- Warga Cireundeu hanya memetik dua sampai tiga pucuk singkong per batang agar hasil umbi tidak berkurang.
- Tim Universitas Padjadjaran mendata 38 spesies lalapan dari 24 famili, dengan Asteraceae paling banyak.
- Singkong dan pepaya meraih RFC 1,00, disusul pohpohan 0,64 dan sintrong 0,38.
- Kebun menjadi sumber lalapan terbesar dengan 62 persen, sedangkan hutan jarang dipakai karena jauh dari permukiman.
- Pengetahuan lalapan diwariskan lisan, tetapi pewarisannya ke generasi muda kini menurun.
Cekricek.id — Di kebun singkong Kampung Cireundeu, Cimahi, warga hanya memetik dua sampai tiga pucuk per batang untuk lalapan Cireundeu, agar hasil umbinya tidak berkurang.
Pucuk lain diambil dari singkong yang tumbuh liar. Ada pula yang dipetik dari batang singkong yang dijadikan pagar batas kebun.
Cara petik itu tercatat dalam kajian etnobotani tentang lalapan, yang dalam bahasa Sunda disebut lalaban. Timnya mendata 38 spesies tanaman lalapan dari 24 famili di kampung tersebut.
Kajian itu ditulis Budi Irawan, Dhea Shinta Pratitis Siagian, Annisa, Eneng Nunuz Rohmatullayaly, Muhammad Ihsan, dan Suryana. Keenamnya berasal dari Departemen Biologi FMIPA Universitas Padjadjaran.
Dua penulis lain ialah Johan Iskandar dari departemen yang sama. Lalu Budiawati S. Iskandar dari Departemen Antropologi FISIP Universitas Padjadjaran.
Artikel mereka, Ethnobotany of lalaban as a food source in the peri-urban Sundanese community of Cireundeu Hamlet, West Java, Indonesia, dimuat Biodiversitas Volume 27 Nomor 3 tahun 2026.
Naskah bernomor d270328 itu terdiri atas 15 halaman. Revisinya diterima pada 24 Maret 2026, dan risetnya didanai program RKDU HRU Universitas Padjadjaran 2024.
Pendahuluan paper menegaskan kedudukan lalapan itu. “Bagi Cireundeu, lalapan lebih dari sekadar makanan; ia bagian dari identitas budaya, filosofi, dan ketahanan pangan mereka,” tulis Budi Irawan dan tujuh koleganya.
Leuwigajah
Kampung Cireundeu masuk wilayah RW 10, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Letaknya tercatat di 6°54'51,7" LS dan 107°31'22,2" BT.
Nama kampung ini diambil dari tanaman reundeu. Tingginya sekitar 15 sentimeter, batangnya lemah, daunnya panjang, besar, dan saling berhadapan, sedangkan bunganya ungu.
Kampung itu dikelilingi bukit dan hutan. Para penulis mencatat tekanan pembangunan infrastruktur dan permukiman di sekitar Kota Cimahi, yang merugikan pertumbuhan lalapan liar.
Penghuninya 114 orang dari 56 keluarga. Laki-lakinya 54 orang, perempuannya 60 orang.
Kelompok terbesar adalah lansia berusia 51 sampai 80 tahun, yakni 53 orang. Ada 43 orang dewasa berusia 21 sampai 50 tahun, sembilan remaja, dan sembilan anak.
Pekerjaan paling banyak adalah ibu rumah tangga. Pensiunan dan pegawai negeri sipil paling sedikit, sementara lulusan sekolah dasar merupakan kelompok pendidikan terbanyak.
Di Cireundeu, beras tidak menjadi makanan pokok. Hampir semua warga meninggalkan beras dan beralih ke rasi, beras singkong, yang biasa dimakan dengan lalapan dan sambal.
Pendahuluan paper menulis peralihan itu berlangsung sejak 1918. Namun, bagian pembahasan menyebut warga mengonsumsi rasi sejak 1924.
