- Reaktor biogas berkapasitas 10 meter kubik dengan 10 ekor sapi cukup untuk kebutuhan memasak dua rumah.
- Dengan 20 ekor sapi, biogas dapat dikonversi menjadi listrik 2.000 watt selama lima jam per hari untuk satu rumah.
- Menteri Transmigrasi Iftitah meminta konversi biogas menjadi listrik segera direalisasikan.
Cekricek.id — Tim Ekspedisi Patriot 08 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memanfaatkan biogas kotoran sapi sebagai bahan bakar memasak bagi warga Kampung Margorukun, Manokwari Selatan, Papua Barat.
Menteri Transmigrasi Dr. Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau langsung reaktor tersebut pada Sabtu (12/09/2026), menurut keterangan tertulis ITS, Minggu (13/09/2026).
Selama ini, warga Margorukun banyak memelihara sapi yang dibiarkan lepas. Untuk memasak, mayoritas warga masih bergantung pada minyak tanah yang tergolong langka.
Cara Kerja Reaktor Biogas Kotoran Sapi
Reaktor itu mengolah kotoran sapi menjadi biogas yang dialirkan lewat pipa ke kompor. Selain itu, biogas juga bisa dikonversi menjadi listrik melalui generator stasioner.
Ketua TEP 08 ITS Dr. Ir. Arief Abdurrakhman, S.T., M.T., menjelaskan reaktor berkapasitas 10 meter kubik dengan 10 ekor sapi cukup untuk kebutuhan memasak dua rumah.
“Sedangkan dengan 20 ekor sapi, biogas yang dihasilkan dapat dikonversi menjadi listrik dengan daya 2.000 watt selama lima jam per hari untuk satu rumah,” jelasnya.
Baca juga Upaya tim ITS membangun akses air bersih di Ransiki
Sisa fermentasinya berupa bioslurry juga dapat dipakai sebagai pupuk. Manfaat ini penting karena sebagian besar warga Distrik Oransbari hidup dari pertanian.
Menurut dosen Departemen Teknik Instrumentasi ITS itu, “satu inovasi dapat menjawab lebih dari satu kebutuhan masyarakat, mulai dari energi rumah tangga hingga kebutuhan pendukung pertanian.”
Mentrans Minta Konversi Listrik Segera Direalisasikan
Iftitah mengapresiasi kerja tim tersebut. Ia mendorong pemanfaatan biogas kotoran sapi tidak berhenti pada kebutuhan memasak, tetapi segera dikembangkan menjadi sumber listrik.
“Konversi listrik harus segera direalisasikan,” tegasnya.
Namun, ia menekankan keberhasilan program tidak semata diukur dari teknologi yang terbangun. Yang lebih penting, masyarakat mampu melanjutkan manfaatnya secara mandiri.
Baca juga Program literasi sekolah Ekspedisi Patriot ITS di Momi Waren
Karena itu, TEP 08 ITS membentuk Tim Kader Patriot yang beranggotakan warga dan perangkat daerah setempat. Mereka dibekali keterampilan untuk menjaga program setelah tim pulang.
Iftitah menilai keberadaan kader lokal membuat alih pengetahuan dan teknologi tidak berhenti ketika tim pendamping meninggalkan lokasi.
Teknologi itu, lanjutnya, menjadi modal bagi warga untuk membangun kesejahteraan secara mandiri.
“Tidak hanya untuk masyarakat transmigran, tetapi juga untuk masyarakat Papua secara keseluruhan,” ujarnya.
Baca juga Temuan air keruh tim ITS di enam kampung Momi Waren
Bupati Manokwari Selatan Bernard Mandacan yang ikut meninjau lokasi turut menyampaikan apresiasi.
“Ilmu dan teknologi yang dibawa Tim Ekspedisi Patriot dapat memacu masyarakat untuk berdaya,” ungkapnya.
“Melalui program ini, ilmu dan teknologi yang kami miliki mampu dihilirisasi dan berdampak bagi masyarakat,” kata Arief.















