Aplikasi Android untuk Transkripsi Musik Minangkabau Diuji

A A

Pemain talempong mengiringi pertunjukan di Istana Pagaruyung, Sumatera Barat. [Foto: Wilma prima/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Pemahaman konsep transkripsi naik dari 60 persen menjadi 85 persen setelah aplikasi dipakai.
  • Aplikasinya memadukan chromatic tuner dan notation editor dengan ekspor MIDI atau MusicXML.
  • Skor kelayakan dari validator 4,6 untuk kemudahan dan 4,8 untuk manfaat pembelajaran.
  • Kelompok kontrol disebut di metode, tetapi angkanya tidak pernah dilaporkan.
Daftar Isi
  1. Tiga Puluh Mahasiswa
  2. Dua Fitur Inti
  3. Kotlin dan Material Design
  4. Uji Kelayakan Ahli
  5. Angka Sebelum dan Sesudah
  6. Kelompok Kontrol yang Hilang
  7. Empat Tahap di Tabel
  8. Batas Kajian Ini

Pemahaman mahasiswa soal transkripsi naik dari 60 ke 85 persen. Motivasi belajarnya naik dari 65 ke 90 persen. Kedua angka itu diambil sesudah mereka memakai satu aplikasi Android yang dibuat untuk mencatat musik tradisional Minangkabau ke dalam notasi digital.

Aplikasinya dikembangkan Susandra Jaya, Jhori Andela, dan Yurnalis dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Laporannya berjudul Inovasi Pembelajaran Transkripsi Musik Tradisional Minangkabau Berbasis Aplikasi Android bagi Mahasiswa Seni. Artikel itu terbit di Jurnal Musik Etnik Nusantara, Volume 5 Nomor 2 edisi Juli sampai Desember 2025.

Tiga Puluh Mahasiswa

Transkripsi selama ini dikerjakan manual. Mahasiswa mendengarkan sumber bunyi secara langsung, lalu mencatatnya memakai notasi balok atau notasi angka. Cara itu menuntut ketelitian tinggi dan waktu yang panjang, dan hasilnya sering meleset.

Penyebabnya disebut terang-terangan di bagian pendahuluan. Sistem nada dan ritme musik tradisional Minangkabau tidak sepenuhnya sejalan dengan sistem diatonik Barat. Akibatnya penentuan tinggi nada kerap tidak akurat, dan hasil transkripsinya sulit dipakai sebagai bahan ajar yang terstandar.

Penelitiannya memakai pendekatan Research and Development. Modelnya mengacu pada Borg dan Gall terbitan 1983 yang disederhanakan menjadi tiga tahap utama, yaitu analisis kebutuhan pengguna, perancangan sistem dan antarmuka, serta uji efektivitas pembelajaran di lingkungan akademik.

Tahap pertama berupa survei dan wawancara terhadap 30 mahasiswa. Mereka berasal dari Program Studi Seni Karawitan dan Etnomusikologi di kampus yang sama dengan para penulisnya. Yang digali adalah kesulitan mereka, fitur yang dibutuhkan, dan pandangan mereka atas teknologi dalam pembelajaran musik tradisional.

Hasil tahap itu menunjuk dua kendala. Sebagian besar mahasiswa kesulitan menentukan tinggi nada dan ritme karena tidak punya alat bantu digital. Mereka juga menilai media belajar yang ada tidak memberi umpan balik langsung terhadap hasil kerja mereka.

Pilihan perangkatnya juga dijelaskan. Aplikasi berbasis Android dinilai menjanjikan karena mudah diakses, bersifat portabel, dan sudah akrab bagi mahasiswa. Dengan perangkat itu, proses transkripsi diharapkan berjalan lebih efisien, lebih interaktif, dan lebih akurat daripada cara manual.

Dua Fitur Inti

Fitur pertamanya chromatic tuner. Alat ukur digital ini dipakai untuk mengukur tinggi nada non-diatonis khas Minangkabau dengan akurasi yang lebih baik. Hasil pengukurannya bisa langsung dibandingkan dengan acuan diatonis Barat yang baku.

Alasannya ada pada bunyi alat musiknya sendiri. Tiap ensambel disebut punya frekuensi nada yang berbeda, sehingga satu kelompok talempong pacik tidak akan sama nadanya dengan kelompok talempong pacik yang lain. Hal serupa berlaku pada talempong unggan, talempong uwaik-uwaik, talempong gandang lasuang, talempong kayu, dan momongan.