Pembahasan juga mencatat kekeringan hebat melanda sawah pada 1918, disertai kelangkaan beras pada masa kolonial Belanda. Warga lalu beralih ke singkong, tanaman yang lebih tahan di lahan marginal.
Baca juga Kampung Naga, Larangan Listrik, dan Kampung Kedua Bernama Sanaga
Tim datang membawa alat tulis, buku catatan, kamera ponsel, lembar kuesioner, pedoman wawancara, dan perekam suara. Data dihimpun lewat wawancara, observasi partisipatif, eksplorasi, identifikasi, dan dokumentasi.
Wawancara semi-terstruktur melibatkan 13 informan kunci, yaitu sembilan laki-laki dan empat perempuan berusia 38 sampai 66 tahun. Penelusurannya dimulai dari sesepuh kampung, perangkat desa, dan organisasi PKK.
Kuesioner diberikan kepada 56 kepala keluarga, terdiri atas 31 laki-laki dan 25 perempuan berusia 20 hingga 80 tahun. Totalnya, 69 orang menyumbang keterangan.
Sebelum turun, tim menyurati pemerintah setempat dan meminta izin otoritas adat Cireundeu. Persetujuan tertulis diminta sebelum setiap wawancara dan sensus.
Daftar Lalapan Cireundeu
Hasil pendataan lalapan Cireundeu mencakup 38 spesies dari 24 famili. Nama ilmiahnya dicocokkan dengan situs Plants of the World Online sepanjang 2024 hingga 2025.
Famili Asteraceae paling banyak, dengan enam spesies atau 15,79 persen. Anggotanya sintrong, kanikir, jotang, jonghe, loseh, dan daun dewa.
Fabaceae menyusul dengan empat spesies: jengkol, peuteuy selong, hiris, dan jaat. Teks paper menyebut porsinya 10,26 persen, sedangkan tabel ringkasannya mencantumkan 10,53 persen.
Apiaceae punya tiga spesies, yaitu walang, antanan, dan tespong. Solanaceae juga tiga, yakni tomat, takokak, dan leunca.
Tabel memberi kedua famili itu masing-masing 7,89 persen. Teksnya malah menulis persentase gabungan 7,69 persen.
Euphorbiaceae hanya berisi dua spesies, salah satunya singkong. Delapan belas famili lain diwakili satu spesies saja, misalnya Caricaceae untuk pepaya dan Musaceae untuk pisang.
Jumlah 38 spesies itu lebih sedikit daripada 48 spesies di Desa Cijambu dan 160 spesies di Kampung Adat Banceuy. Para penulis menilai angka itu tetap mencerminkan pengetahuan taksonomi yang dalam.
Dari tanaman-tanaman itu, daun paling sering dimakan, yakni 51 persen. Buah menyumbang 16 persen, batang 14 persen, bunga 11 persen, dan biji 8 persen.
Persentase itu dihitung dari frekuensi pemakaian organ pada ke-38 spesies. Menurut paper, daun umumnya bertekstur lunak, mudah didapat, dan gampang disiapkan.
Daun bisa dimakan mentah, direbus sebentar atau dikulub, dan dikukus atau diseupan. Banyak spesies lalapan Cireundeu merupakan herba cepat tumbuh di kebun, pekarangan, dan habitat semiliar.
Pepaya dan Pohpohan
Untuk mengukur tanaman mana yang paling dikenal, tim memakai Relative Frequency of Citation atau RFC. Nilainya berkisar dari 0 sampai 1.
Nilai 1 berarti seluruh 56 responden menyebut tanaman itu berguna. Singkong dan pepaya sama-sama meraih RFC 1,00, disusul pohpohan 0,64 dan sintrong 0,38.
Keempatnya dinilai enak rasanya, baik aromanya, dan mudah ditemukan di Cireundeu. Menurut para penulis, itulah alasan keempat tanaman tersebut dipakai luas.
