Papan Nama Kuliner Jalan Belibis Dikuasai Bahasa Indonesia

A A

Bangunan rumah makan beratap gonjong dengan papan nama di Kota Padang, Sumatera Barat. [Foto: Rhmtdns/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Sebanyak 44 dari 76 papan nama kuliner di Jalan Belibis hanya memakai satu bahasa.
  • Bahasa Indonesia tunggal paling dominan dengan 53,94 persen, disusul pasangan bahasa Indonesia dan Inggris 25,00 persen.
  • Fungsi simbolik yang berkaitan dengan prestise bahasa asing muncul pada 32 papan atau 42,11 persen.
  • Kata Minang seperti Ampera, Bofet, Kadai, dan Teh Talua dicatat pada 26 papan yang berfungsi budaya.

Cekricek.id — Sarah Junyanti Vefa bersama dua koleganya dari Universitas Negeri Padang memotret dan mencatat 76 papan nama kuliner di sepanjang Jalan Belibis, Kelurahan Air Tawar Barat, Kota Padang. Dari papan warung, kafe, gerai, dan kedai itu, Vefa ingin menjawab dua hal: pola bahasa apa yang dipajang para pemilik usaha, dan fungsi apa yang dijalankan bahasa tersebut di ruang niaga dekat kampus.

Vefa mengerjakan penelitian itu bersama Agustina dan Muhammad Adek, ketiganya dari Universitas Negeri Padang. Hasilnya terbit dengan judul Konstruksi Identitas Kuliner dan Prestise Bahasa: Analisis Lanskap Linguistik pada Papan Nama Usaha di Jalan Belibis, Kota Padang dalam jurnal Persona Volume 5 Nomor 2 tahun 2026, halaman 209–218. Menurut ketiganya, Jalan Belibis berbatasan langsung dengan kompleks kampus UNP dan didominasi mahasiswa dari berbagai daerah serta masyarakat lokal Minangkabau.

Temuan pertama Vefa, Agustina, dan Adek menyangkut jumlah bahasa. Sebanyak 44 papan nama kuliner atau 58 persen hanya memakai satu bahasa. Papan dua bahasa berjumlah 29 atau 38 persen, sedangkan papan tiga bahasa hanya 3 atau 4 persen. Bila dirinci per bahasa, bahasa Indonesia tunggal menempati posisi teratas dengan 53,94 persen, disusul pasangan bahasa Indonesia dan Inggris 25,00 persen, lalu pasangan bahasa Indonesia dan Minangkabau 7,89 persen.

Temuan kedua mereka menyangkut fungsi. Menurut Vefa dan rekan-rekannya, seluruh 76 papan menjalankan fungsi informatif sekaligus ekonomi. Fungsi simbolik yang berkaitan dengan modernitas dan prestise bahasa asing, terutama bahasa Inggris, muncul pada 32 papan atau 42,11 persen. Fungsi budaya yang berkaitan dengan identitas etnis Minangkabau ditemukan pada 26 papan atau 34,21 persen. Ketiga peneliti membaca kawasan itu sebagai tempat bertemunya arus globalisasi, kebijakan nasional, dan loyalitas lokal.

Daftar Isi
  1. Memotret Papan Nama Kuliner di Tepi Kampus UNP
  2. Memilah Papan Berbahasa Tunggal
  3. Mencatat Papan Nama Kuliner Dua Bahasa
  4. Menemukan Tiga Bahasa pada Satu Papan
  5. Membaca Harga, Jam Buka, dan Gengsi
  6. Menimbang Kata Minang di Antara Menu

Memotret Papan Nama Kuliner di Tepi Kampus UNP

Vefa, Agustina, dan Adek memakai pendekatan deskriptif kualitatif yang ditopang hitungan persentase sederhana. Data mereka adalah seluruh satuan bahasa, entah kata, frasa, klausa, atau kalimat, yang tertulis pada papan nama usaha kuliner di sepanjang Jalan Belibis. Setiap papan dihitung sebagai satu unit analisis dan diberi kode, mulai dari LL-1 sampai LL-76.

Pengumpulan data dilakukan lewat observasi lapangan dan dokumentasi foto. Setelah foto terkumpul, tim Vefa menyalin teks utama tiap papan, mengenali bahasa yang dipakai, lalu mengelompokkannya ke pola monolingual, bilingual, atau multilingual. Fungsi setiap papan kemudian dikodekan dengan empat indikator: informatif, ekonomi, simbolik, dan budaya. Menurut ketiga peneliti, pengodean dengan indikator bahasa dan fungsi tanda itu dipakai untuk menjaga konsistensi analisis.

