Cekricek.id — Diana Anggraeni mengamati murid-murid kelas lima di sebuah sekolah alam di Pangkalpinang dan menemukan pola yang sama berulang kali. Anak-anak itu bisa menangkap garis besar rekaman pendek berbahasa Inggris, tetapi tersandung pada keterangan kecilnya: nama, angka, waktu, satu kata yang lewat terlalu cepat. Dari pengamatan itulah ia memutuskan turun tangan sendiri ke dalam kelas, bukan sekadar mencatatnya dari luar.
Diana Anggraeni bekerja bersama Rizky Arif Afandi dan Rodiawan dari Universitas Bangka Belitung serta Noor Hasnoor Mohamad Nor dari Universiti Malaya. Laporan mereka, Transformative pedagogical practices: Improving students’ listening comprehension through video-based activities, terbit di jurnal LITERA Volume 25 Nomor 1 tahun 2026. Objeknya 21 murid kelas lima Sekolah Alam Pangkalpinang, berusia sepuluh sampai sebelas tahun, yang sudah tiga tahun belajar bahasa Inggris sekali sepekan.
Daftar Isi
Mengamati Kelas yang Tersandung Detail

Sekolah itu memadukan pembelajaran berbasis alam dengan pengajaran bahasa Inggris di dalam kurikulumnya, dan Diana Anggraeni punya akses langsung ke ruang kelasnya. Sasaran kemampuan yang harus dicapai murid-murid itu setara tingkat A1 dalam kerangka acuan Eropa: mengenali kosakata sehari-hari, menemukan pola tata bahasa dasar, dan mengambil keterangan pokok dari teks pendek. Kurikulum nasional menuntut hal yang mirip untuk jenjang sekolah dasar.
Menyimak, tulis tim itu mengutip Mahmud, adalah masukan bahasa yang paling penting sekaligus paling sering dianggurkan di kelas bahasa asing. Tennant mencatat bahwa pada masa awal pengajaran bahasa Inggris, menyimak bahkan hanya dipakai sebagai kendaraan untuk memperkenalkan pola tata bahasa lewat dialog contoh. Perannya berubah belakangan, tetapi porsi latihannya di banyak sekolah tidak ikut berubah.
Baca juga Uslub Tawriyah dan Seni Menyembunyikan Makna
Pamuji dan Setyarini bersama Saputra, yang dirujuk tim, menempatkan menyimak sebagai proses aktif ketika seseorang menyusun makna atas apa yang didengarnya, bukan sekadar menerima bunyi. Hwaider menambahkan bahwa memperbaiki kemampuan itu ikut memperbaiki kemampuan berbahasa secara keseluruhan. Di kelas Diana Anggraeni, yang tersendat justru langkah paling awal dari proses tersebut: menahan satu keterangan cukup lama untuk dapat dipanggil kembali saat menjawab soal.
Karena masalahnya ada di dalam kelas, Diana Anggraeni dan rekan-rekannya memilih penelitian tindakan kelas dengan pendekatan campuran, merujuk rancangan Singaravelu. Messikh menyebut inti rancangan semacam itu adalah sengaja masuk ke dalam masalah untuk mengubahnya, bukan mengamatinya dari jarak aman. Dua puluh satu murid itu dipilih sebagai sampel kemudahan, mengikuti Etikan, karena merekalah kelas yang bisa dijangkau peneliti.
Menyusun Empat Sesi Selama Empat Pekan
Rancangan yang disusun Rizky Arif Afandi bersama tim berjalan empat pekan, empat sesi, masing-masing 45 menit, dengan bahan dari situs video pembelajaran bahasa Inggris. Empat siasat dipakai bergantian: menuliskan kata kunci dan gagasan di papan tulis sebelum video diputar, menebak kelanjutan cerita dari petunjuk visual, menebak kelanjutan dari kata kunci lisan sambil menonton potongan video yang dibisukan, lalu menebak dari daftar kata kunci yang sudah disediakan.
Alat ukurnya tiga. Diana Anggraeni menyiapkan tes sebelum dan sesudah perlakuan, masing-masing sepuluh soal pilihan ganda dengan tiga pilihan jawaban, memakai video pemula berdurasi satu sampai tiga menit. Yang diuji satu hal saja: kemampuan menemukan keterangan spesifik di dalam rekaman. Selebihnya sengaja tidak diukur. Alat kedua berupa skala Likert dua belas butir berbahasa Indonesia. Tim memakai versi ramah anak yang dicatat Botero-Carvajal dan rekannya, yang mengganti angka dengan gambar gelas berisi air pada empat tingkat persetujuan. Enam butir menanyakan seberapa jauh video membantu pemahaman, enam butir sisanya menanyakan perasaan murid ketika mengerjakan tugas berbasis video.
Baca juga Membaca Stranger Things 4 lewat Teori Derrida
Alat ketiga diskusi kelompok terarah. Sepuluh murid dipilih untuk menjawab enam pertanyaan terbuka, seluruhnya dalam bahasa Indonesia agar mereka bisa mengatakan maksudnya dengan tepat. Adler dan rekan-rekannya menyebut cara ini menipiskan jarak kuasa antara peneliti dan anak-anak yang ditelitinya, sementara Jenkinson menganggap pemilihan bertujuan sebagai salah satu cara pengambilan sampel yang paling efisien. Agar temuannya tidak bertumpu pada satu alat saja, Diana Anggraeni menyilangkan ketiganya. Hasil tes, jawaban skala, dan isi diskusi dibandingkan satu sama lain untuk melihat apakah ketiganya berkata hal yang sama. Data angka diolah dengan statistik deskriptif, sementara jawaban diskusi ditelusuri dengan enam langkah analisis tematik Braun dan Clarke, mulai dari pengakraban dengan naskah sampai penamaan tema.
