Minat Investasi Kripto Mahasiswi Lebih Tinggi dari Mahasiswa

A A

Ilustrasi anak muda bersantai sambil memegang ponsel di sebuah kafe. [Foto: Pexels]

  • Imbal hasil mencatat koefisien jalur terbesar terhadap minat berinvestasi pada kripto, yaitu 0,501.
  • Kemudahan penggunaan aplikasi dan influencer sama-sama berpengaruh positif, dengan koefisien 0,145 dan 0,112.
  • Mahasiswi menunjukkan minat berinvestasi pada kripto yang lebih tinggi daripada mahasiswa laki-laki.
  • Pengetahuan investasi menjadi mediator parsial dengan nilai upsilon yang berketerangan mediasi rendah.
  • Naskah tidak mencantumkan jumlah responden laki-laki dan perempuan di antara 702 orang.

Cekricek.id — Harapan imbal hasil dan unggahan influencer tentang kripto sama-sama tercatat mendorong minat investasi kripto 702 mahasiswa ekonomi di Indonesia, tetapi bobot keduanya terpaut jauh. Koefisien jalur imbal hasil terhadap minat berinvestasi mencapai 0,501, sedangkan influencer 0,112. Survei yang sama memuat hasil yang disebut penulisnya sebagai anomali: mahasiswi menunjukkan minat berinvestasi pada kripto yang lebih tinggi daripada mahasiswa laki-laki.

Penelitian itu ditulis Alif Lam Ra dan Rayna Kartika dari Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas. Naskahnya berjudul Factors Affecting University Students’ Intention to Invest in Cryptocurrency as a Digital Investment Instrument dan terbit di Jurnal Economia Volume 22 Nomor 2, Juni 2026, halaman 326 sampai 341. Naskah itu diterima pada 17 April 2025, direvisi pada 15 Desember 2025, dan disetujui pada 6 Januari 2026.

Pertanyaan yang diajukan keduanya menyangkut enam hal sekaligus. Imbal hasil, risiko, pengetahuan investasi, influencer, kemudahan penggunaan aplikasi, dan jenis kelamin diuji sebagai hal yang memengaruhi minat investasi kripto di kalangan mahasiswa. Pengetahuan investasi diberi peran ganda: ia diuji sebagai pendorong minat, dan juga sebagai perantara yang menyalurkan pengaruh imbal hasil serta risiko. Kerangka yang dipakai adalah teori perilaku terencana, dengan imbal hasil, risiko, dan pengetahuan investasi ditempatkan sebagai pembentuk sikap.

Influencer dan jenis kelamin ditempatkan sebagai wakil norma subjektif, yaitu tekanan sosial atau pandangan orang di sekitar seseorang. Kemudahan penggunaan dikaitkan dengan persepsi kendali atas perilaku, yaitu anggapan seseorang tentang sulit atau mudahnya melakukan sesuatu. Dari kerangka itu penulisnya menyusun sepuluh hipotesis: delapan berupa pengaruh langsung, dan dua berupa pengaruh tidak langsung imbal hasil serta risiko lewat pengetahuan investasi.

Daftar Isi
  1. Sampel yang Besar, Skala yang Pendek
  2. Imbal Hasil yang Kuat, Risiko yang Lebih Lemah
  3. Influencer dan Aplikasi, Dua Jalur Langsung
  4. Imbal Hasil dan Risiko, Dua Jalur Memutar
  5. Mahasiswi, Mahasiswa, dan Minat Investasi Kripto
  6. Angka Tabel, Kalimat Naskah, dan Batas Sampel

Sampel yang Besar, Skala yang Pendek

Populasi yang dibidik adalah mahasiswa bidang ekonomi di Indonesia, yang jumlahnya dicatat naskah sebanyak 1.973.798 orang menurut data PDDikti 2024. Sampelnya dipilih secara purposif: mahasiswa aktif fakultas ekonomi pada jenjang Diploma 3, Diploma 4, dan Sarjana. Kuesioner disebar lewat Google Forms pada 14 Oktober sampai 27 November 2024. Dari 716 isian yang masuk, 702 memenuhi kriteria, sedangkan sisanya gugur antara lain karena pengisinya bukan mahasiswa atau bukan mahasiswa fakultas ekonomi.

