Cekricek.id — Peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengembangkan AluBayu, baterai aluminium-udara berbasis air laut untuk kebutuhan energi wilayah pesisir dan terluar.
Prototipe itu dikembangkan Laboratorium Elektrokimia dan Korosi Departemen Teknik Kimia ITS, menurut laman resmi ITS, Jumat (11/09/2026).
Wakil Rektor IV ITS, Agus Muhamad Hatta, menyoroti keunikan baterai berbasis air laut dan aluminium lokal itu.
“Jadi pengembangan ini sejalan dengan semangat ITS untuk menjadi kampus yang berdampak kepada masyarakat,” tuturnya.
Baca juga sorotan kampus yang sama atas potensi kelautan
Satu modul prototipe berisi 20 sel berukuran 4x6 sentimeter dengan bobot sekitar 20,2 gram.
Tegangan nominalnya sekitar 11,6 volt, sedangkan arus dan dayanya sekitar 0,15 miliampere.
Anodanya aluminium, elektrolit padatnya dari sabut kelapa, elektrolit cairnya memanfaatkan natrium klorida air laut, dan katodanya nikel serta besi.
Baca juga karya kampus yang sama untuk wilayah terpencil
Ketua tim peneliti, Heru Setyawan, menjelaskan sistem elektrolit ganda memisahkan jenis elektrolit pada kutub anoda dan katoda.
“Pemanfaatan dua jenis elektrolit yang berbeda itu berfungsi dalam mengoptimalkan reaksi kimia antara logam aluminium dan oksigen udara,” terangnya.
Baca juga gagasan kampus lain soal energi untuk keadaan darurat
Senior Specialist Technology Innovation Downstream dan New Energy PT Pertamina, Haryo Satriya, menyebut inovasi itu sebagai baterai masa depan.
“Prototipe yang ada akan kita bawa ke Jakarta untuk ditelaah dan dikaji lebih lanjut bersama arah kebijakan manajemen perusahaan,” tuturnya.















