerja dengan cara sebaliknya. Pada halaman 57, seorang tokoh mengabarkan, “Beberapa pemuda teman Neno sudah hilang! Papa saya khawatir kalau mereka sengaja dihilangkan baik oleh pemerintah maupun oleh lawan-lawan politik!” Yang dicatat kedua peneliti bukan peristiwanya, melainkan keraguan tentang siapa pelakunya. Ketika aparat negara dan lawan politik sama-sama mungkin, batas antara keduanya kabur, dan rasa aman publik ikut runtuh.
Baca juga Dua Gendang Bengkulu yang Sengaja Tak Seketuk
Rumah tidak menjadi tempat berlindung dari keduanya. Di halaman 14 seorang orang tua melarang anaknya ikut-ikutan dan menyebut keputusan kakaknya sudah tepat, yaitu pergi ke mancanegara dan sekolah dengan benar. Menurut tipologi Soekanto, tuturan itu tanda disorganisasi keluarga. Menurut pembacaan kedua peneliti, larangan itu justru strategi bertahan keluarga kelas menengah: pendidikan luar negeri diposisikan sebagai jalan keluar dari negeri yang sedang kacau. Perbedaannya penting karena mengubah kesimpulan. Pembacaan pertama menyimpulkan keluarga itu retak. Pembacaan kedua menyimpulkan keluarga itu sedang menata ulang dirinya, mengalihkan orientasi anak dari ruang publik nasional ke ruang privat global. Halaman 18 memperlihatkan biayanya. Seorang ibu berpesan kepada anaknya agar teman-teman yang datang diberi tahu dulu keadaannya, supaya tidak terkena imbas emosi ayahnya. Tekanan politik sudah masuk sampai ke aturan menerima tamu.
Anak yang dikirim pergi, anak yang turun ke jalan
Dua kutipan berikutnya sengaja dipasang berhadapan oleh kedua peneliti. Yang pertama, di halaman 5, berbunyi, “coba kau pikir, buat apa sih teman-temanmu demo? Tidak akan merubah apapun. Pak Harto punya mata telinga.” Yang kedua, di halaman 20, jauh lebih pendek: seorang tokoh bernama Neno mengabarkan bahwa besok akan ada demonstrasi besar-besaran. Satu suara menahan, satu suara mengajak. Dengan daftar Soekanto, keduanya masuk kategori masalah generasi muda dalam masyarakat modern, berupa konflik antargenerasi dalam menyikapi perubahan sosial. Generasi tua cenderung menghindari risiko, generasi muda mendorong perubahan lewat aksi jalanan. Dengan sosiologi sastra, frasa tentang penguasa yang punya mata dan telinga dibaca sebagai penanda budaya ketakutan yang sudah terinternalisasi: negara dibayangkan hadir di setiap celah, sehingga keberanian bersama lumpuh sebelum sempat terkumpul.
Baca juga Naskah 1789 dan Cara Jawa Menerima Tamu
Yang menarik, kedua peneliti tidak menempatkan ketakutan itu sebagai lawan dari keberanian. Mereka membacanya sebagai pemicu. Justru karena rantai kepatuhan terasa begitu ketat, memutusnya menjadi tindakan yang bermakna. Frasa demonstrasi besar-besaran karena itu tidak dibaca sekadar sebagai kegiatan politik, melainkan sebagai upaya merebut kembali ruang publik yang selama ini dikungkung. Dua kalimat pendek dari dua generasi, dan jarak di antaranya adalah jarak satu zaman.
Buku yang dilarang, koran yang dibungkam
Pasangan ketiga berurusan dengan pengetahuan. Di halaman 4, seorang tokoh mencatat bahwa semua buku Pramoedya dilarang beredar oleh pemerintah, dan ibunya selalu menyebut buku itu berbahaya. Di halaman 35, kalimatnya lebih ringkas: presiden tidak mengizinkan surat kabar memberitakan demonstrasi. Yang satu larangan yang diucapkan di ruang keluarga, yang lain larangan yang berlaku di ruang redaksi. Tipologi Soekanto menempatkan yang pertama sebagai pelanggaran terhadap norma keterbukaan dan yang kedua sebagai penyalahgunaan wewenang negara. Sosiologi sastra menambahkan sesuatu yang tidak tertangkap kategori itu: pelabelan oleh figur ibu bukan sekadar pengulangan kebijakan resmi, melainkan tanda bahwa ideologi negara sudah terserap ke dalam kesadaran sehari-hari. Kontrol informasi, dengan kata lain, tidak hanya berjalan lewat peraturan, tetapi juga lewat stigma yang diajarkan di rumah.