Naskah Vefa, Agustina, dan Adek tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Mereka juga tidak menyebut kapan observasi di Jalan Belibis dilakukan, berapa lama pemotretan berlangsung, atau seberapa panjang ruas jalan yang disusuri. Satu hal yang mereka catat di pendahuluan adalah bahwa kajian yang khusus menyoroti papan nama kuliner di kawasan komersial sekitar kampus di Kota Padang masih belum banyak dilakukan.

Memilah Papan Berbahasa Tunggal

Dari 44 papan nama kuliner satu bahasa, Vefa dan rekan-rekannya mendapati 41 papan memakai bahasa Indonesia secara murni, setara 53,94 persen dari seluruh data. Contoh yang mereka catat antara lain Roti Bakar Bandung Yuniver Aisyah (LL-2), Teh Es Teta, 100% Gula Asli (LL-3), Kopi Plato, Kopi dan Pemikiran dalam Satu Kesatuan (LL-4), serta Siomay Ikan 99 Bandung (LL-17).

Salah satu papan yang dibahas lebih panjang oleh Vefa adalah milik Gerai Nazeera (LL-18). Papan itu berbunyi Belanja Hemat Harga Nikmat, Mau Ngopi? Ngeteh? Seduh Sendiri Yaaa. Menurut ketiga peneliti, kalimat persuasif semacam itu menunjukkan keintiman komunikatif yang dibangun pemilik usaha dengan pelanggan melalui bahasa Indonesia nonformal. Dominasi bahasa Indonesia, tulis mereka, juga menunjukkan posisi bahasa nasional sebagai bahasa publik yang inklusif di kawasan komersial kampus.

Baca juga 54 Papan Iklan Bukittinggi dan Bahasa yang Dipilih

Bentuk satu bahasa lainnya jauh lebih jarang. Vefa mencatat hanya dua papan berbahasa Minangkabau saja, yaitu Ampera Ajo (LL-27) dan Kadai Ante (LL-73), atau 2,63 persen. Menurut ketiga peneliti, papan itu menegaskan identitas lokal dan langsung menyasar pencinta kuliner khas Minangkabau. Papan berbahasa Inggris saja hanya satu, Smoothies & Me, Avocado Smoothies, Ice Blend, Chocolate, Mango Thai (LL-13), yang menurut mereka membangun citra modern bagi mahasiswa penyuka kuliner ala Barat.

Mencatat Papan Nama Kuliner Dua Bahasa

Papan dua bahasa berjumlah 29, dan Vefa menemukan pasangan bahasa Indonesia dan Inggris paling banyak, yakni 19 papan atau 25,00 persen. Contohnya Cafe Talang Parindu (LL-1), Shinta’s Kitchen, Ready Risol (LL-10), Food Court Universitas Negeri Padang (LL-12), Mutiara Cafe (LL-21), Cafe Aci (LL-28), serta Teh Hijau Selah, Thai Green Tea Original, Cup Besar 5K, Cup Kecil 3K (LL-39).

Agustina, Adek, dan Vefa menilai kombinasi itu menggambarkan upaya mencampurkan dua budaya. Kata seperti Cafe, Kitchen, Food Court, Premium, dan Coffee, tulis mereka, menunjukkan bahwa bahasa Inggris dimanfaatkan sebagai perangkat pencitraan komersial. Bagi mahasiswa di sekitar Jalan Belibis, menurut ketiga peneliti, istilah-istilah tersebut memberikan daya tarik sosial tersendiri. Pada Cafe Talang Parindu, misalnya, mereka mencatat kata serapan Cafe disandingkan dengan nama tumbuhan lokal Talang Parindu.

Pasangan bahasa Indonesia dan Minangkabau muncul pada 6 papan atau 7,89 persen. Vefa mencatat Ayam Bakar Bofet Madu Citra yang menjual Teh Talua (LL-50), Warung Campus dengan Teh Talua Melimpah dan Ayam Penyet Sambel Ijo (LL-55), Ayam Geprek Haura dengan Lado Hijau dan Lado Merah (LL-64), serta Sate Ajo dan Sate Lokan (LL-68). Menurut para peneliti, Ajo adalah panggilan kehormatan laki-laki Minang, khususnya dari Pariaman, sedangkan Lokan adalah jenis kerang lokal.