Fitur keduanya notation editor. Hasil pengukuran bisa langsung ditulis menjadi notasi digital, lalu disimpan, diubah, dan diekspor ke format MIDI atau MusicXML. Ada pula fitur pemutaran ulang, sehingga mahasiswa bisa mendengar hasil transkripsinya sendiri dan memperbaikinya bila keliru.

Kotlin dan Material Design

Aplikasinya ditulis dengan bahasa pemrograman Kotlin. Antarmukanya memakai Material Design agar mudah dioperasikan di berbagai perangkat Android. Naskahnya menyebut pilihan itu sesuai dengan prinsip perancangan yang berpusat pada pengguna.

Perangkat penulisan notasinya tidak dibuat sendiri. Naskah itu menyebut sederet aplikasi yang dipakai untuk menulis dan menyunting notasi, yaitu MuseScore, Flat: Music Score and Tab Editor, Maestro: Music Composer, Scribd, dan sejenisnya. Tidak ada keterangan mana di antaranya yang dipakai pada uji coba.

Uji kemudahan pakai dikerjakan pada 20 mahasiswa. Sebanyak 90 persen menilai aplikasinya mudah digunakan, 85 persen menilai tampilan antarmukanya menarik, dan 95 persen menyatakan fiturnya relevan dengan kebutuhan belajar mereka. Ketiganya diambil lewat kuesioner setelah mereka mencoba prototipenya.

Uji Kelayakan Ahli

Validasinya dua lapis. Lapis pertama melibatkan dua dosen musik tradisional dan satu pakar teknologi pembelajaran. Mereka menilai kesesuaian isi, fungsionalitas aplikasi, dan kelayakan pedagogisnya.

Skornya dilaporkan dua angka. Aspek kemudahan penggunaan memperoleh 4,6 dari 5,0, sedangkan aspek manfaat pembelajaran memperoleh 4,8. Dengan dua angka itu aplikasinya dinyatakan sangat layak dipakai.

Angka Sebelum dan Sesudah

Uji efektivitasnya memakai rancangan pretest dan posttest. Dua kelompok mahasiswa dilibatkan, yaitu kelompok eksperimen yang memakai aplikasi dan kelompok kontrol yang belajar secara konvensional. Datanya dikumpulkan lewat tes pemahaman konsep transkripsi dan kuesioner motivasi belajar.

Hasilnya dirangkum dalam satu tabel. Pemahaman konsep transkripsi tercatat 60 persen sebelum aplikasi dipakai dan 85 persen sesudahnya. Motivasi belajar tercatat 65 persen sebelumnya dan 90 persen sesudahnya, sehingga keduanya sama-sama naik 25 poin.

Dua ukuran yang sama-sama naik 25 poinPemahaman konsep 60% ke 85%; Motivasi belajar 65% ke 90%.Dua ukuran yang sama-sama naik 25 poinNilai rata-rata sebelum dan sesudah aplikasi dipakaiSebelumSesudah0%25%50%75%100%Pemahaman konsep60%85%Motivasi belajar65%90%Naskahnya menyebut kelompok kontrol, tetapi angkanya tidakdilaporkan.
Sumber: Susandra Jaya, Jhori Andela, dan Yurnalis, Inovasi Pembelajaran Transkripsi Musik Tradisional Minangkabau Berbasis Aplikasi Android, Jurnal Musik Etnik Nusantara, 5(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi

Kenaikan itu dibaca penulisnya lewat dua sifat aplikasi. Keduanya disebut interactivity dan immediacy, yaitu kemampuan memberi umpan balik seketika kepada penggunanya. Pembacaan itu disandarkan pada teori Technology Enhanced Learning yang dikutip dari Laurillard terbitan 2012.

Pengamatan selama uji coba mencatat dua hal lain. Mahasiswa disebut menjadi lebih reflektif terhadap proses mendengarkan dan menuliskan musik. Kerja kelompok juga bertambah, karena mereka meneliti satu repertoar bersama-sama lalu membandingkan hasil transkripsinya.

Kajian ini berdiri di atas beberapa penelitian sebelumnya. Darsono dan rekan-rekannya pada 2024 menguji pembelajaran musik Gamad berbantuan perangkat lunak dan YouTube. Saputra pada 2023 mengembangkan media pembelajaran alat musik tradisional Bali berbasis Android.