Pepaya tumbuh dibudidayakan di kebun dan tumbuh liar di pinggir ladang. Singkong juga mudah dijumpai, baik yang ditanam maupun yang tumbuh liar.
Di kebun singkong, aturan petiknya tegas. “Singkong di kebun tidak boleh diambil pucuknya untuk dijadikan lalapan, karena hal ini akan memengaruhi hasil umbi,” tulis Budi Irawan dan koleganya.
Itulah sebabnya warga membatasi diri pada dua sampai tiga pucuk per batang. Umbinya diolah menjadi rasi, tepung tapioka, dan camilan, sedangkan daunnya menjadi bahan utama lalapan.
Para penulis menyebut singkong spesies kunci budaya bagi Cireundeu. Singkong menjadi simbol kedaulatan pangan dan identitas komunitas yang tidak makan nasi.
Baca juga Sinonggi Tolaki, Makanan Paceklik yang Kini Jadi Ikon Daerah
Di ujung lain tabel, delapan spesies lalapan Cireundeu hanya meraih RFC 0,02. Mereka adalah babalimbingan, daun dewa, hiris, jaat, loseh, pisang, alpukat, dan tespong.
Nilai rendah itu, menurut paper, mencerminkan terbatasnya tanaman tersebut di kebun dan hutan sekitar. Kelangkaan itu diduga menurunkan tingkat konsumsinya.

Ada satu kalimat yang tidak sejalan. Di bagian lain, pohpohan dan sintrong disebut sebagai lalapan dengan RFC lebih rendah, bersama tespong, padahal keduanya termasuk empat spesies dengan RFC tertinggi.
Leuweung Tutupan
Warga membagi lahan menjadi tiga kategori. Leuweung larangan adalah hutan terlarang, tempat pohon tidak boleh ditebang karena menjadi penyimpan air.
Leuweung tutupan adalah hutan reboisasi. Pohonnya boleh dimanfaatkan, asalkan ditanam kembali sesudahnya.
Leuweung baladahan adalah hutan garapan yang dikelola warga untuk berkebun. Dari sinilah sebagian besar lalapan Cireundeu dipetik.
Menurut 56 responden, sumber lalapan terbesar adalah kebun dengan 62 persen. Hutan menyusul 24 persen, pekarangan 13 persen, dan sawah hanya 1 persen.
Di kebun, banyak tanaman lalapan tumbuh liar, sehingga mudah didapat dan gratis. Jonghe, jotang, walang, dan leunca termasuk yang dipetik di sana.
Paper mencatat sebagian jenis kini jarang ditemukan. “Beberapa spesies lalapan jarang ditemukan dan tidak lagi dijual di pasar, sehingga harus dilestarikan,” tulis para penulis.
Kebun itu berada di dataran tinggi kering dengan tanah latosol dan podsolik merah-kuning. Warga menerapkan rotasi tanaman agar singkong tersedia sepanjang tahun.
Tidak semua warga punya kebun. Mereka yang tidak memilikinya biasa meminta kepada kerabat yang berkebun, karena warga Cireundeu umumnya masih bersaudara.
Di hutan, lalapan justru berlimpah. Babalimbingan, leunca, papakisan, sintrong, dan pohpohan termasuk yang tumbuh di sana.
Namun, jarak menjadi soal. “Ada banyak tanaman lalapan di hutan, tetapi orang jarang memakainya karena hutan cukup jauh dari permukiman, lebih dekat ke kebun,” tulis tim Unpad.
Baca juga Jabatan Puun Kanekes Berakhir Ketika Istrinya Meninggal
Sawah hanya menyumbang satu jenis, yaitu jonghe. Padahal paper juga menulis tidak ada warga Cireundeu yang memiliki atau menggarap sawah.
Paper tidak menjelaskan sawah siapa yang dimaksud. Jonghe sendiri, menurut naskah, juga bisa ditanam di kebun.