Segelas teh talua bersedotan di atas lepek di meja sebuah warung
Segelas teh talua di atas meja sebuah warung di Kota Padang, Sumatera Barat. [Foto: SpartacksCompatriot/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)]

Ketiga peneliti membaca paduan itu sebagai strategi pemasaran untuk menegaskan keaslian resep tradisional Minang sekaligus menjaga keakraban budaya dengan konsumen lokal Padang. Vefa juga menemukan 3 papan atau 3,94 persen yang memadukan bahasa Minangkabau dan Inggris. Contohnya Sikolu, Best Seler Coffe (LL-60), dengan Sikolu berarti ajakan “Ke sinilah!”, dan Kadai Fitri, Food and Drink (LL-66).

“Kombinasi ini sangat unik karena mempertemukan leksikon tradisional Minang (Kadai) langsung dengan bahasa global (Inggris) tanpa perantara bahasa Indonesia,” tulis Sarah Junyanti Vefa, Agustina, dan Muhammad Adek. Mereka menyebut gejala itu glokalisasi, paduan global dan lokal yang melompati sekat bahasa nasional. Satu papan lagi, Bakso Ojolali, Mie Ayam (LL-53), memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa. Ojolali berarti “jangan lupa”, dan menurut ketiga peneliti frasa itu mengindikasikan pengaruh migrasi budaya Jawa ke ranah Minang.

Vefa dan rekan-rekannya juga mencatat satu perbedaan dengan kajian tanda restoran di tempat lain di Indonesia. Di Jalan Belibis, tulis mereka, pilihan bahasa pada papan tidak terutama diarahkan kepada wisatawan, tetapi kepada konsumen mahasiswa dan masyarakat lokal. Bakso Ojolali pun, menurut ketiganya, sekaligus menjadi strategi pemasaran bahwa bakso dan mi ayam yang dijual memiliki cita rasa khas Jawa asli.

Menemukan Tiga Bahasa pada Satu Papan

Papan tiga bahasa paling sedikit. Vefa hanya menemukan 3 papan, semuanya memadukan bahasa Indonesia, Minangkabau, dan Inggris. Ada Kadai Bunda yang menawarkan Minuman Panas, Minuman Dingin, Cappucino, Extra Joss, Pop Ice, dan Nutrisari (LL-46); Kadai Lamak, yang berarti warung enak, dengan Risol Frozen, Kentang Goreng, dan Banroll Coklat (LL-47); serta Ayam Geprek Thamrin dengan Lado Hijau, Lado Merah, dan Fried Chiken (LL-72).

Menurut Vefa, Agustina, dan Adek, pola ini menunjukkan betapa kompleksnya kontak bahasa pada lanskap kuliner Jalan Belibis. Para pemilik kedai, tulis mereka, berusaha merengkuh dimensi lokal seperti Kadai Lamak dan Lado Hijau, dimensi nasional seperti Ayam Geprek dan Minuman Panas, serta dimensi global seperti Fried Chiken dan Frozen dalam satu papan nama kuliner demi memaksimalkan daya jangkau pasar.

Baca juga Tujuh Bahasa pada Papan Nama Kebun Raya Bogor

Ada beberapa angka yang tidak seragam dalam naskah Vefa dan rekan-rekannya. Tabel pertama menulis papan multilingual 4 persen, sementara uraiannya menyebut 3,94 persen. Tabel kedua mencantumkan satu papan berlabel Bahasa Inggris–Bahasa Indonesia, padahal uraian menyebut papan itu berbahasa Inggris saja, dan hanya dengan cara baca kedua jumlah papan satu bahasa genap 44. Persentase 41 dari 76 papan juga ditulis 53,94 persen, sedangkan hasil pembulatannya 53,95 persen.

Membaca Harga, Jam Buka, dan Gengsi

Seluruh 76 papan, menurut Vefa, menjalankan fungsi informatif dan ekonomi karena semuanya papan komersial. Papan itu menyebut jenis usaha seperti Rumah Makan, Cafe, Food Court, Bofet, Gerai, dan Warung, serta menu seperti Pecel Ayam, Siomay, Bubur Ayam, Thai Tea, dan Es Durian. Sebagian mencantumkan harga, misalnya Rp10.000 (LL-11), Nyaman Cuma 6000-an! (LL-19), dan Cuma 5000!!! (LL-44), yang menurut peneliti ditujukan kepada mahasiswa pencari harga terjangkau.

Vefa juga mencatat layanan tambahan seperti Terima Pesanan (LL-32) dan Buka 24 Jam (LL-35), informasi operasional bagi mahasiswa yang membutuhkan makanan pada malam hari. Secara ekonomi, tulis ketiga peneliti, tulisan pada papan dirancang untuk meminimalkan ketidakpastian konsumen sebelum masuk kedai. Informasi produk yang jelas dan harga murah pada papan nama kuliner, menurut mereka, berfungsi sebagai strategi pemasaran langsung di kawasan padat mahasiswa.