Jawaban dikumpulkan dengan skala Likert empat tingkat, dari 1 untuk sangat tidak setuju sampai 4 untuk sangat setuju. Jenis kelamin dikodekan dengan angka: laki-laki 1 dan perempuan 0. Butir pertanyaan diadaptasi dari penelitian terdahulu tentang minat mahasiswa pada pasar modal, lalu disesuaikan dengan kripto. Salah satu butir imbal hasil menyatakan responden tertarik pada kripto karena imbal hasilnya tinggi, sedangkan salah satu butir influencer menanyakan apakah unggahan influencer tentang kripto membuat responden tertarik berinvestasi.

Datanya diolah dengan pemodelan persamaan struktural berbasis kuadrat terkecil parsial, yang di naskah disingkat SEM-PLS, disertai bootstrapping. Menurut naskahnya, keunggulan utama metode itu adalah tidak bergantung pada asumsi data berdistribusi normal. Sebuah hubungan dinyatakan signifikan bila statistik t melampaui 1,96 dan nilai p di bawah 0,05. Nilai R kuadrat terkoreksi yang dilaporkan 0,641 untuk minat berinvestasi dan 0,491 untuk pengetahuan investasi, dengan Q kuadrat masing-masing 0,630 dan 0,489.

Imbal Hasil yang Kuat, Risiko yang Lebih Lemah

Dari semua jalur menuju minat investasi kripto, imbal hasil mencatat koefisien terbesar, 0,501, dengan statistik t 14,038 dan nilai p 0,000. Risiko berada di bawahnya dengan koefisien 0,115, statistik t 3,364, dan nilai p 0,001. Keduanya bertanda positif dan dinyatakan signifikan, sehingga hipotesis pertama dan kedua diterima. Pada kasus imbal hasil, penulisnya membaca hasil itu sebagai tanda bahwa imbal hasil yang diharapkan termasuk pertimbangan mahasiswa saat memilih instrumen investasi.

Imbal hasil mendorong minat berinvestasi paling kuatImbal hasil: koefisien 0,501; Kemudahan penggunaan: koefisien 0,145; Risiko: koefisien 0,115; Influencer: koefisien 0,112; Pengetahuan investasi: koefisien 0,094; Jenis kelamin: koefisien −0,141.Imbal hasil mendorong minat berinvestasipaling kuatKoefisien jalur langsung ke minat berinvestasi padakripto, 702 mahasiswa ekonomi−0,200,20,40,6Imbal hasil0,501Kemudahan penggunaan0,145Risiko0,115Influencer0,112Pengetahuan investasi0,094Jenis kelamin−0,141Laki-laki berkode 1 dan perempuan 0. Semua jalur dinyatakansignifikan oleh penulisnya.cekricek.id
Sumber: Ra dan Kartika (2026), Jurnal Economia 22(2): 326–341. Grafik: Cekricek.id

Pada kasus risiko, pembacaannya berbeda arah. Penulisnya menulis bahwa keyakinan dalam mengelola risiko termasuk faktor yang dipertimbangkan mahasiswa, dan bahwa instrumen dengan peluang risiko tinggi dianggap sepadan dengan imbal hasil yang diharapkan sehingga lebih menarik bagi mahasiswa. Butir pertanyaannya pun disusun ke arah itu. Salah satunya menyatakan bahwa investasi kripto dengan risiko tinggi yang disertai imbal hasil tinggi merupakan tantangan yang menarik bagi responden.