Menghitung Selisih Nol Koma Lima Delapan
Angka yang keluar tidak sedramatis judulnya. Rata-rata tes sebelum perlakuan 8,79 dari 10; sesudahnya 9,37. Selisihnya 0,58 poin, dan Diana Anggraeni mencatat sendiri bahwa titik berangkatnya memang sudah tinggi. Dari 21 murid, hanya 19 yang mengikuti kedua tes karena dua orang sakit saat tes kedua, sehingga perbandingannya disusun atas 19 anak itu saja. Sebarannya lebih menarik daripada rata-ratanya. Sepuluh murid, atau 55 persen, mendapat nilai lebih baik pada tes kedua. Tujuh murid bertahan di angka yang sama. Satu murid justru turun, dan tim menduga penyebabnya bisa jadi kesulitan pada tugas videonya, bisa pula suasana hati dan daya pusat perhatian pada hari itu. Rodiawan dan rekan-rekannya tidak memaksakan satu penjelasan.
Jawaban skala Likert bergerak searah. Dimensi pertama, soal manfaat video, mendapat rata-rata 20,68 dari 24 dengan simpangan baku 1,60; dimensi kedua, soal perasaan murid, 21,68 dari 24 dengan simpangan baku 1,86. Pernyataan yang paling disetujui adalah pernyataan bahwa murid lebih suka menonton video ketimbang mendengarkan rekaman suara saja, dipilih pada tingkat tertinggi oleh 80,4 persen responden. Di dalam jawaban itu ada satu butir yang menonjol karena rendah. Pernyataan bahwa menonton video membuat mereka lebih mudah memusatkan perhatian pada kegiatan menyimak hanya mendapat persetujuan tertinggi dari 35,6 persen murid, angka terkecil di antara enam butir dimensi pertama. Rizky Arif Afandi dan tim membaca kecenderungan itu sebagai tanda bahwa memusatkan perhatian tetap sulit, bahkan ketika ada gambar yang bergerak di depan mata.
Mendengarkan Sepuluh Murid
Diskusi kelompok memberi Noor Hasnoor Mohamad Nor dan tim tiga tema. Murid merasa kemampuan bahasa Inggrisnya membaik karena bantuan gambar; merasa kosakata dan pelafalannya bertambah serta ketergantungannya pada guru berkurang; dan menyatakan minat pada video bertema olahraga, musik, serta budaya negara lain. Beberapa di antaranya meminta lagu, beberapa meminta izin memakai penyuara telinga.
Baca juga Kanal Londokampung dan Bule yang Memilih Njawani
Yang membuat laporan ini tidak menjadi iklan adalah keberatan yang ditulis timnya sendiri. “Kemajuan itu tidak dapat dinisbatkan semata-mata kepada aktivitas berbasis video,” tulis Diana Anggraeni dan tiga rekannya, sebelum menyebut perbedaan antarindividu, tingkat keterlibatan, dan siasat menyimak yang dipakai masing-masing anak sebagai penyumbang yang sama besarnya terhadap hasil akhir. Temuan itu juga tidak sepenuhnya sejalan dengan pendahulunya. Daulay melaporkan perbaikan serupa pada murid yang diberi bahan video, dan Riawan serta Sulistyani menemukan kelompok yang memakai video mengungguli teman sekelasnya. Namun hasil kelas di Pangkalpinang ini, menurut tim, sebagian bertentangan dengan klaim Batty tentang manfaat video yang berlaku menyeluruh. Wah menekankan pengajaran siasat menyimak secara langsung, dan bagian itulah yang tampaknya bekerja.
Sisi perasaan murid punya sandingannya di tempat lain. Yuyun dan Simamora menemukan pemelajar yang memakai bahan multimedia merasa lebih percaya diri dan lebih senang, sementara Hardiah menyoroti peran petunjuk visual dalam menuntun perhatian pada perincian. Minat murid Pangkalpinang pada video olahraga, musik, dan budaya negara lain sejalan dengan catatan Natasa dan Solusia tentang nilai belajar yang tersimpan di dalam video media sosial.
Keterbatasannya diakui dalam satu kalimat yang jelas. Kemampuan bahasa, kepercayaan diri, dan keterlibatan murid memang meningkat, tulis tim itu, tetapi hal tersebut “hanya benar dalam situasi tertentu dan mungkin tidak berlaku bagi semua orang”. Dua puluh satu anak di satu sekolah swasta dengan latar sosial yang mirip bukan gambaran murid Indonesia. Ada pula syarat yang tidak dimiliki semua sekolah. Juita mencatat video yang tidak dirancang untuk penutur asing bisa sulit ditangkap karena logat dan rujukan budayanya, sementara tim menambahkan bahwa “internet yang lambat atau sekolah yang tidak memiliki cukup teknologi” dapat membuat penerapannya kurang berhasil. Mutu bahan, cara mengajarkannya, dan tingkat kemampuan murid ikut menentukan.
Diana Anggraeni menutup laporannya dengan anjuran agar guru bahasa Inggris memasukkan latihan menyimak berbasis video ke dalam kelas. Anjuran itu berdiri di atas kenaikan 0,58 poin pada sembilan belas anak, di satu kelas, di satu sekolah swasta yang memadukan pelajaran bahasa Inggris dengan belajar di alam.















