Daftar Isi
Cekricek.id — Sepasang gendang panjang memukul pola yang tidak sama, dan justru karena tidak sama itulah iringan arak-arakan pengantin di Bengkulu terdengar rapat, seakan datang dari satu tangan. Gendang pertama memegang pola dasar. Gendang kedua mengisi celah yang ditinggalkannya. Orang di pinggir jalan mendengarnya sebagai satu bunyi yang penuh, padahal yang terjadi sepanjang arak-arakan adalah dua pemain yang dengan sengaja menghindari ketukan yang sama.
Kejanggalan itu yang dibongkar Arnailis bersama Yunaidi dan Muhammad Zulfahmi, ketiganya dari Program Studi Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, dalam artikel Begendang Beserunai: Integration of Traditional Values in the Creation of Bengkulu Karawitan Music Composition yang terbit di Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, Volume 27 Nomor 2, tahun 2025. Mereka tidak berhenti pada penjelasan. Pola-pola itu mereka pindahkan ke dalam sebuah komposisi karawitan baru, lalu diukur apa yang terjadi ketika orang mendengarnya.
Cara Melalu dan Ningkah Saling Menutup Celah

Gendang panjang di Bengkulu dimainkan berpasangan dan masing-masing punya nama tugas. Pola dasar disebut melalu, dan pola pengisi disebut ningkah. Melalu berjalan tetap, hampir tidak berubah sepanjang lagu, sementara ningkah masuk pada jarak-jarak yang ditinggalkan melalu, kadang setengah ketukan sesudahnya, kadang tepat sebelum ketukan berikutnya jatuh. Karena keduanya tidak pernah berbunyi bersamaan pada titik yang sama, kerapatan bunyinya berlipat tanpa perlu menambah pemain. Teknik semacam ini lazim disebut interlocking, dan di Bengkulu ia menjadi penanda paling cepat dikenali dari ansambel gendang serunai. Satu pemain saja yang lengah menempatkan pukulannya, kerapatan itu bubar dan iringan langsung terdengar bolong.
Yang menarik, kekuatan susunan itu tidak terletak pada kerumitannya, melainkan pada keteguhannya. Pola yang sama diulang berkali-kali, dan pengulangan itulah yang menahan seluruh iringan. “Kekuatan gendang serunai justru terletak pada pengulangan pola ritmis yang dijaga, dan perubahan kecil pada isian atau aksentuasi dapat berdampak besar pada suasana pertunjukan,” tulis tim penyusun artikel itu. Karena itu, pada tahap awal penggarapan, melalu dan ningkah tidak diutak-atik sama sekali. Keduanya hanya dipindahkan ke ruang komposisi yang lebih tertata, dengan alasan yang praktis: sekali pola dasarnya digeser, seluruh perhitungan pemain pengisi ikut runtuh, dan yang hilang bukan hanya kerapatan bunyi melainkan juga tanda pengenal kesenian itu.
Baca juga Buku Bergambar Anak dan Gambar yang Membantah Teks
Susunan tugas itu juga yang membuat gendang serunai bisa mengikuti seluruh tahapan hajatan tanpa terdengar seragam. Dalam perkawinan adat Bengkulu, ansambel ini mengiringi bedabung pengantin, bimbang gedang, besanding, mandi rendai, hingga belarak, dan tiap tahap punya suasana sendiri. Pada belarak, ketika arak-arakan bergerak dan orang berjalan beriringan, pukulan gendang dibuat lebih rapat dan lebih keras. Perubahan itu tidak diumumkan siapa pun. Ia hanya terjadi, dan orang-orang yang mengiringi pengantin ikut mempercepat langkah. Pola yang sama, dengan isian dan aksen yang digeser sedikit, sanggup memindahkan suasana dari khidmat ke riang tanpa satu pun alat baru ditambahkan.
Serunai yang Berpindah Rasa Tanpa Pemberitahuan
Di atas lapisan gendang, serunai membawa melodi dalam tangga nada yang oleh tim itu dicatat mendekati a-b-c-d-e-f#-g-a’. Rekaman lapangan memperlihatkan motif utamanya muncul dalam dua rasa. Yang pertama terdengar riang, dengan jarak nada yang lebar. Yang kedua terdengar muram, dengan jarak setengah nada yang menyempit di beberapa tempat. Pemisahan itu bukan selera pemain semata. Data rekaman menunjukkan rasa riang lebih sering dipakai pada bagian arak-arakan yang meriah, sedangkan rasa muram muncul di bagian peralihan atau saat prosesi berpindah tahap. Pilihan itu berulang di banyak rekaman, dan keberulangannya yang membuat tim penyusun memperlakukannya sebagai aturan tidak tertulis, bukan kebetulan.
Peniup serunai menahan melodinya lewat pernapasan melingkar, cara bernapas yang memungkinkan bunyi tidak putus meski udara di dalam paru-paru diganti. Kemampuan itu, yang disebut Awaludin dalam kajian sebelumnya sebagai penanda mutu pemain, membuat serunai bisa menutupi seluruh pergantian pola gendang tanpa jeda. Di sinilah letak susunan yang sesungguhnya: gendang boleh berganti kerapatan, tetapi melodi tidak pernah berhenti. Pendengar merasa iringan itu utuh justru karena satu lapisan sengaja dibuat tidak pernah senyap. Dalam komposisi barunya, dua rasa itu tidak lagi dipisah menurut tahapan hajatan, melainkan dibiarkan berselang dan bahkan bertabrakan lewat teknik kanon, ketika kolintang dan akordeon memainkan motif yang berbeda tetapi masih bertaut secara harmonis.