Pengetahuan investasi, peubah ketiga yang ditempatkan sebagai pembentuk sikap, mencatat koefisien paling kecil di antara pendorong yang bertanda positif, yaitu 0,094, dengan statistik t 2,316 dan nilai p 0,021. Hipotesis ketiga tetap diterima. Penulisnya menulis bahwa mahasiswa dengan pengetahuan investasi lebih tinggi lebih mungkin menunjukkan minat yang meningkat pada kripto. Butir pertanyaannya mencakup pengetahuan tentang jenis instrumen investasi, jenis koin kripto, blockchain, dan keberadaan kripto di bursa berjangka aset kripto.

Baca juga Fintech Lending Syariah dan Lama Menarik Lebih Banyak Investor

Influencer dan Aplikasi, Dua Jalur Langsung

Kemudahan penggunaan aplikasi mencatat koefisien 0,145 dengan statistik t 3,749, sedikit di atas influencer yang mencatat 0,112 dengan statistik t 3,198 dan nilai p 0,001. Keduanya bertanda positif dan signifikan. Pada kasus kemudahan, penulisnya menulis bahwa makin sederhana aplikasi investasi bagi mahasiswa, makin besar minat investasi kripto mereka. Butir pertanyaannya menyangkut petunjuk untuk tiap fitur di aplikasi dan kemudahan melakukan transaksi investasi yang diinginkan.

Beberapa tumpukan koin bitcoin berwarna perak dan tembaga di atas permukaan hitam
Ilustrasi tumpukan koin bitcoin di atas permukaan hitam. [Foto: Pexels]

Pada kasus influencer, penulisnya menulis bahwa makin besar pengaruh influencer terhadap mahasiswa, makin tinggi minat investasi kripto mereka. Butirnya menanyakan keinginan mengetahui apa yang dibicarakan influencer dan keinginan mengikuti apa yang mereka lakukan. Salah satunya menyatakan bahwa setelah melihat unggahan influencer tentang kegiatan investasinya, responden ingin mulai berinvestasi. Butir lain menyatakan influencer yang mengunggah konten investasi adalah influencer populer yang kerap disorot karena bahasannya.

Kedua peubah ini dibaca penulisnya sebagai jalur yang tidak harus melewati pemahaman investasi. “Di kalangan investor pemula, seperti mahasiswa, keputusan investasi kerap didorong oleh motivasi nonkognitif,” tulis Alif Lam Ra dan Rayna Kartika. Menurut keduanya, influencer dan kemudahan penggunaan merangsang minat berinvestasi lewat daya tarik emosional atau kemudahan akses, sehingga ketergantungan pada pengetahuan mendalam berkurang pada tahap awal.

Imbal Hasil dan Risiko, Dua Jalur Memutar

Selain jalur langsung, imbal hasil dan risiko diuji pengaruhnya terhadap pengetahuan investasi. Di sini imbal hasil kembali lebih besar. Koefisien jalur imbal hasil ke pengetahuan investasi 0,575 dengan statistik t 18,875, koefisien tertinggi di seluruh tabel, sedangkan risiko ke pengetahuan investasi 0,220 dengan statistik t 6,669. Nilai p keduanya 0,000. Penulisnya menulis bahwa makin besar pemahaman mahasiswa tentang imbal hasil, makin bertambah pengetahuan investasinya, dan hal serupa berlaku untuk pemahaman tentang risiko.

Imbal hasil lebih kuat membentuk pengetahuan investasiImbal hasil: koefisien 0,575; Risiko: koefisien 0,220.Imbal hasil lebih kuat membentuk pengetahuaninvestasiKoefisien jalur ke pengetahuan investasi00,20,40,6Imbal hasil0,575Risiko0,220Statistik t 18,875 untuk imbal hasil dan 6,669 untuk risiko.cekricek.id
Sumber: Ra dan Kartika (2026), Jurnal Economia 22(2): 326–341. Grafik: Cekricek.id

Jalur memutar itu, dari imbal hasil atau risiko lewat pengetahuan investasi menuju minat investasi kripto, juga signifikan. Pengaruh tidak langsung imbal hasil tercatat 0,054 dengan statistik t 2,285 dan nilai p 0,022. Pengaruh tidak langsung risiko tercatat 0,021 dengan statistik t 2,159 dan nilai p 0,031. Karena pengaruh langsung dan tidak langsung sama-sama signifikan, pengetahuan investasi disebut sebagai mediator parsial, sehingga hipotesis kesembilan dan kesepuluh diterima.