Pekarangan
Di pekarangan depan rumah, warga menanam sayur agar tidak perlu ke kebun ketika tanaman di sana sedang tidak tersedia. Pepaya jepang, tomat, dan daun dewa termasuk isinya.
Karena menyatu dengan rumah, pekarangan bisa dipanen setiap hari. Paper mencatat pekarangan juga menjadi ruang ibu rumah tangga mengurus kebutuhan dapur dan kesehatan keluarga.
Dari pekarangan dan kebun, lalapan Cireundeu naik ke meja makan satu sampai enam hari dalam seminggu. Frekuensi terbanyak justru sekali seminggu, disusul dua dan tiga kali.
Polanya tidak berurutan. Pada hari kelima, warga umumnya tidak makan lalapan karena menggantinya dengan lauk lain.
Alasannya sederhana. “Responden menjelaskan bahwa makan lalapan setiap hari bisa membosankan, sehingga mereka menambahkan sayuran lain, ikan, dan lauk agar tetap menarik,” tulis para penulis.
Sekitar 64 persen responden mengaku suka makan sayur mentah. Lalapan tidak hanya dimakan orang dewasa, sebagian anak juga ikut memakannya.
Seluruh responden menyatakan makan lalapan dengan sambal. Jenisnya bisa sambal terasi, sambal oncom, atau yang lain.
Cara mengolah lalapan Cireundeu paling umum adalah merebus, yakni 54 persen. Sebanyak 41 persen dimakan mentah, dan 5 persen dikukus.
Warga percaya merebus dan mengukus membuat lalapan lebih sehat serta membuang zat berbahaya. Namun, paper menegaskan tidak ada pengukuran langsung terhadap dampak kesehatan dari konsumsi lalapan.
Setiap tahun, warga menggelar upacara adat pascapanen. Dalam upacara ngemban taun, warga memajang hasil panen, termasuk beberapa jenis lalapan yang biasa dimakan.
Upacara itu digelar sebagai ungkapan syukur atas panen. Doa kepada Sang Hyang dilakukan tertutup karena merupakan bagian ritual Sunda Wiwitan, lalu disusul arak-arakan hasil bumi.
Naskahnya tidak konsisten soal durasi. Satu kalimat menyebut ngemban taun berlangsung sehari dari pagi sampai sore, tetapi kalimat berikutnya menyebutnya digelar beberapa hari.
Pengetahuan lalapan diwariskan lisan oleh orang tua dan sesepuh dalam bahasa Sunda. Para penulis mencatat pewarisan itu kini menurun secara nyata.
Pemahaman terdalam kebanyakan dipegang generasi tua penganut ajaran Sunda Wiwitan. Generasi muda bekerja di sektor industri dan perkotaan, juga makan nasi, sehingga pewarisannya berkurang.
Babalimbingan, hiris, dan daun dewa, dengan RFC 0,02, kini jarang dipakai. Menurut paper, ketiganya hampir tidak dikenali lagi.
Para penulis mengakui batas kerja mereka. “Namun, studi ini terbatas pada satu dusun peri-urban dan bergantung pada identifikasi spesies di lokasi tanpa pengumpulan voucher herbarium,” tulis mereka.
Mereka menyarankan studi lanjutan membandingkan banyak desa, memvalidasi taksonomi dengan voucher, dan menganalisis kandungan fitokimia serta gizi. Pewarisan pengetahuan antargenerasi juga perlu diukur secara kuantitatif.
Setelah panen, bibit singkong disimpan sebagai stek batang di tempat teduh dan lembap. Stek itu ditanam lagi pada tahun berikutnya.
Kembali ke kebun singkong, pucuk yang dipetik secukupnya kini dibaca para penulis sebagai cara konservasi. Dengan begitu, singkong di kebun tetap produktif dalam jangka panjang.
Dua sampai tiga pucuk per batang itu masih dipetik di Cireundeu. Hanya saja, pengetahuan lalapan Cireundeu yang menyertainya, menurut paper, kebanyakan dipegang generasi tua.