Ketika Tiga Birama Dijalankan Bersamaan
Dalam komposisi Begendang Beserunai, susunan itu dilebarkan. Pada bagian pembuka, gendang panjang pertama tetap memainkan melalu dalam birama 4/4, sedangkan gendang kedua memainkan ningkah dalam 3/4. Dol, gendang besar khas Bengkulu, masuk kemudian dengan pola renggang dalam 6/8. Tiga birama berjalan bersamaan dan tidak satu pun mengalah. Ketegangan yang lahir dari situ dilepaskan pada titik peralihan, ketika seluruh alat pukul jatuh pada aksen yang sama, sebuah cara yang diambil dari praktik ansambel perkusi modern.
Baca juga Separuh Museum Indonesia Belum Menilai Koleksinya
Semua itu tidak disusun dari ingatan. Sebelum menulis satu birama pun, tim itu menempuh rancangan eksploratori berurutan: mengumpulkan bahan lapangan lebih dulu, baru mengukurnya. Mereka menghadiri pertunjukan gendang serunai di berbagai hajatan, mewawancarai seniman tradisi, komponis, serta pengajar karawitan dengan pedoman semiterstruktur, lalu membedah rekaman audio-visualnya memakai perangkat lunak Sonic Visualiser untuk menarik data frekuensi dan tempo. Hasil komposisinya sendiri direkam dalam format multitrack dengan perangkat lunak Studio One.
Aksentuasi dipakai sebagai alat pengatur tegangan, bukan sekadar latar. Analisis amplitudo atas rekaman karya itu menunjukkan aksen di bagian klimaks rata-rata 18 persen lebih keras dibandingkan bagian pembuka. Pada bagian kedua, yang lebih banyak menggarap melodi, motif utama muncul tujuh kali dengan variasi hiasan mencapai 65 persen, sehingga pengulangan tidak berubah menjadi kebosanan. Alat-alat pendukung yang tidak ada dalam format aslinya, seperti kolintang, akordeon, gitar bas, kompang, dan simbal, menambah warna tanpa memindahkan pusat bunyi dari serunai.
Baca juga Ketakutan Si Cantik dalam Novel Cantik Itu Luka
Teknik responsorial, yang di lapangan berlangsung antara serunai dan gendang, di panggung diperluas menjadi percakapan banyak alat. Pantun adat tentang penyerahan kunci tidak dinyanyikan sendirian, melainkan dijawab kelompok alat melodis dengan potongan motif serunai. Nyanyian dan alat musik bergantian mengambil giliran, seperti dua orang yang saling menyahut di seberang halaman. Dari kuesioner yang diisi lima puluh penonton, 78 persen menilai interaksi semacam itu menambah daya tarik pertunjukan, sementara 84 persen menyatakan nuansa tradisinya masih terasa kuat. Puncaknya justru datang dari cara yang paling sederhana, yakni unisono: seluruh alat melodis memainkan motif serunai secara serentak pada oktaf yang berbeda-beda, sesuatu yang hampir tidak pernah terdengar pada format aslinya di lapangan.
Di Titik Mana Penjelasannya Berhenti
Angka-angka itu perlu dibaca dengan hati-hati. Kuesioner diisi lima puluh orang yang mendengarkan karya itu dalam bentuk rekaman audio, bukan menonton pertunjukan langsung dengan gerak, busana, dan arak-arakan yang menyertainya. Tim penyusun juga mencatat hubungan sebesar 0,72 antara pemahaman penonton atas nilai tradisi dan penilaian estetiknya, dan angka itu hanya menunjukkan kaitan, bukan sebab-akibat. Mutu penilaian dijaga lewat triangulasi sumber dan pengecekan ulang kepada narasumber, tetapi jumlah pendengarnya tetap kecil dan berasal dari satu kesempatan saja. Lima puluh orang yang hadir di satu ruang pemutaran belum bisa mewakili penonton kesenian Bengkulu, apalagi pendengar musik tradisi di Indonesia.
Batasnya juga terasa pada apa yang tidak bisa dipindahkan. Begendang Beserunai tidak mempertahankan format asli ansambelnya, melainkan mengambil intinya, yaitu pola ritmis dan motif melodis, lalu menyusunnya kembali dalam kerangka baru. Cara itu berbeda dari penggarapan gamelan Bali kontemporer yang kerap mempertahankan ansambel penuh, dan berbeda pula dari peleburan musik tradisi ke dalam pop atau jaz, yang menempatkan unsur tradisi sebagai lapisan di atas format populer. Karya ini memilih tumbuh dari logika permainan gendang serunai sendiri. Konsekuensinya jelas: yang terdengar di panggung bukan gendang serunai, melainkan sesuatu yang tumbuh darinya, dan perbedaan itu tidak boleh dilipat menjadi satu.
Yang tersisa adalah soal yang tidak bisa dijawab satu komposisi. Kartomi dan Nettl, yang dikutip tim itu, menyebut tradisi yang hidup adalah tradisi yang sanggup berunding dengan zamannya, dan perundingan semacam itu tidak selesai di atas panggung. Sukerta serta Supanggah, dua rujukan utama dalam artikel tersebut, menekankan bahwa pendekatan tradisi menuntut pemahaman atas inti musiknya sebelum pembaruan dilakukan. Dokumentasi berupa partitur, rekaman, dan analisis tertulis memang dibuat dan bisa dipakai di kelas komposisi maupun etnomusikologi, tetapi ia baru menjadi bahan, belum menjadi penerus. Yang menentukan kelanjutan kesenian ini tetap orang-orang yang mau menghabiskan waktu belajar menempatkan pukulan di celah yang tepat.
Di jalan arak-arakan, pola itu tetap berjalan seperti dulu. Satu gendang memegang, satu gendang mengisi, dan keduanya terus menghindari ketukan yang sama. Yang berubah hanya jumlah telinga yang tahu bahwa ketidaksamaan itu disengaja.