Fungsi simbolik ditemukan Vefa pada 32 papan atau 42,11 persen, ditandai pemakaian bahasa Inggris atau istilah asing populer. Pada Shinta’s Kitchen, Ready Risol (LL-10), akhiran kepemilikan ’s serta kata Kitchen dan Ready dinilai memberi kesan risoles dibuat secara profesional, higienis, dan modern dibandingkan risoles pasar tradisional. Risol Premium (LL-20), Breezo Coffee (LL-41), dan Food & Drink Semanggi (LL-75) dibaca serupa, sebagai upaya membangun citra eksklusif, trendi, dan bersih.

“Bagi konsumen mahasiswa, makan atau nongkrong di tempat dengan nama berbahasa Inggris memberikan kepuasan simbolik berupa pengakuan kelas sosial yang modern dan melek tren global,” tulis Vefa, Agustina, dan Adek. Dari situ ketiganya menyimpulkan bahwa pilihan bahasa pada papan nama tidak dapat dipisahkan dari sikap bahasa dan identitas sosial yang ingin dibangun pemilik usaha.

Menimbang Kata Minang di Antara Menu

Fungsi budaya ditemukan Vefa pada 26 papan atau 34,21 persen. Kata Ampera (LL-27, LL-32, LL-35), menurut ketiga peneliti, merujuk pada warung nasi khas Minang dengan porsi kenyang dan harga murah. Bofet (LL-29, LL-33, LL-50) menandai tempat makan legendaris atau kedai makanan dan minuman tradisional, sedangkan Kadai (LL-46, LL-47, LL-66, LL-73) menggantikan kata warung atau toko untuk memberi kedekatan emosional etnis.

Nama menu juga dicatat Agustina, Adek, dan Vefa. Teh Talua (LL-50, LL-55) mereka sebut minuman kesehatan khas Minang berbahan kuning telur, Lado Hijau dan Lado Merah (LL-64, LL-72) menandai cita rasa pedas khas Minangkabau, dan Mie Padeh (LL-40) memakai kata padeh yang berarti pedas. Gelar kekerabatan Ajo (LL-27, LL-68) dan Uwan (LL-33), menurut mereka, membangun kepercayaan konsumen bahwa makanan dimasak langsung oleh orang Minang asli.

Baca juga Sinonggi Tolaki, Makanan Paceklik yang Kini Jadi Ikon Daerah

Vefa dan rekan-rekannya juga menemukan nama daerah seperti Padang, Bandung, Bangka, Cianjur, dan Solo pada papan nama kuliner, misalnya Soto Padang, Roti Bakar Bandung, dan Bakmi Bangka. Menurut mereka, nama-nama itu bekerja sebagai indeks kuliner regional yang memproyeksikan reputasi rasa tertentu. Papan Ibulik Padang, Haritage of Taste, Warung Makan (LL-15) memadukan identitas lokal Padang, jenis usaha tradisional, dan klaim warisan rasa.

“Bahasa Minangkabau diaktifkan sebagai ‘alat penjamin mutu’ keaslian rasa kuliner tradisional yang tidak dapat digantikan oleh bahasa asing,” tulis Sarah Junyanti Vefa dan kedua rekannya. Menurut mereka, fungsi budaya ini membuktikan bahwa identitas lokal Minangkabau tetap memiliki ruang pertahanan yang sangat kokoh melalui lanskap kuliner, di tengah gempuran globalisasi bahasa Inggris.

Di bagian simpulan, Vefa kembali ke 76 papan nama kuliner yang dipotret timnya di Jalan Belibis. Bahasa Indonesia, tulisnya bersama Agustina dan Adek, berposisi sangat kuat sebagai alat komunikasi utama yang inklusif, sementara bahasa Inggris dan Minangkabau hadir sebagai elemen pelengkap. Para pemilik usaha di sana, menurut ketiganya, menyandingkan bahasa Inggris untuk produk modern dan bahasa Minangkabau untuk kuliner tradisional demi memenangkan persaingan pasar di lingkungan komersial kampus.

Bagikan

Baca Juga

Ular Suku Arfak di Manokwari, Pangan dan Obat dari Hutan
Lalapan Cireundeu Tercatat 38 Jenis, Kebun Jadi Sumber Utama
Sinonggi Tolaki, Makanan Paceklik yang Kini Jadi Ikon Daerah
Tujuh Bahasa pada Papan Nama Kebun Raya Bogor
Air Bersih dan KKN Kebencanaan di Kota Padang
54 Papan Iklan Bukittinggi dan Bahasa yang Dipilih