Besarnya mediasi diukur dengan statistik upsilon. Naskah memakai patokan 0,175 untuk pengaruh mediasi yang besar, 0,075 untuk sedang, dan 0,01 untuk kecil. Nilai upsilon jalur imbal hasil tercatat 0,0029 dan jalur risiko 0,0004, keduanya berketerangan mediasi rendah. “Bukti empiris menunjukkan bahwa pengaruh langsung imbal hasil terhadap niat berinvestasi jauh lebih dominan daripada pengaruh tidak langsung melalui mediator,” tulis kedua peneliti.

Jalur langsung jauh lebih besar daripada jalur lewat pengetahuanImbal hasil: Langsung 0,501, Lewat pengetahuan investasi 0,054; Risiko: Langsung 0,115, Lewat pengetahuan investasi 0,021.Jalur langsung jauh lebih besar daripadajalur lewat pengetahuanKoefisien pengaruh langsung dan tidak langsung ke minatberinvestasiLangsungLewat pengetahuan investasi00,20,40,60,5010,054Imbal hasil0,1150,021RisikoNilai upsilon mediasi 0,0029 untuk imbal hasil dan 0,0004 untukrisiko, keduanya berketerangan mediasi rendah.cekricek.id
Sumber: Ra dan Kartika (2026), Jurnal Economia 22(2): 326–341. Grafik: Cekricek.id

Pada kasus kedua, kesimpulannya serupa. Naskah menyebut pengaruh langsung risiko terhadap minat berinvestasi jauh melampaui pengaruh tidak langsungnya lewat pengetahuan investasi. Dari dua jalur memutar itu penulisnya menarik satu pembacaan: imbal hasil dan risiko yang tinggi mendorong orang mencari dan menambah pengetahuan investasi. Pengetahuan itu, tulis mereka, tidak hanya menumbuhkan minat, tetapi juga memperkuat minat yang sudah lebih dulu dipicu oleh imbal hasil dan risiko.

Mahasiswi, Mahasiswa, dan Minat Investasi Kripto

Satu-satunya koefisien bertanda negatif dalam tabel milik jenis kelamin, yaitu minus 0,141, dengan statistik t 2,974 dan nilai p 0,003. Karena laki-laki diberi kode 1 dan perempuan kode 0, tanda negatif itu dibaca penulisnya sebagai minat investasi kripto yang lebih tinggi pada mahasiswi daripada mahasiswa laki-laki. Hipotesis kedelapan diterima. Penulisnya menyebut temuan ini anomali bila disandingkan dengan penelitian yang mereka rujuk.

Penjelasan yang ditawarkan keduanya bertumpu pada generasi Z dan aset digital. Investasi kripto, tulis mereka, kerap dipandang mengikuti tren dan mudah diakses, sehingga pengaruh sosial dari teman sebaya dan influencer lebih menentukan daripada analisis fundamental. Karena itu, menurut penulisnya, mahasiswi mungkin lebih tertarik pada instrumen keuangan yang sedang tren tersebut, sehingga mampu melampaui hambatan psikologis tradisional terhadap risiko yang melekat pada investasi konvensional.

Baca juga Sudah Punya Rekening, Belum Tentu Terlayani

“Temuan ini menantang paradigma yang berlaku dalam literatur keuangan perilaku dan menandakan pergeseran perilaku pengambilan risiko serta adopsi aset digital di kalangan investor muda di Indonesia, khususnya mahasiswa,” tulis Alif Lam Ra dan Rayna Kartika dalam kesimpulan. Pada bagian pembahasan, keduanya juga menulis bahwa perempuan cenderung mengambil risiko lebih besar dan lebih bersedia menerimanya dibandingkan laki-laki.