Perlawanannya pun berskala rumah. Halaman 6 memuat pengakuan pendek, “Aku melanggar aturan orangtua terkait buku-buku bacaan.” Menurut daftar, itu pelanggaran tata tertib keluarga. Menurut tafsir kedua peneliti, itu perlawanan epistemik — rasa ingin tahu yang mendorong seseorang mempertanyakan kebenaran tunggal. Keluarga berubah fungsi di sini: bukan benteng terakhir kepatuhan, melainkan medan awal tempat doktrin dan kebebasan berpikir bertemu. Sisi birokrasinya digambarkan dengan kecemasan, bukan dengan angka. Di halaman 14 seorang tokoh menyebut kekuasaan pada masa itu mengerikan karena seseorang bisa saja difitnah lalu dilempar dari jabatannya. Dibaca lewat daftar, itu patologi birokrasi. Dibaca lewat sosiologi sastra, itu tanda bahwa jabatan publik bergantung pada kesetiaan politik, bukan pada integritas, sehingga birokrasi bekerja sebagai alat penyaring, bukan sebagai pelindung aparatnya.
Takut yang diwarisi, status yang diwariskan
Bagian penyebab menghasilkan urutan yang tidak biasa untuk novel bertema politik. Dari empat faktor yang disediakan Soekanto, hanya tiga yang ditemukan — psikologis, kebudayaan, dan ekonomis — dan yang paling dominan adalah faktor psikologis. Kekerasan politik dalam novel itu tidak berhenti pada kerusuhan di jalan; ia mengendap sebagai rasa takut yang dibawa pulang dan tidur di dalam rumah.
Baca juga Janlup dan Gercep di Kolom Komentar TikTok
Buktinya diambil dari dua tempat. Halaman 10 memuat pengakuan seorang tokoh yang menyebut dirinya sudah duduk di kelas dua sekolah menengah atas ketika peristiwa 1965 berlangsung, tetapi masih merasa takut dan sering tidur bersama orang tuanya. Halaman 11 memuat mimpi tentang kota yang penuh api di mana-mana dan orang tua yang tampak sedih. Rasa aman paling dasar sudah tergerus, dan keluarga pun tidak lagi menjadi tempat berlindung secara psikologis.
Faktor kebudayaan disajikan dengan pola yang sama: dua kalimat, dua generasi. Halaman 12 memuat seruan bahwa kewajiban mahasiswa bukan hanya belajar, melainkan juga ikut memperhatikan nasib bangsa. Halaman 11 memuat perbedaan pendapat di dalam satu rumah, ketika seorang anak merasa negeri ini dipimpin presiden otoriter sedangkan ayahnya menganggap otoriter tidak masalah selama rakyat merasa nyaman. Kebebasan di satu sisi, ketertiban di sisi lain. Faktor ekonomis muncul paling telanjang. Halaman 6 mencatat naiknya taraf hidup sebuah keluarga berkat pengangkatan sang ayah menjadi wali kota, sementara halaman 21 dan 22 memuat penolakan sebuah keluarga terhadap calon menantu yang mereka anggap orang desa karena merasa diri berdarah biru. Yang pertama menunjukkan jabatan publik sebagai pintu masuk hak istimewa ekonomi; yang kedua menunjukkan status sosial diukur dari kelas dan keturunan, bukan dari kemampuan.
Dominannya faktor psikologis itu, tulis Wulandari dan Muhammad Ismail Nasution, menunjukkan situasi politik yang represif tidak hanya melahirkan persoalan di tingkat masyarakat, tetapi juga meninggalkan dampak yang mengubah cara individu berpikir, bersikap, dan berinteraksi. Rasa takut satu tokoh mereka baca sebagai representasi pengalaman kolektif, bukan sebagai kelemahan pribadi. Namun mereka juga menegaskan batas kerjanya: yang dianalisis satu novel saja, dengan satu teori saja.
Batas itu perlu dipegang pembaca. Novel 1998 adalah karya fiksi terbitan 2012 tentang masa menjelang Reformasi, bukan catatan peristiwa, dan temuan kedua peneliti berlaku untuk halaman-halaman buku tersebut, bukan untuk sastra Indonesia bertema Reformasi secara keseluruhan. Penelitian lanjutan yang mereka sarankan pun berupa perbandingan dengan novel-novel sezaman dan pemakaian perspektif lain seperti hegemoni, trauma sosial, atau memori kolektif.
Pada akhirnya dua alat baca itu tetap berdiri berdampingan di meja yang sama. Daftar Soekanto memberi nama pada apa yang terjadi dan memungkinkan hal-hal yang berserakan dihitung. Sosiologi sastra memberi tafsir pada mengapa hal itu terjadi dan memungkinkan hal-hal yang terhitung dibaca ulang. Yang satu tidak menggantikan yang lain. Satu kalimat di halaman 18 tentang tamu yang harus diberi tahu dulu keadaan rumah bisa masuk ke daftar mana pun, dan tetap terdengar sama beratnya.