Bedanya diletakkan pada sasaran. Penelitian terdahulu disebut lebih banyak berhenti pada pengenalan alat musik dan penyajian audio-visual. Kajian ini mengarah ke transkripsi, yaitu proses mengubah bunyi menjadi notasi yang bisa dianalisis.

Kelompok Kontrol yang Hilang

Naskah itu memuat beberapa hal yang bisa diperiksa sendiri oleh pembacanya. Kelompok kontrol disebut dua kali di bagian metode dan hasil. Namun tabel hasilnya hanya memuat satu pasang angka sebelum dan sesudah, tanpa angka apa pun dari kelompok kontrol.

Akibatnya pembanding yang dijanjikan tidak bisa diperiksa. Pembaca hanya bisa membaca kenaikan pada kelompok yang memakai aplikasi. Naskahnya juga tidak menyebutkan berapa orang yang masuk ke masing-masing kelompok.

Abstraknya menyebut angka yang lain lagi. Di situ tertulis peningkatan pemahaman konsep transkripsi hingga 85 persen. Padahal 85 persen adalah nilai sesudah pemakaian aplikasi, sementara kenaikannya 25 poin dari 60 persen.

Empat Tahap di Tabel

Jumlah tahapnya juga tidak seragam. Badan teks menyebut tiga tahap utama, yaitu analisis kebutuhan, perancangan, dan uji efektivitas. Tabel tahapan penelitian di halaman berikutnya memuat empat baris, dengan evaluasi dan revisi produk sebagai tahap keempat.

Ada pula dua diagram yang diumumkan tetapi tidak ada. Naskah menulis bahwa dua diagram lingkaran dapat dipakai untuk memperjelas proporsi peningkatan hasil belajar. Isi kedua diagram itu lalu diuraikan dalam bentuk kalimat, sementara gambarnya tidak muncul di halaman mana pun.

Satu rujukan ikut bergeser tahunnya. Badan teks menyebut penelitian Hendriyani terbitan 2023 tentang aplikasi pengenalan alat musik tradisional Minangkabau berbasis augmented reality. Daftar pustakanya mencatat karya itu atas nama Frialdo dan Hendriyani dengan tahun 2021.

Baca juga Pantun Badondong Dilagukan dengan Melodi Berulang di Kampar

Batas Kajian Ini

Naskah ini tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri. Batasnya harus dibaca dari metodenya. Seluruh pesertanya berasal dari satu kampus, dengan 30 orang pada tahap analisis kebutuhan dan 20 orang pada uji kemudahan pakai.

Analisis datanya disebut deskriptif dan inferensial. Namun yang dilaporkan hanya persentase dan skor rata-rata, tanpa uji statistik apa pun yang dicantumkan angkanya. Tidak ada nilai peluang maupun ukuran sebaran di seluruh naskah tersebut.

“Pemahaman mahasiswa terhadap konsep transkripsi meningkat dari 60 persen menjadi 85 persen,” tulis Susandra Jaya, peneliti Institut Seni Indonesia Padangpanjang, bersama dua rekan penulisnya. Kalimat itu muncul di bagian simpulan, persis mengulang angka yang ada di tabelnya.

Saran lanjutannya ditulis di bagian akhir. Aplikasinya diusulkan ditambah fitur kolaborasi waktu nyata, analisis audio, dan simulator instrumen virtual. Pengujiannya juga diusulkan diperluas ke berbagai institusi seni di Indonesia.

Baca juga Salawat Kematian di Koto Panjang Hanya Dibaca di Rumah Duka

Yang tersisa dari uji itu dua pasang angka di satu tabel. Keduanya naik 25 poin, dan keduanya diambil dari kelompok yang sama. Sampai kelompok pembandingnya dilaporkan, kenaikan itu berlaku untuk mahasiswa yang memakai aplikasinya, bukan untuk perbandingan dengan cara belajar yang lama.

Bagikan

Baca Juga

Kucing Hitam Jadi Motif Tujuh Karya Batik Tulis Si Upiak
Pusako Randah Mengalir ke Anak Perempuan di Tujuh Daerah Minang
Bumi Minangkabau Festival 2026 Digelar Empat Hari di Batusangkar
Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi
Salawat Kematian di Koto Panjang Hanya Dibaca di Rumah Duka
Minat Investasi Kripto Mahasiswi Lebih Tinggi dari Mahasiswa