Penjelasan itu tidak diuji tersendiri di dalam model. Naskah tidak memuat uji yang memisahkan sikap terhadap risiko menurut jenis kelamin, dan tidak mencantumkan berapa responden laki-laki serta berapa responden perempuan di antara 702 orang itu. Penulisnya sendiri menyarankan penelitian lanjutan memakai metode campuran untuk menggali lebih dalam alasan di balik anomali jenis kelamin tersebut.

Angka Tabel, Kalimat Naskah, dan Batas Sampel

Keterbatasan yang diakui penulisnya menyangkut ukuran sampel. “Peneliti hanya mampu mengumpulkan sampel sebanyak 702 orang, sebuah keterbatasan dalam penelitian ini,” tulis keduanya. Mereka menyarankan model yang sama diulang pada populasi yang lebih beragam di luar mahasiswa, untuk membandingkan perilaku investasi masyarakat umum. Di bagian pendahuluan, penggunaan sampel yang lebih besar dan lebih representatif justru disebut sebagai salah satu sumbangan penelitian ini.

Beberapa angka di badan naskah tidak sama dengan tabelnya. Pada pembahasan risiko, nilai p ditulis 0,01, sedangkan tabel mencantumkan 0,001. Pada pembahasan pengaruh tidak langsung risiko, teks membandingkan 0,022 dengan 0,031, padahal tabel mencantumkan nilai p 0,031 untuk jalur itu. Nilai upsilon jalur imbal hasil, 0,0029, ditulis lebih kecil dari 0,001, padahal angka itu lebih besar dari 0,001.

Baca juga Wirausaha Pemuda Berinternet Berpendapatan 55 Persen Lebih

Kalimat pembahasan pengetahuan investasi juga mengulang kalimat dari pembahasan risiko, yaitu bahwa keyakinan dalam mengelola risiko termasuk faktor yang dipertimbangkan mahasiswa saat memilih instrumen. Klaim bahwa influencer dan kemudahan penggunaan bekerja tanpa melewati pengetahuan investasi pun tidak diuji sebagai jalur mediasi, karena model hanya menguji pengetahuan investasi sebagai perantara bagi imbal hasil dan risiko.

Naskah menutup dengan saran untuk tiga pihak. Platform investasi kripto disarankan memperbaiki kemudahan aplikasi pialang dan investasi, serta memanfaatkan influencer untuk edukasi yang transparan, bukan sekadar promosi. Lembaga pendidikan didorong memasukkan literasi aset digital yang menyeluruh ke kurikulum. Regulator diminta memperkuat kampanye edukasi tentang risiko nyata dan manajemen kerugian, karena risiko termasuk pendorong utama minat investasi kripto mahasiswa.

Kedua kelompok temuan itu berdiri berdampingan dalam naskah ini. Imbal hasil tercatat sebagai jalur terkuat menuju minat investasi kripto, sedangkan influencer dan kemudahan aplikasi tercatat sebagai jalur yang lebih kecil tetapi tetap signifikan. Pengetahuan investasi bekerja di dua tempat sekaligus, sebagai pendorong langsung dan sebagai perantara, dengan bobot mediasi yang oleh penulisnya sendiri diberi keterangan rendah.

Bagikan

Baca Juga

IA-CEPA, Mutu Ekspor Lebih Menentukan daripada Volume Dagang
Kemiskinan Nusa Tenggara Barat Turun Seiring Upah Minimum
DAK Nonfisik Tekan Kemiskinan, DAK Fisik Bekerja di Kepulauan
Ibu Tunggal Bercerai dan Ditinggal Mati, Beda Jalur Kemiskinan
Program Indonesia Pintar Tak Terbukti Tekan Putus Sekolah SMA
Ekonom UGM Urai Selisih Angka Kemiskinan Bank Dunia dan BPS